
Erland yang kurang lebih sudah tidak sadarkan diri selama seminggu itu, ia kini tersadar. Dan kalimat pertama yang Erland katakan saat ia sadar adalah, ”Mana istriku?” pertanyaan Erland yang tentu saja membuat Daniel yang selalu menjaganya terheran.
“Tuan apa amnesia yang Anda alami itu semakin parah?” tanya Daniel heran. Istriku? sejak kapan tuannya itu pernah menikah? laki-laki itu saja tidak pernah menikah sekalipun. Jika ada kekasih, tentu itu adalah Elisa, tunangannya yang selama ini telah di pilih oleh keluarganya.
“Istriku, Reina.”
Daniel diam, ia sepertinya mengingat dengan nama itu. Reina, bukankah itu nama wanita yang berhasil menyelamatkan tuannya? mengapa justru tuannya menganggap Reina istrinya?
Daniel tahu, jika Erland sedang mengalami amnesia sebagian, hingga ia lupa akan identitasnya sendiri. Dan saat itu, Reina dianggap Erland sebagai ibunya, tapi kini justru tuannya menganggap Reina sebagai istrinya?
Tuan, apa Anda mengigau? atau apa Anda masih di alam mimpi? mungkin itu yang ingin Daniel katakan karena saking bingungnya ia saat ini.
Sayangnya Daniel tidak berani mengatakan itu.
Jangan katakan jika amnesia tuannya ini semakin parah. Daniel yang memikirkan itu rasanya ingin segera memanggil dokter keluarga Samoni.
“Jangan khawatirkan hal yang tidak perlu!” kata Erland dengan nama khasnya itu.
Mendengar itu, Daniel sempat tertegun sejenak, ia menatap Erland dengan tatapan tak percayanya itu. Ini adalah nada suara yang sering Daniel dengar sejak dulu, kata dan kalimat tegas yang terkesan memiliki khasnya sendiri, ini adalah tuan Erland, tuan yang ia kenal sejak dulu.
“Tuan, apa Anda sudah mengingat saya?” tanya Daniel dengan wajah sumringahnya. Wajah yang terlihat sangat senang saat membayangkan jika tuannya telah mengingat dirinya.
“Apa-apaan dengan wajah bodoh kamu itu!” kata khas yang selalu berhasil menohok, tapi meski begitu Daniel tidak pernah tersinggung.
“Tuan, ini benar-benar Anda.” Saking senangnya Daniel merasa ia ingin berteriak.
“Jangan bertingkah seperti orang bodoh! bukankah sudah aku katakan?” datar Erland. Tatapan mata dingin yang acuh itu terlihat, sangat berbeda sekali dengan tatapan polos yang sering Reina lihat.
“Tuan, apa Anda benar-benar telah mengingat semuanya. Ya Tuhan, syukurlah.” Berbeda jika dengan Erland dan Barrack yang acuh, Daniel justru tipe orang yang cukup aktif dan mudah mengekspresikan perasaannya.
“Dimana istriku?” tanya Erland lagi.
__ADS_1
“Tuan Anda belum menikah, jadi bagaimana bisa Anda memiliki seorang istri.”
“Aku tahu, tapi sebentar lagi dia akan menjadi istriku.” Tatapan yakin dan tegas mulai terlihat, seolah kini Erland telah mengambil keputusan untuk menjadikan Reina sebagai istrinya.
Berbeda jika dengan para bawahannya yang lain, Erland akan berkata informal jika sedang bersama dengan Daniel dan Barrack. Hanya saja wajahnya yang datar dan acuh itu tidak pernah berubah sama sekali.
“Tuan, bukankah Anda ingat jika keluarga Samoni dan keluarga Young memiliki perjanjian pernikahan. Dan sebagai anak satu-satunya yang diakui, Anda harus menikah dengan keturunan keluarga Young.”
Mendengar ucapan Daniel yang seolah sedang mengingatkan itu. Justru tidak membuat Erland menyerah dengan keinginannya itu.
“Siapa yang berani untuk menentukan pilihanku? ini adalah jalan yang akan aku ambil. Karena siapapun tidak berhak untuk mengambil keputusan untukku!” tatapan tegas yang seakan tidak ingin dibantah Erland tunjukkan.
Daniel ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi sadar jika suasana hati Erland menjadi tidak baik setelah mendengar ucapannya tadi. Akhirnya, ia memilih untuk diam dan bungkam.
“Keputusanku adalah milikku, pilihanku adalah hal yang mutlak!” tegas Erland yang memang sosok yang sangat keras kepala.
...*****...
