Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Anakku?


__ADS_3

Harry turun dari mobilnya. Ia melihat pada sebuah rumah bercat coklat. Rumah sederhana yang meski begitu terlihat indah dan terawat. Rumah itu terlihat minimalis dan sedikit mewah, segala hal yang ada di rumah itu, rasanya porsinya itu sangat pas dan selalu membuat orang yang menatapnya nyaman untuk diam dan melihat rumah yang bersih nan sejuk.


“Apa di sini rumahnya?” tanya Harry pada dirinya sendiri. Ia memastikan dengan jelas di dokumen yang ia bawa. Ada rasa lega dan tenang saat tahu jika anaknya hidup di tempat yang baik dan cukup nyaman.


Tapi, apa Harry bisa menyimpulkan secepat itu tanpa memastikan anaknya ada atau tidak? lalu kenapa Harry merasa senang jika anaknya hidup dengan baik? apa kini Harry sudah bisa menerima kehadiran anaknya dan ingin memperlakukannya dengan baik?


“Ayah hanya bisa memastikan keadaan kamu saja Nak, ayah tidak bisa membawa kamu serta merawat kamu selayaknya kamu anak kandung ayah. Maaf,” tatapan dalam dan bersalah Harry tunjukkan. Ia masih tidak berani untuk membawa anaknya itu ke rumahnya.


Tapi Harry juga tidak ingin menelantarkan anaknya itu, ia ingin memperlakukan anaknya selayaknya ia adalah ayah dari anaknya itu.


Akhirnya setelah beberapa menit hanya diam, Harry berjalan mendekat. Ia yang hendak mengetuk pintu, tiba-tiba harus tersela saat teleponnya berbunyi.


Dari perusahaan, salah satu bawahan yang ada di anak perusahaan lain menelepon dirinya, sepertinya itu adalah hal yang penting.


“Tuan, Maaf. Ada hal yang penting dan harus Anda tangani langsung. Maaf karena saya sangat kurang kompeten,” ungkap anak buah kepercayaan Harry.


“Saya akan segera ke sana, tapi nanti. Karena untuk sekarang, kamu tangani masalah di sana sementara waktu, dan saya tidak bisa langsung ke sana.”


Setelahnya panggilan itu langsung berakhir, Harry yang awalnya ingin mengetuk pintu, mendadak apa yang ia pikirkan itu terhenti begitu dirinya melihat jika pintu itu sudah terbuka. Dan orang yang membuat pintu itu adalah orang yang selalu ia hindarkan.


Rossa.


Wanita yang mungkin saja kini sudah sangat membenci dirinya, wanita itu terlihat tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tatapan Rossa berubah tak suka, ia hendak langsung masuk dan menutup pintu. Seakan ia tidak menerima kehadiran Harry.


“Tolong, saya harap kamu jangan seperti ini. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya.”


Apa yang Harry katakan langsung membuat Rossa menoleh, ia menatap Harry dengan tatapan yang terlihat sinis. Anak? seorang Tuan Harry kini sudah mengakui anak yang ia telantarkan?

__ADS_1


Senyum hambar dengan pandangan meremehkan Rossa tunjukkan. Seharusnya, tidak ada yang boleh melakukan itu pada seorang Harry'. Bahkan orang penting saja masih menjaga sikapnya di depan Harry.


Tapi kini, justru Rossa malah bersikap sebaliknya.


“Anak? anak yang mana tuan? apa anak yang telah Anda telantarkan itu? anak itu sedang Anda cari saat ini? untuk apa? bukankah Anda sendiri yang mengatakan untuk tidak menunjukkan anak itu dihadapan Anda?”


Perkataan menohok Rossa membuat menjadi Harry bungkam dan tak bisa berkata apa-apa. Kebungkaman yang seolah penuh rasa bersalah dan penyesalan itu, terlihat jelas dari wajahnya.


“Kenapa tidak dari dulu Anda meminta untuk bertemu dengan anak Anda? kenapa baru sekarang?” pertanyaan itu hanya Harry jawab dengan kebungkaman.


Kenapa tidak dari dulu? bukankah karena Harry saat itu hanya memikirkan keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang ia sayangi dan tidak pernah berani untuk ia buat mereka kecewa.


“Tolong, tolong pertemukan saya dengan anak kandung saya?” tatapan berharap dan memohon yang belum pernah Harry tunjukan pada siapapun.


