
“Biarkan aku saja yang akan mencari Anakku secara langsung. Kamu hanya perlu mengirim lokasi dimana dia tinggal saja. Karena aku akan mendatanginya saat ini juga.”
Perkataan Harry hanya bisa Riska jawab dengan anggukan patuh. Karena sebagai asisten, ia yang sudah bersama dengan Harry hampir 15 tahun. Ia tahu bagaimana keinginan Harry saat ini.
Laki-laki itu jelas sedang merasa bersalah akan sesuatu, hingga rasanya laki-laki itu seolah ingin segera menebus kesalahannya itu. Dan Riska tidak tahu, entah anak dari tuan sekaligus temannya itu akan memaafkan kesalahan Harry atau tidak.
Tapi bagi Riska, pilihan dan keinginan Harry saat ini sudah tepat. Keputusan itu sudah benar, karena memang seperti itu harusnya Harry bertindak.
Meski Harry tidak mengharapkan anaknya itu, tapi bukankah anak itu tidak bersalah? dan Riska dari awal tidak setuju saat Harry hanya akan memenuhi kebutuhan anak yang ia telantarkan, tanpa tahu kehidupannya dengan jelas.
“Apa tidak perlu saya cari tahu yang lain? informasi yang mungkin penting dan tidak terduga?” tanya Riska yang langsung dijawab gelengan oleh Harry.
“Tidak perlu! biar 'kan aku saja yang akan datang ke lokasi itu. Bukankah dari dokumen ini sudah terlihat jelas di mana mereka tinggal. Jadi kamu tidak perlu untuk mencari tahu lebih jauh lagi.”
“Saya hanya berfikir jika mungkin informasi yang tidak terduga itu akan penting untuk Anda. Tapi, jika memang Anda tidak butuh informasi itu, saya tidak akan memaksa hal itu.”
“Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu.”
...*****...
“Tuan apa Anda tidak mengingat kami?” terlihat seorang anak buah yang menatap tuannya dengan tatapan tak percaya.
Anak buah bernama Daniel, ia adalah tangan kiri yang sering Erland percayai. Rela pergi ke mana saja demi tuannya itu. Hanya saja, Daniel tidak menyangka jika tuannya tidak mengingat dirinya saat ini.
Padahal Daniel awalnya sedang ditugaskan untuk memimpin perempuan yang berada di Eropa, tapi karena permintaan dari Barrack yang merupakan tangan kanan Erland sekaligus kakak kandung dari Daniel, maka Daniel langsung datang ke negara ini begitu Sang Kakak memintanya untuk datang.
“Kamu siapa? aku tidak mengenal kamu!” kata-kata yang Erland ucapkan terlihat berbeda. Jelas nada suara dan cara bicaranya sangat jauh dari Erland yang Daniel kenal selama ini.
“Tuan jangan katakan jika Anda mengalami hilang ingatan? kenapa bisa? apa yang terjadi?”
__ADS_1
Banyak pertanyaan dibenak Daniel yang ingin ia ungkapan. Seandainya jika Daniel tidak dikirim untuk memimpin perusahaan yang ada di Eropa, mungkin saja Daniel bisa melindungi Erland.
Hanya butuh Daniel seorang sudah memastikan jika Erland akan aman bersamanya. Daniel tidak berniat sombong, hanya saja dia memang sangat kompeten setelah kakaknya.
“Erland tidak mengerti apa yang kamu katakan. Siapa tuan itu? jelas Erland tidak tahu dan tidak mengenal kamu. Jangan panggil Erland dengan sebutan Tuan, karena Erland bukan tuan kamu!” nada kesal dan marah Erland langsung membuat Daniel bungkam.
Meskipun nada suara Erland polos, tapi tatapan mata Erland kini terlihat tajam dan tak suka. Itu adalah tatapan yang sering Daniel lihat jika sedang bersama dengan Erland.
Tapi yang membuat Daniel heran adalah, kenapa Erland bisa berubah. Dan tatapan apa itu yang kini Erland tunjukkan?
Tatapan polos dan tajam? bukankah itu tidak seperti Erland yang Daniel kenal. Karena setahu Daniel, tuan Erland yang ia kenal adalah orang yang berwibawa.
Erland selalu menatap orang dengan tatapan tak berharga. Tatapan acuh dan dingin Erland akan selalu berhasil membuat orang merasa jika dirinya tidak berharga jika sedang berhadapan dengan Erland.
