
Reina yang kini sedang duduk dengan santai di depan tempat yang ia sewa. Rumah sewanya itu memang tak besar, itu ayaknya sebuah kos-kosan biasa. Tapi karena Reina orang yang tidak suka berdiam diri, alhasil di depan tempat tinggalnya itu terdapat taman bunga kecil yang indah, juga menyegarkan.
Di depan Reina kini, ada Daniel. Laki-laki yang tadi mengaku sebagai bawahan kepercayaan Erland.
“Jadi untuk apa kamu ke sini?” tanya Reina sedikit heran. Pasalnya, saat ini Daniel duduk sangat jauh dengan tempat Reina berada.
“Apakah saya adalah sebuah virus,” batin Reina yang entah mengapa merasa tersinggung karena hal itu.
Reina tidak tahu saja jika sebenarnya Daniel kini sedang menjaga jarak karena ia sangat tahu jika tuannya tidak mengizinkan siapapun untuk dekat dengan wanita itu.
Dan jika saja Daniel tidak pernah diperintah oleh Erland untuk membujuk wanita dihadapannya ini, mungkin ia tidak akan pernah diizinkan untuk berdekatan dengan Reina, sekalipun jaraknya itu tiga meter.
Ya! Daniel seolah benar-benar merasa takut jika nanti tuannya akan cemburu dan marah. Laki-laki yang bernama Erland itu, seakan bisa saja dalam suasana suram hanya dalam waktu sekejap saja.
“Nona, seperti yang tadi saya katakan tadi. Saya adalah bawahan sekaligus kepercayaan dari tuan Erland. Dan di sini, saya hanya ingin berniat untuk mengajak Anda dan tuan Erland untuk tinggal di mansion pribadi milik tuan Erland.”
“Aku menolak!” jawab Reina tanpa mendengar alasan laki-laki bernama Daniel yang mengajak ia dan Erland pindah.
“Iya? apa Anda sudah memikirkan dengan matang? kalau perlu saya akan menunggu keputusan dari Anda. Dan berapapun waktu yang Anda perlukan, saya akan memberikan Anda waktu lebih banyak,” jelas Daniel sopan.
Jika Reina bukan orang yang spesial untuk Erland, mungkin hanya Erland dan ayah dari Erland serta tuan Samoni yang diperlakukan dengan hormat oleh Daniel.
“Kenapa nada suara Anda memaksa?” pertanyaan Reina membuat Daniel bungkam saat itu juga.
__ADS_1
Apa yang Daniel katakan memang terdengar seolah sedang memaksa, itu tak lain karena ia tidak ingin mengecewakan tuannya, lagipula Daniel memang telah mempersiapkan segala kebutuhan yang telah dikhususkan untuk Reina.
“Nona, saya tidak pernah berniat untuk memaksa Anda,” kata Daniel sedikit gemetaran saat matanya tanpa sadar melihat jika Erland sedang mengintip dijendela tepat dibelakang Reina.
Apa? jendela? mengintip? meski sikap Erland tidak terlihat seperti orang yang sedang mengintip, tapi tetap saja Erland kini sedang mengawasi apa yang akan Daniel lakukan. Dari tatapan Erland, seakan mengatakan jika Daniel salah sedikit saja, ia harus terima akibatnya.
“Jadi kamu mengatakan jika saya yang berburuk sangka pada kamu saat ini?” pertanyaan biasa itu, tapi berhasil membuat Daniel semakin gugup dengan tatapan Erland yang terlihat tajam.
“Tuan, bukankah Anda mengatakan jika Anda ingin agar nona Reina bisa tinggal di mansion. Kenapa saat saya sedang memintanya dengan baik-baik Anda malah menatap saya seperti itu. Demi tuhan tuan, saya tidak ingin mendapatkan hukuman dari Anda,” batin Daniel yang rasanya ingin menangis saat itu juga.
Daniel sadar jika perkataannya itu memaksa, walau sebenarnya perintah dari Erland itu, tidak ada yang mengatakan jika Reina harus pindah segera.
Reina mungkin tak sadar, jika Erland akan sangat muda sekali marah karena hal-hal yang tak disukai wanita itu. Dan sebagai bawahan setia, Daniel tak akan mati ataupun dihukum kejam layaknya sebuah siksaan, tapi nyatanya hukuman yang Erland biasa di berikan saat ia membuat kesalahan tetap saja adalah hukuman yang paling Daniel takuti.
