
Elisa kesal karena rencananya gagal untuk kesekian kalinya. Padahal, ia sudah mencoba agar ia segera menyingkirkan Reina dari kehidupan Erland. Tetapi, wanita yang ingin ia celakai, justru seolah memiliki keberuntungan yang baik. Selalu saja rencananya itu gagal dan tidak berjalan dengan mulus.
“Kamu bodoh! kenapa bisa kalian membiarkan tuan Erland juga ikut melompat ke dalam jurang!” marah Elisa. Ia langsung saja menatap tajam ke arah Hans yang hanya diam tanpa berkata apa-apa.
“Elisa, bukankah sudah aku katakan jika aku tidak tahu kalau ada si singa itu di sana. Kenapa kamu terus saja menyalahkan aku? bukankah selama ini kamu juga selalu ditolak olehnya?” tatapan Hans yang menatap Elisa dalam.
Hans sebenarnya ingin membunuh Erland juga, laki-laki itu sudah menganggap Erland sebagai musuh beratnya. Tidak ada yang tahu seberapa besar ia membenci Erland. Tidak ada yang tahu juga seberapa sering ia ingin membunuh Erland. Karena hanya Hans dan anak buah kepercayaan Erland yang tahu akan hal itu.
“Apa urusannya dengan kamu jika saya memang sering ditolak oleh tuan Erland? heh! kamu berfikir bisa menyaingi tuan Erland 'kah? hingga bermimpi bisa mendapatkan aku dengan mudah? kita nggak setara! jadi jangan banyak bermimpi” nada ucapan yang meremehkan dan merendahkan keluar dari mulut Elisa tanpa perasaan.
Hans tahu, ia hanya dimanfaatkan. Dan setelah tidak berguna dia akan segera dibuang oleh Elisa. Tapi Hans tidak peduli dengan segala penolakan Elisa padanya, ia sudah tergila-gila dengan Elisa. Terlebih lagi dengan parasnya yang layaknya boneka hidup itu.
Ya! Hans tergila-gila dengan penampilan Elisa.
“Tidak apa-apa sayangku! meski aku tahu jika kamu hanya memanfaatkan aku saja. Tapi, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan kamu. Nanti kamu akan tahu siapa yang lebih baik dibandingkan aku atau si Singa itu.”
“Berani sekali kamu mengatakan jika tuan Erland itu Singa? tidak 'kah kamu sadar jika kamu itu tidak lebih dari orang gila?” sinis Elisa tak suka.
Sebenarnya ada rasa takut yang Elisa rasakan setiap ada Hans di dekatnya. Karena aki-laki itu sangat tergila-gila dan terobsesi dengannya, lebih tepatnya dengan penampilan dirinya. Karena Elisa tahu, Hans adalah seorang lelaki yang gila akan penampilan!
Banyak sekali barang-barang antik dan aneh yang ia beli, bahkan para wanita cantik yang menurutnya istimewa Hans koleksi. Itu tak lain karena kegilaan Hans pada hal-hal yang indah. Bukankah itu menyeramkan?
“Bukankah aku memang tergila-gila karena kamu?” senyuman yang terlihat menyeramkan dan aneh itu terlihat.
...*****...
“Mamah,” panggil Erland.
__ADS_1
Reina dan Erland kini sedang ada di sebuah pusat perbelanjaan yang berada di dekat tempat tinggal mereka. Jarang sekali Reina mengajak Erland untuk ikut dengannya berbelanja, tapi entah kenapa saat Erland meminta ikut, Reina langsung menyetujui itu tanpa ada niatan untuk berdebat.
“Iya? apakah ada sesuatu yang ingin kamu beli saat ini?” tanya Reina. Tatapan matanya itu tidak lepas dari daftar belanja yang akan ia beli, setelah tahu apa yang dibutuhkan, Reina lantas mengambil barang yang ia butuhkan.
“Bukankah tidak baik juga laki-laki dan perempuan terlalu berdekatan? coba lihat ke arah mereka itu Mah!” tunjuk Erland pada pasangan kekasih yang tengah berjalan-jalan sambil bergandengan tangan dengan mesra. Hal itu dapat Erland dan Reina lihat melalui kaca besar yang transparan.
“Mereka adalah pasangan kekasih Erland. Jadi apa salahnya dengan itu?” tatapan Reina terlihat kembali menatap ke arah rak-rak yang berisi segala macam jenis bahan-bahan untuk memasak.
“Tapi 'kan Mah, kenapa kita tidak bisa seperti itu? apa memang kita tidak akan bisa menjadi seperti mereka?” tanya Erland.
