Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Tuan Erland yang lupa ingatan


__ADS_3

Harry awalnya berniat untuk mencari anak yang selama ini ia telantarkan. Tapi justru tanpa diduga, pekerjaan yang menumpuk membuatnya tertahan saat ini juga.


Hingga akhirnya Harry memilih untuk mengerjakan pekerjaan itu terlebih dahulu karena itu merupakan tanggung jawabnya.


“Saya tidak menyangka jika hari ini pekerjaan Anda akan sebanyak ini. Saya minta maaf atas kurang telitinya saya.”


Permintaan maaf Riska hanya Harry jawab dengan anggukan kepala. Lagipula Harry tahu betul jika ini bukan salah Riska. Pekerjaannya memang selalu banyak, bahkan saat libur pun Harry kadang tetap bekerja.


...*****...


Harry yang sudah rapi dan hendak keluar dari rumah yang lebih tepatnya sebuah mansion. Langkah Harry langsung terhenti begitu anak laki-lakinya memanggil dirinya.


“Ayah, mau ke mana?” tanya Bastian.


Bastian adalah anak yang nakal tapi meski begitu ia sering dimanja oleh ayahnya. Karena senakal apapun Bastian, dia masih sering meminta sesuatu pada ayahnya dan belum bisa melakukan apa-apa.


Padahal Bastian sudah lulus kuliah, ia bisa bekerja bahkan bisa menjadi CEO dan menggantikan posisi Harry. Sayangnya, Bastian yang terlalu pemalas justru malah memilih menghabiskan waktunya di luar dengan bermain-main.


“Ada sesuatu yang harus Ayah urus saat ini juga.”


“Kemana? apa Ayah ingin mencari perempuan lain?” pemikiran Bastian dan adiknya, Elisa. Jelas sangat berbeda jauh. Karena Bastian juga laki-laki, ia tahu bagaimana yang dirasakan oleh laki-laki kesepian.


Jika Elisa berfikir bahwa ayahnya adalah laki-laki yang paling setia. Berbeda dengan Bastian yang akan selalu curiga pada ayahnya itu.


“Ayah tidak seburuk yang kamu pikirkan Bastian. Lagipula sesibuk apapun ibu kamu, ayah tetap akan setia meski dia hanya peduli dengan karirnya.”


Perkataan tegas Harry hanya dijawab keterdiaman dari Bastian. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menjawab dengan gedikan bahu. “Bastian itu seorang laki-laki, sama seperti ayah, jadi tentu sesama laki-laki kita tahu apa yang kita rasakan,” jawab Bastian acuh


“Tapi ayah memang tidak seperti yang kamu pikirkan!”

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu Bastian akan keluar duluan. Tolong jaga Elisa ayah, dia saat ini, entah mengapa sedang demam.”


Mendengar apa yang Bastian katakan, Harry menjadi khawatir. “Lalu kenapa kamu pergi dan tidak peduli dengan keadaan adik kamu sama sekali?”


“Ya ampun ayah, dia itu hanya akting. Semua orang yang ada di rumah ini sepertinya memang sudah tertipu dengan wajah sok lugunya.”


Berbeda dengan kakak adik kebanyakan, justru Bastian seakan tidak dekat dengan adiknya. Ia bahkan sering sekali berdebat dengan adiknya hingga membuat Sang Ayah selalu memarahinya karena membela adiknya.


“Bastian!” marah Harry yang tidak suka dengan apa yang anaknya itu katakan.


“Kenapa kalian semua begitu bodoh? jelas sekali dia hanya akting berwajah lugu dan polos. Karena faktanya dia tidak lebih dari seorang rubah betina!”


Perkataan sinis dan tajam Bastian langsung saja menyulut emosi Harry. Hingga ia tanpa sadar akan memukul anaknya itu.


“Dia itu adik kamu, apa kamu tidak merasa peduli dengan adik kamu itu? dan bagaimana bisa kamu sebagai seorang kakak berkata seperti itu pada Adik kamu sendiri! ini sungguh keterlaluan!” marah Harry yang menatap anaknya itu tajam.


“Dia bukan adikku! aku tidak menginginkan seorang adik yang memiliki sikap sangat licik layaknya rubah betina.”


...*****...


