
Halaman ke lima:
Tentu saja setelah menikah.
Ibuku langsung tinggal dengan suami barunya dan itu pun bukan pernikahan yang legal.
Apalagi suami baru ibu itusuka mabuk-mabukan.
Naudzubillah min dzalik.
Rasanya Wulan tidak mengenali orang-orang terdekat Wulan lagi saat itu.
Semuanya berubah memutarkan hidup ku. Laksana gasing yang menari di atas lembah merapi.
Yang nyala api dan panasnya terus menerus melukai dan menyakiti diri ku.
Mungkin karena attitude yang kurang baik dari kakak perempuan ku dan keluarga mertuanya lah, yang membuat ibu harus melakukan hal itu.
Dan kakak perempuan ku mungkin juga tersudut dalam dilema rumah tangganya.
Antara memilih ibu kandungnya atau menjaga keutuhan rumah tangganya.
Dengan memilih condong pada suami dan keluarga mertuanya.
Sehingga kakak perempuan ku harus menjauhi ibu.
Namun, mereka tidak pernah menyadari sama sekali.
Jika tubuh mungil Ini harus menjadi amukan dari dua kutub yang berlawanan sekaligus.
Yaitu pelampiasan kemarahan ibu dan kekesalan kakak perempuan ku juga suaminya.
Saat itu Wulan lebih memilih tinggal dengan kakak perempuan ku. Dari pada tinggal bersama dengan ibu.
Alasannya karena sejak kecil Wulan tidak pernah mengenal figure seorang ayah.
Dan tiba-tiba sosok itu muncul dalam alur hidup yang complicated ini.
Jangan kan untuk tinggal.
Mendengar kata-kata itu pun sudah sangat menakutkan dan menyakitkan untuk ku.
Mungkin pilihan ini bukan lah pilihan bijak untuk Wulan.
Tetapi saat itu rasa takut, kecewa ,sedih menjadi gambaran utuh hati ini.
Nyata nya ibu juga tidak pernah mengkonfirmasi perasaan Wulan.
Bahkan menanyakan keadaan Wulan.
Ibu dan kakak perempuan ku, masing-masing mereka berdua seakan hanya mengutamakan kebahagiaan dan kehidupan mereka saja.
Tanpa memperdulikan diri ku.
Dan ibu malah justru pergi meninggalkan Wulan.
Dan lebih untuk memilih tinggal dan menjalani kehidupan dengan suami barunya itu.
Rasanya sosok ibu, tiba-tiba menghilang dari peredaran pikiran Wulan.
Saat itu,keadaan sangat kacau balau.
Dimana ibu, kakak perempuan dan keluarga mertuanya bertengkar hebat.
Mereka menganggap tingkah ibu sudah mencemarkan reputasi dan membuat malu keluarga mertua kakak perempuan ku.
Pada waktu itu Wulan hanya bisa menangis saja.
Menangis dan terus menangis hingga sampai saat ini.
Halaman ke enam:
Mas Yoki tidak akan pernah membayangkan, betapa susahnya Wulan harus melewati masa sulit setelah itu.
Dimana setelah Wulan memutuskan untuk tinggal dengan kakak perempuan Wulan bersama suaminya.
Saat itu, kakak perempuan ku mendirikan warteg untuk menjual makanan. Dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Namun, usahanya di serahkan pada ibu.
Dan ibu tidak bisa mengelolanya dengan baik.
Malah justru warteg tersebut di jual oleh ibu, untuk memenuhi kepentingan suami barunya. Yang senang mengkonsumsi minum- minuman keras.
Akhirnya masalah di perparah dengan meninggalnya mertua laki-laki kakak perempuan ku.
Dan keluarga suami kakak perempuan ku menyalahkan ibu atas kematiannya.
Masalah menjadi kompleks dan semakin sulit. Hingga kakak perempuan ku dan suaminya meneruskan usaha mertuanya untuk berjualan empek-empek.
Tetapi tidak semudah itu.
Ibu dan kakak perempuan ku memperebutkan hak asuh Wulan.
Semuanya terus bertengkar dengan sangat hebatnya.
Sehingga di lingkungan tersebut terbagi dua blok pendukung.
Blok pendukung ibu dan blok pendukung kakak perempuan ku.
Pernah suatu hari ibu datang dengan sekumpulan orang untuk meminta Wulan. Tetapi kakak perempun ku tidak mau memberikan hak asuh diri ku pada ibu.
Karena kakak perempuan ku takut.
Jika Wulan nanti kenapa-napa.
__ADS_1
Tetapi Mas Yoki tahu.
Apa yang ibu dan kakak perempuan ku lakukan?.
Mereka berdua terus menarik tangan dan tubuh Wulan, menyeret kesana kemari seperti budak belian.
