
“Setahu aku, tuan Erland itu sibuk. Sibuk banget malah, saking sibuknya aku pernah denger kalau dia pernah tidur 2 hari sekali.”
“Ternyata tingkat penasaran kamu sudah di tahap angkut ya.” Bukan mendapat respon terima kasih yang Asyila bayangkan, tapi perkataan jujur dan menohok dari Reina membuat Asyila bungkam untuk sejenak.
Asyila kehilangan kata-kata saat itu juga. Memang benar, jika dia itu kalau sudah penasaran bahkan sampai rela untuk pergi ke negara orang yang ingin ia ketahui. Ia sampai rela begadang demi ngestalking orang yang membuat ia penasaran. Dan karena apa yang Reina katakan itu benar, jadi Asyila seperti kehabisan kata-kata.
“Nih anak nggak ada terima kasihnya sama sekali. Kenapa bisa lupa sih kalau aku punya teman model begini, jujur plus lidah tajam.” Menggaruk lehernya yang tak gatal, bahkan Asyila melirik sekitarnya agar tidak ada yang mendengar ucapan Reina itu.
Sahabatnya itu terlalu jujur dan kadang bisa buat orang marah karena kejujurannya itu. Bukannya jujur itu menyakitkan? tapi tidak sesakit kenyataan 'kan?
“Reina, jangan kayak gitu dong. Kamu ini malah bocorin rahasia pribadi. Kamu 'kan tahu kalau di tempat kuliah aku terkenal anak yang cool dan bodo amat. Jangan bikin image aku yang kayak gitu hilang. Yayaya?” kata Asyila dengan tatapan memohonnya.
“Masih suka stalking mantan kamu juga? bukannya kamu diselingkuhin? memangnya masih kurang rasa sakitnya?” Lagi-lagi kejujuran Reina membuat Asyila diam. Untung saat ini suasana kantin sangat sepi, jadi Asyila bisa bernafas dengan lega untuk saat ini.
“Besok nggak lagi deh, nggak mau ngestalkingin orang ataupun mantan. Kapok aku denger ucapan jujur kamu yang kelewatan jujur,” kata Asyila.
Satu hal yang menjadi alasan Asyila masih bertahan berteman hingga menjadi sahabat dengan Reina.
Kejujuran Reina serta cara bicaranya yang memang tidak pernah dibuat-buat itu, meski mengesalkan tapi malah membuat Asyila nyaman berteman dengan Reina.
“Oh ternyata masih. Padahal aku cuman nanya, bukan nebak.” Untuk ucapan Reina yang satu itu, Asyila rasanya ingin menangis.
Boleh tidak Asyila tampar muka temannya saat ini, atau kalau perlu dia akan menjedotkan kepalanya ke meja. Bicara dengan Reina kayaknya nggak ada yang sanggup menang.
...*****...
“Ayah.”
“Aayah.”
__ADS_1
“Aaayahhh.”
Elisa berkali-kali memanggil ayahnya dengan nada manja yang sudah menjadi hal biasa bagi dirinya saat berbicara dengan ayahnya.
Harry yang sedang sibuk menelepon dengan salah satu rekan bisnisnya, ia cepat-cepat menyelesaikan acara negosiasi itu. Seakan tahu betul jika anaknya sangat tidak suka saat diabaikan.
“Ayah, kenapa dari tadi nggak jawab saat Elisa panggil. Elisa jadi kesal karena ayah abaikan panggilan Elisa,” ungkap Elisa yang langsung menggembungkan pipinya tanda sedang kesal.
“Maaf, sayang. Kamu tahu 'kan kalau ayah sedang bicara dengan salah satu rekan bisnis,” jelas Harry tapi sepertinya Elisa tidak peduli.
“Kenapa kita harus peduli sama mereka? karena biasanya meski kita tidak merespon dengan baik atau bersikap mengabaikan mereka. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Justru karena mereka membutuhkan kita, jadi untuk apa terlalu mempedulikan mereka.”
Perkataan Elisa yang terdengar semena-mena itu, tapi justru dianggap Harry sebagai sikap labil Elisa yang biasa. Ia tidak pernah memarahi Elisa, sekalipun dia berbuat salah. Hanya kata-kata lembut dan bujukan untuk Elisa yang Harry keluarkan.
