
Tanpa ba-bi-bu lagi, para bawahan itu menyerang Reina, tiga orang pertama berhasil Reina kalahkan. Dua orang berikutnya ia kalahkan.
Brakk
Brukk
Dughh
“Sialan pengecut!” dingin Reina yang kini sedang terengah-engah. Ia cukup kelelahan saat laki-laki misterius didepannya menyerangnya tanpa henti.
Dan pada saat lima orang menyerangnya langsung, Reina akhirnya kalah dan terpojok. Ia langsung tergeletak tak berdaya dengan tendangan seorang laki-laki yang tak main-main saat menendangnya.
“Cantik sekali perempuan ini. Kenapa bisa ada wanita secantik ini. Sayang sekali, dia justru berani menyinggung orang yang tidak ia singgung,” ungkap Si ketua yang bertubuh sedikit gempal.
Erland.
Laki-laki itu awalnya hanya diam, ia melihat dengan jelas bagaimana Reina terpojok dan terjatuh. Kini laki-laki misterius yang menjadi ketua itu sedang mengusap pipi Reina dengan halus. Wajah Reina sedikit lebam dan mengeluarkan sedikit darah, sudut bibirnya berdarah. Tapi tak henti-hentinya Reina berdecih seolah sedang meremehkan laki-laki itu.
“Jangan ke sini Erland! kamu pergi saja!” perintah Reina dengan teriakan keras. Erland hanya diam dan mematung, ia tidak bergeming. sama sekali Antara mengikuti apa yang Reina perintahkan atau menuruti hatinya.
Suasana hati Erland yang terasa panas, darahnya seakan mendidih. Rasa emosi yang berkecamuk dengan hebat ia rasakan. Belum pernah Erland merasakan emosi sehebat ini. Merasa emosi seperti itu, Erland sedikit pusing. Tapi dengan segera ia kembali tersadar. Dirinya tidak bisa lemah. Ia harus kuat, dan entah kenapa kekuatan yang tidak pernah orang ketahui itu kini seakan ingin Erland tunjukkan.
Dengan tanpa ba-bi-bu lagi, Erland mendekat. Ia terus mengabaikan teriakan Reina. Tidak peduli seberapa marahnya wanita itu karena merasa khawatir padanya. Erland tetap berjalan mendekat.
Menerjang si pemimpin yang bertubuh gempal itu, hingga laki-laki itu terpental beberapa meter. Hal itu membua para anak buah yang sedang tertawa karena merasa misinya berhasil. Mereka menjadi bungkam.
Awalnya mereka hanya diam saat tahu jika Reina sangat melindungi Erland. Mereka berfikir jika Erland tidak memiliki kemampuan apa-apa.
Tapi jelas, mereka tahu dengan jika kemampuan Erland mungkin jauh berkali-kali lipat dari Reina sendiri. Belum lagi dia laki-laki dan kondisi fisiknya terlihat kuat.
Bagghh
Bigghh
Bugggh
__ADS_1
Dughh
Akhh!!
Akhh!!
Entahlah, Reina yang kini sedang dalam keadaan terbaring menjadi diam. Ia melongo tak menyangka dengan itu semua, tatapan matanya terlihat tidak menyangka.
Laki-laki yang sering menunjukkan ekspresi wajah lugu dan manjanya kini terlihat berwajah bengis. Tatapan mata yang seakan penuh emosi, dengan dada yang terus naik turun. Tidak peduli jika orang-orang yang berjumlah banyak itu telah tumbang dalam sekejap.
Kemampuan macam apa ini, bukankah ini terlalu aneh dan membuat Reina tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia bahkan sampai melongo dan terus mematung dan pandangan tak percaya.
Krakkk
Krekkk
Suara tangan yang sepertinya bisa patah saat itu juga, membuat Reina yang sempat melamun menjadi sadar. Ia kini entah mengapa menatap Erland sedikit takut.
Laki-laki itu bisa melukai tiga puluh orang dalam sekejap saja. Iya! bagi Reina itu hanya sekejap, entah butuh berapa menit melawan mereka. Yang jelas Reina terlalu larut dalam lamunannya itu.
Si ketua itu tak menerima kekalahan. Meski tugas yang awalnya hanya karena sebuah perintah. Tapi perintah itu telah membuang hati nuraninya saat itu, karena kini yang ada dalam hatinya adalah rasa tak menerima kekalahan.
Ada pandangan takut terbunuh juga dari wajah Si ketua, maka itu ia memilih mengancam Erland.