“Untuk apa Anda ingin menemuinya? bukankah kata Anda uang yang Anda kirimkan itu cukup membuat anak Anda hidup dengan baik? hanya itu saja yang Anda inginkan bukan?”


“Ada apa ini?” tanya Jack yang tiba-tiba keluar dari rumah. Ia yang awalnya sedang menonton televisi merasa terganggu saat Rossa sepertinya sedang berdebat dengan seseorang.


“Tolong pertemukan saya dengan anak kandung saya,” potong Harry cepat. Ia sepertinya memang sangat ingin bertemu anaknya saat ini.


“Anak?” tatapan bingung dan tak mengerti Jack tunjukan.


Tapi beberapa saat kemudian Jack paham. Ia lalu menatap sejenak ke arah Harry dan Rossa secara bergantian. Apa ini ayah dari anak itu? anak yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari Jack meski anak itu selalu berusaha melakukan yang terbaik agar terlihat baik di mata Jack.


Jadi ini ayah kandung Reina? pantas saja jika Reina terlihat cantik dengan wajah yang sedikit blasteran. Ternyata ayahnya saja seorang laki-laki yang sangat tampan seperti ini.


“Apakah Anda?-” Jack menghentikan sejenak ucapannya.

__ADS_1


Ada rasa marah yang Jack tunjukan sekilas pada Rossa saat ia berfikir jika mungkin Rossa telah berselingkuh dengan Harry. Tapi gelengan cepat dari Rossa seakan menjawab jika dirinya tidak berselingkuh.


“Di mana Anak saya sekarang?”


“Dia anak Anda,” tunjuk Jack pada seorang anak yang kini berjalan ke arah mereka. Alisa, anak kesayangan Jack kini sedang terlihat sangat senang entah karena apa.


“Dia?” tatapan tak percaya dan tak yakin Harry tunjukkan.


Meski takut jika kebohongannya akan terungkap, tapi Jack berusaha menatap Harry dengan tatapan mata yang meyakinkan. “Bukankah Anak Anda sudah sangat besar? dia tumbuh baik dan cantik.”


Walaupun Jack berkata seperti itu, entah mengapa Harry merasa jika yang ada dihadapannya saat ini bukan anak yang sedang ia cari.


Tatapan Alisa yang bingung, membuat suasana menjadi hening untuk sejenak. Tapi perkataan ayahnya sungguh membuat Alisa tak percaya.


“Dia ayah kandung kamu sayang,” kata Jack yang langsung dihadiahkan tatapan tak percaya.


“Ayah kandung?” jelas kentara Alisa tak yakin dengan apa yang Jack katakan. Laki-laki yang memperlakukan dirinya sangat baik layaknya seorang ayah sungguhan, mana mungkin bukan ayah kandungnya!


“Apa kamu tidak merindukannya? ayolah cepat! sepertinya dia sangat merindukan kamu. Cepat peluk ayah kandung kamu!” kata Jack langsung.


Rossa yang dari tadi hanya diam, ia hendak berbicara, tapi tatapan mata Jack yang seakan menyuruh Rossa untuk diam. Hal itu, tentu langsung membuat Rossa bungkam.


Padahal Rossa ingin mengatakan sesuatu pada Jack. Jika orang yang ada dihadapannya saat ini bukan orang sembarangan, bukan orang yang bisa seenaknya di bohongi. Dan bukan juga orang yang bisa di singgung seenaknya!


“Tuan, apakah Anda tidak merindukan anak Anda? mengapa hanya diam?” Jack sebenarnya memiliki sifat tamak dan tidak peduli. Ia tamak karena dari tatapan matanya ia seolah ingin menguasai harta Harry lewat anaknya.


Tapi ketidakpedulian Jack selama ini, membuatnya tidak tahu jika orang yang kini ada dihadapannya saat ini, adalah orang yang tidak bisa ia singgung sembarangan.

__ADS_1


Masih mencoba untuk bicara, hingga akhirnya Rossa kembali bungkam saat Jack menggenggam tangannya erat, sangat erat. Seakan Jack ingin menghancurkan tangan Rossa.


Itu sebuah ancaman tak langsung dari Jack jika sampai Rossa berani menggagalkan rencana yang telah ia buat.


__ADS_2