
Beberapa hari kemudian.
Sejak kejadian itu, Reina mendapatkan kompensasi dari tuduhan yang tak mendasar. Ia yang menjadi kambing hitam atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya, dengan keputusan Harry, para dosen maupun dekan yang menyinggung serta menuduh Reina diminta meminta maaf langsung.
Terutama Tari, ia bahkan sampai menahan kesal saat meminta maaf, seolah Tari merasa jika harga dirinya sedang ia turunkan saat itu juga.
...*****...
“Mah, ada apa?” tanya Erland saat melihat Reina yang hanya diam saja dari tadi.
Sebenarnya Reina bukan hanya diam, ia kini sedang berfikir dan termenung untuk sejenak.
“Ada yang sedang Mamah pikirkan?”
“Tidak ada, hanya saja, karena tuduhan mereka. Dan sebagai bentuk kompensasi aku tidak perlu masuk kuliah selama beberapa hari ke depan.” Penjelasan Reina itu, tentu langsung mendapat tatapan semangat dari Erland.
“Bukankah itu sangat bagus? jadi apa yang sedang Mamah pikirkan?” tanya Erland menatap polos Reina dengan tatapan penasarannya.
“Itu tidak bagus sama sekali, aku bahkan belum mendapatkan tempat kerja selama tidak berkuliah,” jelas Reina, tiba-tiba setelah mengatakan itu Reina menoleh dan menatap Erland yang hanya menatap polos ke arah Reina.
“Kenapa bicara kita ke arah yang dewasa, kamu itu 'kan masih anak-anak, jadi tidak perlu untuk bertanya lebih jauh lagi.”
Reina bangkit dari duduknya, ia langsung berjalan ke arah dapur. Mengambil air putih, Reina yang sadar jika sedang diikuti oleh Erland langsung menoleh.
“Ada apa?”
“Apa kita tidak bisa liburan bersama? me ... time bareng?” perkataan Erland yang ragu seolah takut dalam mengucapkan kata, tanpa sadar Reina lalu tertawa ringan karena hal itu.
“Mamah cantik,” puji Erland saat ia terpesona dengan wajah Reina yang tertawa lepas.
__ADS_1
“Oh,” dengan segera wajah Reina kembali acuh.
Reina membawa minuman yang ia bawa, ia lalu meletakan minuman itu di atas meja.
“Akan aku putuskan nanti mengenai saran kamu itu,” jawab Reina seolah tak langsung mengiyakan apa yang Erland minta.
...*****...
Meski saat itu Reina tidak langsung mengiyakan apa yang Erland minta. Tapi justru kini mereka sedang melakukan me Time bersama. Itu tepat keesokan harinya saat saran Erland pada Reina.
“Mah, itu perahu yang indah. Apa ingin naik ke perahu?” tanya Erland yang melihat perahu yang bisa disewakan.
“Itu pasti akan mahal, aku harus menabung demi bisa kuliah. Walau aku tidak perlu untuk membayar biaya untuk kuliah, tapi kehidupan sehari-hari lebih utama,” maksud dari apa yang Reina kini katakan adalah, ia seakan berkata jika segala pengeluaran sehari-hari itu paling penting karena, memang banyak hal terduga yang bisa muncul hanya untuk pengeluaran biasa.
“Tidak akan mahal,” jawab Erland yakin.
“Aneh sekali rasanya, kenapa pantai yang secantik ini tidak meminta biaya sama sekali? apa pemilik pantai tidak ingin mengambil keuntungan walau itu hanya sedikit saja? apa memang dia tidak merasa rugi?” pertanyaan Asyila langsung menyadarkan Reina dan Erland jika mereka tidak hanya berdua saja di sana, karena Asyila merengek untuk bisa ikut berlibur.
“Apa yang kamu katakan benar, aku juga heran, tapi apa perlu kita pikirkan itu?” satu kekurangan Reina jika dibandingkan dengan banyak kelebihan yang ia miliki. Ia itu sangat bodo amat dan tidak peduli dengan apapun.
Bahkan di saat Asyila merasa penasaran dengan harga tiket pantai yang dilengkapi dengan fasilitas serta hotel yang indah itu, justru Reina tidak terlalu peduli.
