
Elisa yang terlihat santai. Ia kini sedang menikmati makan malamnya seorang diri. Tidak seperti biasa, Elisa biasanya makan sedikit. Tapi kali ini, ia makan dengan sangat banyak. Bahkan beberapa pelayan yang melihat merasa senang saat melihat itu.
Mereka tahu jika kini suasana hati majikannya itu sedang dalam keadaan baik. Bagi beberapa pelayan, Elisa memang terkenal sombong dan angkuh, tapi mereka hanya menganggap jika sifat Elisa itu, tak lain karena ia memang lugu dan polos.
Tidak ada yang pernah menyangka, jika dibalik wajah polos yang terlihat lugu itu, tersimpan hati hitam yang tak terlihat. Harus diakui, wajah Elisa memang manis, lucu, dan cantik. Orang-orang yang melihat wajahnya pasti akan merasa nyaman jika harus menatap lebih lama.
“Yayayaya.”
“Hmmmm.”
“Nananana.”
Saking bagus suasana hati Elisa saat ini, ia bahkan sampai bersenandung senang. Senandung yang terdengar jika ia sedang dalam keadaan senang.
“Apakah nona sedang dalam suasana hati yang baik saat ini?” tanya seorang wanita berusia 40 tahun. Wanita itu adalah pengasuh Elisa dari kecil, dan sudah sejak Elisa berumur 10 tahun ia bekerja di sana menjadi pengasuh.
“Iya Madam Amilia, Elisa kini sedang sangat senang.”
Madam Amilia bukanlah seorang pengasuh biasa, ia adalah wanita berpendidikan tinggi yang bekerja sebagai pengasuh di keluarga Young.
Keluarga Madam Amilia sudah dari dulu bekerja di keluarga besar Young, membuat Madam Amilia selalu merasa jika dirinya bisa sekolah tinggi itu karena kebaikan tuan besar. Lebih tepatnya, kakek Elisa yang menyekolahkan dirinya hingga bisa berpendidikan tinggi.
Karena rasa hutang budinya, Madam Amilia memilih untuk mengabdikan hidupnya pada keluarga Young, dibandingkan memanfaatkan kesempatan untuk bersinar di luar sana.
“Apa yang membuat Anda begitu senang? apakah Anda mendapatkan hadiah dari Tuan Harry?” tanya Amilin tapi hanya dijawab gelengan.
“Tidak! Ayah tidak memberiku hadiah apa-apa, aku sedang senang karena sesuatu, dan Madam tidak perlu tahu.”
Meski ucapan tak sopan sering Elisa ucapkan pada para pelayan. Tapi dibanding kepada para pelayan lain. Sikap Elisa pada Madam Amilia bisa dikatakan baik, karena ia cukup sering bermanja-manja pada Madam Amilia.
“Saya kira tuan Harry memberikan Anda sesuatu hingga Anda sesenang ini.”
“Tidak! bukan karena itu, sudahlah. Madam tidak akan mengerti dan tidak perlu tahu.”
“Baiklah, saya harap nona selalu bahagia seumur hidup Anda. Saya akan sedih jika sampai melihat Anda bersedih. Karena nona sudah seperti anak saya sendiri.”
__ADS_1
“Saya pasti akan bahagia Madam.”
...*****...
Elisa kembali ke kamarnya dalam suasana hati yang baik. Tapi sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat ia resah dan khawatir. Anak buah yang ia kirim belum juga memberikan kabar sama sekali. Padahal sudah lama sekali mereka pergi.
“Sialan! sudah aku katakan kalau pekerjaan sudah beres mereka harusnya melapor. Ini sudah malam tapi tidak ada laporan dari mereka sama sekali!” kesal Elisa.
Tatapan khawatir terus saja bertahan diwajahnya itu, hingga ia tak sadar menatap ke arah cermin dengan tatapan khawatirnya itu.
Elisa tiba-tiba mengingat wajah Reina.
Reina memiliki bola mata abu-abu dengan bentuk mata almond yang terlihat khas dan tajam, tatapan dingin Reina terlihat sangat menarik bagi orang yang melihatnya.
Mengingat betapa cantiknya Reina, Elisa merasa marah. Tapi tunggu! kenapa Elisa tidak asing dengan bentuk mata Reina, seolah tatapan itu sudah akrab dan sering ia lihat. Tapi dimana? dimana Elisa pernah melihat itu?
Ayah!
