
Akh!! tidak mungkin! ini pasti tidak benar!” marah Arga saat itu. Arga yang saat itu baru saja datang langsung disambut oleh para wartawan di depan rumahnya. Skandal tentang dirinya yang seringnya berganti pasangan menjadi topik hangat saat ini. Ia yang merupakan calon pewaris di keluarganya, bisa saja perusahaan yang harusnya diberikan padanya justru akan teralihkan pada adik sepupunya karena skandal itu.
Apalagi, karirnya yang baru saja di mulai di dunia entertainment sebagai aktor harus terancam hancur.
“Nggak mungkin 'kan kalau ini karena laki-laki itu? sialan! apa yang sudah aku lakukan hingga membuat orang yang menakutkan itu tersinggung?”
Arga dengan penuh rasa takut dan khawatir, ia berusaha mencari Erland. Mencari apapun yang mungkin berhubungan dengan Erland.
Bagaimanapun caranya Arga akan meminta maaf, dan bagaimanapun caranya ia akan melakukan apapun agar laki-laki yang bernama Erland itu bisa memaafkannya. Itu Arga lakukan agar apa yang harusnya menjadi miliknya tetap jadi miliknya.
Hanya saja, sepertinya Erland sengaja membuatnya kesulitan. Koneksi yang Arga punya seakan sengaja untuk ditutup aksesnya begitu saja.
“Sialan!”
...*****...
“Mah.”
“Iya kenapa?” tanya Reina yang tetap fokus pada aktivitasnya saat ini. Reina fokus untuk menata makanan di atas meja.
“Hari ini Mamah tidak bekerja?” tanya Erland.
“Tidak!” jawab Reina yang langsung duduk di tempatnya.
“Tidak kuliah?”
“Tidak!” jawab Reina lagi.
“Hari ini 'kan tidak ada jadwal untuk kuliah. Kalau masalah kerja, aku memang sedang tidak ingin bekerja hari ini. Lagipula ada orang lain yang akan menggantikan aku di tempat kerja.” Penjelasan Reina dijawab anggukan semangat dari Erland.
“Mamah ingin menemani Erland? bisakah kita jalan-jalan berdua? hari ini saja, please ya?”
Permohonan dengan tatapan polos dan penuh harap itu, seakan tidak bisa untuk Reina tolak saat itu. “Apa ada yang ingin kamu kunjungi saat ini?” tanya Reina langsung.
“Apa ada sebuah perpustakaan yang tersedia? atau apakah ada toko buku di sekitar sini?” tanya Erland menatap Reina.
__ADS_1
“Kamu ingin kita ke toko buku?” tanya Reina yang langsung diangguki oleh Erland dengan semangat.
Mengingat toko buku, Reina itu sangat menyukai buku, banyak buku yang sering ia baca. Sekalinya membaca buku, bisa sampai berjam-jam waktunya ia habiskan. Maka itu, semenjak kuliah sambil bekerja, waktu membaca buku menjadi sangat sedikit, hampir kadang-kadang Reina baca buku.
...*****...
“Apa ada buku yang ingin kamu beli?” tanya Reina pada Erland yang kini melihat buku-buku.
“Tidak ada!”
“Terus kenapa kamu ingin ke sini?”
“Mamah suka baca buku 'kan? Erland sering sekali melihat Mamah selalu lupa waktu jika sudah baca buku. Sekarang Erland akan bertanya, apa ada buku yang ingin Mamah beli?”
“Memang kamu punya uang untuk membelinya?” tanya Reina dengan tatapan yang untuk pertama kalinya berniat meledek dan bercanda.
“Tidak! tapi Erland akan berusaha mencari uang untuk Mamah yang banyak. Jika itu memang diperlukan,” kata Erland dengan disertai tatapan yakin.
“Ini sepertinya cocok,” kata Erland yang langsung mengambil sebuah buku.
Untuk sejenak Reina diam, kenapa Erland seolah tahu dan paham tentang dirinya. Laki-laki itu tahu apa yang Reina sukai, dan apa yang tidak Reina sukai. Lalu, Erland juga sering mengingatkan Reina apa yang boleh ia makan dan apa yang tidak boleh dimakan oleh Reina. Seakan laki-laki itu sangat perhatian pada Reina.
Tapi, apa semua perhatian itu hanya perasaannya saja?
...*****...
