
Palembang, 16 Januari 2011.
Setelah kemarin malam aku langsung beristirahat sesampainya tiba di rumah.
Aku benar-benar bed rest dan memulihkan fisik ku. Dimana telepon genggam milik ku pun sengaja tidak aku aktifkan, karena tubuh ku merasa sangat tidak enak.
Hingga pada malam hari sekitar pukul 21:44:19.
Banyak pesan masuk dari Mas Yoki yang belum sempat ku balas.
"Dek Wulan, bagaimana keadaan adek sekarang?.
Apakah Dek Wulan baik-baik saja sekarang?
Lalu, apa yang di katakan oleh dokter mengenai kondisi Dek Wulan saat ini?," tanya Mas Yoki melalui pesan singkat nya.
"Dek Wulan tolong balas pesan dari Mas.
Mas, sangat mengkhawatirkan diri mu Dek Wulan, "pinta Mas Yoki pada pesan singkat nya yang lain.
Namun, aku pun belum sempat membalas pesan dari Mas Yoki. Karena kepala ku masih terasa pusing dan akhirnya aku pun melanjutkan tidur ku kembali.
Barulah sekitar pukul dua belas malam. Aku terbangun dan harus meminum obat lagi.
Kali ini aku merasa sedikit jauh lebih enak dan nyaman dengan kepala ku.
Setelah makan beberapa iris roti tawar dan minum obat. Aku kembali ke atas kasur ku dan bersandar pada dinding. Ku ambil telepon genggam millik ku, untuk membalas pesan dari Mas Yoki.
" Pasti Mas Yoki akan sangat mengkhawatirkan diri ku, "ucap ku di dalam hati.
Dan benar saja saat ku lihat di layar telepon genggam milik ku. Banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Mas Yoki.
Dengan segera aku pun membalas pesan nya, agar Mas Yoki tidak merasa cemas. Meskipun sudah ku tahu ini sudah malam.
" Mas Yoki. Maaf Wulan baru bisa membalas pesan dari Mas Yoki. Sebab Wulan sedang tidak sakit dan benar-benar beda rest.
Mas Yoki tidak usah khawatir dan cemas. InsyaAllah Wulan dalam keadaan yang baik-baik saja sekarang, "balas ku.
Tidak lama kemudian pesan ku langsung di balas oleh Mas Yoki.
" Mas sayang sekali dengan Dek Wulan.
Mas mohon adek jangan pernah meninggalkan Mas ya dek. Malam ini apa yang harus Mas lakukan, supaya Dek Wulan dapat tidur dengan nyenyak dan segera lekas membaik kesehatannya. "
"Di peluk Mas Yoki, " jawab ku.
"Baik Dek Wulan. Adek agak geser sedikit ya, supaya Mas dapat memeluk Dek Wulan dengan erat. Ya sudah sekarang Dek Wulan tidur ya sayang. I love you. Muach.
Lekas sembuh dan segera sehat kembali ya, Dek Wulan. "
Aku kemudian meletakkan kembali telepon genggam milik ku, setelah menonaktifkannya sebelumnya.
Sekarang perasaan ku jauh lebih baik, setelah dapat membalas pesan singkat dari Mas Yoki. Meskipun aku dan Mas Yoki belum dapat saling berbicara satu sama lain dari sambungan telepon.
Tetapi setidaknya pesan singkat yang kami lakukan, dapat mengobati akan rasa kerinduan di hati masing-masing.
Dengan segera aku langsung membaringkan tubuh ku, di atas ranjang tempat tidur dan kembali memejamkan kedua mata ku.
-----
Palembang, 17 Januari 2023.
Pagi ini kondisi badan ku alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Maka sebelum beraktivitas. Aku pun menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan pada Mas Yoki.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:57:18.
"Selamat pagi Mas Yoki. Apakah Mas sudah sarapan pagi?," tanya ku melalui pesan SMS.
Mas Yoki pun langsung merespon pesan ku dengan cepat.
