
Reina yang hari ini bangun pagi sekali, ia lantas langsung membereskan tempat tinggalnya itu.
Segala pekerjaan yang mesti ia urus segera Reina kerjakan, dari menyapu, mengepel, mencuci hingga memasak Reina kerjakan sendiri.
Reina paham, ia bukan anak orang kaya, maka itu Reina selalu bangun pagi dan mengerjakan pekerjaannya sendiri, bahkan waktu yang dia habiskan paling banyak itu untuk bekerja.
“Makan adalah kebahagiaan hidup.”
Perkataan Reina yang selalu menjadi motivasi dirinya sendiri, selain suka bekerja dan mencari uang, Reina sangat suka makan, ia merasa saat makan, beban atau masalah apapun yang ia tanggung hilang untuk sejenak.
Makan memiliki sebuah kebahagiaan dan cita rasa tersendiri bagi Reina. Selain tubuhnya yang menjadi semangat, otak dan hatinya pun ikut semangat dan puas setelah makan.
“Hari yang membosankan.”
Entah kenapa keluhan itu keluar dari mulut Reina ditengah-tengah ia sedang makan. Padahal Reina orang yang sangat semangat jika berurusan dengan makanan, tapi entah kenapa suasana hatinya ini malah merubah, mood makannya menjadi jelek.
Reina tidak pernah merasa kesepian dan sedih seperti ini, kesepian dan kesedihan yang Reina rasakan adalah hal yang asing baginya.
Reina sejak kecil sudah terbiasa sendirian tanpa ada yang peduli, tapi mengapa kenapa kini ia merasa jika ia lebih kesepian dibandingkan dulu?
“Apa yang berbeda? aku rasa semuanya tetap sama? makanan yang sama, tempat tinggal ini juga sama? jadi perasaan apa ini?” Reina seakan bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa ia merasa berbeda? mengapa ia sedih dan gelisah? apa itu karena rasa kesepian yang ia alami saat ini? hingga membuat dirinya menjadi sedih?
“Sudahlah, lebih baik segera berangkat kuliah. Hari ini aku memiliki jadwal pagi.” Reina bangkit dari kursinya, ia merapikan piring bekas ia makan dan mencucinya.
Kesepian dan kesedihan itu menjadi teman baik sejak dulu, tapi Reina yang sekarang sudah kuat. Ia kebal akan rasa sedih dan sakit, tapi mengapa rasa itu kembali hadir?
...........
“Kamu!” kata Reina tidak menyangka saat orang yang ia pikirkan tapi berusaha ia tepis kini ada dihadapannya saat ini.
“Mamah!”
__ADS_1
Wajah sumringah dan polos Erland terlihat, hingga Reina tidak berkedip seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
“Kamu? kamu baik-baik saja?” tanya Reina.
“Kenapa Mamah berkata seperti itu? dan kenapa wajah Mamah terlihat terkejut? apa Mamah tidak merasa senang dengan kehadiran Erland saat ini?” tanya Erland dengan wajah polosnya yang berubah menjadi sendu.
Entah kengapa, tanpa sadar tangan Reina langsung mengulurkan tangan, ia menyentuh wajah tampan Erland untuk memastikan jika apa yang ia lihat itu benar. Alis tajam berwarna coklat yang khas dan sedikit tebal, dengan bulu mata yang tidak terlalu lentik tapi pas diwajahnya itu.
Ketampanan laki-laki itu memang tidak bisa dinilai.
“Saya-” Reina bingung, apa ia harus mengatakan jika dirinya justru senang melihat Erland saat ini. Tapi alasan apa Reina merasa senang dengan kehadiran Erland saat ini?
“Mah, Erland sangat merindukan Mamah. Kenapa Mamah harus meninggalkan Erland saat itu di rumah sakit bersama orang asing itu?” tatapan sendu itu muncul dihadapan Reina. Membuat wanita itu langsung merasa iba. Apa memang sebegitu bergantungnya Erland padanya? hingga laki-laki itu terus ingin dekat dengan dirinya?
“Bagaimana kamu bisa mengatakan jika mereka itu orang asing? jelas mereka adalah orang-orang yang menjadi kepercayaan kamu, orang-orang yang jelas menyayangi kamu dengan tulus.”
Reina bisa yakin dengan Daniel, anak buah Erland yang Reina rasa sangat menghormati tuannya itu. Daniel yang rela melindungi Erland dengan hidupnya, dan Daniel yang rela berkorban banyak demi Erland yang merupakan tuannya.