Orang-orang yang masuk klub itu kebanyakan adalah laki-laki dan para orang kaya, tapi Reina masih tidak menduga, jika mereka cukup fanatik padanya.
“Ayolah Reina, bolehkan kita berfoto? sekali saja, setelah ini aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi,” kata seorang pria tampan.
Memang tampan laki-laki itu, tapi sikap fanatiknya yang biasanya dimiliki oleh penggemar perempuan, seakan tidak pas jika laki-laki itu miliki.
“Tidak!” tegas Reina lagi.
Berharap dengan sikapnya yang terkesan sombong dan acuh ini, akan membuat orang-orang itu bisa berhenti untuk mengejar dirinya. Tapi bukannya pergi, para orang itu malah semakin tertantang. Apalagi kini tidak ada orang yang mengikuti Reina layaknya seorang bodyguard.
Erland.
Entah kenapa keberadaan laki-laki itu baru Reina sadari jika itu sangat membantu dirinya. Laki-laki tampan yang seakan membuat para laki-laki merasa minder untuk bersaing dengan dirinya.
__ADS_1
Jangankan bersaing, saat melihat betapa tinggi dan sempurnanya tubuh laki-laki itu, seakan bisa membuat laki-laki lain takut untuk bersaing. Bagi para laki-laki, wajah serius Erland yang akan selalu menatap orang yang melihat ke arah Reina, itu terlihat menyeramkan. Tapi, anehnya bagi para perempuan itu terasa menggemaskan dan terlihat sangat sweet.
“Sekali saja, jika sudah mendapatkan foto ini, kami tidak akan mengganggu kamu lagi.” Para laki-laki yang berjumlah tiga orang itu tetap berani untuk mengatakan itu.
Aneh memang, jika mereka justru merasa tertarik dan tertantang dengan sikap acuh dan dingin Reina yang khas. Prinsip orang-orang itu, mereka harus mendapatkan apa yang mereka mau. Jadi jika tidak bisa mendapatkan nomor ponsel Reina, mereka akan memaksa Reina untuk berfoto.
“Kalian gila ya? sudah saya katakan saya tidak suka berfoto. Tolong jangan ganggu saya, saya masih ingin waras.”
Setelahnya Reina langsung bangkit dan pergi menuju ruangannya berada. Jika ditanya kenapa para laki-laki itu tidak berbuat nekat? mana ada yang berani. Sudah menjadi rahasia umum jika Si cantik itu sangat jago dalam bela diri, bahkan mendapatkan banyak sekali penghargaa.
Karena kepintarannya Reina itu, para laki-laki itu terus mengejar Reina, bukan hanya karena tertarik, tapi itu karena perintah dari orang tua mereka juga. Para orang tua itu tahu jika otak pintar Reina bisa mereka manfaatkan, tapi sayangnya tidak semudah itu mereka untuk bisa mendapatkan Reina.
...*****...
“Tuan,” panggil Riska lagi yang melihat Harry hanya diam. “Apa ada sesuatu hal yang kini mengganggu Anda?” tanya Riska lagi.
Harry yang sering melamun akhir-akhir ini, tentu saja membuat Riska yang merupakan bawahan sekaligus sahabat dari Harry itu khawatir.
Tidak pernah Riska melihat wajah dari Harry yang semurung ini, laki-laki itu terus saja melamun dan melamun.
“Tidak ada!” jawab Harry langsung.
“Tolong cerita pada saya jika memang memiliki masalah, jika tidak bisa sebagai bawahan, Anda bisa mengatakan itu sebagai teman.”
“Tapi kini kita sedang dalam suasana yang tak bisa disebut sebagai teman? bukankah harusnya kamu bekerja? jadi kamu jangan terlalu mencampuri urusan atasan kamu ini!” Entah kenapa, akhir-akhir ini Harry rasanya tidak bisa mengontrol emosinya. Dirinya yang biasanya sangat tenang seakan bisa menjadi seorang pemarah.
“Maaf Riska, saya ingin sendiri.”
“Baik tuan, maafkan saya juga jika memang saya sangat mengganggu Anda. Kalau begitu saya akan mengerjakan tugas yang lain.”
Keluarga? bukankah itu yang Harry pertahankan hingga sekarang. Tapi keluarga yang ingin untuk dilindungi rasanya tidak ada, orang-orang yang ia anggap keluarga justru bersikap asing padanya. Karena mereka hanya akan mendekati Harry saat mereka membutuhkan sesuatu pada Harry. Kini, Harry sadar jika keluarga yang ingin ia lindungi kebahagiaannya itu seakan tidak ada.
__ADS_1
Apakah ini karma untuk dirinya karena telah menelantarkan anaknya?