Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Moment yang mungkin dirindukan


__ADS_3

Hari-hari berlalu.


Reina yang awalnya ingin menjaga jarak dengan Erland karena kejadian hari itu. Tapi sepertinya itu hanya bisa terjadi dalam pikirannya saja, karena kini, Erland justru semakin gencar mendekatinya.


Laki-laki itu terus saja mengikuti Reina kemanapun Reina pergi. Jika saat itu Erland pernah menunggu Reina langsung di luar toilet umum. Kini ia justru menunggu Reina di luar kamar mandi kos-kosan mereka.


Iya! kamar mandi tempat mereka tinggal saat ini. Kos-kosan yang dulu mereka tempati kini mereka tinggali lagi.


“Hahahaha.”


Tak henti-hentinya Asyila yang melihat itu sampai terus tertawa terbahak-bahak. Yang benar saja, ini moment lucu yang sangat langka bagi Asyila, ia bahkan ingin selalu melihat moment lucu itu.


Karena tidak ingin terlewatkan dengan moment itu, kadang Asyila menginap. Ia sampai rela tidur di bawah lantai bersama Reina. Itu tak lain karena Asyila sangat menantikan interaksi antara Reina dan Erland.


“Ya ampun ..., kasihan sekali. Reina ternyata kamu sudah punya ekor ya, buktinya Si Ekor terus ngikut kemana- mana,” dengan nada meledeknya yang selalu berhasil membuat Reina kesal, Asyila terus saja meledek dan tertawa.


“Sialan!” kesal Reina.


Tolong, demi apapun Reina rasa ia bisa mati kesal karena hal ini. Ia yang biasanya tidak pernah marah dalam situasi apapun, kini hanya karena Erland, laki-laki itu selalu berhasil membuat Reina kesal dibuatnya.


“Ya sudahlah terima aja. Kapan lagi 'kan dibuntuti Tuan Erland. Tuh, lihat. Dia duduk aja pengen deket terus sama kamu.”


Pandangan Asyila menunjuk pada Erland yang hendak duduk di dekat Reina. Erland benar-benar terlihat seperti anak yang takut ditinggal induknya.


“Kalau gini terus, bisa mati muda dibuatnya!”


Reina tidak tahu harus marah seperti apa, setiap kali Reina ingin marah untuk mengungkapkan kekesalan dan rasa marahnya itu. Tapi justru tatapan Erland selalu berhasil membuat ia luluh.


“Kamu tuh, hari ini saja kamu merasa kesal. Nanti juga kamu nggak akan kesal lagi dan mulai terbiasa dengan sendirinya. Dan kalau misalkan tuan Erland nggak ada, dan nggak bergantung lagi sama kamu. Nanti kamu pasti akan merasa kesepian!”

__ADS_1


Ucapan Asyila benar-benar membuat Reina tidak bisa berkata-kata. Reina tidak tahu harus berkata apa, apa benar nanti ia akan sedih seperti yang Asyila ucapkan? tapi kenapa juga ia harus sedih? bukankah itu ada baiknya juga?, setidaknya dengan hal itu, bukankah Reina nanti tidak akan diganggu lagi oleh Erland?.


Entahlah, hanya waktu yang akan menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak Reina saat ini.


...*****...


Pulang dari tempat ia kuliah. Reina hanya bisa menghela nafas menahan kesal dan juga jengah.


Kenapa Erland terus saja membuntutinya, laki-laki itu bahkan selalu berdiri di belakang Reina, seolah ia takut jika ada orang yang akan mencelakai Reina dari arah belakang.


“Apa kamu tidak merasa lelah terus membuntutiku dari tadi?” tanya Reina dengan tatapan kesal. Tapi meski sekesal apapun dia, ia tidak bisa marah pada Erland.


Entah, Reina selalu merasa tidak tega untuk marah pada Erland yang akan selalu menampilkan wajah polosnya saat berhadapan dengan dirinya.


“Mah, Erland hanya takut Mamah kenapa-napa,” kata Erland sedikit mencicit pelan.


Akhirnya Reina hanya bisa menghela nafas, ia lalu berjalan kembali dan mengabaikan Erland yang terus saja membuntuti dirinya. Kapan ini berakhir? kapan ia tidak dibuntuti lagi oleh Erland? Ia rasa ia tidak akan kesepian seperti yang Asyila katakan. Karena Reina yakin akan hal itu.


