
Keesokan harinya.
Di sebuah gubuk terpencil, tempat yang sedikit kumuh dengan banyaknya botol bekas minuman. Botol itu terlihat berserakan dimana-mana.
Dan di dalam sebuah gubuk yang tak terpakai itu, Reina kini sedang di sekap. Wanita cantik yang kedua tangannya diikat erat itu, hanya diam.
Reina, hanya diam saat di depannya kini ada seorang wanita yang tengah menatap ke arah dirinya dengan tatapan sinis dan senyum yang meremehkan. Senyum bangga yang seolah telah merasa menang itu muncul di wajah wanita itu.
“Bagaimana? apa kamu takut?” tanya wanita itu yang tak lain adalah Elisa.
Elisa telah berhasil menangkap Reina dengan bantuan dari anak buah ayahnya dan juga anak buah Hans, ia bahkan tak pernah menyangka jika wanita yang sangat ia benci itu kini ada di sini.
“Kenapa hanya diam? apa benar-benar merasa takut?” kata Elisa lagi. “Oh ya, aku hampir lupa jika kamu kini sedang di bekap, jadi mana bisa kamu bicara,” setelah itu Elisa membuka bekapan itu dengan paksa. Seolah ia sengaja ingin membuat wanita itu merasa kesakitan.
“Takut? untuk apa takut pada seorang pengecut?” seperti biasa, meski dalam kondisi yang tidak menguntungkan Reina terus saja menyerang mental orang yang ada dihadapannya ini.
“Pengecut?! siapa yang berani bilang kalau aku pengecut?” Elisa akan menjadi orang yang sangat berbeda jika dihadapkan dengan orang seperti Reina. Tidak ada satupun yang memperlakukan apalagi berani berkata seperti itu pada dirinya. Perkataan Reina itu telah membuat harga dirinya merasa terluka.
“Heh? kurang sadar diri ternyata!” jawab Reina yang menatap ke arah lain seolah berniat untuk mengejek.
Terlanjur kesal dan marah, Elisa lantas mendekat dan menjambak rambut Reina. “Maksud kamu apa? kamu benar-benar nantangin aku ya? ingin agar aku bunuh kamu langsung 'kah?” ancaman itu tidak membuat Reina takut. Seolah Reina yakin, jika mungkin Elisa tidak sendiri dalam menculiknya.
“Bagaimana kalau orang tahu jika sebenarnya nona muda dari keluarga Young yang terhormat itu adalah pembunuh wanita rendahan seperti saya? bukankah seperti yang Anda bilang waktu itu, kalau saya tidak pantas bersama dengan tuan Erland, atau apakah saya harus bersaing dengan Anda?”
Elisa yang mendengar itu langsung bungkam. Apa yang Reina katakan itu benar, bahkan saa itu Elisa berkata jika ia pernah berjanji pada dirinya sendiri jika akan bersaing secara sehat saat ingatan Erland pulih.
Tapi, karena entah kenapa Elisa tidak yakin. Dan ia yang terlalu cemburu memilih untuk bisa segera menyingkirkan Reina.
__ADS_1
“Ya, sayangannya jika kamu terlalu lama dibiarkan untuk tetap hidup! wanita licik seperti kamu akan berbuat lebih licik lagi dari ini! dan tidak harusnya di biarkan untuk tetap hidup!” sinis Elisa yang semakin keras dalam menjambak Reina, sayangnya Reina bersikap seolah-olah itu tidak sakit.
“Licik 'kan siapa saya yang memang akan selalu bersikap angkuh, atau Anda yang selalu bersikap polos?”
Mendengar itu, Elisa semakin kesal dan marah. Reina seakan bisa membuatnya hilang kendali hanya dengan kata-kata tajamnya saja. Dan Elisa tidak suka akan hal itu, ia bahkan semakin keras menjambak rambut Reina hingga beberapa helai rambutnya jatuh.
“Saya bisa saja membunuh kamu jika saya mau! jadi jangan berani macam-macam!” ancam Elisa.
