
“Kalau begitu mereka memang benar bukan orang sembarangan!” kata Reina sedikit berfikir.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” tanya Asyila. Ia penasaran dengan apa yang akan Reina lakukan selanjutnya.
“Setelah ingatan tuan Erland pulih, aku hanya akan kembali menjalankan kehidupan normal ini,” kata Reina, perkataan Reina terdengar yakin, sangat berbeda dengan hatinya yang tanpa sadar seolah tak yakin akan hal itu.
Bisakah Reina hidup normal seperti sebelumnya? Apa memang dia bisa kembali seperti sebelum bertemu dengan Erland?
Meski sebenarnya Erland kadang sering membuat Reina merasa kesal karena tingkahnya yang tidak ingin jauh dari Reina. Tapi laki-laki itu sudah seperti teman dekat bagi Reina. Hanya Erland saja yang menatap tulus pada Reina selain Asyila sahabat baiknya. Walau Reina tahu jika pandangan tulus itu karena pemikiran Erland masih polos.
“Oh ya, sore nanti aku akan bekerja. Aku akan meminta kamu untuk mengawasi tuan Erland sementara waktu.”
Reina langsung berkata untuk mengalihkan topik, mata Asyila yang terus menatap ke arahnya dengan tatapan dalam seolah tak yakin jika Reina akan bisa hidup normal seperti sebelumnya, membuat Reina tak nyaman akan tatapan itu. Maka itu, ia dengan cepat memilih mengalihkan topik.
“Reina, padahal wajar saja jika mungkin kamu ada rasa, walau bukan cinta, mungkin kamu setidaknya sayang padanya,” ungkap Asyila menatap Reina dengan tatapan dalamnya.
“Jangan bercanda. Itu nggak lucu!”
“Hahaha, aku serius. Oh ya, bukankah waktu itu kamu ingin bicara tentang ayah kamu?” tanya Asyila dan Reina hanya bungkam.
Reina berniat untuk bercerita pada Asyila mengenai Jack yang ternyata bukan ayah kandungnya. Tapi suasana hati Reina rasanya sedang tidak baik-baik saja.
“Jika belum siap untuk bercerita, kamu tidak perlu untuk mengatakannya saat ini juga. Bisa kapan-kapan 'kan? jadi santai saja.”
Mungkin karena tahu status Erland yang sudah Reina ketahui. Suasana hati Reina entah mengapa menjadi buruk, ia kini bahkan memanggil Erland dengan sebutan Tuan'. Sampai-sampai Erland yang hanya fokus pada makanannya langsung menatap Reina dengan tatapan tak suka.
“Mah, jangan panggil Erland dengan sebutan Tuan'.
Reina memilih mengabaikan itu, ia menatap ke arah Asyila dengan tatapannya itu. “Tolong jaga Erland untuk hari ini saja!”
Asyila sontak langsung mengangguk. “Baiklah. Biarkan aku yang nanti akan menjaganya.”
...*****...
Reina sedang berada di sebuah restoran tempat ia bekerja. Sebenarnya Reina bekerja part time di dua tempat, di restoran ini dan di toko buah yang menjual minuman jus rasa buah.
__ADS_1
Kadang Reina sendiri bingung, mengapa ia menjadi orang yang tidak punya lelah seperti ini. Dari pagi hingga siang ia menjadi pelayan di restoran, siang hingga sore hari Reina bekerja di toko buah.
Malamnya, Reina kadang sering memiliki jadwal kuliah malam, kalaupun libur, Reina akan mencari pekerjaan part time di tempat yang berbeda. Ia bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk liburan. Hidupnya seakan penuh dengan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan.
“Ini makanan yang Anda pesan.”
Dari nada suara Reina yang datar dan terkesan acuh, kadang membuat beberapa pelanggan baru marah dan tak suka padanya. Sering kali ia kena marah karena raut wajahnya itu, meski begitu Reina tetap memperlakukan pelanggannya itu dengan sebaik mungkin.
“Oh terima kasih Si dingin Reina,” ungkap pelanggan tetap itu dengan ramah.
Berbeda dengan pelanggan baru yang akan marah dengan sikap Rena itu, tapi tidak dengan pelanggan yang sudah sering datang. Mereka justru tidak masalah dengan hal itu, karena mereka tahu jelas bagaimana sikap Reina yang terkenal datar dan dingin.
Menurut mereka, sikap Reina dan karakternya itu ciri khas dirinya. Kadang karena sikapnya itu, saat ada pasangan kekasih yang datang, mereka lebih nyaman dengan sikap Reina.
