
Palembang, 18 Januari 2011.
Dengan berjalannya waktu.
Perasaan dan hati ku terus tumbuh.
Memekarkan tunas-tunas dan kuncup bunga yang akan mulai bersemi juga merekah.
Tanpa ku sadari aku pun semakin mencintai dirinya. Dimana keyakinan pada dirinya semakin kuat.
Sebuah perasaan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.
Mas Yoki mengirimkan pesan pertama nya pada ku di hari ini, saat waktu menunjukkan pukul 18:23:04.
"Selamat sore Dek Wulan. Apakah Dek Wulan sudah makan?. "
Tidak lama kemudian Mas Yoki langsung mengirimkan pesan lagi pada ku.
"Selamat sore Dek Wulan. Apakah Dek Wulan sudah makan dan minum obatnya?.
Bagaimana keadaan adek sekarang?. Apakah Dek Wulan masih sakit?."
Aku pun langsung membalas pesan dari Mas Yoki.
"Alhamdulillah adek sudah makan mas, tetapi belum minum obatnya. Sekarang keadaan adek sudah lumayan membaik.
" Lho kenapa adek belum minum obat nya. Terus adek sudah mandi dan salat belum?.
Oh ya, nanti kira-kira adek mengajar private tidak. "
"Adek baru mau mandi mas. Lagi menunggu air nya panas, " jawab ku membalas pesannya.
"Oke Dek Wulan. Setelah mandi adek istirahat dan jangan lupa obatnya di minum ya dek.
Ya Allah, Ya Rohman, Ya Rahim.
Aku mengetahui jika semua bersumber dari Mu. Untuk itu aku memohon dengan teramat sangat kepada Mu. Berilah kesembuhan bagi kekasih hati ku.
Kabulkan lah Ya Allah.
Aamiin ya rabbal'alamiin. "
"Aamiin ya Rabb. Terima kasih do'a nya Mas Yoki. Oh ya Mas Yoki sudah makan belum?. "
"I love you adek. Mas sayang sekali dengan adek. Alhamdulillah Mas sudah makan kok. Adek sendiri jangan lupa makan dan minum obatnya ya. Oh ya Mas sampai lupa mau bertanya dengan adek, adek sakit apa memang nya. "
"Darah rendah dan kecapekan Mas Yoki. "
__ADS_1
"Ehm, kok dari kemarin. Adek tidak mengatakan kepada Mas sih,sayang. Kalau darah rendah coba adek makan sate kambing. "
"Iya Mas Yoki, nanti di coba. Alhamdulillah sekarang sudah baik kan.
Ya sudah Mas, adek mandi dulu ya. "
"Iya Dek Wulan, sayang. "
Aku pun langsung bergegas membersihkan diri ku dan mandi.
Mas Yoki mengirimkan pesan lagi pada ku.
Saat waktu menunjukkan pukul 21:43:54.
"Mas baru selesai salat Isya.
Dek Wulan sedang apa sekarang?. "
"Adek sedang duduk di ruang tamu Mas. "
"Kenapa adek tidak istirahat saja.
Apakah kepala Dek Wulan masih pusing?.
I love you Dek Wulan. "
Love you too Mas Yoki.
Mas. "
"Iya Dek Wulan. Ada apa dek?. Dek Wulan kesini nanti Mas peluk. Supaya kita menjadi hangat. "
"Hmm.Semoga apa yang Mas Yoki harapkan segera di hijabah oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "
"Aamiin ya rabbal'alamiin. Memangnya apakah Dek Wulan sudah siap lahir batin untuk menjadi istri Mas. "
"InsyaAllah Mas Yoki."
"Iya Dek Wulan. Adek yang sabar ya dek.
Nanti jika adek tidak sabaran. Mas akan peluk adek dari atas, supaya adek lebih merasakan kehadirannya mas. "
"Hmm.Bisa saja Mas Yoki.
I love you Mas. Muach. "
__ADS_1
"Terima kasih ya Dek Wulan. Ehem, Mas menjadi bersemangat untuk bisa membuat adek bermain di dalam dekapan mas.
