Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Mafia Black Lion


__ADS_3

“Erland, hari ini aku akan kuliah hingga larut malam, dan ada tugas tambahan yang harus aku kerjakan. Asyila akan datang jika memang kamu takut untuk sendirian,” kata Reina pada Erland dan dijawab dengan anggukan patuh.


“Tidak perlu Mamah, Erland bisa sendiri,” jawab Erland. Erland sebenarnya ingin ikut dengan Reina, ia ingin mengawasi ke mana perginya wanita itu. Meskipun ia tahu jika sebenarnya wanita itu akan kuliah.


Erland tidak peduli ke manapun wanita itu pergi, ia akan tetap mencari wanita yang ada dihadapannya ini. Meskipun Erland akan disebut dan dianggap sebagai penguntit karena ia terus saja menguntit wanita yang ada dihadapannya ini. Erland tidak peduli!


Dan, sayangnya kini ada urusan penting yang harus ia urus. Hingga Erland tidak bisa untuk menguntit wanita itu seperti biasanya.


...*****...


Malam harinya.


Daniel menemui Erland di tempatnya. Ia terlihat ingin membahas sesuatu dengan laki-laki itu.


“Tuan, apa Anda akan tetap membiarkan mafia Black Lion itu? dia sudah menyakiti Anda dan hampir akan membunuh Anda. Ini tidak bisa didiamkan lagi tuan,” kata Daniel.


Ini bukan pertama kalinya mafia Black Lion milik Hans menyinggung Erland. Karena mafia itu sering sekali menyinggung tuannya, dan beberapa kasus percobaan pembunuhan pun sering mafia itu lakukan.


Dari hanya memasukan bawahan dari mafia itu ke perusahaan milik tuannya untuk bisa mencelakai tuannya. Dan juga mereka sempat ingin membunuh tuannya hingga pernah menggunakan racun yang mematikan.


Apakah mereka berhasil meracuni tuannya? tentu mereka berhasil. Hanya saja, mereka tidak tahu jika tuannya itu sangat kebal pada racun.


Entah, seberapa parah kehidupan laki-laki yang bernama Erland itu, hingga ia bisa kebal pada racun. Daniel saja tak tahu, hanya Sang kakak Barrack yang tahu dengan jelas mengenai hidup tuannya dengan jelas.


“Jangan lakukan sesuatu, biarkan saja.”


“Tuan? Anda akan terus membiarkan mafia itu terus berkeliaran dengan bebas? apa Anda tidak merasa jika mereka telah keterlaluan?” jika kakaknya yang ada di sini, mungkin Barrack akan menuruti apapun perintah dari tuannya.

__ADS_1


Dan Daniel berbeda, ia yang memang sangat tidak bisa menebak jalan pikir tuannya jika dibandingkan dengan Sang Kakak, tentu ia mempertanyakan itu.


“Tuan, mereka sungguh keterlaluan! apakah Anda akan terus membiarkan mereka menyinggung kita dengan leluasa?” Daniel terus meyakinkan Erland agar ia mengambil keputusan.


Jika Erland memerintahkan Daniel untuk segera membunuh laki-laki yang bernama Hans itu, ia akan segera melakukan itu sekalipun jika tuannya meminta ia untuk membunuhnya sendiri.


Tapi kenapa? kenapa justru tuannya tidak meminta ataupun memerintahkan ia untuk melakukan itu?


“Daniel, tidak perlu menganggap penting masalah itu, kamu abaikan saja mafia itu dan tidak perlu untuk menganggap penting masalah itu!”


“Tuan, apa Anda tidak mengetahui jika tunangan Anda diam-diam berhubungan dengan Hans? pemilik dari mafia Black Lion?” akhirnya Daniel mengatakan itu, ia tahu jika tidak mungkin tuannya tidak mengetahui hal itu dengan jelas.


Mata yang jeli itu, seakan bisa menebak apa saja yang sedang terjadi. Tapi kenapa? kenapa tuannya justru tak mengambil langkah untuk memberantas mafia itu.


