Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Keputusan Harry


__ADS_3

Harry young, anak satu-satunya dari tuan young. Tuan young adalah pemilik sekaligus pemimpin pertama dari perusahaan young. Saat berada di tangan tuan young yang terhormat, perusahaan itu berjalan dengan maju, kemajuan perusahaan benar-benar berada di atas puncak saat dirinya yang memimpin.


Tapi, saat perusahaan itu berada di tangan Harry, anak kandungnya, sedikit demi sedikit perusahaan itu mengalami yang namanya kemunduran. Jika saja tidak ada Riska yang merupakan anak dari asisten kepercayaan tuan young yang terhormat. Entah akan jadi apa perusahaan young ini jadinya.


Pantas saja Harry pernah mengatakan pada Elisa jika perusahaan young tidak seperti dulu, dimana para klien dan investor yang biasanya akan selalu mengejar perusahaannya. Karena kini, Harry juga harus bisa menekan harga dirinya sedikit, itu demi perusahaan young yang tidak akan semakin turun saat berada di tangannya.


“Kenapa banyak sekali para investor yang menarik sahamnya di perusahaan kita? padahal aku sangat yakin jika tuan Efsan sudah sepakat untuk membeli saham di perusahaan ini,” ungkap Harry, ia merasa sangat terkejut, saat investor terbesarnya bernama Efsan tiba-tiba menarik semua sahamnya itu hanya dalam waktu sekejap saja.


“Saya sempat mengurus masalah ini juga tuan. Sayang sekali, pada saat itu tuan Efsan tetap pada keputusannya itu. Ia memang ingin bekerjasama dengan perusahaan Samoni dibandingkan dengan perusahaan kita. Karena itu, kebanyakan investor yang menarik semua sahamnya di perusahaan kita akan pindah ke perusahaan tuan Samoni.”


Riska menjelaskan dengan sopan dan hormat.


“Oh ya ampun,” helaan nafas panjang keluar dari mulut Harry, karena tak tahu harus bicara seperti apa. “Sudahlah.”


Setelahnya Harry memilih untuk melanjutkan apa yang harus ia kerjakan, ia meminta pada Riska untuk melaporkan apapun yang terjadi di perusahaan.


“Aku tahu jika aku sangat tidak kompeten dalam hal memimpin perusahaan. Tapi mengapa tuan Erland seolah sangat ingin segera menghancurkan perusahaan ini? bukankah berdasarkan perjanjian pernikahan, ia harusnya itu membantu perusahaan Young? ” Harry berfikir, ia tidak bermaksud curiga pada Erland. Hanya saja, selama dua tahun ini, perusahaan telah mengalami penurunan yang cukup tajam.


Kebanyakan para investor dan klien pindah pada perusahaan Samoni. Seakan karena hal itu, banyak berita yang mengatakan jika perusahaan Young dan perusahaan Samoni sedang bersaing dalam menjadi yang terbaik.


...*****...


“Kenapa kita harus menarik banyak sekali investasi asing pada perusahaan kita? bukankah tanpa ada bantuan dari mereka kita tetap bisa mendongkrak kemajuan perusahaan?” tanya Daniel pada Barrack.


Jika Barrack yang merupakan kakaknya tidak terlalu banyak tanya, berbeda sekali dengan Daniel yang super ingin tahu.


“Kamu tidak perlu tahu,” acuh Barrack, ia memang diperintahkan Erland untuk memimpin perusahaan, ia juga diminta agar para investor dan klien-klien di perusahaan young harus pindah pada perusahaan Samoni dibandingkan mereka bertahan dengan perusahaan young itu.


Tentu karena mereka merasa tergiur dengan yang namanya keuntungan, karena keuntungan yang akan mereka dapatkan dilipatgandakan nantinya. Itu adalah keuntungan yang sangat menggiurkan bagi para investor.


“Hey Kak, kenapa kamu sok misterius pada adik kamu sendiri, ayo katakan sajalah, aku pasti akan menjaga rahasia itu dengan sangat baik, aku jamin itu semua.”


Mengabaikan ucapan Daniel, Barrack lalu kembali untuk mengerjakan pekerjaannya itu. Pekerjaannya yang tidak akan mungkin sanggup dikerjakan hanya dalam semalam oleh orang biasa.

__ADS_1


Mungkin butuh beberapa orang jika orang lain yang mengerjakan, waktu yang biasa dihabiskan oleh Barrack dalam sehari saat mengerjakan itu, butuh satu Minggu beberapa orang itu jika mengerjakan tugas perusahaan. Maka itu, hanya Barrack saja yang paling kompeten diantara yang lainnya.


...*****...


