
Sebelum Erland datang, dengan segera Elisa pergi saat itu. Ia meninggalkan Reina yang terlihat hanya diam dan mematung. Pemikirannya Reina kini tidak jauh dari rencana pernikahan yang telah di susun oleh kedua keluarga besar itu.
“Mah,” panggilan Erland hanya diabaikan oleh Reina yang sedang melamun.
“Kita pulang,” kata Reina setelah ia membayar menu makan mereka hari ini.
Suasana hati Reina kini sedang tak menentu, panas, tapi juga terasa dingin. Perasaan bergejolak yang tidak bisa Reina pahami itu, membuatnya bingung.
...........
“Mah,” panggil Erland lagi begitu mereka berdua ada di tempat tingga mereka. Erland masih terus saja diabaikan oleh Reina.
Reina masih tetap diam, tapi tangannya itu tidak sedang diam. Ia sedang menyusun bahan-bahan makanan di rak yang tersedia. Reina itu memang orang yang apik, dia juga sangat rajin. Mencintai yang namanya kebersihan dan keindahan.
“Mah,” panggil Erland lagi tapi tetap Reina abaikan.
Saat di ruang tamu, Reina duduk, ia meminum teh yang baru saja ia buat untuk dirinya dan Erland.
“Mamah, apa Mamah sedang marah pada Erland? apa Erland melakukan sebuah kesalahan?” tanya Erland yang tentu langsung mendapat tatapan dari Reina saat itu juga.
Reina tidak berkata apa-apa. Hanya saja, kini Reina banyak bertanya. Banyak hal yang sedang Reina tanya pada hati dan pikirannya saat ini. Mengapa? mengapa Reina kini merasa sedih dan marah disaat bersamaan?
“Tidak ada, saya akan istirahat lebih awal hari ini.”
Setelahnya Reina bangkit, ia meninggalkan Erland yang hanya diam. Dengan pandangan menerawang jauh, Erland berfikir dalam. Ia tidak mengejar Reina karena justru pemikirannya tiba-tiba ingat sesuatu.
Flashback
Saat itu, ingatan terakhir yang Erland alami adalah. Ia terjatuh, tangan dan kedua kakinya tidak bisa ia gerakan sama sekali. Tubuhnya mati rasa, rasa sakit yang harusnya Erland rasakan, justru rasa itu tidak lagi ia rasakan. Kesakitan ini belum seberapa jika harus dibandingkan dengan kesakitannya dulu.
“Sudahlah, tuan Erland tidak mungkin selamat. Ayo tinggalkan saja,” kata seorang ketua.
Tiga kelompok terkuat dari mafia Black Lion. Mereka tanpa peduli langsung meninggalkan Erland yang menurut mereka akan segera mati dalam beberapa detik saja. Dan jika ada yang menyelamatkan, mereka pikir Erland tidak akan bisa terselamatkan.
“Hahaha baguslah. Meski kita dianggap sebagai seorang pengecut karena hanya demi mengalahkan seorang tuan Erland Samoni, memerlukan puluhan orang terkuat dari Black Lion. Kekuatan yang bagai monster gila.”
__ADS_1
Setelah kepergian dari orang-orang itu, Erland masih tetap sadar. Hanya saja, seluruh tubuhnya tidak bisa ia gerakan sedikitpun.
“Masih hidup,” kata seorang wanita dengan nada yang terdengar tak percaya.
Samar-samar Erland berusaha agar bisa melihat sedikit saja wajah dari wanita yang berkata itu, tapi hanya bagian bawah wajah wanita itu saja yang bisa ia lihat. Ekspresi wajah dingin, dengan kesan misterius itu sangat terasa walau hanya dibagian bawah saja.
“Mamah,” pikir Erland kala itu.
Melihat ekspresi wajah yang dingin itu, seakan mengingatkan Erland pada sosok ibunya yang menatapnya dengan tatapan dinginnya.
“Tidak mungkin,” pikir Erland lagi.
Setelahnya matanya tertutup saat dirinya sampai di rumah sakit. Dan hal yang pertama yang Erland lihat saat itu, adalah wanita berwajah dingin.
.........
“Mamah,” kata Erland saat pertama kali ia melihat wanita itu lagi. Entah kenapa, saat melihat wanita itu. Mengingatkan Erland pada sosok ibunya yang dingin dan acuh padanya.
Erland tidak bisa mengingat sosok ibunya dengan jelas, ia hanya bisa mengingat raut wajah dingin dan acuh yang sering ibunya perlihatkan padanya.
Terlihat jelas jika wanita yang dipanggil Mamah' itu terlihat terkejut dengan panggilan itu. “Siapa nama kamu?” tanya wanita itu.
“Erland.” Tentu, Erland ingat, jika nama itu untuk pertama kalinya diucapkan oleh ibunya seminggu yang lalu. Nama yang sering dipanggil dengan panggilan yang terkesan benci.