Tanpa memikirkan perasaan dan rasa sakit adik saat itu
Hingga entah Wulan mendapatkan kekuatan dari mana untuk berteriak.
Bahwa Wulan akan tetap tinggal bersama kakak perempuan ku.
Dimana hal itu membuat ibu memaki-maki Wulan, dengan sumpah serapannya.
Bahwa Wulan adalah seorang anak durhaka, yang tidak paham akan balas budi.
Ibu terus berteriak dengan kata-kata kasarnya seperti itu.
Sementara kakak ipar Wulan datang dan segera membawa Wulan masuk ke dalam rumah.
Halaman ke tujuh:
Masuk ke dalam rumah bukan untuk di hibur. Tetapi Wulan harus merasakan ribuan pukulan dari rotan, kawat listrik untuk menepuk nyamuk oleh kakak ipar dan kakak perempuan Wulan sendiri.
Sakit dan perih tubuh dan hati ini.
Rasanya sakit sekali Mas Joki, hingga tubuh Wulan harus menjadi biru kehitaman.
Dimana sampai sekarang pun, adik masih mengingat akan rasa sakit itu.
Dan ini hanya tahap awal saja dari penderitaan adik, Mas Yoki.
Setelah memutuskan untuk tinggal bersama kakak perempuan ku dan suaminya.
Aku harus hidup dan menjalani kehidupan sesuai peraturan, yang mereka terapkan pada ku.
Setiap pagi Wulan harus bangun jam 02.00 pagi untuk menemani kakak perempuan ku ke pasar.
Yaitu berbelanja ikan segar dan atribut pelengkap nya untuk dibuat empek-empek. Dan pulang ke rumah pukul 04.00 pagi.
Lalu tugas ku di lanjutkan dengan menyiapkan kebutuhan perlengkapan dan bahan-bahan untuk membuat pempek.
Setelah itu aku pun harus mencuci pakaian, piring, membersihkan rumah dan lain-lain.
Hingga sampai Wulan duduk di kelas empat Sekolah Dasar, perlakuan kasar dan semua pekerjaan itu terus Wulan kerjakan.
Kakak ipar Wulan menjadi sosok orang yang sangat menakutkan untuk hidup Wulan. Karena setiap harinya ia akan selalu memenuhi tubuh kurus ini dengan menerima pukulan, tendangan dengan kaki,dan di tampar.
Jika Wulan terlalu lama dan melakukan kesalahan dalam mengerjakan sesuatu.
Pernah dalam beberapa hari Wulan tidak di beri makan apa pun juga.
Wulan di hukum karena terlalu lama mengerjakan sesuatu.
Saat itu Wulan dalam perjalanan pulang dari sekolah.
Wulan sangat merasa lapar dan sangat haus.
Dan sungguh tidak terbayangkan oleh Wulan.
Ingin makan tetapi Wulan tidak di beri uang saku, untuk membeli makanan.
Tetapi saat itu Wulan benar-benar lapar dan sangat lapar sekali.
Alhamdulillah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat baik.
Tiba-tiba tidak jauh dari Wulan berjalan ada orang yang membuang makanan di bak sampah.
Dengan menoleh kiri dan kanan tidak ada orang.
Wulan ambil bungkusan makanan yang di buang oleh orang tersebut.
Dan Wulan langsung duduk di dekat pohon yang tidak jauh dari bak sampah itu.
Kemudian Wulan makan nasi itu Mas Yoki.
Tentunya dengan rasa sedih dan haru yang bercampur aduk menjadi satu.
Dalam menikmati setiap suapan demi suapan, sisa-sisa bekas kudapan orang lain.
Dengan air mata berlinang-linang.
Rasanya saat itu Wulan ingin menjerit dan menangis, untuk menumpahkan rasa kesedihan yang Wulan alami.
Tetapi dengan Siapa Wulan akan membaginya saat itu.
Ingin bersandar pun pada siapa saat itu.
Semuanya bahkan tidak menginginkan kehadiran Wulan.
Tetapi saat itu Wulan bersyukur saja Mas Yoki. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala masih memberikan nikmat untuk Wulan, yaitu masih dapat mengisi perut Wulan yang kosong karena kelaparan.
Itu hanya sebagian kecil kisah kanak-kanak Wulan Mas Yoki.
Dimana waktu Wulan hanya Wulan habiskan untuk membantu kakak perempuan ku untuk bekerja,menjaga keponakan dan membersihkan rumah.
Sampai-sampai sekolah Wulan pun agak terlantar. Dimana Wulan jarang masuk sekolah, karena harus membantu kakak perempuan ku. Dan kakak perempuan ku pun juga tidak terlalu peduli akan pendidikan dan sekolah ku.
Ya,hal ini karena kakak ipar Wulan senang berjudi dan minum-minuman keras.
