
Malam harinya.
Reina yang telah memakai pakaian tidur miliknya. Ia berniat untuk tidur di sofa hari ini. Kos-kosan milik Reina hanya memiliki satu buah kamar. Jadi itu sudah hal yang pasti bagi Reina untuk mengalah dan membiarkan Erland tidur dikamarnya.
Jika pemikiran laki-laki itu tidak berada saat berusia 5 tahun, mungkin Reina akan menyuruh laki-laki itu untuk tidur diluar. Reina tidak akan mengalah dan tidur diluar jika bukan karena Erland sedang amnesia.
...........
Beberapa menit Reina terbaring di sofa panjang. Ia mulai merasakan jika tubuhnya sedang diangkat oleh seseorang. Tak lama tubuhnya itu seperti ditaruh di kasur yang tak lain kamarnya sendiri.
“Mamah bangun?” tanya Erland dengan nada polosnya saat melihat jika Reina langsung membuka mata dan menatapnya.
“Jadi yang selama ini memindahkan saya dari sofa itu kamu?” tanya Reina yang diangguki polos oleh Erland.
Biasanya saat Reina tidur di sofa, saat bangun ia sudah berada di kasur yang ada di kamarnya itu. Reina juga sempat berfikir jika mungkin saja dirinya yang mengigau. Tapi ternyata memang Erland yang memindahkannya.
“Erland tidak ingin tidur sendiri Mah. Erland hanya ingin bersama dengan Mamah. Tolong Mamah di sini hari ini.”
Meski setiap bangun Reina memang selalu berada dikamarnya, yang menandakan jika setiap hari ia berada di kamar yang sama dengan Erland. Tapi kini secara sadar Reina berada dikamarnya, dan tidak sendirian tapi ada Erland juga.
“Baiklah.”
Reina berani mengambil keputusan itu karena tahu betul jika tidak ada sesuatu hal yang terjadi. Pemikiran laki-laki yang ada dihadapannya kini, membuat Reina yakin jika tidak akan ada hal yang tidak diinginkan.
“Mah, apa Mamah belum tidur?” tanya Erland yang terlihat menatap dinding kamarnya.
Reina yang awalnya berusaha memejamkan sedikit matanya. Ia langsung membuka matanya, tidak ada suara ataupun perkataan yang Reina keluarkan.
“Erland merasa aneh.”
Perkataan pertama yang Erland ucapkan adalah sebuah kebingungan yang sepertinya ingin sekali ia ungkapkan. “Saat usia Erland empat tahun, Erland sangat ingat jika tubuh Erland itu kecil. Tapi saat ini, saat Erland melihat penampilan Erland di cermin. Kenapa wujud orang dewasa yang terlihat muncul?”
Pandangan Erland diarahkan pada Reina. Terlihat jelas jika laki-laki itu merasa sangat kebingungan, ia merasa jika ada sesuatu hal yang ia lupakan. Tapi apa itu? Erland bahkan tidak bisa mengingatnya meski ia sudah berusaha berkali-kali.
“Saat itu, Mamah' yang Erland ingat jauh lebih tinggi dan besar dari Erland. Tapi kenapa sekarang justru Erland yang terlihat besar dan lebih tinggi?”
__ADS_1
Lagi-lagi pertanyaan itu hanya dijawab sebuah kebungkaman dari Reina. Ia tidak tahu harus berkata apa. Apa perlu dirinya mengatakan pada orang yang amnesia jika dirinya itu mengalami amnesia?
“Tidurlah,” kata dingin Reina, menjadi akhir dari pembicaraan itu semua. Reina berbaring, dan berniat membelakangi Erland.
“Mah, boleh Erland memeluk Mamah?”
Reina diam sejenak, sedikit berfikir dan menimang. Haruskah dirinya menerima pelukan dari laki-laki amnesia itu saat ini? kenapa juga kini ia merasa tak bisa menolak permintaan laki-laki itu.
Tatapan itu, tatapan memohon yang Erland perlihatkan pada Reina membuat Reina lemah.
“Silahkan!” Entah kenapa Reina mengizinkan itu, tapi ia yakin jika tidak akan terjadi apa-apa saat ini.
...***...
Terlihat anak kecil berusia 4 tahun yang sedang memeluk kakinya. Ia menatap ke arah dinding dengan ekspresi wajah yang terlihat murung.
Tak lama, masuk seorang wanita. Wanita berbadan tinggi dengan proposal bentuk tubuh yang ramping dan cukup ideal. Langkahnya yang terlihat berani, seakan membuat ia terlihat sombong.
“Sudah tahu kesalahan kamu?” tanya wanita itu dengan amat dingin dan terkesan acuh. Wajah wanita itu tidak bisa dilihat jelas dalam suasana lampu yang sangat temaram. Tapi ekspresi acuh dan dinginnya itu seakan bisa terlihat jelas meski bentuk wajahnya tidak terlihat secara jelas.
