
Malam harinya.
Suasana tempat tinggal Reina yang awalnya terasa dingin, perlahan-lahan mulai terasa hangat dengan kehadiran Erland.
Sama seperti Reina yang selalu memperlakukan Erland dengan baik, Erland pun secara diam-diam selalu melindungi Reina. Tidak mungkin jika Erland menunjukkan jati dirinya dan membiarkan Reina mengetahui kalau ia mendapat ingatannya kembali.
Belum saatnya Reina mengetahui itu, dan masih ada sesuatu hal yang harus Erland pastikan kebenarannya itu.
“Mah,” panggil Erland saat melihat Reina sedang fokus membuat kue untuk cemilan mereka berdua hari ini.
“Ya?” masih fokus dengan aktivitas membuat kue, tanpa melihat ke arah Erland Reina hanya bertanya.
“Tidak ada,” kata Erland yang tentu langsung membuat Reina menatap ke arahnya.
“Tidak ada yang ingin kamu katakan padaku? jika tidak ada, kamu bisa menunggu sambil menonton televisi di depan,” kata Reina yang melanjutkan untuk melakukan aktivitasnya itu.
Erland hanya diam, ia tidak bergeming sama sekali. Tatapan Erland itu tidak lepas dari wajah Reina yang terlihat fokus pada aktivitasnya itu. Erland mengakui jika Reina itu orang yang menurutnya multitalenta, dan banyak hal yang Reina bisa. Tapi bukan itu yang menjadi alasan Erland satu-satunya.
Erland kini ingin memastikan sesuatu yang harus Erland pastikan. Perasaannya, hal yang masih menjadi misteri dan rasa penasaran bagi Erland saat ini.
Erland berfikir mungkin saja ia memiliki perasaan pada Reina, tapi Erland belum bisa memastikan jika ia memang benar-benar jatuh hati pada wanita yang baru ia kenal beberapa bulan ini.
Apakah dirinya benar-benar mencintai wanita itu? wanita yang ada dihadapannya saat ini? meskipun wanita itu bersikap acuh dan dingin pada siapapun, sikapnya yang ternyata baik pada orang-orang yang terdekat, membuat Reina menjadi terlihat istimewa serta terkesan misterius.
“Kenapa?” tanya Reina yang menyadari jika Erland masih berdiri mematung dibelakangnya itu, seolah laki-laki itu sedang terpaku dan tidak mendengar apa yang Reina perintahkan tadi.
“Erland akan menunggu,” kata Erland yang pada akhinya menuju ke tempat yang Reina perintahkan.
...*****...
__ADS_1
Kini, Erland terlihat hanya diam saja, ia tidak berkata apa-apa sejak tadi. Di depannya Daniel sedang duduk terdiam dengan patuh. Seakan Daniel menunggu apa yang akan Erland katakan.
“Sudah kamu dapatkan?” tanya Erland seakan ia tidak perlu menjelaskan apa yang ia perlukan.
Tanpa berkata, Daniel langsung menunjukkan sebuah dokumen yang ia bawa. Dokumen yang berisi mengenai informasi tentang Reina.
Seolah dengan dokumen itu, Erland ingin bisa mengetahui dengan jelas mengenai Reina. Apa yang Reina sukai dan apa yang telah Reina lalui.
“Tuan, seperti yang Anda minta. Saya sudah mencari tahu informasi mengenai nona Reina. Sejak sekolah menengah pertama, dia di usir oleh ayahnya karena kesalahan yang tidak dia lakukan. Itu karena tuduhan tak mendasar dari kakaknya, Alisa.”
“Lanjutkan,” meski di dalam dokumen itu terdapat informasi lengkap tentang Reina, tapi Erland akan memilih untuk membaca informasi itu nanti, karena kini ia penasaran dengan apa yang akan dijelaskan oleh Daniel.
“Tuduhan yang tak mendasar, itu karena kakaknya yang bernama Alisa merasa iri padanya, nona Reina selalu menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Oleh karena hal itu, seringkali nona Reina berusaha untuk tidak terlalu menonjolkan dirinya di depan umum. Ia seolah ingin agar tidak menonjol di depan siapapun.”
