Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Orang yang mencurigakan?


__ADS_3

“Kenapa harus pindah?” tanya Reina tak mengerti.


“Apa masalahnya dengan kos-kosan ini, jelas di sini sangat nyaman dan aman,” ungkap Reina lagi.


“Kamu tidak tahu Reina, tadi saat kami berdua berjalan menuju kos-kosan, kami tadi sempat diikuti oleh orang-orang berbaju hitam. Jumlah mereka tidak sedikit Reina, karena meski kita berhasil kabur dan sembunyi di sini. Mungkin saja nanti mereka akan tahu tentang keberadaan kita.”


Terlihat wajah Asyila yang kentara ketakutan dan sangat ingin mengajak Reina untuk segera pindah. Asyila takut jika nanti Reina akan berada dalam bahaya.


“Siapa yang mengikuti kalian? apa kalian berbuat hal yang menyinggung mereka hingga membuat orang-orang itu mengejar kalian?”


“Tidak mungkin aku berani menyinggung mereka. Jangankan menyinggung mereka, aku saja selalu bersikap baik dan tidak pernah berani bersikap buruk. Kamu tahu 'kan jika Dadyy sangat peduli pada nama baik, jadi mana mungkin aku bersikap hal yang menyinggung mereka, apalagi mereka adalah orang-orang yang terlihat hebat.”


“Jadi mengapa mereka mengejar kalian?” tanya Reina curiga. Tatapan Reina itu hanya dibalas dengusan kesal.


“Kalau tidak percaya kamu bisa bertanya pada orang disebelahku, bukankah kamu percaya padanya karena pemikirannya kini,” kata Asyila menatap Erland yang ada disampingnya kini.


“Mah, yang dikatakan oleh Tante Syila itu benar. Mereka tiba-tiba mengejar kita. Padahal jelas kita tidak kenal apalagi tahu mereka,” ungkap Erland.


Asyila yang dipanggil dengan sebutan Tante' oleh Erland, entah mengapa ia merasa aneh saat ada orang yang lebih tua darinya tapi memanggilnya dengan sebutan Tante'. Hingga tanpa sadar Asyila tersenyum canggung, jadi apa seperti ini perasaan Reina saat dipanggil Mamah' oleh Erland?


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Seperti yang tadi aku katakan, sebaiknya kita pindah saja Reina. Di sini sudah tidak aman lagi, dan untuk sementara waktu kamu tinggal saja di rumahku terlebih dahulu sampai suasananya aman. Setelah itu kamu baru bisa kembali ke sini.”


...*****...


“Bagaimana?” tanya Barack yang tak lain adalah asisten dari Erland. Lelaki itu ingin tahu tentang perkembangan informasi dari anak buahnya mengenai keberadaan Erland.


“Tuan, saya yakin jika yang kami lihat tadi adalah tuan Erland. Kami tidak mungkin salah melihat, itu pasti tuan Erland!” salah satu bawahan yang ada di sana mengungkapkan pendapatnya.


“Iya Tuan. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri jika itu pasti tuan Erland. Tidak mungkin jika kami tidak bisa mengenal wajah tuan kami sendiri! jelas kami tahu betul dirinya. Sekalipun tuan kami berubah, tapi di mata kami dia tidak pernah berubah,” salah satu bawahan yang lain ikut menimpali.

__ADS_1


“Berubah? apa yang berubah dari tuan?”


“Entahlah tuan, kami tidak tahu dengan pasti. Tapi kami yakin jika memang benar ada sesuatu yang berubah dari Tuan Erland.”


...*****...


Reina yang kini sedang berjalan ke arah kampusnya itu, ia terlihat memandang jengah ke arah Erland yang kini berada tepat di sampingnya. Erland terus saja mengikuti kemanapun Reina pergi.


Laki-laki itu jelas sangat takut jika nanti Reina hilang. Karena kejadian kemarin, yang Erland pikirkan adalah Reina. Ia takut laki-laki misterius yang mengikutinya akan membahayakan Reina nantinya.


“Heran, pikirannya aja kayak anak kecil berusia 5 tahun. Tapi faktanya dia anak yang sangat pintar. Buktinya aja saat ini,” batin Reina.


Kadang Reina sering memandang Erland curiga, ia berfikir jika mungkin saja dokter dan Erland sedang mengelabui dirinya. Untuk sesuatu hal mungkin? Itu kecurigaan Reina karena meski pemikiran laki-laki itu berhenti saat masih berusia 5 tahun, tapi kenapa bisa dia sangat amat pintar.