Demi tuhan, Daniel tidak ingin jika harus di kirim ke Antartika oleh Erland karena membuat laki-laki itu marah. Erland kini tak lebih dari seseorang yang baru saja jatuh cinta, ia sensitif dan bisa terbawa perasaan tergantung suasana hati Reina.
“Tapi keputusan saya tetap pada apa yang saya inginkan saat ini, dan saya menolak!” kukuh Reina. Mansion? itu bukan tempat untuk ia yang hanya manusia biasa.
Bukankah tempat itu harusnya ditempati oleh para manusia yang berada di level itu. Dan Reina tidak merasa jika ia berada di level itu.
“Apakah ini keputusan Anda? tapi, apa Anda tak berniat mempertimbangkan sedikit saja, demi tuan saya yang kini sedang bersama dengan Anda,” jelas Daniel, ia masih kukuh pada pendiriannya yang ingin agar Erland tinggal di tempat yang aman.
Mansion pribadi Erland, memiliki tingkat keamanan yang paling tinggi di dunia. Dan sebagai anak buah, ia ingin tuannya berada di tempat yang aman.
__ADS_1
Walau awalnya ini hanya perintah Erland demi bisa menempatkan Reina di tempat yang aman, tetapi tak dapat dielak jika sebagai bawahan yang sangat peduli pada tuannya, ia ingin tuannya mendapatkan yang terbaik dalam hal apapun itu.
“Jadi, apa kini kamu ingin membuat aku merasa bersalah? atau kamu ingin membawa Erland saja? kalaupun itu niat kamu, kamu bisa saja membawa langsung tuan kamu,” kata Reina yang sedikit sensi.
Kenapa? kenapa Reina selalu merasa tak nyaman jika mengingat Erland yang akan pergi darinya? bukankah ia yang sudah terbiasa sendirian harus tetap sendirian!
“No-” Daniel rasanya kehabisan kata-kata, ia yang kini bisa melihat wajah tuannya yang menatap tajam pada dirinya seolah marah. Entah mengapa, ia langsung tak bisa mengeluarkan suaranya.
“Tuan, bukankah ini perintah dari Anda waktu itu? jadi kenapa saya yang sedikit memaksa malah terlihat seolah seperti penjahat yang mengancam,” batin Daniel.
“Iya, ini memang kesalahan saya juga yang ingin agar Anda bisa tinggal di mansion. Itu 'kan karena mafia Black Lion masih akan mengancam Anda,” pikir Daniel yang akhirnya memilih untuk segera mengakhiri pembicaraan itu.
“Nona, Anda salahpaham pada saya. Bagaimana saya membawa tuan saya jika Anda sudah seperti bagian terpenting hidupnya, ” kata Daniel yang justru diartikan berbeda oleh Reina.
Jika Reina menganggap Erland sangat bergantung pada dirinya karena lelaki itu menganggapnya sebagai ibunya itu, tapi berbeda dengan Daniel yang memang yakin jika Erland memiliki perasaan lebih untuk Reina.
Sekalipun waktu yang mereka berdua lalui terasa singkat, tapi bagi Daniel, perhatian yang tuannya perlihatkan dengan jelas, sudah cukup untuk bisa meyakinkan dirinya bahwa tuannya benar-benar menjatuhkan hatinya pada wanita dihadapannya.
“Sudahlah, jika tidak ada yang kamu katakan lagi, kamu bisa pergi. Dan kapanpun kamu ingin melihat tuan kamu, kamu bisa melakukan itu, aku tak akan merasa keberatan karena hal itu,” seolah mendapat izin, Daniel bisa menemui Erland di depan Reina langsung.
“Terima kasih, saya akan mengingat itu semua. Jika ada yang Anda butuhkan, Anda bisa langsung mengatakan itu pada saya, apapun itu akan saya usahakan untuk bisa membantu Anda dengan baik,” kata Daniel dengan tatapan yakinnya.
Hidupnya itu milik Erland. Sekalipun Erland tidak ingin dirinya mengorbankan diri untuk laki-laki itu, tapi tetap saja Daniel rela mengorbankan dirinya demi Erland.
__ADS_1