Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Hasutan


__ADS_3

“Reina, ada apa?” tanya Asyila dengan wajah khawatirnya itu.


Begitu mendengar jika Reina dipanggil oleh salah seorang asisten dosen, tentu Asyila langsung saja merasa penasaran, dan saat mendengar beberapa rumor jika Reina akan dikeluarkan dari universitas, tentu Asyila yang mendengar itu merasa khawatir.


“Tidak ada masalah yang serius, aku baik-baik saja,” jawab Reina berusaha untuk menenangkan.


Reina tidak akan menceritakan pada Asyila jika dirinya sempat diintrogasi oleh beberapa dosen. masalah klub yang menjadi dalang pembullyan.


Dan karena hal itu, ada beberapa dosen yang awalnya memujinya, mereka menjadi membenci Reina saat ini. Padahal kesalahan ini bukan Reina yang buat.


“Beneran tidak ada apa-apa? katakan saja jika ada masalah, jangan buat aku khawatir dong,” wajahnya itu, masih terlihat penasaran.


“Beneran, tidak ada apa-apa.”


“Tapi, aku justru mendengar jika kamu hampir di keluarkan dari universitas, apa itu benar?”


Sontak saja karena ucapan Asyila, hal itu langsung membuat Erland yang hanya diam saja langsung menoleh, tatapan Erland terlihat bingung layaknya sedang berfikir. Tapi secepat mungkin ia kembali terlihat biasa saja, layaknya ia tidak terlalu paham.


Ini bukan waktunya Erland untuk banyak bertanya, ia akan mencari tahu hal itu pada bawahannya jika Reina tidak menceritakan masalah itu padanya.


“Tidak! siapa yang mengatakan itu pada kamu? apa kamu percaya pada rumor itu? bukankah itu hanya sebuah rumor yang tidak pasti? jadi jangan terlalu mempercayai itu,” jawab Reina langsung.


...*****...


“Mah, ada apa?” tanya Erland dengan tatapan wajah polosnya, ia melihat Reina yang kini terlihat sedikit murung.


“Erland, kadang aku berfikir jika kamu itu bukan anak kecil, maksud aku kamu itu pemikirannya tidak seperti anak kecil pada umumnya,” ungkap Reina.

__ADS_1


Reina kini sedang berfikir tentang ingatan Erland yang berada pada usia anak yang berada pada umur 5 tahun. “Kamu tahu? aku sejak dulu tidak pernah sekalipun menganggap kamu anak kecil. Itu sejak pertama kita bertemu, aku tidak pernah sekalipun menganggap kamu anak kecil, entah.”


Tatapan Reina sedikit menerawang jauh, meski Erland kini lupa ingatan, tapi Reina tidak pernah sekalipun berfikiran jika laki-laki itu seorang anak kecil, sekalipun itu saat pertama Erland sadar dan memanggilnya Mamah'


Ada rasa dimana, Reina bisa merasakan jika suatu saat nanti, Erland adalah orang yang akan mengerti dengan kesedihan yang ia sembunyikan, serta rasa kesepian yang berusaha ia abaikan. Hal itu akan Erland pahami dengan baik, hingga ia akan menjadi orang yang paling mengerti tentang Reina.


Meski Reina juga sering bercerita pada sahabatnya Asyila. Hanya saja, entah kenapa Reina merasa jika Erland akan jauh lebih memahami dirinya lebih baik dibandingkan siapapun.


“Kenapa?” tanpa sadar tatapan yang biasa Erland tunjukkan kini terlihat. Tatapan itu berbeda dengan tatapan polos saat dirinya menatap Reina. Karena kini ia berfikir jika mungkin Reina sudah menebak jika ingatannya telah kembali.


“Melihat kamu seperti aku melihat diriku sendiri. Aku bahkan berfikir untuk tahu banyak hal tentang kamu, apa yang kamu alami selama ini, dan apa yang kamu pikirkan dalam otak kamu saat ini,” kata Reina disertai tatapannya itu.


Sama! jika seandainya Reina tahu, kalau Erland itu juga ingin mengetahui Reina lebih dalam. Apa yang Reina sukai dan apa yang akan membuat Reina bahagia, segala hal tentang Reina yang bagi orang tak berharga, Erland tetap ingin tahu itu.


Bahkan kadang Erland sering sekali memperhatikan apapun yang Reina lakukan, seperti saat sedang memasak, menulis, bekerja, atau saat ia sedang melangkah pun, Erland perhatikan itu semua dengan seksama.