Hanya Reina yang tahu seberapa pintarnya Erland. Tapi satu hal yang membuat Reina kadang harus berpikir ulang lagi, sikap laki-laki itu benar-benar memang seperti orang yang amnesia. Karena mana mungkin orang yang amnesia akan bisa berakting seperti itu!


“Hai Reina, bareng siapa tuh? pacarnya ya? kok bisa cakep banget kayak gitu?” tanya seorang wanita yang Reina sendiri tidak kenal dengan orangnya.


“Ya ampun, sombong banget sih. Jangan karena terkenal sebagai Si dingin yang cantik', jadi kamu bisa sombong gitu? hei, Donna juga termasuk primadona kampus tahu,” terdengar teman baik dari wanita yang menyapa Reina membela temannya itu.


“Saya tidak tahu kalau saya terkenal, dan saya juga tidak peduli mau terkenal ataukah tidak.”


...........


Reina yang kini sedang berada di kantin restoran, ia hanya diam menunggu Asyila. Wanita yang menjadi sahabatnya itu kini sedang dalam jadwal kuliah satu jam lebih awal darinya.


“Dasar om om jelek! kenapa mereka pada melihat ke arah Mamah' sih?” kesal Erland saat melihat jika banyak pasang mata yang kebanyakan laki-laki sedang melihat ke arah Reina. Padahal para wanita yang ada di sana juga tak henti-hentinya menatap ke arah Erland. Hanya saja laki-laki itu tidak terlalu peduli akan hal itu.


Saking tak sukanya Erland dengan tatapan mereka, ia dengan sengaja memeluk Reina erat. Dan bagi sebagian orang, mereka berfikir jika mungkin Reina dan Erland kini adalah sepasang kekasih.


“Jangan panggil saya Mamah' di sini! itu justru akan terdengar aneh.”

__ADS_1


Padahal sudah berkali-kali Reina memperingati Erland agar jangan memanggil dirinya dengan sebutan Mamah' saat berada di tempat umum, tapi kadang Erland terus saja memanggil Reina dengan sebutan Mamah'.


“Erland tidak suka saat om-om jelek itu melihat ke arah kita! Erland rasanya ingin segera mengambil bola mata mereka satu persatu.” Seperti seorang anak merajuk, Erland mendengus kesal.


“Mereka tidak jelek Erland. Jelas-jelas mereka termasuk mahasiswa tampan di sini,” kata Asyila yang tiba-tiba datang menghampiri meja. Asyila tidak sendirian, ia bersama dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah temannya.


“Jelek! mereka jelek!”


“Sudahlah, mana mungkin juga mereka bisa untuk dibandingkan dengan kamu yang tampan ini. Oh ya Reina, perkenalkan dia Bimo, dia mahasiswa baru di sini tahu.”


Reina yang mendengar itu hanya mengangguk, ia tetap melanjutkan acara makannya itu. Berbeda sekali dengan Bimo yang mematung saat melihat Reina. Ia terkesan dan terpesona, mata abu-abu Reina yang terlihat cantik itu, sangat indah.


“Bimo,” kata Bimo yang mengulurkan tangannya.


“Jangan sok dekat dengan Mamah' kamu om-om jelek!”


Bimo yang dipanggil om-om hanya tersenyum canggung, apa mungkin dirinya terlihat seperti om-om di mata laki-laki yang sepertinya lebih dewasa darinya, hanya saja penampilan laki-laki dihadapannya itu tertutupi oleh wajah tampannya.


Tapi tunggu, entah mengapa Bimo mendengar jika Erland memanggil Reina dengan sebutan Mamah', ia jadi berfikir apa mungkin Reina dan Erland adalah sepasang kekasih.


“Apa kalian pacaran? panggilan sayang itu terdengar lucu dan menggemaskan.”


Dua orang yang sudah salah paham dengan panggilan itu. Padahal Reina justru berfikir jika Erland memanggilnya dengan sebutan Mamah' itu akan terlihat aneh. Tapi kenapa kebanyakan menganggap jika itu panggilan antar pasangan?


...*****...


Di tempat lain, Harry turun dari mobilnya. Ia kini berjalan memasuki universitas. Universitas pemuda harapan bangsa' itu nama gedung universitas miliknya.


Sebagai seorang pengusaha yang sangat kaya, dan sebagai pengusaha terbesar di Asia. Tentu membangun sebuah universitas bukan masalah untuknya. Bahkan itu juga sangat berguna baginya, karena para lulusan terbaik akan dengan sangat mudah diterima kerja di perusahaan miliknya.


Dan itu juga sangat menguntungkan untuknya.

__ADS_1


“Bukankah itu dia?”


__ADS_2