Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Terpojok


__ADS_3

Karena entah mengapa Reina merasa iba dan tak tega. Pada akhirnya ia duduk dan berniat untuk mendengar keluh kesah laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.


“Istri saya adalah seorang model, dia hampir setiap hari akan selalu bolak-balik ke luar negeri di tempat yang berbeda-beda. Sedangkan anak laki-laki saya, dia sibuk dengan pacarnya. Setiap hari kerjaannya keluar dan pergi dengan kekasihnya itu, mungkin itu semua karena saya yang terlalu sayang dan terlalu memanjakan dirinya.”


Cerita Harry itu, membuat Reina berfikir. Apakah nanti jika dirinya mendapatkan kasih sayang seperti itu, ia akan menjadi seperti anak Harry? yang hidup seenaknya?


Tapi Reina sadar, ia tidak akan seperti itu. Karena jelas dirinya berbeda, cara pikir dan pandangnya berbeda. Mungkin jika dirinya itu diberikan kasih sayang lebih, ia akan menjadikan hal itu sebagai motivasi'. Motivasi agar dirinya menjadi hebat dan bisa membuat orang yang ia sayang merasa bangga pada dirinya.


“Sedangkan anak perempuan saya, meski dia lebih tua dari kamu. Tapi saya tetap melihatnya sebagai anak kecil, karena setiap saya sedang sedih dan ingin bercerita tentang masalah saya. Saya hanya takut akan membuatnya terbebani.”


“Lalu kenapa Anda bercerita pada saya? bukankah saya adalah orang asing? justru sangat aneh jika Anda malah lebih nyaman bercerita dengan orang asing?”


Perkataan menohok Reina langsung membuat Harry bungkam dan tidak berani berkata-kata. Ia diam sejenak, dan berfikir dalam. Mengapa dia justru lebih nyaman untuk bercerita dengan orang yang ada dihadapannya saat ini?


“Saya juga tidak tahu. Ini mungkin terdengar aneh, tapi saya merasa saat saya bercerita dengan kamu. Beban yang saya rasakan benar-benar berkurang. Kecemasan dan kegelisahan itu sedikit sirna walau tidak sepenuhnya.”


Dari cerita Harry, sepertinya laki-laki itu sudah menganggap Reina sebagai teman curhatannya.


“Itu terdengar aneh. Bolehkah di sini saya juga berpendapat?” tanya Reina yang tentu Harry jawab dengan anggukan.


“Dari yang saya dengar tadi, Anda sepertinya sangat menyayangi kedua anak Anda. Terlihat jelas dari wajah Anda yang tidak bisa menutupi rasa sayang Anda itu. Lalu apakah Anda pernah memarahinya saat berbuat salah?” tanya Reina.


Entah mengapa, ia ingin tahu bagaimana seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya memarahi anaknya saat berbuat salah.


Gelengan dari Harry itu, sempat membuat Reina terkejut sejenak. Bukankah itu menandakan jika Harry tidak pernah memarahinya?


“Sekalipun tidak pernah?” tanya Reina memastikan.


Apakah memang seperti ini cara sayang seorang ayah, ia bahkan tidak pernah memarahi anaknya?

__ADS_1


“Saya tidak pernah tega untuk memarahinya, tapi saya akan sering menceramahinya. Mengingatkan mereka untuk berbuat baik dan memperingati agar mereka tidak berbuat buruk.”


“Saya tidak pernah mengerti cara berfikir seorang ayah,” ungkap Reina menatap Harry. “Karena saya tidak pernah merasakan hal itu,” lanjut Reina yang hanya bisa ia simpan dalam pikirannya tanpa bisa ia ungkapkan.


Reina rasa ia tidak akan pernah mengerti hal itu, karena ia belum pernah merasakan yang namanya sebuah kasih sayang.


“Jadi, apa yang sedang Anda pikirkan saat ini?” tanya Reina memilih mengalihkan topik.


Tanpa sadar, Reina yang mendengar dan melihat langsung seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya. Itu membuat rasa iri yang tidak pernah ia rasakan itu timbul.


Reina hanya ingin menghilangkan rasa iri itu saja, ia tidak ingin menjadi lemah dan terlarut dalam rasa sedih yang terlalu dalam.


“Saya ..., saya mengingat apa yang kamu katakan. Apa yang kamu katakan membuat saya tersadar. Betapa buruknya saya sebagai seorang ayah.”


