Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Demi Reina


__ADS_3

Keesokan harinya saat tengah malam.


Kini Reina dan Erland hanya diam saat anak buah yang berjumlah banyak dengan memakai senjata sedang menatap ke arah mereka berdua, seolah Reina dan Erland adalah mangsa yang sedang mereka buru saat ini.


“Hahaha, sudahlah menyerah saja.”


Seorang ketua dari pasukan itu berbicara, mata dari ketua itu ditutup sebelah, seakan menandakan jika mata kanan orang itu buta sebelah.


Tampilan sangar dari ketua itu bisa membuat orang yang melihatnya ketakutan, luka-luka yang banyak dan bermunculan di wajah ketua itu terlihat sangat dalam dan sedikit menyeramkan.


Reina dan Erland yang kini hanya diam, mereka tidak bergerak sama sekali. Di sisi mereka adalah jurang yang tidak diketahui seberapa dalamnya. Dan di depan mereka kini, Daniel dengan berani berdiri sendirian.


Tidak ada wajah ataupun ekspresi takut dari lelaki itu, seakan ia siap jika detik ini juga dirinya akan mati. Demi Sang tuan yang sudah tumbuh bersama dengan dirinya, demi orang yang sangat ia hormati itu, dan demi orang yang mengajarkan dirinya kuat.


Erland adalah orang yang menjadi alasan Daniel untuk kuat dan tetap bertahan hidup. Sekalipun laki-laki itu berlidah tajam, tapi perkataannya itu sungguh sangat memotivasi dirinya.


Entah seberapa jauh Daniel sangat mengagumi dan menghormati sosok Erland, hanya dia sendirilah yang tahu akan hal itu.


“Tuan, Anda tidak perlu untuk merasa takut, anak buah kita sedang berjalan ke sini, jadi Anda tidak perlu khawatir akan hal itu. Anda bisa tenang dan melindungi kekasih Anda dengan aman.” Dengan nada yang terlihat yakin dan menenangkan Daniel berkata dengan tegas dan cukup lantang.


Kedua tangan Daniel ia todongan ke depan dengan senjata yang berada ditangannya. Senjata api yang memiliki kecepatan sepuluh kali lipat dari senjata api biasa itu, seakan berhasil menggertak sebagian orang yang ada dihadapan mereka ini.


Daniel secara tidak langsung menjadi tameng untuk Erland dan Reina, ia menggunakan senjatanya itu untuk mengancam orang yang menjadi musuh dari mereka saat ini.


“Oh, kasih sayang yang mengharukan antara tuan dan majikan. Sungguh hal yang sangat membuat orang terharu saat melihatnya,” si ketua berwajah sangar dan menyeramkan ini berkata.


Wajah Si ketua itu terekspos, berbeda dengan anak buah yang tidak ingin menunjukkan wajah mereka sama sekali.


“Aku ingat sekali, saat itu tiga kelompok terkuat dari mafia Black Lion sudah melukai tuan kamu itu.”


Black Lion, adalah nama dari organisasi mafia milik Hans. Organisasi terbesar di Australia itu memiliki ratusan kelompok, setiap kelompok itu memiliki puluhan bahkan ratusan anak anak buah.

__ADS_1


Semakin sedikit anak buah dalam setiap kelompok, maka semakin kuat dan penting mereka dalam organisasi mafia Black Lion.


“Kamu tahu? tiga kelompok anak buah Black Lion telah berhasil membuat tuan kamu terluka sangat parah. Bahkan mungkin tuan kamu bisa saja mati saat itu jika tidak ada yang menyelamatkannya.”


Padahal mereka sengaja meninggalkan Erland di tempat yang sepi dan kumuh, itu tak lain agar tidak ada yang berani mendekati tempat itu. Nyatanya, Erland tetap selamat.


Perkataan si ketua itu terdengar menyombongkan, ia kini seolah sedang bercerita tentang alasan di mana Erland terlihat terbaring di jalan dengan berlumuran darah.


Beruntungnya Reina menemukan Erland saat itu.


“Benar-benar tidak menyangka! Si Singa gila itu ternyata masih bisa hidup hingga sekarang. Tapi tak apa, nanti juga kami akan membunuhnya sesuai yang tuan kami inginkan.” Setelahnya si ketua itu tertawa, walau saat itu ia perlu 3 kelompok terkuat yang ada di organisasi black Lion hanya untuk mengalahkan Erland yang seperti singa.


Tapi ketua itu yakin dengan hanya kelompoknya saja, kelompok terkuat ketiga, ia bisa membunuh Erland dan anak buahnya itu. Karena kini Erland sedang terpojok bersama dengan Reina.


“Maksud kamu apa?” tanya Daniel dengan tatapan yang terdengar menantang.