"Pagi juga Dek Wulan. Alhamdulillah Mas sudah selesai makan, dek. Oh ya, sekarang Dek Wulan sedang apa?. "
"Wulan sedang duduk santai Mas.
Mas Yoki sendiri sedang apa?. Oh ya, Mas jaga diri baik-baik dan jangan pernah lupa makan juga salat. I love Mas Yoki. "
"Alhamdulillah jika kondisi Dek Wulan sudah lumayan membaik. Ya sudah, Dek Wulan terusin saja aktivitasnya. Sekarang Mas sedang mau bersiap-siap mengantar teman-teman kerja. Iya adek ku sayang, InsyaAllah Mas akan selalu ingat untuk makan dan tepat waktu dalam mengerjakan salat. Terima kasih banyak ya dek, karena Dek Wulan sudah selalu perhatian banget dengan Mas. I love you too Dek Wulan.
Jangan lupa obatnya di minum, supaya Dek Wulan lekas sembuh ya sayang."
"Iya Mas Yoki. Hati-hati kerjanya Mas. "
Setelah itu obrolan kami berhenti.
Mas Yoki melanjutkan pekerjaannya dan diri ku bersantai dengan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Aku masih menikmati kesendirian ku, sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah ku. Sembari menikmati susu coklat hangat. Perlahan aku menggerakkan jemari tangan dan kaki ku, setelah hampir seharian aku rebahan di tempat tidur. Karena merasa bosan, aku pun kembali ke kamar ku sambil membawa buku yang akan ku baca. Dan aku pun tenggelam dalam aktivitas ku. Hingga tidak terasa waktu sudah semakin siang dan menunjukkan pukul 12:11:19.
Aku pun segera bergegas untuk melaksanakan salat dzuhur.
Namun, sebelum beranjak dari duduk ku.
Telepon genggam milik ku berbunyi.
Dengan cepat ku ambil, dan ku lihat ternyata pesan dari Mas Yoki. Yang segera langsung ku buka dan ku baca pesannya.
"Dek Wulan, jangan lupa makan dan minum obatnya ya sayang. Terus, adek juga istirahat saja, ya. "
Aku tersenyum membaca pesan dari nya. Tetapi pesan dari Mas Yoki tidak langsung ku balas, karena aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan salat dzuhur.
Barulah sekitar pukul 13:23:13.Pesan dari Mas Yoki baru ku balas. Setelah aku selesai melaksanakan salat Dzuhur, makan dan juga minum obat.
Aku kemudian kembali duduk di dekat televisi, sambil meluruskan kaki ku dan bersandar lemari jati serta bersiap untuk membalas pesan dari Mas Yoki.
"Alhamdulillah Mas Yoki, adek sudah selesai melakukan itu semuanya. Mas Yoki sendiri apakah sudah makan siang?, " tanya ku melalui pesan singkat.
"Syukurlah jika begitu dek, mas senang mendengarkannya. Alhamdulillah mas juga sudah makan siang. Sekarang Dek Wulan istirahat saja ya atau tidur siang. Supaya badannya lekas pulih dan benar-benar sehat lagi, ya sayang. "
"Adek tidak mengantuk Mas Yoki.
Oh ya, Mas Yoki makan sama lauk apa?. "
"Mas makan dengan gule kambing dek.
Oh ya dek, ibu tadi masak apa dek?. "
"Ibu masak bubur ayam mas.
Mas Yoki apakah masih merokok?."
"Ya mas sudah berusaha untuk menguranginya Dek Wulan.
Ya sudah adek mandi saja dulu, supaya wangi dan segar. I love you Dek Wulan. "
"Nanti sore sekalian saja ade mandinya mas. Oh ya, Mas apakah sudah sampai di mess?. "
"Belum adek, kemungkinan nanti sore mas baru sampai di mess nya. Maafin mas ya Dek Wulan. Karena tidak bisa menemani adek saat sedang libur seperti ini. "
"Tidak apa-apa Mas Yoki. Lagi pula kenapa Mas Yoki harus minta maaf. Adek justru senang dan bangga Mas rajin bekerja nya. "
"Terima kasih banyak ya Dek Wulan untuk pengertian nya. Mas itu sayang sekali dengan Dek Wulan. Cepet sembuh ya dek.