Kata pertama yang muncul dipikiran Elisa adalah ayahnya. Harry, laki-laki berwajah tampan meski kini tidak muda lagi. Bahkan tatapn Harry yang terkesan tajam bisa membuat siapa saja meleleh dibuatnya.
Elisa berusaha menepis segala pikiran yang ada, ia tidak ingin berfikir jika ayahnya itu berselingkuh. Elisa tahu jika ayahnya sangat setia dan mencintai ibunya, bahkan meski ibunya sibuk dengan dunia modelnya, tapi ayahnya adalah orang yang sangat setia.
“Sangat mengesalkan. Kenapa juga aku tidak juga memiliki kemiripan wajah dengan ayahku sendiri. Padahal akan terlihat baik jika memiliki kemiripan sedikit saja dengan ayah.”
Drttt
Drttt
Drttt
Getaran ponsel menyadarkan Elisa dari lamunannya itu, ia dengan segera menerima panggilan telepon itu.
“Iya?” baru saja Elisa hendak bernafas lega saat anak buahnya menelepon dirinya. Tapi apa yang ia dengar kini, membuat Elisa gelisah dan ketakutan.
...*****...
__ADS_1
Di rumah sakit.
Padahal sudah sangat larut malam, tapi Elisa dengan nekat pergi ke rumah sakit. Ia memakai pakaian yang tertutup untuk menyembunyikan identitas dan jati dirinya.
Mengendap-endap ke sebuah kamar yang ia tuju, Elisa sedikit mengintip untuk memastikan jika tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain anak buahnya yang sedang terbaring di sana.
“Nona, akhirnya Anda datang.”
Wajah sumringah terlihat dari laki-laki bertubuh gempal. Ia adalah ketua yang Elisa percaya untuk memimpin.
“Apa yang terjadi?” tanya Elisa langsung. Ia tidak ingin berbasa-basi sama sekali.
“Nona, tolong selamatkan saya. Saya benar-benar takut jika laki-laki itu akan membunuh saya.”
“Laki-laki? siapa laki-laki itu? bukankah saya hanya minta kamu untuk menghancurkan wajah seorang wanita? lantas mengapa kamu malah mengatakan seorang laki-laki?”
Tiba-tiba wajah Elisa terlihat panik, ia takut jika anak buahnya melukai Erland. Elisa ingat jika Erland kini bersama dengan Reina, ia takut jika laki-laki itu ikut terlukai bersama dengan Reina.
“Katakan! apa kamu menyakiti seorang laki-laki berwajah amat tampan? laki-laki bermata biru yang sangat pekat?”
Mendengar laki-laki bermata biru yang sempat datang ke dalam mimpi Si ketua itu. Ia menjadi takut dan merinding. Tanpa sadar tubuhnya itu gemetaran.
Laki-laki bermata biru adalah orang yang berhasil memukul dirinya dan anak buahnya dengan sangat bengis. Dan karena kejadian itu, Si ketua itu merasa dirinya harus menjaga kesehatan mentalnya saat ini.
Kejadian beberapa jam yang lalu yang ia alami, tentang kebengisan dari laki-laki bermata biru itu, membuatnya bahkan tidak berani untuk menutup mata, meski untuk sekejap saja.
“Kamu benar-benar sudah menyakiti laki-laki itu?” marah Elisa yang berfikir jika kini Si ketua sudah mencelakai Erland.
“Nona, mengapa Anda berbicara tentang monster itu. Dia laki-laki gila yang sangat menyeramkan!”
“Menyeramkan apanya! kamu yang jelek! laki-laki tua yang tidak becus mengerjakan tugas. Ingat!!! jangan sampai ayah tahu tentang perintah yang aku minta kamu lakukan! jika sampai itu terjadi, kamu yang akan menanggungnya itu sendiri.” Ancaman dari Elisa langsung membuat Si ketua itu takut dan tidak berani berkata-kata.
Elisa berbalik dan hendak berjalan keluar, tapi langkahnya terhenti sejenak. Ia kembali menoleh dan menatap ke arah Si ketua yang kini sedang terbaring.
“Saya bukan anak kecil yang bermain-main dengan kata-kata. Jika kamu mengabaikan peringatan saya, bukan hanya kamu yang akan menanggungnya, keluarga kamu akan ikut menanggung itu semua.”
__ADS_1
Setelahnya Elisa pergi begitu saja. Ia meninggalkan Si ketua yang sedang ketakutan setengah mati. Ia takut jika itu bukan hanya ancaman belaka, karena setelah kejadian ini, Si ketua tahu jika Elisa tidak sepolos dan selugu yang orang kira.