Tidak ada keputusan yang akan diambil jika tanpa perintah dari tuannya. Karena meskipun perusahaan Samoni memiliki agen khusus untuk melindungi keamanan perusahaan. Mereka tidak akan bergerak tanpa perintah dari tuannya.


Erland Corp's itu nama perusahaan Erland saat ini, dulu nama perusahaan itu adalah Samoni group', dan kini telah berganti beberapa hari yang lalu atas permintaan dari Erland.


Ada banyak sekali pertanyaan yang terjadi karena pergantian nama itu, dan tentu hal itu membuat Erland harus hadir di sana. Sayangnya Erland tidak bisa hadir di sana karena ia masih ingin tetap bersama wanitanya.


Ya! bagi Erland kini, Reina adalah wanitanya.


“Apa kamu tidak yakin dengan kemampuanku?”


Pertanyaan Erland seakan menyadarkan Daniel dari lamunannya. Kata-kata yang seolah mengatakan apa Daniel meremehkannya. Hal itu membuat Daniel langsung tersadar saat itu juga.


“Tuan, saya tidak mungkin untuk meremehkan Anda, saya yakin Anda mengetahui ini dengan jelas lebih dari yang saya tahu. Hanya saja, saya tidak mengerti dengan cara Anda bertindak dan berfikir, maafkan saya jika saya terlihat bersikap meremehkan Anda,” kata Daniel yang langsung menunduk.

__ADS_1


“Perintahkan untuk mengirim anak buah untuk menjaga Reina. Aku yakin jika Elisa pasti akan menggunakan segala cara untuk menyakitinya,” perkataan Erland langsung diangguki patuh.


Selain Erland khawatir jika tunangannya itu akan kembali mencelakai wanitanya secara diam-diam, ia juga merasa khawatir jika anak buah Hans akan menargetkan Reina juga.


“Baik Tuan,” jawab Daniel patuh.


Daniel tak bisa menebak alasan tuannya tak pernah menganggap ataupun membalas apa yang telah di perbuat mafia Black Lion pada tuannya.


Misteri itu sangat sulit untuk Daniel pecahkan, dan itu akan ia ketahui suatu saat nanti, dan Daniel yakin akan hal itu.


...*****...


Harry, laki-laki itu kini sedang menemani anaknya yang tengah berbicara panjang lebar padanya. Suasana hati Elisa yang sedang baik, membuat Harry merasa senang dengan hal itu.


“Ayah, bukankah cerita Elisa lucu. Saat itu Elisa tidak menyangka jika orang yang menumpahkan air kopi pada baju Elisa akan merasa setakut itu, padahal Elisa tidak pernah bersikap menakutkan seperti itu, ia 'kan ayah?” tanya Elisa yang langsung mendongkak menatap ke arah ayahnya langsung.


“Iya! tentu saja, kamu sangat baik dan tentu juga menggemaskan sayang. Ayah sangat beruntung bisa memiliki anak baik seperti kamu,” kata Harry.


Harry tak tahu, jika anak yang ia anggap baik dan polos itu, tidak sebaik dan sepolos yang terlihat. Wanita itu licik layaknya ular yang berbisa, ia akan mematuk siapa saja yang ia anggap mengganggu.


Suasana hatinya Elisa yang sedang berada dalam suasana hati yang baik, itu tak lain karena ia tengah menikmati kemenangannya. Kemenangannya yang ia nantikan selama ini akhirnya ia dapatkan. Wanita yang menjadi musuhnya kini telah berada di tempat yang aman menurutnya.


“Hahaha, aku sebenarnya bertanya-tanya, mengapa mereka setakut itu padaku? padahal aku itu sangat cantik dan menggemaskan seperti yang tadi ayah katakan,” kata Elisa dengan wajah polosnya.


Padahal Elisa ingat, jika wanita yang waktu itu menumpahkan kopi pada bajunya yang membuat bajunya kotor itu, ia buat wanita itu trauma, Elisa juga mengancam wanita itu agar tak mengadukan perbuatannya itu pada siapapun.


Dan karena takut dan tidak ingin jika keluarganya juga terkena masalah karenanya, maka wanita yang telah berhasil diancam oleh Elisa setuju untuk tutup mulut selamanya.

__ADS_1


__ADS_2