“Kamu adalah anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya oleh siapapun! kehadiran kamu juga hanya sebuah benalu. Bahkan ayah kamu sendiri tidak menginginkan kamu!”
“Nanti kamu tinggallah bersama ayah kamu itu! jangan denganku! hidupku sudah cukup miskin dan tidak perlu ada kamu di sini!”
...........
Erland terlihat gelisah, ia kini sampai berkeringat dengan sangat banyak. Reina yang memeluk Erland menjadi terbangun dari tidurnya saat merasakan jika sekujur tubuh Erland basah karena keringat.
“Hey bangunlah!”
Sentakan Reina membuat Erland tersadar.
Erland yang tersadar hanya diam dan menatap ke arah Reina, tapi kemudian ia memeluk Reina dengan erat. Hingga Reina merasa jika dirinya sesak karena pelukan itu.
“Kamu ingin aku mati?” tanya dingin Reina langsung membuat Erland melonggarkan pelukannya itu.
__ADS_1
“Tidak, Erland tidak ingin hal itu terjadi pada Mamah. Tidak akan pernah!” tegas Erland yang tidak suka dengan perkataan Reina.
Reina mengabaikan itu, ia yang tiba-tiba merasa haus langsung bangkit dari tidur dan hendak mengambil air minum, tapi nyatanya Erland menahannya.
“Jangan tinggalkan Erland sendiri.”
“Saya akan keluar dan mengambil air minum untuk kamu!” alasan Reina agar Erland mengizinkannya keluar. “Sekalian saya juga haus, jadi kamu cukup tunggu di sini!” perintah Reina yang diangguki Erland dengan patuh.
...*****...
Hari ini, Reina memiliki jadwal kuliah siang. Ia datang ke tempatnya kuliah lebih awal karena sahabatnya Asyila memiliki jadwal yang lebih cepat.
“Ya ampun kenapa tuan Erland ada di sini?” tanya Asyila. Sebenarnya saat itu Asyila mengatakan pada Reina jika orang yang ia selamatkan mungkin tuan Erland. Tapi Reina tidak percaya akan hal itu, maka ia hanya menganggap jika itu hanya karena mirip saja.
“Ternyata dia memang tuan Erland yang kamu sebutkan!” Ucapan Reina kini justru membuat Asyila menatapnya tak percaya. Padahal Asyila sudah percaya jika lelaki yang ada dihadapannya kini mungkin hanya kembaran yang mirip tanpa hubungan darah dengan Tuan Erland yang terkenal itu.
Tapi ternyata orang yang ada dihadapannya saat ini benar-benar tuan Erland yang terkenal itu. “Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya begitu mengetahui kebenaran ini? dan kenapa kamu bisa yakin dengan kebenaran ini?” tanya Asyila tak percaya.
“Tunangannya mengetahui keberadaannya.”
“Tapi apa Erland, ah maksudku tuan Erland ini bisa mengingat tentang tunangannya itu?” tanya Asyila penasaran.
“Tidak! dia memang benar-benar lupa ingatan!”
“Kamu tahu tentang keluarga Samoni dan young? katanya mereka memiliki janji pernikahan” tanya Reina yang langsung membuat Asyila ingat akan satu hal.
Asyila hanya diam sejenak, ia berfikir tentang keluarga Young dan Samoni yang terkenal itu. Bahkan hingga sekarang masih terkenal.
“Benar, aku ingat sekarang. Perusahaan Young itu adalah perusahaan terbesar pertama di Asia, sedangkan perusahaan Samoni dulunya adalah perusahaan terbesar di Eropa. Kedua keluarga besar itu bersahabat dan ingin menjalin hubungan keluarga. Maka itu mereka telah menjanjikan sebuah janji pernikahan.”
Asyila menjeda sejenak ucapannya, ia melihat ke arah Erland yang terlihat bingung saat ditatap olehnya. “Aku ingat jika kedua keluarga besar itu tidak menikahkan anak mereka karena sama-sama memiliki anak laki-laki yang tak lain adalah ayah dari tuan Erland dan ayah dari nona Elisa. Dan ya, yang aku tahu, ayah dari nona Elisa bernama Harry. Tuan Harry, dia cukup terkenal karena memimpin perusahaan dengan baik.”
Lagi-lagi Asyila menjeda sejenak ucapannya itu, lalu ia menatap ke arah Reina dengan tatapan dalam dan seriusnya.
“Kamu tahu Reina? jika dulu perusahaan Samoni hanya terbesar di Eropa, kini di tangan cucunya yang tak lain adalah tuan Erland, perusahaan itu berhasil mencapai dipuncak kekayaannya itu.”
__ADS_1
Dengan tatapan menggebu-gebu dan semangat, Asyila kembali menatap Erland. “Di tangannya lah, perusahaan Samoni berhasil mencapai kejayaan itu, hingga dinobatkan sebagai yang terbesar di Eropa dan Amerika. Dan mungkin dalam kurung waktu 2 tahun ke depan, posisi perusahaan perusahaan Young bisa saja tergeser.”