“Kita tidak mungkin seperti mereka, lagipula kamu sudah memiliki tunangan yang akan menjadi istri kamu di masa depan.” Dengan bersikap santainya, seolah tidak merasakan apapun, Reina terus saja berjalan memilih stok apa saja yang akan ia beli nantinya. Sedangkan Erland yang mendorong troli, ia hanya mengikuti Reina dari belakang.
“Apa Mamah tidak akan sedih?” tanya Erland tiba-tiba.
Tentu Reina langsung saja menatap Erland dengan tatapan herannya. “Sedih karena apa?” tanya Reina pura-pura tidak mengerti. Karena, entah mengapa tangan Reina mengepal saat ia mengerti maksud Erland. Tapi bukankah perasaannya dan Erland itu berbeda? bukankah Erland hanya menganggap ia sebagai ibunya? berbeda dengan dirinya yang entah merasa sedih karena alasan apa.
Apa Reina merasa sedih jika dirinya nanti tidak akan bisa bersama dengan Erland lagi. Kenapa? untuk apa Reina sedih? bukankah dia memang sudah terbiasa hidup sendiri? jadi mengapa karena Erland tidak ada dia merasa sedih?
Walau Reina kadang merasa, jika ia memang memiliki kasih sayang pada laki-laki itu. Entah mengapa, setiap Reina melihat Erland, ia seolah bisa melihat bayangan dirinya di masa lalu.
“Apa-”
“Hei, kalian.”
Teriakan Asyila membuat kedua orang yang tengah mengobrol itu menoleh, Asyila dengan semangat langsung mendekat dan memeluk Reina erat.
“Oh sayangku, padahal kita baru saja bertemu tadi. Tapi aku sudah merindukan kamu saja,” kata Asyila dengan lebay dan langsung memeluk Reina erat.
__ADS_1
Sreet
Tanpa diduga, Erland langsung menyembunyikan Reina dibelakangnya. Seolah Erland cemburu jika ada orang lain yang berdekatan dengan Reina, sekalipun orang itu adalah Asyila.
“Oh ya ampun Erland? apa kamu juga cemburu padaku? atau cemburu karena aku tidak datang sendiri? manis sekali cemburu kamu ini,” kata Asyila yang justru tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang Erland kini lakukan. Laki-laki itu memang sangat posesif pada Reina, lebih posesif dibandingkan waktu itu.
Kalau tidak salah, itu semenjak Erland sadar waktu itu. Tapi, Asyila memaklumi itu, karena kini ia tidak sendirian, ia bersama laki-laki yang sudah menjadi teman dekatnya.
*****
Keesokan harinya.
“Mah, Erland ke toilet sebenar.”
Anggukan hanya Reina berikan. Setelah kepergian Erland, tanpa pernah diduga, Elisa datang. Ia lalu menghampiri Reina dengan tatapan sinisnya itu.
Padahal Elisa berharap pada Erland sejak kejadian di mana Erland melompati jurang. Elisa berharap jika Erland mendapatkan kembali ingatannya itu, ia sangat ingin Erland bisa mengingat kembali dirinya.
Nyatanya, saat melihat interaksi antara Reina dan Erland dari jarak yang jauh, Elisa berfikir jika Erland belum kembali mendapatkan ingatannya itu.
“Sangat menyenangkan bukan bersama dengan calon suami orang lain? apa kamu tidak memiliki rasa bersalah sama sekali karena telah bersama dengan tunangan orang lain?” tanya Elisa dengan tatapan sinisnya.
Elisa tidak menyembunyikan lagi rasa bencinya ini, ia tidak akan lagi bersikap polos layaknya boneka hidup. Lagipula dirinya kini hanya berdua bersama dengan Reina, tidak ada yang tahu karena tempat yang mereka kunjungi kini sangat sepi.
“Nona muda, apa saya pernah berkata bahwa saya akan merebut calon suami Anda? bukankah saya tidak pernah mengatakan itu? atau Anda memang ingin jika saya merebut tunangan Anda?”
Entah kenapa, Reina merasa saat menghadapi orang bermuka dua, ia harus bersikap tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Mereka peduli dengan nama baiknya itu, tapi Reina yang sudah sering diremehkan dan dianggap buruk, ia merasa tidak terlalu peduli dengan yang namanya nama baik.
__ADS_1
“Hahaha, kamu nggak akan bisa untuk merebut calon suami saya. Kamu harus sadar tempat dan punya batas sendiri!” tekan Elisa.
“Ingat! kami telah memiliki janji pernikahan antar dua keluarga yang sempat tertunda. Karena anak dari tuan besar Young dan tuan besar Samoni saat itu sempat tertunda, karena mereka sama-sama memiliki anak laki-laki. Maka sebagai cucunya, kami harus melanjutkan perjanjian pernikahan ini!”