Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Kesepian


__ADS_3

Sudah lebih dari seminggu Reina hidup tanpa ada Erland. Tidak ada sesuatu hal yang spesial, hari-hari Reina bahkan bisa dikatakan membosankan. Entah Reina sadar atau tidak, kehadiran Erland selama ini, telah berhasil membuat dirinya merasa tak nyaman dengan ketidakhadiran laki-laki itu saat ini.


Meski Erland sangat menjengkelkan bagi Reina saat itu, tapi melihat jika tidak ada Erland bersama dengannya. Entah mengapa membuat Reina sedih, ia merasa kesepian dan tanpa sadar ingin melihat keadaan laki-laki itu.


“Reina,” panggil Asyila sedikit mengejutkan Reina.


“Kenapa hanya diam? lagi rindu sama Papah ya?” tanya Asyila dengan tatapan mata yang terlihat mengejek.


“Siapa itu Si Papah?” tanya Reina dengan wajah yang kentara terlihat bingung.


“Ya ampun, kayak nggak paham aja. Kamu 'kan biasa dipanggil Mamah' oleh tuan Erland. Tau nggak? kalau panggilan itu kayaknya so sweet banget saat dipanggil untuk pasangan suami istri. Mungkin aja nanti kamu bisa menikah dengannya.”


“Jadi maksud kamu Si papah itu tuan Erland?” tanya Reina yang kini menunjukkan wajahnya yang terlihat jengah


“Iya begitulah.”


“Oh.” Tatapan acuh Reina tidak disukai oleh Asyila.


“Dih, kok acuh gitu sih. Nanti kamu juga akan tahu kalau kamu sudah memiliki perasaan pada tuan Erland. Tapi nanti ya, soalnya kamu itu nggak peka,” kata Asyila dengan santai memesan makanan dan minuman di kantin.


“Maksud kamu?” tanya Reina tak mengerti.


“Walau kamu sudah pernah memiliki kekasih, tapi tidak bisa dielak jika kamu itu kurang peka. Kurang sadar jika kamu itu tidak pernah mencintai Rayyan, kamu waktu itu hanya kasihan karena laki-laki yang kamu anggap tulus itu terus mengejar kamu.”


Asyila yakin, jika Reina itu tidak peka. Perasaannya seolah telat untuk dirasakan langsung oleh Reina. Seolah Reina telah mengalami sesuatu hal yang menyakitkan hingga rasa sakit, sedih, dan bahagia. Terasa telat Reina rasakan, ia kurang peka.


“Aku juga yakin jika kamu itu sudah memiliki perasaan pada tuan Erland. Benar-benar sangat yakin,” kata Asyila dengan wajah serius.

__ADS_1


“Sudahlah jangan bahas itu.”


Ditengah mereka mengobrol, tiba-tiba datang dua orang menghampiri mereka berdua. Mereka adalah Alisa dan Rayyan. Pasangan yang akhir-akhir ini cukup terkenal karena tiba-tiba penampilan Alisa berubah drastis dalam semalam.


“Hay dek, apa kabar kamu?” tanya Alisa.


Penampilan Alisa memang terlihat mewah, baju mahal, serta perhiasan mahal, seakan ia ingin menunjukkan pada dunia kalau dirinya orang kaya.


“Norak,” komentar Asyila saat melihat penampilan Alisa itu.


“Maksud kamu apa bilang norak?” tanya Alisa yang marah dengan ucapan merendahkan dari Asyila.


“Memang norak 'kan? coba kamu lihat penampilan kamu sendiri saat ini. Mana ada orang kayak yang akan pamer dengan langsung memakai perhiasan hingga satu set langsung, hingga jari-jari tangganya akan dipenuhi oleh perhiasan sebanyak itu. Apa ada?” tanya Asyila lagi.


Jujur saja, Asyila sudah tahu mengenai informasi tentang penampilan Alisa yang berbeda. Kakak Reina yang sepertinya adalah kakak tirinya Reina itu, ia kini seakan ingin pamer pada Reina. Asyila yang tahu tentang itu tentu tidak akan pernah membiarkan Reina untuk ditindas oleh Alisa.


“Oh ya? mengapa saya tidak tahu? lalu darimana Anda mendapatkan harta sebanyak itu? apa dari pacar Anda ini?” tanya Asyila yang menatap ke arah Rayyan.


Tidak seperti dulu, biasanya Rayyan yang akan terlihat dikejar-kejar oleh Alisa. Tapi kini, Rayyan justru terlihat menurut dan patuh pada Alisa. Apa kini karena perubahan Alisa?


