
Elisa yang melihat jika kini Erland dan Reina sedang bersama di sebuah pusat perbelanjaan. Awalnya ia tidak berniat untuk datang ke sini, karena ia yang memang tidak pernah berbelanja sekalipun. Mana pernah ia datang ke sini.
“Erland,” kesal Elisa saat melihat Erland terus saja menatap Reina dengan tatapan polos yang seolah sedang kagum pada wanita yang tak lain adalah Reina sendiri.
“Harusnya aku yang ada di sana, bukan kamu, dasar gadis miskin yang tidak tahu diri. Derajat kita jauh berbeda, tapi dengan tak tahu dirinya kamu malah dekat dengan laki-laki yang jelas bukan milik kamu,” marah Elisa yang tak henti-hentinya ia menggigit jari karena kesal dengan apa yang ia lihat.
Elisa ingin jika tatapan polos dan lembut itu hanya akan ditunjukkan padanya, tatapan yang terlihat memuja itu seharusnya ditunjukkan Erland untuknya, karena bagi Elisa, ia yang akan menjadi istri dari Erland. Jadi wajar jika ia yang menerima tatapan memuja itu.
“Sialan! jika aku yang berada diposisi itu pasti akan jauh lebih pantas,” kesal Elisa tak berhenti-hentinya merasa kesal hingga terus mengumpat.
Di saat Elisa yang sedang bersembunyi dan diam-diam membuntuti Reina dan Erland. Ia bahkan sampai tak sadar jika ia menghayal saat perlakuan Erland itu seolah berpindah padanya.
“Oh sayangku Erland cium aku dong,” kata Elisa yang menutup matanya dengan posisi bibir yang dimajukan ke depan.
“Mbak permisi, saya mau lewat, bisa minggir karena saya kesulitan bawa ini semua,” kata seorang laki-laki yang tengah membawa barang.
Merasakan bau keringat yang tanpa sadar masuk ke dalam Indra penciumannya, mau tak mau Elisa pun membuka matanya.
“Sialan! berani-beraninya kamu dekat-dekat dengan saya! mana bau lagi! sana pergi!” kata Elisa yang kesal saat khayalannya akan Erland terganggu.
“Ya ampun Mbak, saya juga nggak berniat untuk dekat-dekat dengan Anda. Saya hanya meminta agar Anda segera minggir karena saya merasa sangat berat membawa ini semua,” kata laki-laki itu lagi.
“Pantas saja bau! keringat kamu saja banyak!” jijik Elisa saat laki-laki itu terlihat berkeringat karena membawa beban di atas punggungnya, terlihat jelas kalau laki-laki itu sangat merasa keberatan akibat dari beban yang ada dipunggungnya.
“Ya sayang sekali, cantik-cantik ternyata gila,” kata orang itu lagi saat ia melihat jika Elisa kini telah memberinya jalan untuk lewat.
“Dasar bau keringat!” kesal Elisa tak suka dengan gerutuan dari laki-laki tadi.
__ADS_1
“Eh ke mana Erland?” kata Elisa yang langsung celingukan untuk mencari Erland.
Saat sadar jika laki-laki itu telah keluar, dengan segera Elisa ikut keluar dengan langkah yang terlihat seolah mengendap-endap.
“Mamah, bukankah Mamah sangat menyukai es krim coklat? kenapa hari ini malah membeli rasa stroberi?”
“Hanya sedang ingin,” setelah Reina mengatakan itu, tatapan polos dengan senyuman itu keluar dari bibir Erland.
Elisa yang menatap itu dari kejauhan tentu merasa kesal, menurutnya apa yang ia lihat dari jarak jauh, semuanya terlihat menyebalkan.
Sikap Erland yang terlalu memperlakukan Reina dengan baik, membuat hati Elisa merasa sangat amat panas.
“Kamu harus tenang Elisa, Erland hanya milik kamu seorang, tidak ada siapapun yang jauh lebih pantas dengan dia selain kamu,” kata Elisa yang berusaha untuk terus menenangkan emosinya.