“Nona Elisa, Anda tidak bisa untuk berbuat hal yang berlebihan. Tuan Hans mengatakan jika Anda tidak boleh mengambil keputusan tanpa seizinnya.”
Seorang anak buah kepercayaan Hans datang, dan saat itu tangan Elisa yang sedang mencengkram kuat menjadi terlepas. “Hey, kenapa bisa Hans berubah pikiran? aku hanya meminta bantuannya agar bisa mendapatkan wanita ini. Lantas apa salahnya jika aku ingin menyiksanya?” tanya Elisa marah dan murka.
“Nona Elisa, tolong Anda tenaga dulu, tuan ingin bertemu dengannya dan ingin melihat dia. Jadi Anda tidak bisa untuk segera mengambil keputusan seenaknya saja,” kata pria itu lagi, bawahan pria itu, ia terlihat meminta dengan sopan.
“Baiklah, aku rasa Hans pasti akan mengurus wanita ini dengan benar,” senyuman muncul di wajah Elisa saat itu juga, ia yakin jika hukuman yang akan Hans berikan itu akan lebih kejam darinya.
Tapi, ada satu hal yang Elisa lupakan tentang apa yang menjadi kelemahan dari laki-laki bernama Hans itu, dan mungkin saja, itu akan menjadi masalah untuk Elisa nantinya
Lebih tepatnya, Reina mendapat masalah seperti ini karena ia telah menyelamatkan Erland saat itu.
Flashback.
Saat itu, Reina sadar jika sepanjang ia melangkah ia terus diikuti oleh beberapa orang. Mungkin ada sekitar 6 orang yang berjaga.
Namun, di saat ia hendak pulang dari kuliahnya. Entah mengapa Reina merasa jika semakin banyak mata yang diam-diam menatapnya.
“Tidak mungkin 'kan jika ini hanya perasaanku saja?” tanya Reina pada dirinya sendiri. Ia yakin jika orang yang mengintainya kini tidak hanya 6 orang saja, tapi sekitar 30 orang.
__ADS_1
Jika yang 6 orang itu Reina tahu jika itu penjaga yang dikirim oleh Daniel untuk menjaganya. Tapi yang menjadi pertanyaan Reina saat ini, siapa orang-orang yang berjumlah sekitar 30 orang?
Seperti biasa, Reina akan melewati beberapa jalanan sepi saat akan pulang. Semakin lama ia berjalan dan melangkah, maka semakin terancam dirinya.
Bruggh ...
Seorang terlihat berkelahi, dan melihat itu Reina jadi sadar jika ia memang diikuti oleh seseorang. Reina lantas mundur saat 6 orang yang diam-diam menjaganya itu terlihat melawan sepuluh orang.
Awalnya enam orang itu memimpin, tapi tidak lama dua puluh orang dibelakangnya membantu melawan.
Bughh
Baghhh
Krekk
Perkelahian yang tidak biasa Reina lihat itu terlihat di depannya. Satu persatu orang yang menjaganya itu tumbang dengan sendirinya.
“Siapa kalian?” tanya Reina waspada.
Jika saat itu Reina dibantu Erland, maka kini ia hanya sendirian dengan para penjaga yang sudah tumbang.
“Bekerja sama lah dengan kami nona, jika tidak kami terpaksa akan menggunakan cara kasar,” kata seorang yang memakai penutup di kepalanya, hingga wajahnya tidak bisa Reina lihat jelas.
“Bekerja sama? untuk apa? jika kalian tenyata adalah orang-orang yang ingin membunuhku, untuk apa aku bekerja sama dengan kalian?” perkataan Reina yang menjelaskan jika dirinya tak mungkin hanya diam saja saat nyawanya kini terancam.
“Jika begitu, maaf kami harus bersikap kasar,” kata salah satu dari mereka yang berhasil untuk memukul Reina.
__ADS_1
Berkali-kali Reina bangkit, ia tetap berusaha untuk melawan orang-orang itu. Tapi nyatanya kekuatan miliknya tidak sebanding dengan orang-orang itu.
Flashback end.