"Miss you too mas.
Oh ya, Mas Yoki apakah sudah membaca Al-Quran nya?. "
"Ya belum lah adek ku sayang. Karena mas kan baru kemarin sore menemukan
Al-Qu'ran nya. InsyaAllah, besok mas akan membacanya. Soalnya nanti sebentar lagi, mas akan menghadiri undangan pernikahan teman kerja. "
"Oh ya sudah Mas Yoki nanti hati-hati ya dan jaga diri baik-baik. "
"Iya adek ku sayang. Adek juga hati-hati ya, dan jangan lupa Dek Wulan untuk banyak beristirahat juga tidak banyak berpikir yang macam-macam.Serta minum obatnya yang rutin ya dek. InsyaAllah nanti jika mas sudah sampai. Mas akan telepon adek. "
Setelah itu, aku dan Mas Yoki berhenti berkirim pesan. Aku istirahat di tempat tidur ku dan meletakkan telepon genggam milik ku di dalam laci.
Tanpa terasa waktu kembali berputar dan terus berlalu dengan cepat.
Hingga sampai pukul 22:43:19 .
Aku pun baru mengecek telepon genggam milik ku. Ada banyak panggilan tidak terjawab dari Mas Yoki.
Dan segera pula aku mengirimkan pesan padanya.
"Mas Yoki sedang apa sekarang?, " tanya ku melalui pesan SMS.
Dan dengah cepat pula Mas Yoki membalas pesan dari ku.
"Mas sedang berpikir Dek Wulan. "
"Apa yang Mas Yoki pikirkan?. "
"Mas memikirkan hubungan kita dek. Kelanjutan untuk hubungan kita. "
"Apakah tidak sebaiknya Mas Yoki berpikir tentang keberlanjutan hubungan kita , setelah Mas Yoki membaca surat balasan dari adek untuk Mas, " saran ku pada Mas Yoki.
"Memang kenapa adek. Apakah tanpa membaca surat balasan dari Dek Wulan, Mas tidak boleh berpikir?.
Dek Wulan, mas itu serius ingin menjalin hubungan yang sakral dengan adek.
Dimana nantinya yang akan menjalani rumah tangga kan kita berdua. Jadi tinggal bagaimana caranya kita berdua untuk menyelaraskan hati dan juga pikiran kita. Agar tetap berada dalam jalan yang ridho oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1
Mas mau tanya apakah Dek Wulan sudah siap untuk menikah?, " tanya Mas Yoki yang terus membawa arah pembicaraan kami ke arah yang semakin serius.
"InsyaAllah Mas Yoki, jika Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkehendak. "
"Tetapi Dek Wulan mempunyai niat untuk menuju ke arah pernikahan kan.
Atau Dek Wulan mempunyai tahapan -tahapan untuk Mas, supaya Mas dapat mewujudkan semua mimpi itu. "
"Wulan bingung harus berkata apa dengan Mas Yoki saat ini. Akan lebih baik, jika Mas Yoki sudah membaca surat dari adek. Jujur saat ini adek takut jika terlalu berpikir jauh. Sebelum Mas Yoki membaca surat balasan dari adek. "
"Hal apa yang Dek Wulan takutkan dalam berumah tangga?. Maksud Mas apakah adek trauma akan sesuatu hal, seperti kekerasan dan yang lainnya, " tanya Mas Yoki yang semakin mendesak ku.
"Nanti Mas Yoki baca sendiri saja balasan dari surat adik ya Mas. "
"It's okay. Mas jadi tidak sabar menunggu kedatangan surat balasan dari Dek Wulan.
Apakah adek sudah selesai menulisnya?. "
"Alhamdulillah sudah Mas Yoki. "
"Wow.Kalau Mas boleh meminta, bisakah adek memberikan Mas foto adek lebih dari satu atau kalau tidak seikhlasnya Dek Wulan saja lah. Mas tidak memaksa adek.