Walau sebenarnya Elisa ingin marah dan memaki orang yang lewat disekitarnya. “Lagipula, cepat atau lambat ingatan Erland akan kembali, dan saat itu tiba, mau tak mau mereka harus tetap berpisah.” Tatapan kejam dari Elisa terlihat.
...*****...
“Apa ada yang ingin kamu beli Erland?” tanya Reina yang menatap ke arah Erland.
“Ada apa? apa ada sesuatu yang salah diwajahku?” tanya Reina heran saat Erland terus menatapnya dengan seksama.
“Tidak ada, hanya sedang berfikir saja,” kata Erland dengan tatapan dalamnya.
“Berfikir apa?” tanya Reina langsung.
“Mamah cantik,” kata Erland dengan nada polosnya.
__ADS_1
“Tuh ayah, pasangan muda itu so sweet banget 'kan, ayah mana pernah puji Bunda kayak mereka,” kata sepasang suami istri yang berada di sebelah meja Reina.
Reina kini sengaja istirahat, ia yang merasa lapar memilih untuk makan di sebuah kedai makan terdekat. Kebetulan di sana cukup ramai karena masakan itu terkenal enak, banyak pasangan yang makan di sana dengan suasana terbuka yang merupakan tema dari kedai itu.
“Bunda, Bunda nggak muda lagi. Ingat kita sudah punya anak tiga, dan sudah nggak jaman untuk romantis lagi seperti mereka. Mereka masih muda jadi wajar jika mereka saling bersikap romantis,” kata Si Suami wanita tadi.
“Ya ampun, ayah nggak asik. Padahal Bunda juga masih muda,” kesal wanita itu.
“Sepertinya ada yang salah paham lagi,” kata Reina saat melihat jika wanita yang tadi mengeluh seolah salah paham dengan panggilan Erland padanya.
“Sudah aku katakan untuk tidak memanggil aku dengan sebutan itu 'kan!” kesal Reina yang merasa jika suasana hatinya tidak baik.
Panggilan itu karena Erland menganggapnya sebagai ibu dari laki-laki itu, bukan panggilan sayang antara pasang suami istri pada umumnya. Memikirkan itu, Reina merasa kesal entah mengapa.
“Maaf,” tatapan polos dan sedikit menunduk itu langsung membuat Reina menghela nafas.
Seolah mengatakan jika Reina tidak sanggup untuk marah lebih jauh pada Erland. Laki-laki itu seolah bisa membuat Reina lemah hanya dengan tatapannya.
...*****...
“Tuan, Anda sangat pandai dalam berakting. Haruskah saya mendaftar Anda sebagai aktor? dengan wajah Anda itu, tanpa memiliki kelebihan apapun, Anda pasti akan sangat terkenal,” kata Daniel yang kini memperhatikan dari jauh.
“Tapi tunggu, kenapa bisa nona Elisa kini ada di sini? apakah dia sengaja mengikuti tuan?” tanya Daniel saat ia melihat jika Elisa seperti penguntit profesional, Elisa seolah tak menyadari jika apa yang ia lakukan itu telah dilihat oleh Daniel.
...*****...
“Sialan Reina, aku benar-benar harus membunuh kamu segera mungkin, sekalipun tuan Erland tidak ingat aku, aku yakin jika cepat atau lambat tuan Erland pasti akan mengingat aku,” kata Elisa yang sepertinya akan mulai bergerak lagi.
__ADS_1
Mau tak mau Elisa akan mencoba menghubungi Hans, laki-laki yang baginya itu adalah orang gila, tapi meskipun begitu, laki-laki itu telah banyak berkorban dan melakukan banyak hal untuk Elisa.
Karena tak sanggup untuk terus menguntit lagi, Elisa memilih untuk pergi dari tempat itu, ia akan mencari cara agar apa yang ia inginkan bisa terjadi.