Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Aneh


__ADS_3

Reina yang kini terus diikuti oleh Erland, ia mulai terbiasa akan hal itu. Tidak terasa jika waktu telah berlalu cepat.


Dan Reina selama dua minggu ini mulai terbiasa akan kebiasaan Erland yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Laki-laki itu seolah menjadi bayangan Reina, jika ada Reina pasti ada laki-laki itu.


Seperti saat ini, Reina hanya diam dan tidak berkata apa-apa saat Erland dengan santai mengikutinya.


Reina diam, meski sering menjadi pusat perhatian banyak orang setiap mereka datang. Tapi ekspresi yang sering Reina tunjukkan adalah tatapan acuh dan tidak pedulinya.


“Permisi, boleh kenalan tuan?” tanya seorang wanita berparas cantik nan anggun.


Wanita dengan wajah polos yang termasuk ke dalam salah satu primadona di universitas.


Di universitas ini, kadang ada pemilihan primadona dan cukup banyak yang berpartisipasi dalam acara itu. Primadona di universitas ini ada tiga, yaitu Reina, Cantika dan juga Donna.


Donna adalah wanita yang sempat berusaha mendekati Erland tapi Erland abaikan. Perhatian Erland justru telah tercurahkan sepenuhnya pada Reina.


Meski diabaikan, wanita bernama lengkap Cantika Larasati itu tidak menyerah, ia dengan sangat gigih tetap berusaha mendekati Erland.


“Saya Cantika, sudah sering sekali saya melihat Anda dengan Reina teman saya ini. Apakah Anda adalah kakaknya?” tanya Cantika.


Cantika tahu jika hubungan Reina dan laki-laki yang ada dihadapannya ini bukan hubungan yang seperti ia bicarakan. Dengan gigih dan terdengar bertele-tele ia tetap berusaha untuk mendekati Erland. Laki-laki itu terlalu menarik perhatiannya.


Dari postur tubuhnya yang sempurna, wajah dengan rahang tegas dan amat tampan itu, serta mata biru sedalam lautan. Seakan bisa membuat siapa saja yang melihatnya akan terhanyut.


Karena kesempurnaan Erland itu, bagi Cantika, ia merasa jika hanya Erland yang cocok untuk wanita sesempurna dirinya. Ya! meski polos dan anggun, Cantika adalah orang yang narsis walau memang ia sangat cantik.


Sedangkan Reina kini hanya diam. Teman? sejak kapan teman? kenal saja Reina tidak pernah, tahu nama orang yang ada dihadapannya saat ini itu saja barusan.


Jadi bagian mana yang bisa disebut teman? apa memang Erland sepopuler itu? laki-laki itu selalu saja berhasil menarik perhatian orang disekitarnya.


“Saya tidak mengenal Anda,” acuh Reina yang pada akhirnya buka suara.


“Oh ya ampun, aku baru ingat kalau kita memang beda jurusan. Mungkin karena itu kita jadi jarang bertemu ya, tapi aku sering perhatikan kamu loh, karena kamu sangat terkenal di universitas.”

__ADS_1


Dengan sok dekat dan akrabnya, Cantika berkata dengan nada lugu yang terdengar seolah mereka akrab. Padahal jelas-jelas sudah menjadi rahasia umum jika Reina adalah orang yang sangat sulit untuk didekati.


“Saya permisi,” acuh Reina yang tanpa sadar, ia langsung menarik tangan Erland. Ia seolah ingin agar Erland menjauh dari wanita yang bernama Cantika itu.


Tapi kenapa? kenapa bisa suasana hati Reina kini terasa panas saat melihat itu? apa karena Erland sudah bersama dengannya sejak lama? atau karena ia sudah mulai jatuh hati pada laki-laki yang sudah bersama dengannya selama 2 bulan?


Bukankah itu waktu yang terlalu singkat untuk dikatakan kalau Reina jatuh hati pada seorang Erland?


“Tunggu sebentar. Saya harap kamu tidak merasa keberatan untuk mengenalkan saya dengan laki-laki yang selalu berada di samping kamu saat ini. Saya ingin tahu dia, bahkan untuk tahu namanya saja saya sudah senang.” Masih dengan gigih Cantika ngotot untuk bisa dekat dengan Erland.