“Sudahlah, aku lelah dan ingin tidur.”


...*****...


“Ayah,” panggil Elisa.


Elisa terlihat celingukan ke kamar ayahnya, melihat ke sekelilingnya seolah takut jika kakaknya melihat.


“Ada apa? apa kamu takut jika Kakak kamu Bastian melihat kamu masuk? dia tidak ada di sini, kamu bisa tenang.” Harry sedikit tertawa, ia melihat jika anaknya itu terlihat lucu dan menggemaskan baginya.


“Ayah, Elisa hanya takut jika nanti Kak Bastian akan meledek dan menyindir Elisa jika tahu Elisa meminta sesuatu pada ayah,” kata Elisa sedikit menggembungkan pipinya seolah sedang merajuk.

__ADS_1


Elisa masuk dan mendekati Harry. Harry yang bahkan sudah sangat paham jika setiap anaknya datang itu pasti karena Elisa memiliki permintaan padanya. Ia lantas langsung tersenyum. “Ada hal yang kamu ingin Ayah lakukan?” tanya Harry seolah tahu ada yang Elisa inginkan.


Elisa tersenyum dan mengangguk, ia lalu langsung duduk di samping ayahnya yang terlihat fokus dalam membaca bukunya.


“Apa Ayah sudah mendengar tentang pembullyan yang terjadi di universitas?” tanya Elisa langsung.


“Tentu saja ayah tahu, bahkan itu mungkin skandal terburuk yang pernah terjadi selama ini. Apalagi, mahasiswi yang dibully ada yang masuk rumah sakit jiwa. Dan itu bukan lagi masalah kecil.”


“Elisa tidak menyangka jika masalah itu sudah separah ini? ya ampun .., para orang bodoh itu harus dikasih pelajaran yang setimpal! mereka benar-benar orang-orang bodoh!” maki Elisa langsung diangguki oleh Harry.


Apa yang dikatakan oleh Elisa itu memang benar, para pembully yang kebanyakan dari orang kaya itu seperti orang bodoh! mereka hanya peduli dengan kesenangan sesaat, seolah mereka lupa jika ada hukum yang akan mengatur itu.


“Jadi apakah sudah ada kemajuan tentang masalah itu? siapa yang membully dan alasanya membully?” tanya Elisa yang kini terlihat penasaran.


“Dari yang ayah dengar, para mahasiswa dan para mahasiswi membangun sebuah klub mereka sendiri. Semacam perkumpulan anak-anak orang kaya! itu awalnya memang hanya perkumpulan biasa, hingga tidak ada yang menganggap serius akan hal itu, tapi siapa sangka jika perkumpulan itu banyak merugikan, karena bukan hanya kasus pembullyan saja yang terjadi, pelecehan bahkan pemerkosaan hingga taruhan juga ada.”


Ini merupakan kegagalan terbesar bagi Harry yang merupakan pemilik universitas. Harusnya, ia bisa memberi batasan pada anak-anak yang berkuliah di universitas miliknya, sekalipun mereka adalah anak konglomerat yang terkenal.


“Jadi apa yang akan kita lakukan?”


“Biar polisi yang akan menyelidiki itu lebih lanjut, dan ayah juga akan memberikan batasan dengan jelas pada mereka, lalu masalah klub Ayah sudah membubarkan perkumpulan itu.”


“Oh masalah klub, Elisa ingat jika klub itu dibangun karena ada alasannya. Em .., klub penggemar ya? iya! kalau nggak salah ada yang namanya itu klub penggemar. Reina? bukankah itu namanya? Elisa ingat jika itu nama dari salah satu klub.”


“Iya, itu benar. Karena kasus ini, orang yang bernama Reina itu dipanggil.”


Harry tidak tahu jika orang yang bernama Reina yang ia panggil adalah orang yang ia kenal. Jika saja ia tahu, entahlah bagaimana responnya nanti.

__ADS_1


“Bukankah orang yang bernama Reina itu juga terlibat? haruskah orang yang bernama Reina itu dikeluarkan dari universitas? setidaknya jika itu memang demi yang namanya kebaikan, kenapa nggak ya 'kan Ayah?”


Perkataan Elisa yang secara tak langsung sedang menghasut Harry agar segera mengeluarkan Reina.


__ADS_2