
“Erland, kamu di rumah, saya harus bekerja hari ini. Jangan coba ikuti saya lagi seperti kemarin!” ancaman Reina dengan kata-kata yang terdengar kesal itu tidak digubris sama sekali oleh Erland.
Justru Erland malah langsung menunjukkan ekspresi wajah polos dan lugunya. Tatapan anak kecil yang tidak terlihat lucu diwajahnya itu, selalu berhasil membuat Si Dingin cantik satu itu menjadi lemah.
“Baiklah, kamu bisa ikut. Tapi tidak untuk hari ini, besok saja,” putus Reina. Reina kesal, hampir tiga hari ini Erland selalu mengikuti ke manapun Reina pergi. Dari ke tempat kuliah, tempat kerja, bahkan saat Reina ingin ke toilet umum, Erland terus saja membuntuti. Walaupun saat Reina ke toilet umum, laki-laki itu hanya akan menunggu di luar, tetap saja hal itu malah membuatnya kesal dengan tingkah Erland.
Dan respon orang-orang yang melihatnya semakin membuat Reina kesal. Terutama respon banyaknya wanita yang justru terpesona dengan wajah tampan Erland. Mereka justru menganggap tingkah Erland adalah hal yang lucu dan So sweet.
Aneh bukan?
Mungkin menurut pandangan orang, mereka melihat jika Erland sangat posesif dan khawatir pada kekasihnya. Walau memang faktanya seperti itu, Erland terlalu khawatir pada Reina semenjak kejadian dirinya diikuti oleh orang-orang misterius.
Hanya saja, Reina tidak sadar dan tidak peka akan kekhawatiran Erland padanya. Ia hanya tidak pernah menduga jika Erland akan merasa sangat khawatir padanya seperti itu.
“Sudahlah Reina, ajak saja. Kasihan anak kamu jika harus ditinggal terus di rumah,” kata Asyila yang setelahnya ia langsung tertawa terbahak-bahak.
Lucu sekali rasanya, saat orang-orang menganggap dan melihat kedekatan Erland dan Reina sebagai pasangan. Tapi Reina yang tahu jika Erland sangat bergantung padanya karena menganggap wanita itu ibunya.
Asyila yang tahu itu hanya bisa merespon dengan tawaan yang terbahak-bahak saat membayangkan hal itu.
“Berhenti tertawa Asyila, itu sungguh tidak lucu.”
“Lucu kok, siapa yang bilang nggak lucu, itu lucu banget malah. Eh tapi, kenapa kamu nggak manfaatin itu aja agar Rayyan mantan kamu cemburu?”
Asyila sebenarnya kesal, tipe laki-laki seperti Rayyan itu memang tidak harus dilestarikan'. Laki-laki macam apa Rayyan itu, sukanya hanya mengancam Reina saja.
Padahal mereka sudah putus, tapi Rayyan justru melarang para laki-laki yang berniat mendekati Reina. Walau Reina terkenal dingin dan acuh, dia mahasiswi yang amat pandai. Daya tarik miliknya kuat, hanya tidak Reina sadari.
__ADS_1
“Aku sudah merupakan Rayyan sejak lama.”
“Sudah aku duga, laki-laki yang seperti itu memang tidak pantas untuk dipertahankan apalagi ditangisi. Memang sahabat baik aku ini, kamu tahu caranya membuang sampah pada tempatnya.”
Karena bergaul dengan Reina, Asyila yang terkenal polos dan memang lugu, ia menjadi memiliki cara bicara tajam seperti Reina.
“Lalu? untuk apa kamu meminta aku membuat dia cemburu? bukankah itu tidak perlu?” tanya Reina dengan tatapan datarnya.
“Iya benar tidak perlu. Biarkan saja Rayyan menghadapi para penggemar kamu yang kini sedang mengejar kamu. Biarkan dia kepanasan dengan rasa cemburu itu.”
“Aku tidak memiliki penggemar, siapa yang menjadi penggemarku?” seperti biasa, Reina yang terlalu acuh pada sekitarnya. Menjadikan dia orang yang paling tidak peka akan lingkungannya sendiri.
“Ya ampun, kamu memiliki penggemar loh. Banyak banget malah, kalau kamu tahu, kamu bisa menjual foto kamu, pasti mereka akan menghargakan foto kamu dengan mahal.”