“Tuan, jika memang Anda ada masalah. Jangan selalu memendam masalah itu sendiri. Ada kalanya Anda berbagi Masalah dengan saya, saya tidak akan merasa keberatan jika memang Anda ingin bercerita pada saya. Tolong jangan membuat saya sebagai teman merasa sedih,” kata Riska.
Beberapa hari ini, Harry semakin murung. Banyak hal yang seolah Harry pikirkan, dari mulai masalah keluarga kecilnya yang tidak pernah bisa menjadi keluarga yang ia harapkan.
Kesibukan mereka seakan membuat Harry merasa sedih, ditambah lagi dengan hati Harry yang terus merasa gelisah padahal ia sudah berusaha untuk memastikan jika Alisa adalah anak kandung yang ia telantarkan.
“Aku merasa curiga dengan anak bernama Alisa,” kata Harry yang akhirnya bercerita.
“Anda curiga kenapa? dan siapa anak yang bernama Alisa itu? saya baru mendengarnya.”
__ADS_1
“Itu Anakku, anak yang telah aku telantarkan waktu itu. Seharusnya dia hidup bahagia dengan kasih sayang dari ayah kandungnya, tapi justru aku malah menelantarkan dirinya.” Perkataan Harry langsung dicerna oleh Riska.
“Lalu, apa yang membuat wajah Anda masih saja gelisah dan khawatir. Apa ada masalah yang lain?”
Riska sangat peka, selain cekatan dan pandai. Ia juga sangat pengertian dan paham dalam melihat situasi.
“Saat itu, aku merasa curiga jika anak bernama Alisa itu bukan anak kandungku. Maka itu, aku dengan nekat melakukan tes DNA. Sejak awal aku sudah berfikir jika aku ini tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih. Karena, aku malah mencurigai laki-laki yang telah merawat anakku.”
“Jadi hasilnya apakah Alisa bukan anak Anda?” tanya Riska pada akhirnya.
“Dia anakku. Aku telah melakukan tes DNA dan hasil menunjukkan jika kami ayah dan anak.” Saat itu, Harry diam-diam melakukan tes DNA demi memastikan jika Alisa anak kandungnya atau bukan.
Meski hasilnya Alisa anaknya, rasa gelisah dan khawatir tetap terus menghantuinya. Hingga hari berfikir, jika rasa itu adalah agar dirinya semakin memperlakukan Alisa dengan baik lagi.
...*****...
“Bukankah sangat tidak tahu malu mempermalukan ayah kamu sendiri di depan ayah palsu kamu,” kata Jack saat melihat Alisa memasuki rumahnya.
“Maksud Ayah apa?” tanya Alisa yang tiba-tiba saja dipanggil oleh Jack untuk datang. Sebenarnya Alisa bisa saja menolak itu, tapi ancaman dari Jack saat itu membuatnya takut.
“Heh, kamu pikir kamu itu anak kandungnya tuan Harry? apa kamu tidak melihat dari segi penampilan saja, kalian tidak ada kemiripannya sama sekali?!”
“Tolong jangan berbelit-belit dalam berkata, saya di sini menghormati Anda karena jasa Anda yang telah membesarkan saya,” masih dengan berfikir jika dirinya anak kandung Harry, hingga Jack yang mendengar itu langsung tersenyum meledek.
Ternyata ini anaknya, anak yang dengan tega bisa saja memfitnahnya demi keuntungan pribadi. Tidak salah jika dirinya telah membuang hati nuraninya demi kekayaan. Itulah yang Jack pikirkan saat itu.
Karena kini, Jack berfikir jika keputusannya untuk mengorbankan anaknya demi tujuannya yang tidak jauh dari harta, adalah keputusan yang benar.
Tanpa berkata apapun, Jack langsung melempar 'kan dua lembar kertas tes DNA. Yang satu asli, dan yang satu adalah hasil kelicikannya Jack.
“Tuan Harry curiga jika kamu bukan anaknya, dan untungnya saat itu aku tidak lengah dan segera mencari informasi tentang dirinya.”
Penjelasan Jack itu membuat Alisa tak percaya.
“Jadi aku bukan anak kandungnya? lalu siapa yang anak kandungnya tuan Harry?”
__ADS_1
“Reina dia anak kandungnya tuan Harry, bukankah ada kemiripan dari wajah mereka berdua? ingat! yang harus kamu lakukan sekarang adalah menurut pada perintah ayah kamu ini!”