Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Rencana yang gagal


__ADS_3

Pulang dari universitas, Elisa merasa dongkol, ia kesal dan marah. Bagaimana bisa ada orang yang mengalahkan dirinya dalam hal berdebat.


Selama ini, semua orang yang berdebat dengan Elisa akan diam dan mengalah. Tapi tidak dengan wanita yang bernama Reina itu, ia dengan datar dan berani mengatakan kata-kata yang menohok dan menyinggungnya.


Walau itu memang kenyataannya, tapi Elisa tetap merasa marah dan tidak terima.


“Sejak kapan seorang Elisa dikalahkan dalam hal bicara? bahkan selama ini tidak ada yang berani menyinggung apalagi berdebat. Kamu pasti akan merasakan balasan yang setimpal untuk ini Reina.”


Drttt


Drttt


Drttt


Getaran diponselnya membuat perhatian Elisa menjadi teralihkan. Ia lalu menatap ke arah ponselnya itu, tanpa sadar Elisa tiba-tiba tersenyum.


“Iya? bagaimana? apa sudah selesai rencana yang kamu buat?” tanya Elisa pada seseorang yang kini sedang meneleponnya.


“Tenang saja sayangku, apa yang kamu inginkan pasti akan aku lakukan. Tapi ingat dengan janji kamu padaku, karena jika kamu melanggar! kamu pasti akan tahu akibatnya.”


“Baiklah, tenang saja, aku pasti akan memenuhi janji aku ini. Kamu tidak perlu merasa khawatir sama sekali!”


Elisa terpaksa bekerja sama dengan seorang Hans, ia adalah mafia terbesar yang sangat ditakuti di Australia. Mafia yang kejam dan sadis itu, ia seakan bisa dengan kejam membunuh bayi tak bersalah.


Kesepakatan dan perjanjian yang Elisa dan Hans lakukan, tentu hanya mereka berdua yang tahu.


“Semoga mimpi indah sayangku.”


Panggilan itu pun berakhir. Sebenarnya Elisa adalah wanita yang jual mahal pada siapapun itu. Ia hanya memanfaatkan Hans yang tergila-gila padanya.


“Dasar tidak tahu tempat!” meski status Elisa tinggi, tapi kemajuan diperusahaan sudah lama turun dan semakin turun akhir-akhir ini.


...*****...


Reina hanya berjalan dengan tenang, ia sadar jika kini dirinya sedang diintai dan diikuti oleh orang berbaju hitam.


Meski begitu, Reina berusaha untuk terlihat tidak mencurigakan sama sekali. Ia berusaha terlihat jika dirinya tidak sadar akan kehadiran orang-orang misterius yang sedang mengintainya. Apalagi jika kini Reina hanya sendiri, ia tidak bersama dengan Erland. Laki-laki itu Reina perintahkan untuk tetap di kos-kosan.


“Kenapa banyak sekali orang yang mengintaiku? apa ini dilakukan oleh orang yang sama? tapi siapa itu? apa itu Elisa?” pikir Reina yang hanya bisa tetap tenang untuk saat ini.


Reina tahu mengenai identitas Elisa yang tidak biasa, tapi meski begitu ia masih dengan berani berkata seperti itu pada Elisa. Mungkin jika orang mengatakan Reina itu sombong biarkan saja, Reina hanya tidak ingin jika sahabatnya akan mengalami ketakutan seperti itu.


Srakk

__ADS_1


Srakk


Karena ingin menampakkan wujudnya, akhirnya para bawahan yang berjumlah lebih sedikit dari waktu itu pun muncul. Para bawahan berjumlah kurang lebih lima orang itu berjalan mendekat ke arah Reina dengan santai.


“Sepertinya yang mengirim orang-orang ini adalah orang yang berbeda dari waktu itu,” pikir Reina saat ia melihat jika musuhnya seolah meremehkan kemampuan dirinya.


“Ya ampun, ternyata cantik juga orang yang ingin kita buat babak belur. Bukankah terlalu disayangkan jika wajah secantik ini menjadi korban?” salah satu anak buah berbicara dengan ekspresi wajah yang terlihat mesum dibalik penutup wajah.


“Bagaimana kalau setidaknya kita bermain-main sebentar dengannya. Mungkin dia akan merasa bahagia walau sesaat?” sahut yang lainnya.


Setelahnya, ketiga orang lainnya yang mendengar langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak memperhatikan wajah Reina yang kini merah padam karena mengerti apa yang para orang itu katakan.


