Setumpuk Rindu Dalam Kata.

Setumpuk Rindu Dalam Kata.
Resah.


__ADS_3

Palembang, 21 Januari 2011.


Merasa tidak enak karena semalam, aku tidak membalas pesan dari Mas Yoki. Dan langsung tidur, akibat arah pembicaraan kami yang sangat mengusik diri ku.


Dan saat aku bangun juga telah melaksanakan salat tahajud. Setelahnya aku mengambil telepon genggam ku. Dan segera membalas pesan dari Mas Yoki. Sekaligus meminta maaf kepada dirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03:20:21.


"Mas Yoki, maaf baru membalas pesan dari Mas. Semalam adek ketiduran. "


Dan Mas Yoki pun hanya menjawab pesan dari ku dengan sangat singkat.


"Yo'i, " begitu balasannya.


Aku lalu meletakkan telepon genggam ku lagi di atas meja. Dimana aku mulai terganggu dengan balasan pesan singkat dari Mas Yoki, yang sangat minim dengan kata-kata. Namun, aku tetap berpikiran positif dan melanjutkan tadarus Al-Qur'an ku. Sembari menunggu waktu salat subuh tiba.


Dan sebelum berangkat bekerja.


Aku pun mengirimkan pesan lagi pada Mas Yoki.


"Mas Yoki apakah sudah bangun?.


Jangan lupa makan salat ya mas.


Dan satu lagi, nanti berangkat kerjanya hati-hati ya mas. "


Aku menunggu balasan pesan ku.


Dan pada pukul 06:39:09.


Pesan ku baru di balas oleh Mas Yoki.


"Mas sudah dari tadi bangunnya adek. Pasti dong, sayang. Miss you Dek Wulan.


Adek hati-hati berangkat kerjanya dan jangan lupa makan yang banyak ya dek. "


Setelah membaca balasan pesan dari Mas Yoki. Aku pun merasa lega dan tenang.


Malam harinya pada pukul 21:57:02.


Mas Yoki mengirimkan pesan pada ku.


"Malam adek. Apakah adek sudah pulang dari kursus bahasa Inggris nya?. "


Tetapi aku baru membalas pesan dari Mas Yoki pada pukul 22:00:18.


Setelah aku sudah berganti pakaian dan melaksanakan salat Isya.


"Alhamdulillah adek sudah pulang kursus Mas Yoki. Oh ya, Mas sudah makan dan salat belum. "


"Sudah Dek Wulan. Oh ya, adek sendiri sudah makan dan minum obat belum. "

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah mas.


Mas Yoki sedang apa sekarang?.


Oh ya, tadi Mas Yoki salat Jum'at tidak. "


"Saat ini mas sedang menonton televisi, dek. Ya, pasti mas salat Jum'at lah adek. Kan salat Jum'at itu sudah menjadi kewajiban seorang muslim.


Oh ya, ibu tadi masak apa dek?. "


"Alhamdulillah, senang adek mendengar nya.


Ibu masak banyak mas. Ada nasi uduk,kerupuk ,ayam goreng, bihun, sawut telur, telur balado, keringan tempe dan kentang,perkedel,sambal terasi."


"Waduh, banyak sekali menunya. Seperti orang yang mau punya hajatan saja.


Dek Wulan tadi habis banyak tidak makannya. "


"Tidak hajatan Mas. Ibu sekalian masak buat berbagi ke tetangga. Karena adek sudah sehat. Adek makannya biasa saja mas. "


"Wah, adek di manjain ibu nih. Oh ya, bagaimana keadaan ibu. Apakah keadaan ibu baik-baik saja Dek Wulan?. "


"Alhamdulillah, keadaan ibu baik-baik saja Mas Yoki. Oh ya, kalau boleh tahu Mas Yoki tinggal di kota Solo. Di Solo mananya Mas. "


"Mas tinggal di tepat kota Solonya Dek Wulan. Memangnya kenapa Dek Wulan. "


"Alamat nya dimana mas, kalau boleh adek tahu mas. Adek hanya ingin tahu saja mas."


"Di Jalan Cipto Mangunkusumo. Memangnya adek mengetahui daerah Solo."