“Aku rasa bukan ya, mungkin aja itu dari om-om mesum? apa kamu simpanannya?” ledek Asyila.


Alisa yang mendengar itu hanya diam, ia merasa kesal dan ingin marah saat itu juga. Jika Harry tidak melarang dirinya untuk mengatakan bahwa ia anak dari laki-laki itu, mungkin dengan bangga Alisa akan mengatakan itu pada dunia.


Sayangnya Harry meminta agar Alisa tidak mengatakan hal itu pada siapapun itu.


“Jangan coba-coba fitnah saya ya, saya tidak akan seperti itu. Mungkin teman kamu itu yang menjadi simpanan om-om. Karena saya dan pacar saya lihat sendiri dengan mata kepala kami sendiri. Benarkan sayang?” tanya Alisa menatap ke arah Rayyan yang hanya diam.

__ADS_1


“Iya,” jawab Rayyan dengan pandangan yang tidak menatap ke arah Reina. Laki-laki itu menunduk dan hanya menatap ke arah kakinya.


“Mengapa? kamu terlihat seolah takut pada Alisa? apa karena perubahan dirinya akhir-akhir ini yang membuat kamu takut? apa karena identitas atau harta dari wanita itu yang lebih daripada keluarga kamu?” tanya Asyila pada Rayyan yang hanya diam.


Melihat keterdiaman Rayyan Asyila tersenyum mengejek. Padahal dari segi kekayaan keluarga, Asyila dan Rayyan itu sama-sama kaya. Dan jika memang Alisa kini sekaya itu? dapat dari mana uang itu dalam semalam?


“Jangan coba-coba untuk menyinggungku Asyila, kamu tidak akan sanggup untuk menanggung konsekuensinya itu.” Setelahnya, Alisa langsung berbalik dan berjalan dengan sombongnya. Ia menarik Rayyan yang hanya diam dan menurut.


“Benar-benar pasangan yang serasi ya Reina? dulu bukankah Kakak kamu sangat mencintai Rayyan hingga mengejar-ngejar laki-laki itu. Bahkan saat tahu kalian pacaran, dia terus saja mengejar-ngejar Rayyan. Dan ternyata, meski kini statusnya sudah sangat berbeda, seleranya masih tetap sama. Suka pada barang yang sudah dibuang, bukan begitu?” tanya Asyila pada Reina yang hanya diam.


“Kenapa penampilan Kak Alisa berubah?” tanya Reina pada Asyila dengan tatapan bertanya-tanya.


“Ya ampun, ternyata kamu belum tahu juga ya Reina. Padahal sudah dari seminggu lebih penampilannya itu berubah. Hampir setiap hari aku dengar dia berganti-ganti gaun mewah. Lalu sepertinya dia juga ke sini tidak naik kendaraan umum secara diam-diam seperti dulu. Tapi dia memakai mobil sport, entahlah, dari mana dia mendapatkan itu semua. ”


Berbeda dari Reina yang tanpa malu saat naik ojek ataupun kendaraan umum lainnya. Alisa wanita yang penuh gengsi sering diam-diam menaiki kendaraan umum, agar tidak diketahui oleh orang-orang bahwa bualan dirinya yang mengatakan orang kaya' itu hanya bualan belaka.


“Justru aku lebih heran, kenapa kamu yang adiknya tidak tahu alasan itu. Padahal orang-orang yang tiap hari mendengar bualan Alisa mulai tidak percaya dengan itu. Tapi semenjak ia menaiki mobil sport, orang-orang mulai percaya.”


...*****...


Reina kini sedang berada di kos-kosan, tempat yang setiap hari hampir sering dijamah oleh laki-laki bernama Erland.


Reina diam, ia duduk di sofa dan tiba-tiba langsung mengingat jika Erland pernah duduk di sana, tepat disampingnya. Seolah laki-laki itu tidak ingin jika sampai berjauhan dari Reina.


Menepis bayangan itu, akhirnya Reina ke dapur untuk mengambil minum, tapi lagi-lagi bayangan tentang Erland yang selalu mengikutinya membuat Reina kembali menggeleng. Akhirnya Reina ke arah kamarnya, dan lagi-lagi bayangan tentang Erland yang mengikutinya mulai muncul di kepalanya.


“Bisakah otak ini menghilangkan bayangan itu semua?!” kesal Reina pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2