Belum selesai dengan perusahaan yang sering ia pikirkan, Harry kini kembali dipusingkan oleh yang namanya keputusan'


Ini sebenarnya bukan urusan Harry berpendapat antara memilih untuk mempertahankan atau justru mengeluarkan seorang mahasiswi itu, tapi karena di rasa jika mahasiswi itu memang sangat pintar dan sangat mahir. Itu akan sangat disayangkan jika orang sepintar itu akan keluar begitu saja.


“Jadi bagaimana keputusan Anda?” tanya Tama, ia menghadap ke arah tuannya untuk meminta keputusan dan pendapat.


“Bisa 'kah kami bertemu? saya ingin melihatnya secara langsung,” kata Harry.


“Tentu tuan, akan saya panggilkan sesegera mungkin,” kata Tama hormat.


Tak lama, masuklah seorang mahasiswi cantik. Saat mahasiswi itu masuk, Harry sedikit terkejut dengan siapa yang dipanggil itu.


Reina


Mahasiswi yang katanya sedang bermasalah itu.


“Katanya kamu bisa lulus dengan cepat? apa kamu tidak berniat untuk segera lulus? dibandingkan jika harus dikeluarkan, kamu pasti akan memilih untuk segera lulus bukan?”


Sama seperti Harry yang terkejut, Reina pun sama, hanya saja rasa terkejut itu tak terlihat di wajah Reina.


Seperti biasa, Reina selalu menunjukkan tatapan acuh dan datarnya, seakan ia adalah manusia es yang tidak pernah mendapatkan kehangatan.


“Tidak! saya menolak.”


Alasan utama Reina menolak itu, ia tidak ingin terlalu menonjolkan kelebihannya. Reina juga tidak ingin jika nantinya akan semakin banyak orang mengincar dirinya, tentu demi kepentingan orang-orang itu secara pribadi.


“Kenapa?” tanya Harry lagi.


“Anda tidak perlu tahu alasannya tuan.” Selain tidak ingin jika harus semakin menonjol, Reina sangat tidak ingin berurusan dengan keluarganya.

__ADS_1


Jack, lelaki yang merupakan Ayah tiri Reina pasti akan berusaha dengan segala cara untuk bisa memanfaatkan Reina. Bukan Reina takut, hanya saja berurusan dengan orang seperti itu pasti akan terasa merepotkan.


“Kalau begitu, bagaimana jika saya menawarkan kamu untuk bekerja di perusahaan saya? saya mendengar jika bakat dan kemampuan kamu sangat mengagumkan, apa kamu merasa tertarik?”


Harry butuh seorang yang dapat bekerja dengan kompeten, dan menurutnya, Reina akan sangat membantu di perusahaan nanti.


“Saya menolak!”


“Kenapa?” tanya Harry langsung. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menolak tawaran darinya secara langsung. Apakah Reina tidak mempertimbangkannya sama sekali?


“Saya tidak perlu mengatakan alasanya itu bukan?” masih dengan nada dingin dan wajah yang terkesan datar, hal itu membuat beberapa dekan dan dosen yang ada jadi merasa geram, tentu yang merasa geram adalah orang yang memang tidak menyukai Reina.


“Lancang, apakah seperti ini sikap kamu pada seorang yang harusnya kamu hormati!” Tari yang memang tak menyukai Reina, ia langsung angkat suara.


“Saya akan dikeluarkan dengan kesalahan yang jelas bukan kesalahan saya, jadi apakah sebagai orang yang tertindas saya harus menghormati orang-orang yang telah menindas saya? bukankah itu sangat aneh?”


Apa yang Reina katakan seakan menohok Tari, hingga ia bungkam dan kehabisan kata-kata. Apa yang Reina katakan benar, bahkan sangat benar. Apalagi karena hal ini, orang-orang yang tidak menyukainya menggunakan moment itu untuk menyingkirkannya.


“Jadi apa yang sebenarnya terjadi?” tiba-tiba Harry yang mendengar ucapan sinis Reina, ia merasa tertarik dengan cerita sebenarnya.


Karena tidak ada yang menceritakan itu dengan jelas, bukan tidak ada, lebih tepatnya Harry belum sama sekali mendengar kejadian sebenarnya dengan detail.


“Biar saya jelaskan, jadi ...,” Tama dengan hormat menjelaskan itu dengan detail.


...........


Harry yang mendengar itu hanya mengangguk saja, ia seolah sedang mendengarkan itu dengan seksama.


“Apa yang akan Anda putuskan tuan?” tanya Tama pada Harry.


“Tidak ada yang perlu diputuskan, bukankah dia jelas tidak bersalah? jadi di mana letak kesalahan dia itu?” tanya Harry yang sebenarnya Tari ingin berkomentar, tapi saat Tari melihat tatapan tajam Tama, ia menjadi diam dan bungkam.


*****

__ADS_1


Hiks maaf baru up, padahal kemarin mau up tapi karena kondisi author kurang fit jadi tertunda.


__ADS_2