
Reina kini hanya diam saja, ia diam dengan pandangan kosong yang sedikit menerawang. Pembicara dirinya dengan Erland terakhir kali membuat Reina berfikir.
Apa laki-laki itu sudah sadar jika dirinya bukanlah ibunya? atau laki-laki itu memang belum mengingat identitasnya dengan jelas.
“Hei, kenapa melamun terus dari tadi? apa ada sesuatu yang membebani kamu?” tanya Asyila yang melihat Reina hanya diam.
“Asyila, sepertinya Erland sudah tahu jika aku ini bukanlah ibu kandungnya.” Perkataan Reina tentu ditatap dengan tatapan penasaran dari Asyila.
“Jadi tuan Erland sudah bisa mengingat tentang identitasnya itu? apakah dia kini sudah kembali?” pertanyaan Asyila itu seakan mengungkapkan kebingungannya saat ini, ia tidak bisa melihat keberadaan Erland sama sekali di sini.
“Tidak! Erland masih ada di sini, dia sedang berada di kos-kosan kami. Hanya saja, ingatan tuan Erland sepertinya sudah kembali sedikit demi sedikit. Tapi, entahlah!”
Reina juga tidak mengerti, ia tidak bisa menebak apa yang Erland lihat dan apa yang Erland pikirkan saat ini. Meski Erland memang mengalami hilang ingatan, tapi bukankah hilang ingatan itu hanya sebagian? dan sangat memungkinkan jika sedikit demi sedikit ingatannya itu akan kembali.
“Jadi, jika tuan Erland telah kembali. Apa kamu akan siap dan sanggup jika nanti kalian akan menjadi asing?” tanya Asyila tiba-tiba.
Wajah tegas dan datar kini Reina tunjukkan. “Itu memang sudah menjadi jalannya, karena cepat atau lambat tuan Erland pasti akan mengingat identitasnya itu. Jadi aku tidak perlu untuk merasa sedih atau khawatir,” jawab Reina yakin.
Tapi keyakinan itu hanya bisa ia tunjukkan melalui tatapan matanya, sedangkan hatinya kini, seakan merasa gelisah dengan kekhawatiran yang tidak bisa Reina tebak sama sekali.
“Jadi, apa tuan Erland sudah tidak mengalami lupa ingatan?” tanya Elisa yang tiba-tiba datang. Wanita itu memang sudah tidak berkuliah lagi di sini, tapi ia akan sering datang ke sini untuk melihat Erland.
“Apa itu alasannya kamu tidak membawa tuan Erland ke sini? kamu takut jika nanti tuan Erland akan pergi dan meninggalkan kamu?” sinis Elisa dengan tatapan merendahkan khasnya.
“Tuan Erland belum pulih sepenuhnya, dan akan percuma jika kamu memaksa tuan Erland untuk mengingat kamu, jelas sekali itu hanya akan menyakitinya dan membuatnya menderita.”
“Diam kamu! siapa kamu yang berani-beraninya berbicara di sini. Apa saya bertanya dengan kamu?!” sinis Elisa menatap tajam Asyila.
“Sebagai seorang sahabat, tentu saya akan selalu membela dan melindungi sahabat saya ini, dan apa masalahnya jika saya melindunginya?”
“Kamu Asyila bukan?” tanya Elisa disertai dengan tatapan yang kentara sedang mengancam.
“Saya ingat jika Daddy kamu itu adalah salah satu anak buah ayahku. Dia bekerja di perusahaan ayah sebagai orang kepercayaan yang memimpin anak perusahaan keluarga Young. Bukan begitu?” sebuah pertanyaan yang terdengar seperti gertakan.
Hal itu langsung membuat Asyila hanya diam dan tak berani berkata. Asyila tahu jika Elisa adalah orang yang tidak bisa untuk disinggung.
__ADS_1
“Saya ingat, jika ayah kamu sangat menjaga nama baiknya. Ia bahkan tidak segan-segan menutup mulut banyak orang demi nama baiknya itu.”
Elisa bukan gadis polos yang terlihat dipermukaan, ia adalah orang yang licik. Kelicikannya itu bahkan bisa membuat ia tahu siapa saja yang berbuat hal yang mencurigakan di perusahaan.
Sebagai anak kedua, harusnya kakaknya Bastian yang akan memimpin perusahaan Young, tapi diam-diam Elisa menempatkan beberapa anak buah miliknya di perusahaan sebagai mata-mata, itu tak lain karena Elisa memiliki keinginan untuk bisa memiliki perusahaan milik keluarga Young.
“Bagaimana jika sekarang saya akan mengatakan, jika saya bisa saja memecat Daddy kamu itu. Lalu setelah itu saya akan menyalakan kamu karena ketidaksopanan kamu pada saya?” gertakan dan ancaman Elisa tidak main-main.