Dulu Asyila pernah menjual foto-foto Reina pada para penggemarnya. Bukan karena dia berniat jahat, hanya saja saat itu dia sedang terdesak hingga terpaksa menjual foto-foto itu.
Alhasil, uang yang ia dapat lumayan cukup banyak. Hingga bisa untuk jajan selama seminggu. Walau sebenarnya foto yang ia ambil tidak lebih saat Reina sedang melamun atau sedang bekerja.
“Aku bukan artis ya,” kata Reina dengan ekspresi tak percaya yang ia perlihatkan.
“Ya ampun ..., nggak peka sih boleh-boleh aja. Tapi nggak kayak gini juga loh, mereka bahkan diam-diam buat klub penggemar atas nama Si Dingin Reina. Mungkin sekarang sudah bertambah banyak lagi dengan status kamu yang tidak memiliki kekasih.”
“Saya bukan artis!” tegas Reina yang tetap pada wajahnya yang tak percaya dengan ucapan Asyila.
“Sudahlah, capek saya ngomong sama kamu.”
...*****...
__ADS_1
Reina bekerja di restoran seperti biasa.
Seperti hari-hari sebelumnya, Harry sudah tiga hari berturut-turut datang ke tempat ia bekerja. Harry akan datang untuk sekedar makan malam, ataupun untuk mengobrol dengan Reina.
Karena sejak pembicaraan terkahir kali, kadang ada beberapa obrolan kecil yang terjadi. Entah kenapa, semenjak hari itu. Mereka terlihat lumayan dekat, hingga kadang orang-orang akan berfikir jika mereka adalah ayah dan anak.
“Itu sepertinya tuan Harry datang ke sini lagi,” ungkap Sang manajer cantik pada Reina.
Sebenarnya manajer itu tahu tentang status Harry, ia bahkan sering menawarkan Harry di tempat yang memiliki fasilitas yang bagus. Hanya saja Harry menolak dan tetap pada keputusannya yang ingin di tempat seperti biasa.
“Iya Bu, sepertinya dia memiliki banyak masalah.”
“Kalian sepertinya cukup dekat ya, apa kalian memiliki hubungan dengannya.” Tatapan manajer itu awalnya menatap Reina dengan pikiran buruk, tapi mengingat betapa dekat dan mengenal Reina. Ia langsung menggeleng, karena rasanya itu tak mungkin.
“Saya tidak perlu menjelaskan tentang diri saya bukan? karena saya adalah orang yang hanya akan menjelaskan tentang diri saya melalu tindakan, tapi jika orang lain ingin berfikir buruk tentang saya, saya tidak peduli.”
Sudah menjadi sifat Reina, ia akan selalu berusaha untuk baik dengan sekitarnya. Itu bukan sebuah pencitraan, hanya saja ia ingin menunjukkan dirinya melalui tindakan. Dan jika dirinya sudah dipandang buruk, ia tidak akan mengelak ataupun membela dirinya sendiri.
Satu hal yang dia tau, buruk atau tidaknya Reina di mata seseorang. Itu tidak lebih dari sudut pandang dan cara melihat orang itu sendiri.
“Sudahlah, kerjakan tugas kamu dengan baik. Kalau begitu aku akan langsung mengerjakan pekerjaan aku hari ini.” Melihat kepergian manajer itu, Reina kembali mengerjakan pekerjaannya itu.
Waktu terus berganti, detik berganti jam, dan jam berganti menit. Saat itu, Reina yang hendak pulang. Ia melihat lagi jika Harry masih belum pulang.
“Kenapa Anda masih tetap di sini?” tanya Reina yang tidak berniat duduk seperti biasanya. Ia yang tahu jika orang-orang terutama para pelayan yang juga bekerja sepertinya telah menatapnya buruk karena kedekatannya itu dengan Harry.
“Oh maaf Nak. Saya hanya tidak tahu kemana lagi saya harus pergi. Karena rasanya hanya di tempat inilah yang membuat rasa sedih dan tak nyaman saya sedikit berkurang.”
__ADS_1
“Bukankah Anda memiliki seorang anak? dan Bukankah Anda juga memiliki keluarga? kenapa Anda tidak bercerita pada mereka saja?”
Harry menggeleng. Ia yang memiliki keluarga yang super sibuk hanya bisa merasa kesepian. Banyak hal yang telah ia korbankan demi keluarga kecilnya, hanya saja apa yang ia terima itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia korbankan.