"Itu daerah mana ya Dek Wulan?. Daerah Solo atau Boyolali, dek. "


"Kalau tidak salah daerah Solo, Mas Yoki."


"Hmm, kok mas baru mendengar nya ya Dek Wulan. Memang nya kenapa Dek Wulan. "


"Tidak apa-apa Mas, adek hanya bertanya saja."


"Iya Dek Wulan. Mas tahu. Yang mas tanyakan adalah mengapa Dek Wulan menanyakan daerah itu. Pasti ada alasannya kan."


"Tidak apa-apa mas, adek hanya bertanya saja kok. Mas tidak usah terlalu memikirkan nya. "


"Ehm, begitu ya.


Oh ya, Dek Wulan sekarang sedang apa?."


Namun, aku tidak langsung membalasnya. Karena segera ke kamar mandi, untuk membuang air kecil.


Dan Mas Yoki pun mengirimkan pesan lagi pada ku.


"Apakah adek ketiduran atau sudah benar-benar tidur?. "

__ADS_1


Tidak lama kemudian, saat waktu menunjukkan pukul 22:35:43.


Mas Yoki pun menghubungi ku.


Aku dan Mas Yoki pun saling berbicara lewat sambungan telepon hingga waktu menunjukkan pukul 01:51:21.


"Dek Wulan, di lanjutkan besok lagi saja ya Dek, " ucap Mas Yoki melalui pesan SMSnya karena sambungan telepon kami terputus.


Aku pun langsung membalas pesan dari Mas Yoki.


"Iya Mas, adek sudah mengantuk. "


"Iya Dek Wulan, sama. Mas juga sudah tidak kuat. Mas juga mengantuk. "


"Ya sudah mas. Ayo kita lekas tidur. "


"Iya Dek Wulan. Mas juga ingin sekali tidur bareng adek. Tetapi menunggu kita ketemu dan di halalin oleh bapak penghulu dulu ya dek. Hehehehe. "


"Astagfirullah, Mas Yoki. Ayo tidur. Selamat malam mas. "


"Okey. Dek Wulan ingin tidurnya dimana?.


Nanti, InsyaAllah jika mas dan Dek Wulan sudah halal. Mas ingin Dek Wulan tidur di atas dadanya mas. Dan hanya di balut dengan selimut saja.


Miss you Dek Wulan. "


"Ayo mas Yoki tidur, jangan bercanda terus.


Miss you too Mas Yoki.


Adek tidur ya mas. Selamat malam Mas Yoki."


"Ayo Dek Wulan. Selamat tidur Dek Wulan. Tolong selalu mimpikan masnya ya Dek Wulan.


I love you Dek Wulan. "


Aku tidak lagi membalas pesan dari Mas Yoki. Karena diri ku sudah terlelap dalam tidur. Dimana rasa kantuk sudah sangat menjerat diri ku. Dan menarik kedua mata ku untuk terpejam.


Dengan begitu saja ku letakkan telepon genggam yang sudah ku nonaktifkan, di bawah bantal ku.


Ku tarik selimut berwarna merah untuk menutupi tubuh ku.


Tanpa terasa aku pun sudah terlelap dalam tidur Ku, dan lupa mematikan lampu kamar ku.


Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi ku. Pasca sembuh dari sakit dan masih pemulihan. Aku harus beraktivitas seperti sebelumnya.


Pagi hingga sore hari bekerja. Dan setelah bekerja hingga malam pukul sepuluh. Aku harus kursus atau mengajar private. Setelahnya dengan sedikit waktu tersisa. Aku dapat berkomunikasi atau berbincang dengan Mas Yoki. Melalui pesan SMS atau sambungan telepon.


Hal sederhana yang setidaknya dapat memacu semangat ku. Dalam menjalani kehidupan ku saat ini.


Dimana dalam hal sederhana itu, dapat ku temukan sedikit kebahagiaan. Yang secara tidak langsung telah mengubah jalan kehidupan ku. Yang awalnya sepi dan hambar, kini lebih berwarna juga terorganisir, dengan harapan akan tujuan kehidupan baru.

__ADS_1


Sebuah harapan akan ikatan suci yaitu pernikahan.


Dimana rute perjalanannya sedang di mulai dari sekarang.


__ADS_2