“Tidak seperti itu sayang, kamu tahu 'kan jika kini perusahaan kita mengalami cukup tinggi penurunan. Tidak seperti perusahaan kita dulu, Ayah juga sedang khawatir dengan perusahaan karena Kakak kamu justru malah sibuk dengan pacarnya.”
Elisa mengabaikan itu, ia segera memeluk ayahnya dan bersikap manja. Walau tidak anak-anak lagi dan sudah dewasa, tapi sifat manja Elisa tidak pernah berubah sedikitpun. “Ayah, Elisa melihat tuan Erland.”
Dan Elisa dengan semangat mengangguk seakan ia sangat yakin jika apa yang ia lihat saat itu memang Erland.
“Elisa sangat yakin jika itu memang tuan Erland,” yakin Elisa dengan tatapan tajamnya. Ia ingat jika Erland justru tidak mengingat dirinya.
“Lalu dimana dia sekarang?” tanya Harry langsung.
“Ayah, ayah tahu 'kan kalau Elisa sangat mencintai tuan Erland. Sejak kecil, saat kakek masih hidup, saat itu Elisa berusia 8 tahun dan tuan Erland berusia 13 tahun. Meski Elisa masih kecil saat itu, tapi Elisa rasa Elisa sudah menyukai tuan Erland sejak kecil, bahkan bisa dikatakan jika itu cinta pada pandangan pertama.”
Tanpa malu-malu Elisa mengungkapkan isi hatinya, ia yang paling dekat dengan ayahnya dan sangat sering dimanjakan. Membuat Elisa kadang sering bersikap semena-mena.
“Tapi ayah, Elisa merasa sakit hati. Karena ternyata tuan Erland lupa dengan Elisa. Dia mengalami amnesia dan melupakan Elisa.” Tetesan air mata yang hanya sebuah air mata palsu, itu berhasil membuat Harry khawatir.
__ADS_1
“Kenapa bisa?”
“Ayah bukannya tahu jika waktu itu Tuan Erland menghilang. Dan orang yang menyelamatkan Tuan Erland itu bukan orang yang baik, ia sepertinya berniat memanfaatkan Tuan Erland yang sedang lupa ingatan!”
“Jadi apa yang bisa ayah bantu?”
“Tolong kirim anak buah kita ayah, kirim mereka pada perempuan itu sebagai sebuah ancaman,” pinta Elisa yang terdengar berharap.
“Tidak mungkin sayang, itu bukan sifat keluarga kita. Lagipula, kita bisa menuntut orang yang memanfaatkan tuan Erland itu.”
Harry adalah orang yang baik, ia tidak seperti orang tamak dan rakus akan harta. Ia masih memegang teguh nilai moral yang diajarkan oleh keluarganya secara turun temurun. Nilai kebaikan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang bijaksana.
“Elisa tidak berniat meminta ayah untuk menyakiti wanita itu. Cukup kirim anak buah kita itu untuk mengancamnya saja. Tolong ya ayah ..., Elisa mohon ...,” pinta Elisa dengan tatapan memohon yang sulit untuk Harry tolak.
“Baiklah.”
...*****...
Malam harinya.
“Tidak bisa nona, itu tidak mungkin kami lakukan!”
“Memangnya kamu siapa berani melawan perintah dari tuan kamu sendiri? apa kamu ingin menjadi seorang gelandang? cukup kalian jalankan saja perintah yang saya berikan, atau kalian akan saya usir saat ini juga?!” tegas seorang wanita dengan nada kesalnya karena sangat sulit sekali dalam membujuk para bawahannya itu.
“Tapi jelas-jelas tuan Harry hanya meminta kami ke sana sebagai peringatan saja. Beliau tidak meminta kami untuk melakukan apapun di sana.” Salah satu bawahan yang lainnya ikut berpendapat, hingga saat itu juga Elisa merasa kesal dan marah.
“Saya juga tuan kamu! bukan cuman ayah saya! jadi kamu cukup turuti perintah saya tanpa harus membantah!” kesal Elisa yang langsung pergi begitu saja. Ia membiarkan kebingungan dan ketakutan dalam pemikiran para bawahan itu.
#####
__ADS_1
untuk hari ini segini dulu.
Besok akan diusahakan up double.