
“Mah, ini tempat yang sangat indah,” kata Erland pada Reina yang hanya dijawab anggukan.
...*****...
“Tuan, sejak kapan ada sesuatu yang bagi Anda itu akan terasa indah? bukankah di negara kita saat tinggal dulu sangat indah? tapi apa Anda pernah memuji itu? ” Daniel yang dari tadi memperhatikan interaksi Erland dan Reina sedikit menggelengkan kepala.
Negara yang merupakan tempat mereka tinggal adalah negara yang telah dinobatkan sebagai salah satu tempat yang sangat indah.Dan tidak jarang banyak wisatawan yang rela buang-buang uangnya ke tempat itu.
Tempat wisata itu, termasuk dalam lingkungan properti milik Erland. Karena hampir sebagian besar pengaruh negara berada di bawahnya.
Sempat pernah akan dinobatkan sebagai presiden karena kepintarannya itu, walau ia masih tergolong sangat muda, tapi pengalamannya memimpin itu sangat baik.
Sayangnya Erland menolak jabatan tinggi itu, bagi Erland itu akan merepotkan. Ia hanya ingin hidup hanya untuk dirinya sendiri, bukan demi orang lain.
Walau begitu, Erland adalah orang yang berjasa besar, ia juga sering memberikan sumbangan yang besar dan selalu menjadi orang yang memberikan sumbangan terbesar dalam setiap acara amal yang ada.
...*****...
“Hey, kalian bukan manusia ya?” kata Asyila kesal. Ia jadi benar-benar merasa sedang liburan sendiri saat Reina memiliki orang yang menemaninya.
“Jika kita bukan manusia, kita ini adalah malaikat. Bukan begitu Erland?” tatapan polos dan anggukan langsung Erland tunjukan.
“Ah sudahlah. Aku akan turun, silahkan saja nikmati waktu berdua selagi masih ada. Nanti saat sampai di tempat penginapan. Aku akan mengganggu kamu dan Erland bila perlu,” ancaman yang hanya sebuah gertakan biasa itu keluar dari mulut Asyila karena saking gemasnya ia saat ini.
“Nona kaya ternyata bisa kesal juga, aku pikir dia akan membuat orang kesal, ternyata dia yang justru merasa kesal,” komentar Reina saat ia melihat jika Asyila sudah turun dari perahu dan berjalan begitu cepat menuju ke arah penginapan.
Reina dan Erland akhirnya memilih turun dengan berjalan santai, mereka dengan wajah dan ekspresi mereka masing-masing, terlihat memainkan air dipinggir pantai.
“Mamah,” kata Erland yang tanpa diduga langsung mengarahkan air ke arah Reina.
Splash
__ADS_1
Splash
Splash
Jika biasanya Reina akan marah dan tidak akan suka dengan hal yang kekanak-kanakan. Tapi tidak dengan sekarang, justru tanpa diduga Reina balas melemparkan air ke arah Erland.
“Hahahah,” tawa itu bisa muncul dalam sekejap dari mulut keduanya.
Segala beban, rasa sedih, takut, marah, benci, dan emosi yang bercampur seakan hilang bersamaan. Walau mungkin itu akan tetap berkahir dan hanya terasa sekejap, tapi biarkan mereka berdua bahagia setelah rasa pedih dengan berbeda penderitaan yang mereka berdua alami.
“Sepertinya sudah sangat basah Erland. Ayo kita segera kembali,” kata Reina saat melihat jika dirinya dan lelaki itu sudah basah kuyup, hingga air di baju mereka sampai menetes ke bawah.
Reina berbalik dan berjalan ke arah hotel yang berada cukup dekat dari pantai ini, ia yang kini sedang berjalan merasa terkejut karena tiba-tiba Erland menggandeng tangan Reina dengan erat.
Tangan itu terasa hangat, nyaman, dan juga ..., memberi keamanan yang tersendiri bagi Reina. Di tangan itu, seolah Erland ingin berbagi yang namanya kehangatan dengan Reina.
“Apakah dingin?” tatapan polos dan khawatir dari Erland, seakan mengatakan ‘Jika memang Reina merasa kedinginan, maka ia akan memberi kehangatan untuk Reina.’
“Tidak,” bohong Reina yang sebenarnya ia juga merasa kedinginan. Hanya saja, mungkin karena terlalu asyik bermain air, ia bahkan tak sadar jika matahari kini telah tenggelam, bergantian dengan senja yang terlihat indah dan memanjakan mata.