Tidak ada yang berharga bagi Erland di dunia, itu tatapan yang sering Daniel lihat. Karena hanya tatapan yang seperti itu yang Daniel kenal. Dan kini saat melihat tatapan Erland yang terasa aneh untuknya.
Daniel rasa ia tidak tahu harus berkata apa.
Bukan karena Daniel takut pada Reina, tapi rasanya ia belum bisa bertemu dengan Reina. Daniel masih perlu tahu seperti apa sosok Reina itu, dan Daniel juga perlu tahu bagaimana situasi saat ini.
“Kenapa di luar?” tanya Reina yang terlihat sedang memakai apron. Menandakan jika Reina sedang memasak atau mungkin dia baru selesai memasak.
“Mah-”
“Ayo makan,” potong Reina cepat.
Hingga Erland yang awalnya hendak menjelaskan sesuatu menjadi bungkam. Lalu setelahnya Erland masuk dan mengikuti Reina yang mengajak dirinya ke ruang makan yang tempatnya di dapur.
...*****...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
“Tuan, apakah kini Anda memang tidak mengenal saya?” tanya Daniel lagi. Ia memanfaatkan Erland yang sedang sendirian untuk ia interogasi.
Reina kini sedang berkuliah, dan Asyila pun sama. Hingga saat ini Erland hanya sendirian. Moment itu dimanfaatkan oleh Daniel untuk menanyai Erland secara langsung.
“Kenapa saya harus mengenal kamu? saya tidak kenal dengan kamu!. Jadi apakah saya perlu tahu tentang kamu?” nada formal Erland yang rasanya sering Daniel dengar. Hingga perkataan itu bahkan tak asing lagi bagi seorang Daniel.
Hanya saja, tak dapat Daniel elak jika nada suara Erland masih polos dengan tatapan lugunya. Yang seakan mengatakan jika Erland kini terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang marah.
“Tidak hanya mengenal saya, tapi Anda memang harus ingat jika kita pernah dekat. Kedekatan yang terjadi antara atasan dan bawahan. Bukankah Anda memiliki ingatan yang sangat kuat sejak dulu. Lalu mengapa sekarang tidak?” tanya Daniel yang hanya dijawab kebungkaman dari Erland untuk sejenak.
“Bawahan? saya adalah anak biasa, jadi bagaimana bisa saya memiliki bawahan seperti kamu?”
Perkataan Erland semakin membuat Daniel tak mengerti. Ada apa ini? mengapa tuannya sendiri melupakan dirinya? apa yang sebenarnya telah terjadi.
Kalau sudah begini Daniel hanya bisa menyesal karena saat kembali ke sini. Ia langsung pergi ke tempat Sang tuan sesuatu yang kakaknya perintahkan. Daniel kini menyesal karena saat kakaknya akan menjelaskan situasi ia menolak.
“Sudahlah. Kalau begitu aku lebih baik bertanya langsung pada Kakak.” Karena sangat peka dan gesit. Daniel sadar jika ada seseorang yang menuju ke arah mereka berdua. Dan meski Erland hilang ingatan, kepintaran dan instingnya masih sama, ia juga sadar jika ada seseorang yang mendekat ke arahnya.
Erland rasa itu pasti Reina, nalurinya kini bisa menebak kehadiran dan apa yang Reina rasakan. Mungkin itu karena Erland merasa jika hatinya sudau terhubung dengan wanita yang ia anggap sebagai ibunya untuk saat ini. Entah kedepannya, apakah Erland masih akan menganggap Reina sebagai ibunya saat ingatannya sudah pulih?
“Kamu sedang bicara dengan siapa Erland?” tanya Reina yang hanya Erland jawab dengan gelengan.
Insting Erland seakan mengatakan, jika ia tidak perlu untuk menjelaskan tentang pertemuannya dengan laki-laki yang menurutnya hanya sedang mengaku-ngaku sebagai bawahan.
“Tidak ada Mah.”
“Yakin?” tatapan tak percaya Reina tunjukkan. Ia yakin jika tadi ada seseorang bersama dengan Erland. Tapi ke mana orang itu Reina tidak tahu.
__ADS_1
“Iya. Mah, Erland lapar.”
Keluhan Erland hanya Reina jawab anggukan saja sebagai respon. “Ayo kita cari makan kalau begitu!”