“Ya ampun ..., Reina. Kamu nggak takut apa jika nanti ketidakpedulian kamu akan menjadi kelemahan kamu ke depannya? ayolah sayang, jangan seperti itu,” seperti sangat peduli dan menyayangi Reina layaknya saudara kandung.
Asyila bahkan tidak segan-segan memanggil Reina dengan panggilan yang menurut Reina terdengar sangat menggelikan.
“Tidak ada yang lain selain sayang?” kata Reina yang langsung menunjukkan wajah sebal.
“Sengaja biar orang disamping kamu marah,” kata Asyila yang langsung menunjuk ke arah Erland yang menatap tak suka.
__ADS_1
“Lihat aja, tangannya aja sampai mengepal? bukan begitu Erland sayang,” kata Asyila yang sebenarnya ia hanya menganggap Erland anak kecil.
Panggilan sayang' yang Asyila sengaja berikan untuk Erland, itu tidak lain adalah panggilan di mana Asyila menganggap jika ingatan laki-laki itu berada di umur lima tahu.
Mendengar panggilan itu, entah mengapa Reina merasa sedikit panas. Apa ini yang Erland rasakan disaat ia merasa cemburu pada sesuatu hal yang berhubungan dengan dirinya?
“Jelas perasaan cemburunya hanya karena dia tidak ingin ibunya diambil orang lain,” pikir Reina. Ia hanya berfikir jika keposesifan Erland sangat berbeda dengan keposesifan dirinya.
“Oy, apa sekarang kamu merasa cemburu jika aku memanggilnya dengan sebutan sayang?” tatapan meledek dengan sengaja Asyila tunjukkan.
“Kalau begitu, biaya perahu kamu yang akan bayar,” putus Reina yang langsung saja berjalan ke arah perahu itu. Ia yang berjalan lebih dulu, membuat orang yang berada dibelakangnya ikut membuntuti.
“Hey, ini nggak adil tau. Kamu mau buat tabungan aku habis ya?” kesal Asyila tapi tidak pernah bisa membenci Reina, sekalipun kekesalannya sudah tahap tak tertahan.
“Bukankah waktu itu kamu mengatakan jika semua ini akan kamu bayar? dari biaya penginapan hingga makan dan minum, termasuk dengan ini bukan??” perkataan Reina yang sengaja mengingatkan Asyila akan janjinya saat ingin ikut.
“Tahu begitu aku tidak akan pernah memaksa untuk bisa ikut. Pantas saja jika kamu waktu itu langsung mengizinkan. Ternyata hanya untuk dijadikan ATM berjalan, ” gerutu Asyila yang langsung duduk di tempatnya. Ingin duduk di dekat Reina, tapi sudah lebih dulu ditempati oleh Erland.
Laki-laki itu seakan tidak bisa bernafas jika tidak berada di dekat Reina.
“Menyebalkan!” kesal Asyila melihat jika hanya dirinya saja yang sendirian. Tahu begitu ia akan meminta adik kandungnya untuk ikut.
“Hey nona kaya, kamu pernah mengatakan jika uang kamu tidak akan pernah habis sekalipun dipakai untuk mentraktir puluhan orang hingga sebulan. Jadi apa ini? apa ucapan kamu waktu itu hanya sebuah bualan?” kata Reina yang langsung menohok Asyila.
“Sialan!” gerutu Asyila. “Tahu begitu nggak usah bilang kayak gitu ke kamu pas kenalan waktu itu. Kamu itu ya, memang berlidah tajam dan memiliki ingatan yang tidak kalah tajamnya dengan mulut berbisa kamu,” gerutunya dengan kesal.
“Oh terima kasih nona, pujian Anda sangat berarti,” jawaban Reina acuh, hal itu benar-benar membuat Asyila bungkam.
Jangan ada yang mau berdebat dengan Reina, wanita berlidah tajam yang tidak pernah kalau dalam berdebat, seakan hanya akan membuat lawannya merasa kesal dan mati kata saat melawan kata-kata tajamnya Reina.
__ADS_1