“Erland tidak mengenal mereka Mah, Erland hanya ingin bersama dengan Mamah. Tolong jangan pernah untuk tinggalkan Erland.” Tatapan sendu masih saja Erland tunjukkan.
Getaran di ponsel Reina berhasil menyadarkan wanita itu, ia dengan segera melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata itu Asyila, saat Reina melihat ponselnya, ia ingat jika hari ini ia memiliki jadwal pagi. Karena ada beberapa alasan, Reina diberi jadwal pagi.
Reina sempat akan dikeluarkan, beberapa dekan dan rektor juga terlihat masih berdebat tentang keputusannya itu, banyak yang menginginkan dirinya bertahan, tapi ada juga yang menginginkan dirinya keluar. Bagi sebagian yang tidak menyukai Reina, menganggap Reina itu pembawa masalah.
Buktinya ada klub khusus penggemar, padahal anak kuliah itu bukan lagi anak SMA yang harusnya fokus pada dunia kerja.
“Saya memiliki jadwal pagi hari ini, kamu bisa istirahat di sini. Kalau perlu apapun kamu bisa menghubungi saya secara langsung.”
Reina awalnya hendak melangkah, tapi cekalan di tangannya itu langsung membuat langkahnya terhenti.
“Boleh Erland ikut? Erland tidak ingin di sini. Erland hanya ingin bersama Mamah.” Tatapan berharap dan memohon dari Erland. Langsung membuat Reina luluh dan tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
“Baiklah, kamu bisa langsung ikut. Tapi ingat, kamu harus menunggu seperti biasa!” dengan polosnya Erland mengangguk seolah patuh dengan apa yang Reina katakan.
Beberapa anak kuliahan yang selama satu minggu ini berusaha mendekati Reina, mereka tidak berani untuk mendekatinya lagi.
Reina dan Erland berjalan bersama, dengan Erland yang melindungi Reina dari belakang. Erland yang bertubuh tinggi, hingga Reina hanya sekitar dada laki-laki itu saja. Padahal tinggi Reina itu sudah termasuk rata-rata.
160 cm, masih terbilang imut dengan tinggi segitu. Kadang, Erland akan dengan mudah merangkul Reina, ia yang seolah tidak merasakan beban di tubuh Reina, seolah Reina itu ringan, ia juga akan memeluk Reina erat seolah ingin sekali melindungi wanita itu.
Tatapan Erland akan sangat berbeda saat menatap orang yang siap untuk menjadi rival atau musuhnya. Dan beruntungnya tidak ada yang berani bersaing dengan Erland.
Jikapun ada, mereka pasti akan habis.
“Bisa sedikit lebih jauh?” tanya Reina saat Erland kini merangkulnya dengan erat.
Reina tahu jika Erland tidak ingin dirinya berdekatan dengan siapapun, ia juga tahu jika Erland, seolah tidak ingin Reina ditatap orang-orang.
Tapi demi apapun, tubuh mereka berdua kini sangat menempel, hingga Reina khawatir ada orang yang berfikir buruk padanya dan Erland.
“Mah, apa Mamah tidak suka Erland berdekatan dengan Mamah?” tanya Erland kini menatap polos Reina.
“Tidak! hanya-”
“Jadi jika Mamah tidak keberatan tolong jangan suruh Erland menjauh, Erland tidak bisa. Sampai kapanpun Erland tidak bisa!” nada sendu yang membuat Reina luluh dan tak berkata-kata.
Kenapa Reina selemah ini? mengapa juga kini ia seakan memaafkan dan akan luluh dengan apapun yang Erland minta?
“Jadi, apa Mamah akan tetap di sini? bukankah Mamah mengatakan pada Erland jika hari Mamah memiliki jadwal kuliah pagi?” nada mengingatkan Erland berhasil membuat langkah Reina yang kini terhenti menjadi kembali berjalan.
...........
“Tuan, akting Anda sangat bagus. Anda sepertinya sangat cocok menjadi pemeran di film. Saya tahu jika Anda kini sedang akting, tapi kecemburuan itu, saya rasa bukan hanya akting.” Tatapan orang itu seakan menatap jauh, ia menatap tuannya yang tak lain adalah Erland.
__ADS_1
Dan orang yang berkata itu adalah Daniel yang kini berusaha untuk menjaga Sang tuan dari jarak jauhnya. Tugas Daniel kini menjaga tuannya yang sangat ia hormati.