Sehingga kakak perempuan ku yang berjualan untuk menopang ekonomi keluarganya.
Kemungkinan masalah rumah tangga inilah, yang membuat kakak perempuan ku. Tidak memperdulikan diri ku, bahkan cenderung mengabaikan ku.
__ADS_1
-----
Halaman ke delapan:
Tidak berapa lama dari itu.
Kaka perempuan ku dan suaminya memutuskan untuk hijrah ke Bandar Lampung.
Dengan alasan untuk memperbaiki kehidupan dan memulai kehidupan rumah tangga mereka dari awal.
Tidak terbayangkan saja perasaan Wulan waktu itu, sedih bercampur kecewa.
Karena Wulan harus di tinggalkan oleh kakak perempuan ku.
Dimana ia lebih memilih suaminya, dan meninggalkan diri ku dan ibu di tanah perantauan, tanpa sanak keluarga.
Selang berapa lama kakak perempuan ku pergi.
Wulan memutuskan tidak ikut dengan ibu Wulan.
Tetapi Wulan ikut tinggal dengan teman kakak perempuan ku.
Kurang lebih tiga sampai empat bulan, tetapi Wulan tidak betah.
Dan merasa tertekan saja dengan perlakuan mereka yang kasar.
Dengan berpikir secara kritis.
Wulan pun akhirnya pergi ke tempat ibu adik.
Dan berbicara dengan beliau.
Bahwa tidak mungkin, jika kami harus hidup begini terus.
Dengan terpisah hati dah terbelenggu rasa kecewa hidup di tanah perantauan, tanpa sanak family satu pun.
Akhirnya Ibu menyetujui untuk meninggalkan pria itu dan memilih tinggal bersama Wulan.
Sementara kakak perempuan ku,tidak pernah ada kabar lagi untuk menanyakan keberadaan ku dan juga ibu.
Akhirnya Ibu dan Wulan merintis kehidupan kami dari awal.
Dengan tinggal di rumah konrakan yang sangat sederhana yaitu rumah susun.
Ibu membuka usaha berjualan nasi.
Tetapi itu semua tidak tiga ratus enam puluh derajat , dapat mengubah kebiasaan buruk ibu ku.
Karena ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, di tambah ekonomi yang krisis, membuat ibu harus melakukan kebiasaan lamanya.
Dengan memulai menjalin hubungan dengan pria-pria tanpa status ikatan pernikahan.
Ucapan ku dan nasehat ku pun tidak pernah beliau dengarkan.
Ibu hanya menganggap Wulan sebagai anak ingusan yang tidakbada artinya.
Halaman ke sembilan:
Hal itu juga di perparah dengan lingkungan tempat tinggal adek yang full freedom.
Dimana lingkungan adik tinggal itu penuh dengan banyak sekali perbuatan dosa dan negatif.
Astaghfirullah.
Mas Yoki di sini semua perilaku-perilaku menyimpang ada semua.
Baik dari hal-hal negatif dan sikap-sikap yang sangat negatif sekali pun.
Semuanya menjadi lingkup tanpa batas dan tidak terkendali.
Adik harus tumbuh dalam putaran dunia yang sangat menakutkan. Dalam lingkungan yang sangat mengerikan seperti itu.
Yah, dimensi ini pula lah yang mungkin semakin memperbesar potensi negatif dari diri ibu untuk mereview.
Semua kisah-kisah negatif dari perilakunya. Di tambah ekonomi kamj yang pas-pasan. Sehingga semakin membuat ibu harus memutar otak.
Untuk dapat bertahan hidup dengan cara yang tidak baik pula.
Dan kakak perempuan ku tidak pernah ada kabarnya sedikit pun.
Tetapi semua itu tidak membuat Wulan menyerah, untuk bisa mengubah ibu agar menjadi orang yang lebih baik.
Mungkin sudah ribuan atau jutaan air mata ku yang tumpah.
Saatvmenyaksikan perbuatan terkutuk ibu dengan pria-pria hidung belang.
Ucapan Wulan bahkan tidak pernah di dengar oleh ibu.
Malah Wulan sering di caci maki oleh ibu.
Bahkan Wulan pun pernah di suruh pergi dari rumah.
Jika tidak ingin melihat perbuatan ibu.
Ibu hanya terus marah dan berteriak dengan suara kerasnya.
Dia selalu hanya mengatakan.
Jika Wulan itu anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Dan tidak bisa memberi uang ke ibu.
Ingin keluar dan pergi dari rumah.
Tentu ingin Wulan lakukan.
__ADS_1
Tetapi apakah Wulan tega meninggalkan Ibu sendirian.Dengan sikapnya yang jauh dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Pertanyaan itu yang sering muncul di dalam benak Wulan, sebelum untuk memutuskan kabur dari rumah.