I love you too adek. Ciuman yang adek berikan ini, akan Mas jadikan modal awal untuk bisa memberikan yang terbaik untuk adek. InsyaAllah. Miss you Dek Wulan.
" Aamiin ya rabbal'alamiin. Iya Mas Yoki.
Miss you too Mas. "
"Iya adek. Terima kasih ya dek untuk semuanya. Mas itu ingin sekali menjadi yang halal untuk adek, supaya setiap hari kita bisa bermesra-mesraan.
I love you adek. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala terus menjaga perasaan kita hingga jalan halal untuk hubungan kita terbuka."
"Aamiin ya rabbal'alamiin. Ya sudah Mas Yoki, kita tidur dulu Mas. Sudah malam dan adek sudag sangat mengantuk. "
"Baik adek. Mas minta adek jangan lupa makan yang banyak dan rutin minum obatnya ya dek. I love you adek. "
Setelah itu obrolan ku dengan Mas Yoki terhenti. Dimana aku dan dirinya beristirahat dalam selimut malam yang panjang dan dingin. Tidak ada yang dapat menduga dan menerka, jika setiap harinya perasaan ku dan Mas Yoki terus tumbuh semakin dalam.
Meskipun raga tidak pernah sekali pun berjumpa. Tetapi ikatan yang terjalin di hati masing-masing begitu menjadi kuat dan semakin terhubung satu sama lain.
Saat hati mencintai seseorang menjadi sesuatu yang terdengar dan terlihat indah dan penuh kebahagiaan.
Namun, semua itu dapat terjadi apabila keduanya saling mengerti dan saling mengetahui perasaan masing-masing.
Yah, dan seperti itulah perasaan yang tumbuh di dalam hati ku dan Mas Yoki.
Perasaan yang semakin tumbuh setiap harinya. Dengan mencintainya aku seakan mampu menjalani kehidupan ku saat ini penuh dengan senyuman, bahkan rasa bahagia pun tidak luput karenanya menghinggapi kehidupan ku sekarang. Dimana seakan warna-warna kehidupan ku menjadi lebih cerah dan penuh warna. Baik dalam hal apa pun, yang terkadang di dalam benak ku selalu terbayang wajahnya.
Mas Yoki selalu menanamkan pada pemikiran diri ku.
Bahwa mencintai itu adalah sesuatu komitmen yang harus di perjuangkan.
Apalagi setelah mengetahui jika kami berdua telah memiliki perasaan yang sama dan memiliki tujuan yang sama.
Dengan berbekal hal itu Mas Yoki terus menggiring pemikiran ku agar memiliki tujuan hidup dari rasa yang bersemayam di relung hati kami yaitu, pernikahan untuk menjadi tujuan akhir dari rasa cinta yang masing-masing kami miliki dan rasakan saat ini. Dimana Mas Yoki tidak ingin jika perasaan mencintai hanya untuk sebagai ungkapan atau kata yang tidak berujung.
Karena bagi Mas Yoki pribadi cinta itu sangat sederhana sekali, intinya saling percaya dan berkomitmen untuk menjalin ke hubungan yang serius, yaitu pernikahan.
Semakin hari Mas Yoki pun terus bersemangat menunjukkan cintanya yang tulus, dimana ia pun berharap akan mendapatkan kebaikan dalam cintanya.
Dengan kebahagiaan yang akan di berikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan semua keindahan yang sempurna.
Yaitu pertemuan di antara kami dalam ikatan yang suci dan halal di hadapan Nya.
Sebuah ikatan yang semulanya sangat ku takut kan untuk ku impikan.
Tetapi secara pelan dan perlahan Mas Yoki terus membuat ku berani untuk bermimpi. Akan pernikahan yang menjadi impian dari tujuan hubungan ku dan dirinya.
__ADS_1
Dimana yang awalnya aku merasa takut dan tidak nyaman, saat Mas Yoki membahas tentang konsep pernikahan.
Namun, semakin sering ia mengambarkan akan hal itu. Pikiran dan hati ku seakan terus terhubung untuk berani mengharapkan nya.