
Diam kembali.
Suasana itu hening dan tidak ada siapa-siapa yang bicara, Reina diam dengan kebingungannya dan laki-laki itu diam dengan rasa sedihnya.“Kenapa? apa Anda ingin bercerita?”
Lagi-lagi Reina tak tahu mengapa ia bisa peduli dengan laki-laki itu, seakan kesedihan itu membuat Reina merasa ingin tahu dan penasaran dengan sosok anak dari laki-laki itu.
“Saya tidak tahu apakah pantas untuk bercerita tentang ini pada Anda atau tidak. Tapi yang jelas, saya merasa jika saya memang butuh seseorang untuk mendengarkan saya bercerita tentang masalah yang sedang saya hadapi saat ini.”
“Tidak masalah, cerita saja. Tapi saya tidak lama, anak saya sedang menunggu saya di rumah.”
Kalimat yang Reina ucapkan membuat laki-laki itu menatap Reina tak percaya. Wanita semuda Reina sudah menikah dan memiliki anak? tapi laki-laki itu berfikir kembali, mungkin Reina menikah muda.
“Berapa usia anak kamu? apa kamu menikah muda dengan suami kamu? lalu mengapa kamu bekerja?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Reina pusing untuk menjawabnya. Anak yang Reina maksud adalah Erland. Jelas laki-laki itu bukan anaknya, malah yang ada justru laki-laki itu cocok untuk menjadi kakak atau mungkin suaminya?
Tiba-tiba Reina menggeleng saat pemikirannya sampai pada kata suami', jangan pernah ada harapan seperti itu dalam pikiran Reina.
“Tidak! saya tidak menikah. Saya juga masih kuliah dan hanya ingin bekerja sendiri.”
“Apa kamu mengalami kecelakaan dengan kekasih kamu hingga bisa memiliki anak?” tiba-tiba tatapan iba dan kasihan laki-laki itu tunjukkan. Seakan kini ia merasa peduli pada Reina.
Saat melihat Reina, entah mengapa laki-laki itu seperti melihat anaknya sendiri, ia bahkan sampai berfikir untuk membiayai kehidupan Reina dan anaknya, sekaligus biaya kuliah Reina akan ia tanggung sepenuhnya.
“Tolong jangan menatap apalagi berfikir yang seperti itu, itu hanya dugaan Anda saja. Jadi apakah Anda ingin bercerita atau tidak?”
Laki-laki itu langsung tersadar, ia merasa terlalu banyak bertanya dan seolah ikut campur dengan urusan Reina. Bukankah Reina memang orang asing yang baru ia kenal? jadi kenapa ia harus repot-repot memikirkan Reina? itu mungkin yang ada dipikiran laki-laki tua yang berada dihadapan Reina.
“Saya memiliki seorang anak, seorang anak yang saya tidak ketahui dia laki-laki ataupun perempuan. Karena saat itu saya merasa tidak peduli dengan kehadirannya itu.” Terlihat jelas jika pandangan laki-laki itu terlihat menunduk dan merasa bersalah.
“Sebelumnya siapa nama Anda? karena jujur saya tidak mengenal Anda, dan bagaimana bisa saya bicara dengan Anda sedangkan nama Anda saja saya tidak tahu.”
“Harry, nama saya Harry. Kamu bisa memanggil saya dengan sebutan om Harry ataupun apapun itu.”
__ADS_1
“Ya ...? tuan Harry.”
“Jadi apakah kini tuan Harry merasa menyesal karena sudah menelantarkan anak Anda itu?”
Pertanyaan Reina yang dibalas kebungkaman.
“Sebagai laki-laki yang sudah memiliki dua orang anak, tentu sebagai ayah saya menyesal. Tapi saya juga berfikir jika mungkin keputusan saya adalah keputusan yang tepat,” jawab Harry setelah hanya diam.
“Jadi? sekarang apakah Anda ingin menemuinya setelah merasa menyesal karena menelantarkan anak Anda itu?”
Gelengan Harry berikan sebagai jawaban. “ Saya tidak ingin menemuinya. Sampai kapanpun saya merasa tidak akan bisa menemui anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya itu.”
Perkataan tegas Harry, entah mengapa membuat Reina yang mendengarnya sakit! bagaimana bisa seorang ayah berkata seperti itu? apakah memang laki-laki seperti itu memang pantas disebut seorang ayah?
“Apakah Anda tidak pernah berfikir jika mungkin anak Anda merasa sedih dan terluka akan jawaban Anda ini?” tanya Reina yang lagi-lagi hanya dijawab kebungkaman dari Harry.