Meskipun Barack itu kakaknya, tapi di perusahaan Barack itu adalah atasannya. Daniel akan bersikap sopan dan hormat pada kakaknya itu, karena entah sedang di perusahaan atau tidak, rasa hormat dan segan Daniel terhadap Barack itu selalu ada.


Daniel sangat menghormati Barack, bukan hanya sebagai Kakak, tapi juga sebagai atasan dan juga orang kepercayaan Erland.


“Bukankah sudah saya katakan dengan jelas agar kamu mendengarkan penjelasan saya? kenapa sekarang kamu bertanya? dari awal kamu berkata jika tidak perlu penjelasan apapun.”


Daniel diam, ia memang sedang merasa malu dengan ucapan Barack. Tapi Daniel tidak pernah bersikap atau bertingkah cengengesan di depan Barack, sekalipun Barack itu adalah kakaknya.


Maka itu, solusi terbaik Daniel kini hanya diam, ia akan mendengarkan apa yang Barack katakan. Tidak ada kata untuk memotong pembicaraan Barack nanti.

__ADS_1


“Tuan Erland tidak mengingat kita. Dia mengalami lupa ingatan.” Penjelasan Barack itu langsung saja membuat Daniel terkejut dan tak percaya. Ia tidak percaya dengan itu, Daniel awalnya berniat untuk memotong perkataan Barack. Tapi saat ia sadar jika ia tidak bisa melakukan hal itu, akhirnya Daniel hanya diam dan menunggu penjelasan Barack selanjutnya.


“Musuh kita, dia telah berhasil melukai tuan Erland hingga seperti itu. Dan wanita yang selalu bersama tuan, dia adalah orang yang telah menyelamatkan tuan kita.”


Pertama kalinya untuk Barack berbicara panjang lebar. Jika bukan karena demi Erland. Barack tidak mungkin akan berkata panjang lebar. Laki-laki yang berwajah sangar tapi terlihat sangat tampan itu, ia akan selalu diam dan hanya diam.


Tapi diamnya seorang Barack, sudah bisa membuat para bawahan yang melihatnya ketakutan. Luka di mata Barack yang terlihat sedikit menakutkan, tapi masih tidak bisa menghilangkan kharisma Barack yang memang sangat tampan.


Jangan bandingkan ketampanan Barack dengan Erland, itu jelas sangat berbeda. Tidak ada yang berani untuk dibandingkan atau disamakan wajah mereka dengan penampilan tuan Erland', seolah itu adalah hal yang tidak perlu dijelaskan atau dikatakan lagi.


“Kenapa? kenapa bisa musuh berhasil melukai tuan Erland?” pertanyaan dengan tatapan tidak percaya dari Daniel hanya mendapat tatapan datar dan dingin Barack.


Seolah Barack kini sedang marah dan tidak bisa untuk berkata-kata saking marahnya ia saat ini. Paham dengan itu, Daniel tidak bertanya lebih jauh.


Daniel kini hanya perlu menjalankan tugasnya itu, tugas yang memang ia lakukan dari dulu. Karena hanya Daniel yang paling Erland percaya setelah Barack. Mereka bertiga tumbuh besar bersama, dan Barack jelas lebih dulu mengenal sosok Erland dibandingkan Daniel.


“Saya tidak akan bertanya lebih jauh.”


Jika ada yang bertanya, siapa yang bisa mengenal tuan Erland' dengan cukup baik, maka jawabannya adalah Barack. Laki-laki itu tahu, apa yang selama ini seorang Erland alami dan lalui. Tidak ada orang yang lebih tahu Erland dibandingkan dirinya yang telah mengenal Erland dan tumbuh bersama.


“Lakukan tugas kamu dengan baik. Jangan sampai sesuatu buruk terjadi pada tuan Erland.” Perkataan tegas barack saat itu sempat menghentikan sejenak langsung Daniel.


Daniel menoleh, ia melihat tatapan Barack yang seolah tidak bisa ditebak. Tapi dari tatapan itu, ada perasaan marah yang tidak pernah Daniel lihat selama ini.


Apa kini Barrack sedang marah dan menyalakan dirinya sendiri karena kejadian ini?


“Saya akan menjaga tuan saya, sama seperti saya menjaga hidup saya.” Tatapan yakin Daniel tunjukkan.


“Pergilah!”

__ADS_1


Seakan mendapat persetujuan untuk segera keluar, Daniel langsung saja keluar dari ruangan Barack.


__ADS_2