
Beberapa hari kemudian.
Pencarian yang cukup lama akhirnya membuahkan hasil, Daniel yang tidak bisa tidur saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tuannya melompat ke jurang. Kini ia bisa bernafa lega karena Erland, telah ditemukan.
Meski Erland saat ini sedang berbaring di rumah sakit, dengan kondisi yang sedikit parah tapi itu tidak terlalu memprihatinkan.
Sedangkan Reina, wanita itu pun sama. Ia masih terbaring walau kondisinya sudah cukup membaik, Reina kini terlihat sedang memakan buah apel yang telah dikupas langsung oleh Asyila. Reina sedang dirawat, tapi kondisinya tidak terlalu parah, bahkan ia sudah siuman dari sehari yang lalu.
“Bagaimana bisa ada kejadiannya seperti ini? apa memang seperti itu?” tanya Asyila yang merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Iya, memang benar. Tuan Erland dan aku sempat terhanyut di sungai, walau pada akhirnya kami ditemukan.”
“Kenapa bisa terhanyut? apa ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan?” tanya Asyila dengan tatapan bertanya. Ia seolah ingin tahu dengan sangat jelas bagaimana cerita aslinya.
Asyila tidak percaya jika mereka hanya terhanyut tanpa ada sesuatu hal yang menyebabkan mereka bisa terhanyut.
“Iya? bukankah sudah aku katakan jika aku sempat terhanyut dan tuan Erland menyelamatkan aku? itu sudah kenyataannya!” kata Reina.
Reina tidak mengatakan alasan kenapa dirinya kini ada di rumah sakit, cerita beberapa hari yang lalu sungguh tidak pernah Reina duga. Kejadian di mana dirinya dan Erland masuk jurang, hanya demi menghindari musuh.
Flashback
Saat itu, Reina tidak menyangka jika Erland akan mengajak dirinya untuk terjun begitu saja ke arah jurang. Padahal mereka jelas tidak tahu seberapa dalam jurang itu, tapi tanpa takut Erland membawa Reina untuk terjun.
“Jika ingin mati, mati saja sendiri. Kenapa harus bawa aku?” kata Reina dengan nada menggerutu dibalik pelukan Erland yang sangat erat.
Byurr
Rupanya dibalik jurang yang gelap itu, ternyata dibawahnya itu adalah aliran air. Mungkin karena tertutup pohon-pohon di sekitar jurang, hingga aliran itu tidak terlihat.
Bahkan suara air itu tidak terdengar jelas sama sekali. Tapi tunggu! apa Erland sudah menebak ini dari awal? apakah karena itu dia hanya diam dan menunggu waktu yang tepat?
“Mamah tidak akan mati!” kata Erland yang dengan segera mengangkat tubuh ramping Reina ke tepi sungai. Mereka berdua kini basah kuyup.
“Erland.”
__ADS_1
Reina merasa khawatir saat tiba-tiba ia melihat jika di pelipis laki-laki itu mengeluarkan darah. Darah segar yang terlihat baru saja keluar. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reina dengan wajah khawatirnya itu.
“Tidak apa-apa Mamah, Erland baik-baik saja.”
Senyum Erland yang terasa kaku dan tidak sepolos yang biasa Reina lihat. Tapi hal itu tidak disadari oleh Reina, karena yang menjadi perhatiannya saat ini adalah ekspresi Erland yang seakan menahan rasa sakitnya itu.
“Katakan saja jika memang kamu sakit, jangan terus di pendam. Itu justru akan membuat saya merasa marah!”
“Jika Erland mengatakan kalau saat ini Erland sedang sakit, apa yang akan Mamah' lakukan? bukankah kini kita ada ditengah hutan?” tanya Erland yang langsung membuat Reina bungkam dan tidak berkata apa-apa.
Apa yang Erland katakan itu benar, mereka kini sedang berada di hutan. Jadi sekalipun Erland mengatakan jika dirinya sakit, Reina mungkin saja tidak akan bisa membantu laki-laki itu.
“Setidaknya kamu tidak perlu berpura-pura terlihat kuat. Saya benar-benar tidak suka melihat itu.”
Akhirnya, untuk sementara waktu. Reina dan Erland berusaha untuk mencari tempat yang cukup aman, sebuah tempat yang terlihat aman untuk mereka tinggali saat ini.