...*****...
“Tuan, apakah itu tidak terlalu berlebihan,” kata Daniel dari kejauhan. Ia bahkan sampai merinding saat ia ingat dengan seperti apa Erland sebenarnya.
Laki-laki dingin dengan wajah datar, sikap dominan yang sangat kentara, tegas dan juga kuat. Tak ada hal yang bisa membuat laki-laki itu merasa takut, seolah apa yang paling menakutkan di dunia ini telah laki-laki itu alami.
Dan kini, saat Daniel melihat Erland menunjukkan wajah yang terlihat seolah membutuhkan butuh perhatian dan kasih sayang, entah mengapa kini Daniel merasa jika ia harus menjaga Reina sebaik mungkin. Mungkin saja, Erland nanti akan lebih memilih keselamatan Reina dibandingkan dengan keselamatan dirinya sendiri.
...*****...
“Kenapa harus ke sini?” tatapan sinis yang Reina tunjukan pada Asyila yang kini mengunjungi salah satu ruangan hotel yang menjadi tempatnya.
__ADS_1
Fasilitas hotel itu, seakan membuat orang-orang akan merasa jika mereka kini sedang berada di apartemen pribadi.
“Kenapa kamu sinis gitu sih, yang bayar siapa coba, masa teman lagi kesepian minta ditemani malah di usir,” gerutu Asyila.
Hubungan Asyila dengan pacarnya yang bernama Arga, untuk sementara break dulu, karena beberapa hari yang lalu, Asyila melihat foto Arga saat sedang bersama dengan seorang wanita. Hanya saja Asyila yang sudah buta dengan cinta, membuatnya masih tidak percaya akan hal itu.
“Asyila,” panggil Reina tiba-tiba dengan wajah serius. Hal itu membuat Asyila merasa jika atmosfer yang ada disekitarnya menjadi tak nyaman.
“Aku kini menyerahkan semua keputusan di tangan kamu, kamu yang akan menjalani hubungan kamu dengan Arga. Itu keputusan kamu,” kata Reina yang terdengar serius.
“Kamu marah?” tanya Asyila menatap Reina.
“Tidak! untuk apa aku marah. Jika ini keputusan kamu, itu terserah. Hanya ingin mengingatkan saja sebagai seorang sahabat. Rasa sakit dan kesedihan yang sama, bisa membuat kamu trauma dan mati rasa, dan jika memang sesulit itu melupakan orang yang kamu cintai, hingga kamu tidak berani untuk memulai dari awal hubungan baru, aku hanya bisa berharap kamu akan bahagia.”
“Apakah kamu tidak akan memberikan nasihatmu lagi padaku?” tanya Asyila yang entah mengapa, ia merasa takut jika Reina akan asing dengan dirinya.
“Aku bukan tidak peduli! keputusan kamu itu milik kamu! karena kamu yang akan menjalani itu semua. Kadang memberi nasihat itu adalah hal yang sulit bagiku, apalagi jika nasihat itu terasa tidak berarti.”
Saat Reina memberikan nasihat pada Asyila, ia menggunakan hatinya, karena nasihat yang ia katakan bukan semata-mata perkataan biasa. Karena Reina memang orang yang tidak peduli pada orang lain, kecuali jika orang-orang tertentu saja.
Perkataan Reina membuat Asyila bungkam, ia tak bisa berkata-kata seolah kehabisan kata.
...*****...
“Tuan, apa Anda yakin jika Anda ingin mengajak nona itu tinggal di mansion?” tanya Daniel sedikit tak percaya pada apa yang Erland katakan.
Karena permintaan Erland itu sangat membuat Daniel terkejut. Bayangkan saja, saat seorangpun tidak pernah diizinkan untuk tinggal di mansion pribadi Erland.
Tapi laki-laki itu, ia justru ingin Reina untuk tinggal di sana, di mansion pribadi milik Erland, tempat yang hanya segelintir orang saja yang tahu.
“Sudah aku katakan jika Reina akan tinggal di sana,” tegas Erland dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
“Tapi kenapa? bukankah itu tempat yang terpencil dan tidak terjangkau? bagaimana dengan kuliah nona itu?”
“Aku yang akan mengurusnya nanti, sementara kamu segera persiapkan tempat itu saja.”