“Oh ya, aku 'kan sudah traktir banyak teman-teman. Tolong beri aku diskon dan potongan harga agar lebih murah dong,” pinta pelanggan itu terdengar bercanda.
“Akan saya sampaikan pada tuan manajer kalau begitu. Tapi bukankah jika mentraktir teman, Anda harus ingat pada istri Anda?”
Ucapan Reina justru malah disambut gelak tawa oleh pelanggannya yang satu itu. “Hahaha, iya-iya. Istriku sedang tidur saat ini, nanti akan aku bawakan juga untuknya.”
“Hahaha, kamu lucu. Tidak! tidak usah, aku hanya bercanda. Tidak mungkin orang kaya seperti aku ini akan meminta potongan harga. Bukan begitu?”
“Anda tahu sendiri jawabanya.” Setiap apa yang Reina katakan, para pelanggan kadang tertawa dengan respon Reina.
Reina dulu sering sekali kena marah karena raut wajahnya yang selalu terlihat datar, dan menurut orang-orang itu tak sopan. Sampai suatu hari Reina berusaha tersenyum, senyum yang terasa kaku dan hambar, tanpa adanya ketulusan.
Tapi kadang Reina bertanya dengan dirinya, untuk apa dirinya tersenyum? senyum yang tidak tulus dan terasa sangat kaku untuknya yang tak pernah tersenyum.
Karena meski sudah berusaha tersenyum, Reina masih terkena marah. Ia dikatakan tersenyum dengan maksud dan niat buruk. Itu tak lain karena senyum Reina kaku dan terlihat tak terbiasa.
What?
Terus bagaiman Reina seharusnya tersenyum? tolong beritahu Reina mengapa ia harus terlihat tersenyum? tolong kasih tahu Reina bagaimana tersenyum dengan tulus seperti orang ramah kebanyakan?
Seperti itulah pemikiran Reina saat dirinya telah berusaha tersenyum tapi masih tetap terlihat salah.
__ADS_1
Alhasil setelah kejadian itu, Reina tidak berusaha untuk mencoba tersenyum lagi. Ia tidak peduli jika harus sering dipecat karena komplain dari para pelanggan.
Dan beruntungnya, di restoran dan di toko buah, tidak ada pelanggan yang komplain ataupun mengeluh. Walau ada beberapa, tapi Sang manajer restoran yang telah akrab dengan Reina kadang sering berusaha untuk menjelaskan baik-baik pada para pelanggan baru agar mengerti.
“Kamu ya Nak?”
Seorang pelanggan baru yang terlihat berusia 50 tahun. Ia tersenyum dengan senyuman yang terasa tulus pada Reina. Lelaki itu adalah lelaki penyelamat Reina. Lelaki itu juga yang rela membayar biaya rumah sakit Erland untuk satu minggu ke depan.
“Saya ingat, terima kasih untuk kebaikannya,” ucap Reina tulus.
Lelaki dengan berjas rapi yang terlihat berwibawa walau tidak muda lagi, lelaki itu terlihat hanya menjawab dengan senyuman ucapan Reina itu.
...*****...
Malam harinya.
Saat Reina hendak menutup restoran tempat ia kerja, ia melihat jika laki-laki penyelamat itu masih ada di sana. Duduk dengan diam dan wajah yang terlihat murung. Padahal jelas jika sopir pribadinya terlihat sedang diam menunggu.
“Anda belum pulang?”
“Ya, saya ingin berada di sini sebentar lagi.”
“Tapi restoran ini akan saya tutup, karena ini sudah waktunya kami tutup.”
Lelaki tua itu hanya diam, ia terlihat masih ingin duduk di sana. Hingga Reina yang melihatnya menjadi tak tega. Entah mengapa, Reina bisa merasa tak tega, padahal selama ini orang-orang selalu menganggap Reina berhati batu karena sikap dinginnya.
“Apa Anda perlu sesuatu?”
Beberapa menit, laki-laki itu hanya diam. Ia dengan wajah yang terlihat sendu untuk sekilas, tapi tidak lama ia menjawab dengan gelengan.
“Tidak ada yang saya perlukan saat ini. Karena saat ini saya sedang merasa bersalah pada seseorang.”
“Siapa?”
Entah kenapa juga, saat melihat raut wajah laki-laki itu Reina menjadi penasaran. Padahal jelas ia acuh dan tidak peduli pada orang lain.
__ADS_1
“Anak saya.”