Erland yang awalnya hanya diam saja, ia tahu jika di situasi saat ini dirinya tidak bisa menyebut Reina dengan panggilan Mamah'. Tapi, rasanya Erland tidak bisa diam saja untuk saat ini.


“Dia istri saya di masa depan, bukan adik saya.”


Perkataan Erland yang benar-benar tidak Reina duga sama sekali. Hingga Reina dan wanita yang bernama Cantika itu diam dan bungkam.


Sejak kapan Erland bisa menampilkan wajah serius seperti itu? dan apakah Erland tahu dan mengerti dengan apa yang ia bicarakan?


“Erland,” panggil Reina dengan tatapan mata yang terlihat dalam.


“Iya Mah?” tanya Erland, kini ia menampilkan kembali wajah polosnya itu.


“Kamu tahu apa arti yang kamu katakan tadi?” tanya Reina dengan wajah seriusnya.


“Bukankah benar? di masa depan nanti Erland pasti akan memilih wanita seperti Mamah, yang dingin tapi baik dan cantik, tidak seperti Tante jelek yang jahat tadi.”


“Tapi dia sangat cantik dan tidak terlihat jelek sama sekali. Dari bagian mana dia terlihat jahat? justru wajahnya sangat anggun dan polos,” kata Reina dengan jujur.


“Jelek, wanita itu seperti rubah putih yang berbulu indah tapi hatinya itu jelek.”


Apa karena pemikiran Erland kini sangat polos, jadi ia bisa merasakan dan menebak siapa yang tulus dan tidak?


“Sudahlah, lain kali kamu jangan berkata seperti itu. Bisa saja hal itu akan membuat kita kesulitan di masa depan. Jadi jangan katakan itu lagi, okey?” tatapan Reina terlihat serius.

__ADS_1


Ada rasa dimana, Reina merasa jika apa yang ia ucapkan saat ini adalah hal yang benar. Erland akan memiliki kekasih masa depannya sendiri. Lelaki itu juga akan mendapatkan pasangan yang setara dan sebanding dengannya, bukankah Elisa yang amat cantik dan polos itu memang sangat setara dengan Erland 'kan?


Itu pemikiran Reina saat ini.


...........


“Ya ampun Reina, kamu baru datang. Padahal kita dari tadi nunggu kamu terus loh.”


“Aku nggak tahu,” jawab Reina yang langsung duduk dengan santainya.


“Ya ampun, sudah telat dan buat orang menunggu, setidaknya kamu harus minta maaf padanya, oke? Apakah tidak ada kata maaf?” komentar dari Asyila dengan nada yang terdengar menggerutu.


“Maaf.”


“Tumben kamu minta maaf langsung, apakah ada angin masuk?” tidak biasanya Reina akan langsung minta maaf, biasanya ia akan sedikit berdebat atau sekedar mengucapkan kata-kata tajam.


Tatapan Reina langsung diarahkan pada Asyila yang menurutnya terlalu bawel dan banyak bicara. “Kamu sehat?” perkataan Reina yang terdengar tajam selalu berhasil membuat Asyila diam dan tidak bisa berkata apa-apa.


...*****...


Sementara itu.


Harry yang kini sedang sibuk mengurus dokumen yang harus ia tandatangani. Banyak pekerjaan yang harus ia urus.


“Apa tidak sebaiknya Anda istirahat sekarang tuan?” tanya Riska yang melihat jika wajah Harry seolah sedang tidak fokus.


“Tidak perlu, aku akan tetap mengerjakan pekerjaan ini hari ini juga. Masih banyak pekerjaan yang harus saya urus karena ada urusan lain yang perlu untuk di urus.”


Riska yang mendengar itu hanya diam, ia yang sangat kompeten tidak berkomentar apapun dan dengan cepat melaksanakan tugasnya itu dengan segera.


“Oh iya tuan, bagaimana pertemuan Anda dengan anak Anda? apa berjalan dengan baik?” tanya Riska yang hanya dijawab keterbungkaman dari Harry.


Seolah Harry tidak tahu harus berkat apa, ia hanya diam dengan tatapan menerawang. Dirinya telah bertemu dengan anaknya, tapi mengapa masih ada rasa ragu jika itu bukan anaknya?

__ADS_1


__ADS_2