(Note: ini Erland ingat kalau dia dipanggil nama sama ibunya seminggu yang lalu, karena ingatan Erland saat itu benar-benar pada saat lima tahun. Jadi intinya, saat Erland sadar, ingatannya itu benar-benar hilang sebagian.)
“Kamu ingat dengan identitas kamu?”
“Tidak.” Ada rasa aneh saat wanita yang ia sebut dengan Mamah menanyakan identitasnya itu.
Bukankah wanita itu adalah ibunya? ekspresi dingin yang terlihat tidak tersentuh itu yang Erland ingat tentang ibunya. Tapi, kenapa ada hal yang ganjil yang ia rasakan? hatinya mengatakan jika wanita itu bukan ibunya.
..........
Penolakan dan kata-kata yang terdengar formal serta asing selama tinggal bersama Reina, kadang membuat Erland yang kala itu berfikir jika wanita yang menyelamatkannya itu ibunya. Tapi, kebaikan serta kelembutan yang tidak pernah dia rasakan dari ibunya, membuat Erland merasa asing seolah mengatakan jika itu bukan ibunya.
__ADS_1
“Mah, Erland merasa bingung. Pada saat itu, Erland lebih kecil dari Mamah. Tetapi, kenapa sekarang justru Erland yang lebih besar dari Mamah?” tanya Erland pada wanita itu yang tak lain adalah Reina.
Reina hanya diam, ia terlihat bingung untuk menjawab. Sama seperti Erland yang untuk pertama kalinya melihat tampilannya di kaca, tampilan yang sangat berbeda dari ingatannya Erland terakhir kali.
“Tidurlah.” Kata terakhir kali dari wanita itu yang langsung membuat Erland tidak bisa untuk berkata lebih jauh.
.........
Saat itu, Erland melihat jika wanita yang ia panggil dengan sebutan Mamah' sedang terpojok karena orang misterius. Tatapan lapar dari lelaki bertubuh gempal itu membuatnya jijik dan marah tanpa bisa Erland cegah.
Emosinya yang meluap-luap, dengan kemarahan yang rasanya tidak bisa ia tahan. Para pria sialan itu, telah berani menatap lapar ke arah wanita yang ingin ia lindungi dengan sepenuh hati.
Rasanya, Erland ingin membunuh mereka. Tapi, setelah Erland membuat mereka tumbang, dan ia hendak ingin membunuh laki-laki yang menjadi pimpinan dari para anak buah bodoh itu. Sebelum Erland melakukan apa yang ia inginkan itu, sebuah tangan dengan gemetar memeluknya dengan erat.
“Mah, Erland sakit,” ungkapnya tiba-tiba. Ia bukan sakit karena dipukuli oleh orang-orang itu, karena laki-laki misterius yang berjumlah kurang lebih 30 itu telah tumbang ditangannya.
Erland kini sedang sakit, itu karena tiba-tiba saja sekelabat bayangan muncul di kepalanya. Seolah memori ingatan yang hilang perlahan muncul.
Dan puncaknya, saat Erland dengan sengaja membawa Reina ke arah hutan. Saat di dalam hutan, Erland dan Reina terpojok di tepi jurang. Beberapa langkah saja Erland mundur, bisa ia pastikan jika ia akan jatuh.
Bawahannya, laki-laki yang bernama Daniel berdiri di depan mereka berdua, menghadapi para musuh yang kini seperti serigala lapar.
“Hahaha, menyerah saja, kalian tidak akan pernah bisa menang.” Perkataan laki-laki bertubuh kekar, dengan wajah yang terasa familiar diingat Erland. Walau itu hanya sekelebat saja, tapi Erland merasa jika ia pernah melihat sosok laki-laki yang sebelah matanya memiliki luka yang sangat panjang itu.
Saat Erland merasa terdesak, pendengarannya tanpa sadar mendengar suara gemericik di bawah. Suara itu sangat kecil, hingga tidak bisa di dengar oleh orang biasa, hanya yang terlatih yang tahu itu. Dan saking kuatnya instingnya, ia bisa tahu jika ada aliran air di balik jurang yang gelap itu.
Tanpa basa-basi Erland langsung saja membawa Reina untuk terjun, itu tak lain karena dirinya ingin wanita itu selamat. Erland tidak bisa menunjukkan sisi dimana ia akan membuat Reina merasa takut padanya, dan demi melindungi wanita yang bagi dirinya berharga, ia sampai rela terbentur beberapa kali demi melindungi wanita itu.
Flashback end
*****
Ini cerita dari sisi Erland ya, masih banyak misteri yang akan author bongkar satu persatu.
Maaf kayaknya untuk part ini sangat sedikit percakapannya. Nanti author kasih ilustrasi visualnya ya, tapi untuk visual resmi belum menemukan yang paling cocok
__ADS_1