Penjelasan itu hanya Erland angguki secara sekilas, menurut Erland apa yang ia dengar dari Daniel adalah informasi baru untuknya dalam mengenal Reina, eh tapi tunggu kenapa kini Erland baru sadar jika ia ingin tahu lebih banyak tentang Reina?
“Tuan,” panggil Daniel saat ia melihat jika Erland hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
Erland paham jika Daniel penasaran apakah ia sudah jatuh hati pada wanita yang bernama Reina itu, tapi Erland juga tidak tahu, ia belum bisa memastikan akan kebenaran itu semua.
Kebungkaman Erland yang seolah tidak ingin untuk menjawab pertanyaan darinya, membuat Daniel memilih untuk tidak bertanya lebih.
Daniel paham, sepertinya tuannya itu ingin memastikan perasaannya pada wanita yang bernama Reina itu. Erland yang tidak pernah memiliki rasa cinta ataupun perasaan pada siapapun dikarena masa lalunya itu, membuat laki-laki itu tak tahu dengan jelas apa itu cinta.
“Aku hanya ingin terus berada disampingnya, melindunginya, menjaganya, dan melakukan apapun yang terbaik untuknya. Entah kenapa, saat melihat ia marah, aku akan marah pada orang-orang yang membuatnya marah, jika ia sedang sedih, rasanya itu seperti duri yang tak terlihat yang telah menancap dihati ini.”
Perkataan panjang lebar dari Erland itu, tentu saja langsung dijawab dengan tatapan tak percaya dari Daniel.
“Tuan, apa ini Anda? kenapa Anda bisa pandai sekali dalam berkata-kata,” canda Daniel yang sebenarnya hanya ingin mencairkan suasana suram ini.
__ADS_1
“Siapapun yang nantinya akan menyinggungnya atau siapapun yang berniat untuk menyakitinya, sebelum itu terjadi, mereka harus merasakan rasa sakit dari niat buruk itu,” tatapan serius itu terlihat.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan 'kan?” tanya Erland yang langsung dijawab anggukan oleh Daniel.
“Akan saya lakukan tuan,” jawab Daniel yang langsung mengangguk kepala patuh.
...*****...
“Anak baik, pandai sekali kamu mencari uang. Ini pasti akan berguna untuk ayah main judi nanti malam,” kata Jack yang tak henti-hentinya mengusap kepala Alisa.
Alisa yang melihat jika ayahnya dari tadi terus tertawa tak henti-henti, seolah ia senang telah memanfaatkan Alisa untuk bisa memanfaatkan Harry.
“Kenapa bisa aku memiliki ayah yang pemalas seperti dia, dia tidak lebih dari laki-laki brengsek yang dengan teganya memanfaatkan anak dan istrinya demi dirinya sendiri,” batin Alisa.
Dulu Jack tidak memperlakukan Alisa seperti ini, tapi semenjak laki-laki itu tergila-gila dengan judi, ia seolah menjadi orang yang berbeda.
Bahkan sekarang, Jack memanfaatkan Alisa anaknya sendiri demi kesenangannya sendiri.
“Ayah, jangan lupa bagian Alisa, Alisa juga perlu untuk membeli kosmetik yang sudah hampir habis,” kata Alisa yang langsung ditatap oleh Jack.
“Hey, kamu 'kan punya ayah orang kaya, kenapa tidak minta saja pada ayah kamu lagi?”
“Ayah, itu tidak semudah yang ayah katakan. Karena tuan Harry mengenal Alisa anak yang baik dan tidak boros, jadi tidak mungkin Alisa akan terus meminta uang tuan pada Harry terus. Apalagi ini sudah lebih dari satu Minggu Alisa sering sekali meminta uang padanya.”
“Kalau begitu jual saja mobil baru kamu, bukankah kamu memiliki dua mobil yang bagus hadiah dari tuan Harry. Itu saja repot,” sinis Jack yang menatap anaknya seolah Alisa anak yang tak tahu diri.
“Tidak mungkin ayah! Alisa tidak mungkin menjual salah satu mobil itu, itu malah akan membuat tuan Harry curiga, ia akan bertanya banyak hal jika tahu mobil pemberiannya telah Alisa jual,” kata Alisa.
“Sudahlah terserah kamu, ayah tak perlu!”
__ADS_1
Setelahnya Jack pergi begitu saja meninggalkan Alisa yang hanya terdiam.