“Saya rasa demi keutuhan keluarga saya, semua akan saya lakukan demi mereka-”
“Termasuk menelantarkan anak yang tidak Anda inginkan?” potong Reina yang langsung memotong pembicaraan Harry.
“Saya yakin jika dia hidup dengan baik bersama dengan ibunya dan keluarganya. Karena tanpa ada saya, dia akan tetap hidup dengan baik seperti anak pada umumnya.” Tatapan yakin itu Harry perlihatkan pada Reina.
“Apa Anda pernah melihatnya secara langsung? dan apakah Anda tahu kehidupannya seperti apa? tidak 'kan?!”
Pertanyaan itu menjadi akhir dari obrolan Reina dengan Harry. Karena keterbungkaman Harry, Reina yakin jika laki-laki itu tidak benar-benar perhatian pada anaknya. Ia mungkin memberi anaknya itu kebutuhan materi. Tapi untuk kasih sayang, pasti tidak pernah laki-laki itu berikan.
Seperti Reina yang ternyata hanya diberi materi oleh ayah kandungnya. Sedangkan dirinya tidak tahu seperti apa ayahnya, dan ayahnya mungkin tidak pernah tahu juga seperti apa dirinya.
...*****...
“Apakah anak itu lahir dari sebuah kecelakaan. Seperti aku yang lahir tanpa diinginkan oleh siapapun?” tanya Reina pada dirinya sendiri.
Senyum dingin yang terasa hambar dan terasa menyakitkan Reina tunjukkan pada dirinya sendiri. Entah mengapa cerita itu hampir mirip dengan cerita Reina. Ia menjadi penasaran dan ingin tahu siapa anak Harry itu.
__ADS_1
“Hei?”
“Kamu?”
Reina yang melihat Rayyan mantan kekasihnya itu, ia tiba-tiba merasa moodnya semakin buruk. Reina ingin menghindari dari laki-laki itu, tapi justru laki-laki itu malah menghalangi dirinya.
“Mau ke mana?” tanya Rayyan yang justru seolah menghalangi jalan Reina. Padahal jelas Rayyan sekarang sedang tidak sendiri, laki-laki itu datang bersama dengan kekasih barunya, Alisa. Wanita yang menjadi kekasih baru Rayyan tak lain adalah kakak Reina.
“Sayang, kata kamu kita akan pergi keluar bareng. Tapi kok kamu malah ajak aku untuk ketemu sama adik aku ini?” tanya Alisa yang terlihat menunjukkan wajah merajuknya.
“Aku juga tidak tahu kalau dia akan ada di sini,” jawab Rayyan.
“Sayang, kamu lihat Bapak tua yang baru keluar itu? apa jangan-jangan sekarang Reina menjadi simpanan dari bapak-bapak itu?” tanya Alisa.
Senyum meremehkan dan merendahkan Alisa langsung tunjukkan saat itu juga. Seakan ia ingin mengejek dan merendahkan Reina dihadapan kekasihnya ini.
Rayyan yang mendengar itu, ia tiba-tiba langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Seakan ia tidak terima jika kini mantan pacar yang dulu ia kejar-kejar malah menjadi orang yang murahan.
“Berapa harga kamu untuk semalam?”
Pertanyaan Rayyan itu sontak saja membuat Alisa langsung menatap tak suka. Tangganya mengepal erat tanpa Rayyan ketahui. “Apakah kamu tertarik untuk menyewanya? apa kamu tidak takut jika dia terkena penyakit HIV. Dan mungkin saja kamu bisa tertular sayang,” ungkap Alisa dengan nada peduli dan terkesan lembut.
Reina hanya diam, ia menatap Alisa yang seolah sangat tergila-gila pada sosok Rayyan. Seakan hanya ada seorang Rayyan di dunia ini.
“Kak, tolong perbanyak wawasan. Laki-laki yang seperti ini hanya akan menyakiti kamu saja,” ucap Reina yang sebenarnya mengandung kepedulian. Tapi justru Alisa malah menatap tak suka yang kentara penuh permusuhan pada Reina.
...*****...
Reina memasuki rumahnya.
Tidak seperti biasanya, kos-kosan yang ia tinggali terlihat gelap. Hingga Reina yang merasa kesulitan berjalan, ia langsung menyalakan lampu.
“Akh!” Bukan Reina yang berteriak, melainkan Asyila yang berteriak karena terkejut. Ia merasa terkejut saat melihat Reina tiba-tiba datang tanpa aba-aba.
__ADS_1
“Ya ampun akhirnya kamu datang Reina. Ayo kita pindah, di sini sudah tak aman.”