
Halaman ke lima:
Satu dan dua teman yang aku hubungi dan tanya. Juga mengatakan kepada diri ku jika tidak ada lowongan pekerjaan.
Hingga pada suatu hari.
Di awal tahun 2006,ada teman pulang dari Bali. Dan ia membawa berita jika ada lowongan di sebelah tempatnya bekerja.
Tetapi itu pun tidak langsung bisa berangkat. Harus menunggu telepon dari dia dulu, kira-kira satu bulan.
Ternyata teman ku baru memberikan kabar juga, dan memberi tahu pada ku.
Jika pekerjaan ku nanti tergolong pekerjaan yang berat.
Tetapi apa pun pekerjaannya.
Asalkan tidak mencuri, aku terima saja.
Hingga dua hari menjelang keberangkatan ku ke Bali.
Aku baru tersadar, jika aku tidak mempunyai uang saku sama sekali untuk pergi ke Bali. Aku pun memutar otak sana-sini.
Hingga akhirnya aku mendapatkan uang juga untuk ongkos bekerja di Bali.
Uang itu pun, aku dapatkan meminjam dari saudara.
Kenapa aku harus sampai meminjam uang.
Karena aku tidak ingin merepotkan kedua orang tua ku.
Dimana mereka berdua sudah kalang kabut, untuk membiayai sekolah adik dan pengobatan bapak.
Maka dengan berbekal uang saku pas-pasan. Bahkan terbilang tidak layak untuk berangkat merantau.
Tetapi aku tetap nekat saja berangkat.
Tentunya setelah meminta restu dari ke orang tua ku dan juga nenek ku.
Jujur aku tuh sebenarnya tidak pernah tahu. Pulau Bali itu seperti apa, soalnya aku belum pernah ke sana.
Aku hanya di beri tahu oleh teman ku melalui telepon.
Angkutan apa yang harus di naiki untuk sampai di sana.
Meskipun di perjalanan agak was-was dan khawatir.
Karena aku takut nyasar, tetapi aku berpura-pura saja memasang wajah tenang.
Hingga aku sampai juga di Bali.
Tetapi apa yang aku pikirkan sedari rumah tentang Pulau Bali ternyata salah.
Karena yang ku lihat di sekitar keberadaan diri ku.
Banyak orang-orang yang bermuka seram, dengan tato di seluruh badan, dan membawa minuman keras di tangannya.
Sungguh pemandangan yang asing buat ku.
Sesampainya di terminal itu, aku langsung menghubungi teman ku.
Supaya ia bisa menjemput diri ku di Terminal Ubung Bali.
Tetapi nomor telepon yang aku tuju, ternyata tidak di angkat-angkat juga oleh teman ku. Untung saja aku punya nomor telepon saudara temen ku itu, yang bisa aku hubungi.
Dan setelah hampir tiga jam menunggu, akhirnya teman ku menjemput ku juga.
Lega sekali rasanya.
Terus aku di bawa ke tempatnya dia, untuk menginap sementara di tempat kosannya.
Karena aku tidak bisa langsung bekerja.
Dengan sedikit mengintip, aku pun melihat isi dompet ku.
Yang ternyata yang ku hanya tinggal dua puluh ribu rupiah saja.
Waduh.
Mana belum bekerja lagi, terus teman ku juga lagi bokek berat.
Sambil melepas rasa capek di perjalanan aku berpikir.
"Bagaimana caranya agar aku dapat uang, untuk makan. Sampai aku masuk kerja ya, " batin ku di dalam hati.
Hingga aku tertidur masih belum ketemu cara itu.
Pagi pun menampakan diri.
Setelah salat subuh.
__ADS_1
Aku pun keluar untuk menghirup udara segar. Sambil berkenalan dengan alam Bali yang terkenal eksotis itu.
Dan tidak lupa otak ku tetap berpikir keras, mencari uang buat diri ku makan.
Sampai mata ku melihat ada sebuah truk yang parkir di depan.
Dimana sopirnya baru saja bangun dari tidur.
Perlahan aku pun mendekati sopir itu sambil mengajaknya mengobrol ringan.
Hingga aku beranikan diri untuk bantu mencuci truknya, yang terlihat lusuh dan kotor.
Ternyata tawaran ku tak bertepuk sebelah tangan, dia mau di bantuin.
Dan langsung saja aku beraksi.
Seperti tukang bersih-bersih mobil yang profesional.
Padahal aku sebenarnya tidak tahu.
Bagaimana caranya untuk mencuci truk yang benar.
Tetapi aku berpikir yang penting kelihatan bersih dari sebelumnya saja.
Kira-kira satu jam kemudian.
Akhirnya aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku, yaitu mencuci truk.
Kemudian, sopir itu memberikan aku imbalan uang sebesar Lima belas ribu rupiah
Tidak apa-apa pikir ku.
Dan aku menerima uang itu.
Setidaknya lumayan buat tambahan pegangan ku sebelum bekerja.
Seharian tanpa aktivitas ternyata membuat diri ku bosan sekali.
Sehingga sehabis melaksanakan salat maghrib.
Aku dan teman ku mencoba berjalan-jalan. Dengan harapan di dalam hati, siapa tahu kali ini ada rezeki yang datang.