Erland menatap laki-laki itu tajam, ia yang seperti kehausan dan sangat marah angsung mendekat dan menerjang laki-laki itu secepat mungkin.
Bagggh
Terjangan itu benar-benar penuh dengan emosi. Dan jika saja Reina tidak menghentikan Erland. Bisa dipastikan jika Erland akan menjadi seorang pembunuh.
“Erland cukup!” teriak Reina dengan tubuh yang sedikit bergetar. Ia sedang merasa ketakutan saat ini, ia takut dengan tatapan Erland dan kebengisan laki-laki itu.
Rasa takut itu seakan ingin menguasai Reina saat itu juga, hingga rasanya Reina ingin lari. Tapi entah mengapa justru malah memeluk laki-laki yang kini terlihat seperti monster bengis.
Erland hanya diam, ia lalu menatap Reina setelah tenang. “Mah, Erland takut.” Ekspresi wajah yang memelas dan ketakutan yang membuat tubuh Erland bergetar. Membuat Erland terlihat seperti penakut saat ini.
__ADS_1
Padahal jelas-jelas dia sendiri yang telah membuat para anak buah suruhan itu lumpuh dan pingsan. Reina yakin mereka hanya pingsan dan sedang tak sadarkan diri, tapi entah mengapa Reina khawatir jika hal itu bisa menyebabkan kesehatan mental orang-orang itu jadi terganggu.
...***** ...
“Tuan Barrack.”
Seorang bawahan menghampiri Barack yang tak lain adalah asisten Erland. Para bawahan yang berjumlah dua orang itu mendekat, mereka ingin melaporkan apa yang mereka lihat saat ini.
“Tuan, kami ...,” salah satu bawahan itu bercerita panjang lebar mengenai apa yang matanya ia lihat saat itu.
Tanpa diduga Barrack langsung memukul orang yang bercerita itu. “Bodoh! kenapa tidak kamu tolong tuan Erland saat itu!” kesal Barrack dengan wajah sangarnya.
“Maaf tuan, saat itu. Kami kalah jumlah dan tak yakin akan bisa menang melawan orang banyak.”
“Dasar para orang bodoh! Kalian tidak tahu jika karena hal ini telah membuat tuan kalian seperti singa gila!” Perkataan Barrack yang terdengar ambigu, dengan kata-kata yang tidak para anak buahnya ketahui.
“Sudahlah, ambil hukuman kalian saat ini. Pergi dan jangan berharap bisa menjadi anak buah kepercayaan tuan Erland. Dan yang lain, urusi sisanya.”
Yang kini Barrack inginkan adalah seorang anak buah yang berani melindungi tuannya. Ia tidak menduga jika pilihannya yang asal itu, membuat sisi Singa Erland yang sudah lama tidak muncul menjadi bangkit.
Luka di mata Barrack menjadi bukti, betapa ia sangat mengenal dan tahu betul Erland. Masa lalu Erland dan apa yang telah laki-laki itu hadapi. Hanya Barrack yang tahu.
Tapi kini Barrack sadar, mungkin rahasianya ini bukan hanya akan dirinya yang tahu. Wanita yang menjadi kemarahan Erland muncul juga cepat atau lambat akan tahu.
...*****...
“Mah, Erland sakit.” Keluhan Erland hanya Reina abaikan. Ia seakan tidak peduli dengan Erland saat ini. Meski berkali-kali Erland terus berusaha mencari perhatiannya. Reina seakan tidak peduli, wanita itu terus saja mengabaikan Erland.
“Kenapa sih Reina, ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? kenapa kamu sampai mengabaikan anak kamu itu? tuh urusin anak kamu yang merengek minta dielus.” Seperti biasa, nada suara dan juga cara bicara Asyila selalu membuat Reina kesal akhir-akhir ini.
Apakah orang sebesar ini bisa disebut anak?
Tiba-tiba Reina teringat akan kejadian waktu itu, ia tidak tahu harus bagaimana bersikap untuk saat ini. Bahkan saking terkejutnya ia dengan sikap Erland saat itu, ia tak mampu berkata-kata bahkan tidak mampu untuk bercerita hal itu pada Asyila.
“Mah, Erland sakit,” ungkap Erland menunjukkan lukanya yang tanpa sadar terkenal cakaran cukup panjang. Meski takut, entah mengapa Reina kini khawatir. Ia lantas mengobati Erland dengan hati-hati.
__ADS_1
“Tangan macam apa itu hingga membuat goresan sepanjang ini. Apakah mereka tidak mengurus kuku merek,” gerutuan Reina terdengar saat ia melihat betapa panjang goresan itu.