Hingga tanpa sadar Asyila yang mendengar itu sedikit bergetar. Ia takut dengan Daddynya, lelaki itu memiliki temperamen yang buruk, bisa saja momynya yang akan menanggung kesalahan yang ia perbuat, dan itu yang tidak ingin Asyila dengar ataupun ia lihat.
“Ini urusan saya dengan Anda, lalu mengapa Anda harus membawa teman saya ke dalam masalah kita saat ini?”
Reina dengan datar dan tanpa takut memandang acuh Elisa, ia meminta Asyila mundur agar dirinya bisa melindungi sahabatnya itu.
“Oh ya ampun, persahabatan apa ini? sangat mengharukan sekali.” Perkataan Elisa dengan tatapan meremehkan dan merendahkan.
“Lebih mengharukan lagi jika hidup seperti Anda? bukankah dunia serasa ada dalam genggaman?” perkataan yang menohok dari Reina membuat Elisa diam.
Tidak ada yang pernah berkata seperti itu pada Elisa, apalagi sampai membuat wanita itu diam dan tidak berkata apa-apa. Karena tidak terima, Elisa awalnya hendak angkat suara, tapi terhalang oleh kata-kata Reina selanjutnya.
“Kamu!” Elisa benar-benar marah dan kesal akan ucapan Reina itu.
“Kenyataannya memang seperti ini, apa Anda ingin mengelak? betapa tidak tahu dirinya Anda jika tidak bersyukur dengan apa yang Anda punya saat ini.”
“Sialan!” tahu jika Reina berlidah tajam, Elisa yang seakan tidak akan bisa berdebat dengan wanita itu memilih untuk pergi begitu saja.
Lagipula kini tidak ada Erland di sini, laki-laki itu entah ada dimana. Dan yang Asyila katakan juga benar, bisa saja Erland memang belum pulih sepenuhnya dari hilang ingatannya.
“Tunggu saja Reina! kamu tidak akan lolos dari pembalasan aku nanti Reina.”
Sebagai seorang anak yang memiliki citra polos dan anggng, tentu Elisa tidak bisa marah-marah di depan publik. Itu hanya akan membuat citranya buruk, apalagi saat suasana kantin universitas mulai ramai dengan pengunjung.
...*****...
“Apa yang sedang Anda pikirkan tuan?” tanya Riska saat melihat Harry hanya diam.
__ADS_1
“Bicaralah dengan biasa, ini bukan waktunya kerja.” Secara tidak langsung, perkataan Harry ini, seakan mengizinkan Riska untuk bersikap layaknya mereka teman.
Karena kini pekerjaan mereka sudah selesai, dan Harry yang harusnya sudah pulang hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa. Riska yang sedang membereskan dokumen tentu bertanya dan mengungkapkan apa yang ingin ia tanyakan.
“Iya, kalau begitu apa yang kamu pikirkan?” tanya Riska yang akhirnya hanya bisa mendengar helaan nafas panjang dari Harry.
“Aku sudah bertemu dengan Anakku.”
“Itu sangat bagus, apa ada sebuah kemajuan antara hubungan Anda dengan anak Anda itu?” tanya Riska dan hanya dijawab gelengan.
Harry diam sejenak, ia berfikir dalam dan cukup lama. “Aku memang telah bertemu dengan dirinya. Tapi anehnya perasaan senang yang harusnya aku rasakan saat melihat anakku justru tidak ada.”
“Apa Anda masih tidak bisa menerima kehadiran anak Anda?” tanya Riska disertai dengan tatapan menyelidik. Riska tidak suka jika Harry belum juga menerima kehadiran anaknya yang tidak bersalah.
“Aku sudah mencoba menerimanya. Dan anehnya, meski aku telah bertemu dengan Anakku, perasaan gelisah dan bersalah masih ada, seolah ....”
Perkataan Harry terjeda dengan pemikiran Harry yang ingin ia tepis saat ini juga. Melihat Harry menggeleng, Riska hanya diam.
“Pergilah!”
Sepertinya Harry tidak ingin berkata lebih jauh lagi, ia tidak ingin mencurigai apapun itu. Karena ia merasa dirinya harus berterimakasih pada laki-laki bernama Jack itu, ia dengan rela merawat anaknya. Jadi Harry merasa buruk jika sampai mencurigai jika Alisa bukan anaknya.
“Jika Anda perlu sesuatu, Anda bisa langsung mengatakan itu pada saya!”
###
Note:
Nama Alisa sama Elisa hampir mirip ya, author baru sadar.
Sebagai pengingat aja, Alisa itu kakak Reina, dari ibu yang sama
Sedangkan Elisa adalah anak kesayangan Harry, ia hidup sebagai cucu dari keluarga Young, tunangan Erland sejak dulu.
Oke, sekian.
__ADS_1
Terimakasih sudah baca, nggak author rubah namanya karena author tahu kalian bijak dan langsung paham.