Karena marah, Reina langsung saja menendang salah satu laki-laki yang paling dekat dengannya. Tendangan yang tidak main-main dan langsung mengenai laki-laki itu hingga ia langsung meringis saat sesuatu berharga miliknya di tentang.


Brakk


“Akhh!! sialan! ******!” marah orang itu.


Reina yang kesal disebut seperti itu, ia langsung menginjak kaki orang itu. “Akhh!!” teriakan nyaring seakan menyadarkan keempat laki-laki yang kini sedang melamun.


“Oh, pandai bela diri ternyata. Bukankah ini akan terasa semakin menarik?” ucap salah satu orang berbaju hitam yang semakin merasa tertantang.


“Heh menarik? bukankah ini terasa lucu? kelima banci sedang melawan seorang wanita?” nada ledekan seolah sengaja Reina keluarkan agar mereka marah.


Mereka bahkan tidak sadar jik provokasi Reina langsung membuat mereka tidak fokus dan lebih dikendalikan oleh emosi.


Bruk


Bakkk


Dugg


Krekk


Celah-celah yang terlihat jelas dari gerakan mereka semakin Reina manfaatkan untuk membuat mereka kalah saat ini juga.


“Sialan! kenapa tuan tidak mengatakan jika wanita ini pandai bela diri,” kata salah seorang laki-laki berbaju hitam yang langsung ambruk saat itu juga.


Brakkh


“Lain kali tolong pandailah dalam mengatur emosi, karena itu justru akan membuat celah bagi lawan.”


Reina yang berhasil melawan mereka berlima justru malah menasehati mereka. Hingga para laki-laki itu terlihat sedikit marah dan tidak terima.

__ADS_1


...*****...


“Iya?” tanya seorang laki-laki yang duduk di bangku kebesaran miliknya. Wine berwarna merah yang ada di dalam digelasnya langsung ia teguk dengan santai, dan suasana kamar yang gelap justru membuat laki-laki itu merasa sangat nyaman dengan suasana itu.


“Kenapa bisa?” ekspresi wajah laki-laki itu masih saja terlihat tenang. Ia seolah tidak merasa marah padahal anak buahnya gagal dalam menjalankan tugasnya saat ini.


“Para orang bodoh! untuk apa kalian mengikutiku kalau begitu!” kata laki-laki itu lagi dengan nada yang terdengar tenang. Berbeda sekali dengan hatinya yang merasa sangat marah, ia tidak pernah terima akan kegagalan.


Laki-laki bernama Hans itu, ia menghancurkan gelas ditangannya begitu mendengar cerita salah satu anak buahnya yang mengatakan kegagalan mereka.


Krekk


prangg


...*****...


Malam harinya.


Elisa yang berfikir jika mungkin Hans berhasil dalam menyelesaikan rencananya itu, ia segera menelepon Hans untuk memastikan itu.


“Apakah berhasil?” tanya Elisa langsung begitu sambungan telepon sudah diterima oleh Hans.


“Oh sayangku, kenapa terburu-buru mengatakan itu? tidakkah ada sesuatu yang ingin kamu katakan tentang kita?” tanya Hans yang seolah sedang menggoda Elisa.


Hans, laki-laki itu sangat tergila-gila pada Elisa, ia rela melakukan apa saja demi wanita itu. Meski tahu jika ia sedang dimanfaatkan, tapi Hans tak peduli, yang ia pedulikan adalah wanita itu menjadi miliknya.


“Katakanlah dengan jelas, aku tidak ingin mendengar ucapan bertele-tele dari kamu!”


Diam, suasana hening untuk sekejap.


“Kenapa tidak kamu katakan dari awal jika wanita itu sangat pandai bela diri?” tanya Hans langsung, meski bawahan yang ia kirim saat ini adalah yang terlemah dari yang ia kirim, tapi bawahan itu juga termasuk yang pandai bela diri.


“Kenapa? apa kamu gagal?” tebak Elisa.


“Kamu tenang saja, untuk selanjutnya tidak akan ada yang namanya kegagalan. Orang-orang yang aku kirim waktu itu adalah anak bodoh, jadi jangan khawatir, akan aku urus masalah ini selanjutnya.”


“Baiklah, kabari aku jika rencana ini telah berhasil.”


Setelahnya Elisa langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia seakan tidak peduli jika Hans masih ingin mengobrol dengannya.


*****


Ada yang mau pendapat, jika nanti nama Alisa, jadi diganti Kalisa? biar sedikit membedakan antara Alisa dan Elisa?

__ADS_1


__ADS_2