..........


Sementara itu di sisi lain.


Elisa yang kini sedang berada di dalam mobil, ia hanya diam dan menatap ke arah Reina dan Erland yang ada dihadapannya ini. Jarak mereka berdua cukup jauh dari Elisa, hanya saja Elisa menatap mereka berdua dengan seksama seolah ia bisa melihat dari jarak dekat.


“Tunggu saja, tunggu sampai aku menghancurkan kamu Reina. Berani sekali kamu membuat Erland seperti itu.” Pandangan Elisa terlihat tak suka, ia tidak suka saat Erland terlihat seolah-olah sangat bergantung pada Reina.


Ada rasa benci dari tatapan Elisa yang ia tunjukkan untuk Reina saat ini. Karena dulu, setiap kali Elisa menatap Erland, hanya akan ada tatapan dingin dan acuh yang terlihat.


Tatapan tajam Erland dulu sudah menjadi ciri khasnya, hingga hanya dengan menatap sekilas saja, orang-orang akan dibuat dingin dengan tatapan itu.

__ADS_1


“Sebagai tunangannya dan istrinya di masa depan nanti, harusnya aku yang lebih berhak diperlakukan seperti itu oleh tuan Erland. Bukan kamu!”


Meski sangat marah dan rasanya ingin membunuh Reina, tapi Elisa sadar jika kini dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Ia tahu betul jika rencana yang awalnya telah gagal, tidak bisa diperparah lagi dengan kegagalan selanjutnya. Demi menghindari kecurigaan dari ayahnya, Elisa perlu persiapan matang akan rencananya nanti.


“Tunggu saja nanti, aku pasti akan buat hidup kamu menderita. Nikmati saja waktu bahagia kamu saat ini, karena itu tidak akan bertahan dengan lama.”


Tatapan Elisa yang terlihat tajam dan tak suka, ia lalu tersenyum saat membayangkan rencana yang akan ia lakukan berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.


...***** ...


Harry, laki-laki itu kini terlihat hanya diam. Ia tidak berkata apa-apa saat ini. Padahal acara meeting dengan klien telah selesai, dan kesepakatan yang terjalin juga telah berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Tapi justru, wajah Harry tidak terlihat bahagia. Masih ada ekspresi gelisah dan kecemasan yang terlihat, itu menandakan jika Harry kini sedang merasa gelisah dan tak nyaman akan suatu hal.


“Riska,” panggil Harry pada asistennya itu.


Tidak seperti kebanyakan pemimpin yang memilih untuk memiliki asisten seorang laki-laki. Justru ia lebih memilih Riska' sahabat baiknya untuk menjadi asistennya.


“Iya, ada yang Anda butuhkan?”


Riska sangat cekatan dan tahu tempat, ia mampu untuk menempatkan diri dengan baik. Karena kini ia bekerja sebagai bawahan, ia bersikap layaknya bawahan saat di perusahaan.


“Apa sesuatu yang aku minta kamu cari sudah kamu dapatkan?” tanya Harry menatap Riska langsung.


“Mohon tunggu sebentar, akan saya ambil kalau begitu.” Setelahnya Riska langsung mengambil barang yang Harry butuhkan.


Tak lama kemudian, Riska lalu membawa dokumen yang berisi informasi tentang seseorang. Dan hanya Riska dan Harry yang tahu akan hal itu.


“Jadi selama ini anakku itu ada di negara ini?” tanya Harry dengan tatapan tak percaya. Padahal Harry rela mengeluarkan uang banyak demi memenuhi kebutuhan anaknya yang ia telantarkan itu. Harry pikir itu cukup untuk kebutuhan di luar negeri.

__ADS_1


Setiap bulan Harry akan mengirimkan uang yang bagi dirinya dan istrinya itu tidak berarti apa-apa. Tapi bagi orang lain, itu jelas bukan nominal yang kecil dan nyaris sangat besar.


“Iya, itu informasi yang saya dapatkan untuk saat ini. Apa Anda ingin mencari tahu dimana lokasinya tinggal dan apa saja yang anak Anda lakukan saat ini?” pertanyaan Riska justru dijawab gelengan oleh Harry.


__ADS_2