Mas hanya ingin satu pilihan hidup, satu perasaan, satu wanita yaitu Dek Wulan, InsyaAllah. "
"Hmmm, Mas Yoki mulai lagi ngegombal nya. "
"Mas tidak ngegombal Dek Wulan.
Mas ingin lain kali kita langsung saja foto berdua. Eh, tetapi saat mas berpikir lebih baik di pending dulu saja. Karena yang mas inginkan adalah kita foto sendiri terus di tempelkan di surat nikah saja bagaimana Dek Wulan. Kalau mas InsyaAllah sudah sangat siap. Dan hanya menunggu persetujuan dari Dek Wulan saja. Sekarang tergantung dari adeknya sudah siap atau belum untuk menikah dengan mas.
Hehehehe. "
"InsyaAllah Mas Yoki. "
"Asyik.Miss you Dek Wulan.
Karena mas itu mencari sosok yang cantik hatinya bukan cantik fisiknya. Dimana hadirnya Dek Wulan dalam kehidupan mas. Membuat warna berbeda. Sebab dari dulu sampai sekarang mas belum menemukan sosok yang seperti Dek Wulan.
Oh ya, apakah Dek Wulan ingin tetap tinggal terus di Palembang?. "
"Tidak Mas."
"Terus adek ingin tinggal dimana?. "
"Tinggal bersama masnya. Hehehe. "
"Memang Dek Wulan mau ikut dengan Mas yang hidupnya di perantauan. "
"Iya tidak apa-apa Mas Yoki. Kemana pun Mas Yoki membawa Wulan, InsyaAllah Wulan akan ikut dengan Mas. Asalkan kita berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan negara. "
"Alhamdulillah. Kita sama-sama mempunyai niat baik. Nah, sekarang tinggal kita mencari solusi, supaya kita dapat segera merealisasikan keinginan kita untuk bersama.
Terus Dek Wulan harus meninggalkan ibu adek dong, jika ikut dengan mas. Apakah Dek Wulan tidak kangen nantinya?. "
"InsyaAllah kemana pun Wulan pergi, ibu akan tetap ikut bersama Wulan Mas.
Meskipun Wulan sudah menikah nantinya
Apakah Mas Yoki keberatan akan hal itu?, " tanya ku.
"InsyaAllah tidak Dek Wulan.
Ya sudah, sekarang Dek Wulan tidur ya sayang. Ini sudah malam. Apalagi kondisi adek masih belum sepenuhnya sehat.
Mas sayang adek.
Selamat malam dan tidur adek.
Semoga mimpi yang indah ya dek.
Muach. I love you Dek Wulan. "
Obrolan kami pun berakhir malam itu.
Dimana aku merasakan jika Mas Yoki ,terus membawa arah pembicaraan kami berdua menuju ke arah pernikahan.
Sesuatu hal yang sebenarnya ingin aku hindari dan aku takuti, sebelum Mas Yoki membaca surat balasan dari ku. Dimana belum sepenuhnya Mas Yoki mengetahui semua hal tentang diri ku dan juga asal usul ku.
aku takut untuk terlalu bermimpi atau berangan lebih jauh lagi, karena Mas Yoki sendiri masih belum mengetahui sepenuhnya tentang diri ku dan juga kehidupan ku.
Meskipun sudah sering kali Mas Yoki meyakinkan diri ku akan ketulusan dan kemurnian cinta nya.
Tetapi entahlah perasaan ragu dan bimbang itu masih saja terus menerus hinggap di dalam hati ku.
Sebab semua tidak semudah yang di bayangan kan, karena aku sungguh takut terluka dan terbenam lagi dalam kesedihan juga beban kepayahan hati yang akan menyiksa.
__ADS_1
Namun, Mas Yoki terus membuat ku berani dan tidak takut untuk bermimpi.
Merangkai kehidupan di masa depan yang masih dalam fatamorgana.