Dan tidak terlalu jauh dari kediaman teman ku. Ada sebuah truk yang berisikan snack, sedang bongkar muatan barang.
Wah, kesempatan nih.
Langsung saja aku datangi juragannya dan langsung bilang.
Lagi-lagi keajaiban dari Allah subhanahu wa ta'ala itu muncul juga.
Halaman ke enam:
Juragan snack itu langsung mengiyakan permohonan ku.
Dan secepat kilat aku dan teman ku langsung lepas baju dan beraksi di atas truk.
Dimana keringat yang mengucur deras,di sertai otot tangan dan kaki yang sedikit agak sakit.
Krena akubbelum kebiasaan bekerja seperti ini.
Tetapi aku mengabaikannya saja,
demi mengisi perut ku.
Hmmmm.
Ternyata lumayan lama pekerjaan nya.
Dan selesai pekerjaannya itu , hingga jam menunjukkan angka sembilan malam.
Tak lama setelah itu, selesai juga pekerjaan ku. Dan sekarang giliran aku menerima imbalannya.
Yah, lumayan juga.
Malam itu yang ku terima lima puluh ribu rupiah.
Setidaknya cukup untuk makan malam ini dan besok pagi.
Karena siangnya aku sudah masuk bekerja.
Malam ke dua di Bali, aku lewati dengan perasaan gusar dan nervous.
Karena besok aku sudah mulai bekerja.
Perasaan itu pun terbawa hingga aku terlelap. Dan tidak terasa pagi pun sudah menjelang. Setelah menyelesaikan aktivitas di pagi hari. Aku pun bersiap diri untuk bekerja.
Tepat sekitar jam 07.30 WITA.
__ADS_1
Aku langsung menuju tempat kerja yang hanya beberapa langkah, dari tempat teman ku. Setelah berkenalan dengan semua teman-teman kerjaku yang baru.
Aku pun di beritahu, kalau perusahaan ini bergerak di bidang bangunan yaitu marmer. Yang berkantor pusat di Solo.
Dan baru buka cabang di Bali.
Setelah kepala cabang memberikan aku arahan tentang pekerjaan ku.
Baru kepala cabang itu menjelaskan fasilitas yang aku terima, setelah di terima bekerja di sini.
Sungguh keajaiban lagi.
Di kala uang ku sudah sangat menipis.
Ada juga hikmah di balik itu.
Ternyata di situ sudah di siapkan mess.
Dan di tambah lagi, aku mendapatkan makan tiga kali sehari.
"Alhamdulillah,terima kasih Ya Allah," ucap ku penuh syukur atas kemurahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada ku.
Maka semakin bersemangat saja aku bekerjanya.
Meskipun aku sebagai orang baru di tempat bekerja ku.
Tidak serta-merta aku dapat bagian yang enak.
Aku mulai kerja dari bawah dulu sebagai tukang angkat barang.
Sambil ikut ke proyek-proyek.
Di situ lah terkadang tenaga ku sering terkuras habis.
Sampai suatu hari karena terlalu capeknya. Aku sampai tidak bisa bangun.
Dimana badan ku terasa kaku semua.
Maklum aku belum terbiasa bekerja kasar.
Tetapiapi setelah itu, lama kelamaan.
Aku pun sudah terbiasa juga.
Aku mengakui di tempat kerja ku ini.
Aku banyak belajar tentang arti sebuah kehidupan ini.
Dan belajar hidup mandiri jauh dari orang terdekat kita.
Sambil belajar mengolah keuangan sendiri, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk di kirim ke kampung.
Butuh sekitar enam bulan.
Aku mendapatkan kepercayaan.
Hingga aku di angkat menjadi surveyor.
Yang tugasnya nyaris di habiskan di jalan, dan proyek-proyek yang sedang aku tangani.
Meskipun terkadang masih membantu untuk angkat-angkat barang.
Karena aku tidak tega melihat teman-teman ku, mengangkat barang yang beratnya minta ampun.
Di posisi baru ku ini.
Aku pun banyak bergaul dengan orang-orang dari semua kasta kehidupan.
Baik dari kuli bangunan sampai bos-bos.
Dari pergaulan itu secara tidak langsung, dapat merubah sedikit demi sedikit .
Rasa pemalu dan tidak percaya diri yang ku idap selama ini.
Tapi juga ada efek negatifnya.
Meskipun penguasaan Bahasa Inggris ku minim sekali
Terkadang aku dapat tugas untuk survey, di rumah orang bule-bule yang tinggal di Bali. Karena kebiasaan bule setiap ada tamu harus di beri minuman beralkohol.
Maka aku pun kadang ikut minum juga.
Ya, pikiran ku saat itu.
Hitung-itung supaya bule itu jadi mengambil barang ke kita.
Tetapi lama-kelamaan, aku sadar kalau kebiasaan ini akan membuat ku ketagihan.
Apalagi bertentangan dengan agama yang ku anut. Maka aku beranikan diri tanya, dan minta di ajarkan Bahasa Inggris kepada guide-guide.
__ADS_1
Supaya aku dapat menolak tawaran welcome drink yang sering disuguhkan.
Tetapi tidak menyinggung perasaan mereka.