Selama satu hari lebih mereka tingga di hutan itu, pemukiman yang sepertinya bukan sebuah tempat atau pemukiman biasa, melainkan hutan yang sangat lebat. Beruntungnya, selama di sana mereka tidak menemukan binatang buas sama sekali.
Ada sebuah tenda kecil yang terlihat tidak ada orang di sana. Erland dan Reina pun berteduh di sana, tanpa sadar Reina melihat sebuah benda berbentuk aneh, pada saat Reina tekan, ternyata itu adalah api.
Seolah ini adalah korek api listrik. Dari bentuknya saja itu sudah terlihat mahal, dan entah mengapa Reina bisa menebak jika mungkin ada orang yang sering datang ke sini.
Hutan ini terlihat jaran dikunjungi, tapi juga terlihat seolah sering dikunjungi. Oleh seseorang mungkin?
“Apa kamu lapar?” tanya Reina yang hanya dijawab gelengan oleh Erland.
“Tidak Mamah! Erland tidak lapar. Cukup dengan ada Mamah di sini, Erland rasa itu sudah cukup!” kata Erland yang hanya dijawab dengan tatapan datar dari Reina.
“Baiklah, aku lapar jadi aku akan mencari makan.”
“Kenapa kita tidak makan ikan saja?” tanya Erland.
“Ikan? dimana itu ikan?” tanya Reina sedikit curiga saat Erland seperti tahu sesuatu.
“Entah, Erland hanya menebak saja. Mungkin di sekitar sungai?” tatapan polos dan santai itupun terlihat.
__ADS_1
Alhasil Reina keluar, ia mengikuti saran Erland. Ada sebuah pancingan yang tidak pernah Reina duga ada di sekitar sungai.
Ada apa ini, apa Reina sedang berada di wilayah seseorang? tapi wilayah siapa? bukankah ini hanya hutan biasa?
Sedangkan Erland yang melihat Reina telah keluar, akhinya ekspresi kesakitan yang Erland rasakan itu muncul. Rasa sakit yang tidak tergambarkan itu, berusaha sekuat tenaga Erland tahan.
Demi melindungi Reina, Erland bahkan sampai rela terbentur batu, maka itu pelipisnya berdarah. Meski sempat diobati oleh Reina menggunakan tanaman sekitar. Tapi rasa sakit dari efek benturan itu masih ada dan terasa jelas.
“Mah.”
Di saat seperti ini, Erland merasa jika dirinya kini terasa lemah. Ia bahkan tidak sadarkan diri saking sakitnya kepalanya itu. Ingatan-ingatan kecil yang bermunculan dan membingungkan, membuatnya sedikit kesulitan dalam beradaptasi.
“Erland.”
Flashback end.
“Hey, kok melamun sih? aku nggak akan percaya ya Reina kalau tuan Erland bisa sampai tidak sadarkan diri hanya karena menolong kamu yang terhanyut. Cerita kamu itu justru terasa sangat ganjil dan juga aneh,” ungkap Asyila dengan nada yang terdengar seolah ia tidak percaya.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Itu urusan kamu,” kata Reina acuh.
Reina sengaja tidak bercerita akan kejadian saat itu, saat dimana ia dan Erland belum masuk jurang. Reina tidak ingin jika nanti mafia itu akan menyakiti sahabat baik dirinya, Reina hanya ingin berusaha untuk melindungi Asyila.
“Kok gitu sih.” Tatapan kesal dan merajuk Asyila tunjukkan, tapi justru hanya Reina abaikan.
“Asyila,” panggil Reina pada Asyila yang terlihat sedang marah dan merajuk.
“Sepertinya aku akan menjalani kehidupan aku seperti sebelumnya mulai sekarang.” Perkataan tiba-tiba itu tentu mendapat tatapan dari Asyila.
“Kenapa?”
“Bukankah sudah ada anak buah tuan Erland di sini? jadi aku rasa tuan Erland akan baik-baik saja tanpa kehadiran aku sekalipun.”
“Kenapa begitu Reina? tuan Erland belum tentu ingat dengan para bawahannya itu. Bisa saja dia masih bergantung sama kamu, lalu bagaimana kamu akan menghadapi tuan Erland itu?”
“Aku yakin tuan Erland cepat atau lambat akan mendapat ingatannya itu kembali,” kata Reina yakin, ia sudah mengambil keputusan untuk hidup seperti biasa, sebelum ada Erland.
__ADS_1