Setumpuk Rindu Dalam Kata.

Setumpuk Rindu Dalam Kata.
Kecemasan.


__ADS_3

"Ehem. Wulandari adalah sosok wanita religius dan cantik. Yang mana ia mempunyai memori hidup penuh dengan dinamika. Dan aku beruntung dapat mengenal juga dekat dengan dirinya. InsyaAllah aku akan siap menjadi imamnya.


Apakah Dek Wulan sudah pulang?,"tanya Mas Yoki pada pesan singkatnya yang masuk pada pukul 21:45:43.


Hari ini kurang lebih delapan belas hari aku mengenal dirinya. Dimana kedekatan ku dan dirinya terjalin semakin erat dan intens.


Sambil penuh tanya dengan hati tidak menentu, tanpa terasa bibir ku memgukir senyuman. Setelah membaca pesan darinya.


Dan dengan segera aku pun membalas pesan dari Mas Yoki.


" Alhamdulillah adek sudah pulang Mas Yoki."


" Kehidupan itu seperti sebuah buku.


Dimana ada halaman depan yang terdapat tanggal lahir dan ada halaman akhir yang merupakan tanggal pulang untuk menggadp Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Yang mana setiap lembarannya adalah hari-hari dalam menghadapi kehidupan kita selama di dunia ini.


Ada buku yang tebal dan ada pula buku yang tipis. Ada buku yang menarik untuk dibaca, dan ada pula buku yang tidak sama sekali menarik untuk di baca atau pun di lihat. Semuanya di tulis dan terabadikan secara detail dan lengkap. Yang berguna untuk memperlihatkan seberapa hebatnya kita dan seberapa buruknya diri kita


di dalam setiap halamannya.


Dimana pada setiap halaman sebelumnya, akan selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih dan baru serta tidak memiliki cacat pada kehidupan kita.


Dengan maksud, bahwa seburuk apa pun hari kemarin Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu menyediakan hari baru untuk kita hadapi selanjutnya. Dan seberat apapun hari ini tetaplah tersenyum serta yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan catatan di dalam buku kehidupan kita selalu penuh dengan air mata. "


Aku menjadi sangat heran.


Mengapa Mas Yoki mengirimkan pesan seperti itu pada ku.


"Apa maksud dari pesan yang Mas Yoki kirimkan kepada adek?, " tanya ku membalas pesan darinya.


"Alhamdulillah surat dari Dek Wulan sudah sampai ke Mas. Dan Mas sudah membaca surat dari adek sebanyak tiga kali. Sungguh sebuah cerita hidup yang penuh dengan perjuangan.


Oh ya, Dek Wulan apakah sudah makan dan minum obatnya?, " balas Mas Yoki.


"Alhamdulillah sudah Mas Yoki.

__ADS_1


Saat ini Mas ada di Solo kan, sedang kan suratnya tertuju pada alamat kantor Mas Yoki di jogja. Terus bagaimana surat dari adek bisa sampai ke Mas Yoki. "


" Kebetulan tadi ada truk yang semalam pulang dari luar kota. Dimana truk itu mengirimkan barang ke Jogja.


Mengetahui akan hal itu, maka mas langsung menelepon staf yang bekerja di Jogja. Sekaligus mengatakan dan berpesan. Jika ada surat untuk Mas supaya menitipkan kepada sopir truk itu. Dan saat truk itu kembali ke Solo. Sopirnya pun memberikan surat itu kepada mas.


Oh ya , adek Wulan sekarang sedang apa?."


"Oh begitu. Pasti Mas Yoki kecewa setelah membaca surat balasan dari adek. Mas Yoki boleh kok mundur atau berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan dengan adek. Setelah Mas Yoki mengetahui semua latar belakang adek. "


"Astagfirullah Dek Wulan.


Kenapa adek berbicara seperti itu.