“Hahaha, karena kalian akan mati, baiklah akan aku ceritakan saat ini juga. Kamu tahu black Lion sangat membenci tuan Erland Samoni? ah! lebih tepatnya tuan kami sangat membenci beliau, dia sangat membenci tuan Erland melebihi hidupnya sendiri. Hingga saat itu, tuan kami tanpa peduli mengirimkan tiga pasukan terbaiknya hanya untuk membunuh tuan Erland. Kamu tahu berapa jumlah orang-orang itu?” tanya Si ketua itu, meski Daniel terlihat marah dan bisa saja membunuh dirinya.


Tapi si ketua itu telah memiliki pengalaman dalam bunuh membunuh. Luka yang ada diwajahnya kini menjadi saksi betapa sadis hidupnya.


Tiga tembakan melesat ke udara, seakan Daniel ingin mengatakan jika itu bentuk peringatan dari dirinya. “Katakan!” teriak Daniel yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Hingga saking marahnya Daniel saat tahu tuannya mengalami hal seperti itu, wajahnya kini bahkan memerah layaknya kepiting rebus yang sudah sangat matang.


Dada Daniel terlihat naik turun dengan emosi yang jelas diwajahnya itu. “Jangan terhasut! kamu harus tenang!” Reina yang dari tadi hanya diam saja, ia mulai memperingati Daniel bahwa dirinya harus tenang saat ini.


Daniel yang sadar akan hal itu, ia lantas berusaha untuk mengatur emosinya saat ini.


“Tuan kamu telah kami siksa dengan sadis. Kamu tahu 'kan jika mafia Black Lion setiap kelompok memiliki puluhan bahkan ratusan orang? bisa kamu bayangkan berapa sadisnya kami saat itu hingga dia seperti tak bernafas?”


“Sialan!” maki Daniel yang rasanya ia ingin sekali menerjang laki-laki yang kini sedang berbicara itu.


Sayangnya Daniel tidak bisa marah, ia kini harus tetap tenang, karena semarah apapun itu, Daniel tetap harus berusaha untuk pandai mengontrol emosinya dengan baik.

__ADS_1


“Terlalu pengecut!” tiba-tiba Reina yang berkata langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


Pasukan terkuat yang ketiga itu, dinamakan Black three, mereka kurang lebih 30 pasukan. Semakin kuat pasukan maka semakin sedikit orangnya. Hanya saja, kekuatan mereka itu bukan kekuatan yang main-main.


“Hey anak kecil? bagaimana rasa kamu? sepertinya itu akan terasa sangat lezat!” kata ketua itu dengan wajah yang terlihat mesum.


Reina sangat tidak menyukai itu. Apakah memang para anggota dari mafia itu memiliki sifat seburuk itu? hingga ketuanya saja atau lebih tepatnya itu, setiap pemimpin kelompok selalu memiliki tatapan mesum.


“Kakek tua! Anda harus ingat umur. Bukankah Anda sudah memiliki cucu? jadi tolong perhatikan kondisi Anda lebih baik.” Benar-benar kata-kata tajam yang tanpa takut.


Joni, ketua kelompok black three itu sangat marah. Ia memang sudah tua, sekitar berkepala 5. Tapi ia rasa ia tidak setua itu, ia tinggi besar dan kekar.


“Hahaha, lucu sekali cantik. Kamu terlihat semakin cantik saat mengatakan itu!” meski marah, si ketua itu tahu jika mereka kini sedang diprovokasi, maka itu ia berusaha untuk tidak terprovokasi.


“Oh ya? tapi kenapa Anda terlihat semakin tua? bahkan bau tidak enak dari tubuh Anda sampai hingga ke sini. Mungkinkah jika Anda tidak pernah mandi?” tanya Reina dengan tatapan acuh yang terlihat dingin lagi.


“Jangan lupa mandi! tubuh Anda sangat bau!”


Perkataan Reina yang semakin tajam itu, seakan tidak bisa mendapat toleransi lagi dari Joni.


Joni benar-benar marah dan rasanya ia ingin mencabik tubuh Reina. Tidak peduli Reina akan hidup atau mati, Joni rasa ia harus mendapatkan wanita itu.


Wanita yang dengan berani dan tanpa takut merendahkan dirinya. Joni tidak pernah diperlakukan serendah ini.


“Tangkap wanita itu, hidup atau mati aku ingin dia!”


Crap


Tanpa diduga, tangan Reina langsung ditarik oleh seseorang dari belakang, dan ternyata orang itu adalah Erland. Dengan segera Erland memeluk Reina dan mereka terjun ke jurang saat itu juga.


“Tuan!” teriak Daniel saat melihat hal itu. Ia dengan mematung terlihat tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

__ADS_1


__ADS_2