Untuk saat ini, Reina diam. Ia tahu laki-laki itu sekarang hanya ingin didengarkan tanpa bisa ia sela ucapannya itu.


“Mungkin, untuk kedua anak kesayangan saya, saya adalah ayah yang baik. Ayah yang selalu memberikan rasa cinta dan sayang saya pada mereka. Tapi bagi anak saya yang satunya lagi, saya seperti seorang penjahat. Yang dengan tega menelantarkan anak saya sendiri.”


“Itu keputusan yang bijak.” Jawaban dan respon Reina hanya kata-kata singkat. Karena setelahnya ia langsung pamit untuk pulang.


Kemungkinan besar, Harry terus diliputi rasa sedih dan penyesalan yang tidak tergambarkan dihatinya. Rasa sedih yang ia tampung selama sembilan belas tahun lamanya, kini pecah dan tidak bisa ia tahan lagi.


...*****...


Reina hendak pulang menuju rumahnya. Dari tadi saat Reina berangkat menuju restoran ia sadar jika dirinya diikuti. Ia tahu siapa yang mengikutinya itu.


Erland.


Lalu itu dengan keras kepalanya terus mengikuti Reina. Ia bahkan tidak peduli dengan kemarahan Reina nanti, karena yang laki-laki itu pedulikan hanyalah keselamatan Reina.

__ADS_1


“Saya tahu kamu mengikuti saya.”


Ucapan Reina langsung membuat Erland yang sedang mengendap-endap merasa tertangkap basah. Dengan segera Erland keluar dari tempat persembunyiannya itu dan menghadap ke arah Reina dengan pandangannya yang tertunduk.


“Kamu tidak benar-benar mendengarkan ucapan saya?” bukan karena Reina benci karena Erland terus saja mengikutinya, tapi ada rasa khawatir yang Reina rasakan untuk Erland. Ia tidak bisa untuk mengungkapkan rasa khawatirnya, bahkan mungkin Reina tidak sadar jika ia khawatir pada Erland.


Erland hanya diam, ia tidak menjawab. Bagaimana caranya Erland menjawab, jika ia merasa takut jika Reina kenapa-napa. Pemikirannya yang polos, menjadikan ia tidak pandai untuk mengungkapkan rasa khawatirnya pada Reina saat ini. Ia hanya bisa diam saat Reina menatapnya tajam.


Srekk


Srekk


Srekk


Bunyi suara yang sepertinya berjumlah cukup banyak. Langsung saja membuat Reina waspada saat itu juga. Ia menatap sekeliling dan tak lama muncul sekitar kurang lebih 30 laki-laki yang kini memakai pakaian hitam. Pakaian yang terkesan misterius dan tidak bisa Erland dan Reina lihat wajah mereka dengan jelas. Langsung membuat Reina dalam posisi siap.


“Ayo Erland, kamu kebelakang.” Perintah Reina itu justru hanya mendapat respon Erland yang terlihat bergeming tanpa bergerak sama sekali.


“Mah.”


“Sembunyi dibelakang saya atau saya akan buang kamu!” kata-kata tegas yang bercampur emosi karena khawatir dengan Erland. Reina hanya takut Erland kenapa-napa. Meski selama ini laki-laki itu yang selalu berusaha melindungi Reina, tapi Reina yang berfikir jika mungkin saja Erland tidak bisa berbuat apa-apa dalam situas genting saat ini.


Reina memilih agar Erland diam dan bersembunyi dibelakangnya. Para anak buah yang berjumlah banyak itu langsung mendekat. Mereka tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah panik Reina. Jelas mereka tahu jika pandangan itu adalah pandangan takut plus panik.


“Sialan! para pengecut ini!” gemertak Reina tunjukkan. Ia belum pernah melawan musuh sebanyak ini, jelas saja itu membuatnya takut.


Dirinya kini benar-benar dalam posisi panik dan takut, sama seperti yang orang-orang itu ketahui.


“Ya ampun, ternyata wanita ini cantik sekali. Aku jadi ingin mencicipinya sebentar sebelum menggores wajah cantiknya itu.” Si ketua dari laki-laki yang berpakaian hitam mulai berbicara dengan nada yang terdengar vulgar.

__ADS_1


Reina yang mendengar itu, ia semakin waspada dan dalam posisi yang sigap. Meski ada rasa takut dan tak yakin, tapi Reina tidak bisa menunjukkan pandangan itu dengan jelas.


__ADS_2