Mas mohon adek jangan selalu mematok segala sesuatu dari hati dan pemikiran adek sendiri. Sekarang Mas minta untuk Dek Wulan memfokuskan untuk kehidupan adek yang selanjutnya saja. Dan menjauh dari bayang-bayang masa lalu.


Bagaimana pun latar belakang Dek Wulan.


Mas tetap sayang dengan adek titik. "


"Apakah Mas Yoki serius dengan ucapan mas dan tidak akan menyesal?. "


Namun, aku tidak langsung membalas pesan dari Mas Yoki.


Dimana hati ku masih menyangsikan akan ketulusan Mas Yoki, yang benar-benar akan menerima latar belakang ku dan juga ibu ku.


Mas Yoki pun mengirimkan pesan lagi pada ku.


"Adek kenapa kok diam dan tidak membalas pesan dari Mas. "


"Maaf Mas Yoki, adek sedang menangis. "


"Mengapa Dek Wulan menangis?. "


"Adek masih tidak percaya saja, jika Mas Yoki mau menerima latar belakang Wulan yang tidak jelas. "


"Apa yang Dek Wulan rasakan sekarang?. "

__ADS_1


"Sedih bercampur senang Mas Yoki. "


"Sedihnya apa dek?. Dan senangnya apa?. "


Dek Wulan sebentar lagi Mas telepon adek ya. Namun, sekarang Mas mau ke kamar mandi dulu. Mas minta adek jangan tidur dulu ya, "pinta Mas Yoki pada ku.


Dan benar tidak lama setelah itu Mas Yoki menghubungi ku. Banyak hal yang kami bicarakan. Tentunya mengenai ketulusannya untuk menerima latar belakang ku. Dimana Mas Yoki pun berusaha untuk terus meyakinkan diri ku. Jika ia benar-benar tidak mempedulikan latar belakang ku. Hingga aku dan Mas Yoki pun larut dalam kesedihan yang penuh keharuan.


Pukul 01:45:20 setelah selesai menghubungi diri ku. Mas Yoki kembali mengirimkan pesan pada ku.


" Mas sayang sekali dengan Dek Wulan. Mas meminta tolong adek jangan pernah berubah pikiran ya dek. I love you Dek Wulan.


Semakin Mas mengenal adek. Semakin tebal rasa percaya diri Mas, untuk bisa mengarungi samudra kehidupan ini bersama adek sebagai pendamping hidup Mas. Terima kasih ya Dek Wulan untuk semuanya. Muach.. Muach. "


"Aamiin ya rabbal'alamiin. "


"Ya sudah adek, sekarang kita tidur yuk. Supaya tidak mubazir waktu untuk segera beristirahat. Adek sekarang tidur dan jangan banyak pikiran ya sayang. Mas akan segera tidur dan memimpikan Dek Wulan.


Selamat malam Dek Wulan.


Mas sayang Dek Wulan. "


Malam itu pun aku lalui dengan pemikiran akan kepercayaan ku pada Mas Yoki.


Dia adalah laki-laki pertama yang mengetahui latar belakang diri ku dan keadaan ibu ku. Senang bercampur sedih, saat ia tidak mempersoalkan hal itu.


Tetapi, tetap saja ada secuil rasa kekhawatiran yang terus menyergap diri ku.


Meskipun Mas Yoki sudah berusaha untuk meyakinkan diri ku.


Aku sudah berbaring di tempat tidur ku.


Namun, kecemasan masih sangat mengusik diri ku. Aku takut jika nanti setelah menikah Mas Yoki akan mengungkit latar belakang ku dan keadaan ibu ku. Sesuatu hal yang sering di lakukan oleh kakak ipar ku terhadap kakak perempuan ku.


Rasa ketakutan itu terus menerus menyergap diri ku, dan semakin membuatku merasa sangat gelisah.


Hingga berulang kali, aku mencoba untuk memejamkan kedua mata ku.

__ADS_1


Namun, juga tidak dapat terpejam.


Karena rasa kecemasan dan pikiran negatif ku yang terus membawa hati ku berkelana dalam rasa takut.


__ADS_2