Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Berdebat


__ADS_3

Erland memang sudah bisa mengingat semuanya, ingatan yang hilang selama dua bulan lebih, kini ingatan Erland telah kembali sepenuhnya. Hanya saja, alasan Erland masih berpura-pura seolah ia belum mendapatkan kembali ingatannya itu, hanya laki-laki itu saja yang tahu alasannya dengan jelas.


“Mah, kenapa hanya diam?” tanya Erland.


Sudah lebih dari tiga hari Reina mengabaikan dirinya, meski sikap Reina masih sama. Tetap lembut dan baik padanya, hanya saja, sikap acuh dan cuek wanita itu semakin membuat Erland tak nyaman.


“Saya sedang memiliki masalah mulut, jadi tidak bisa banyak bicara.” Alasan Reina hanya dibalas dengan tatapan polos dari Erland.


“Masalah mulut apa? Mamah sakit gigi? apa itu karena Mamah terlalu banyak minum es?” tatapan polos Erland tentu hanya bisa mendapatkan helaan nafas panjang dari Reina.


Reina menatap Erland lama, walau ia hanya diam, tapi Reina kini sedang berfikir dengan cukup dalam. Salah juga jika Reina marah pada Erland, laki-laki yang baginya masih polos dan mungkin tidak bisa paham dengan kemarahan dan kesedihannya.


Jangankan Erland yang tidak akan tahu alasan dirinya marah saat ini, Reina saja merasa jika ia tidak tahu mengapa ia bisa marah saat ini.


“Tidak, hanya sariawan biasa.”


“Kenapa bisa? Mamah kenapa sariawan? apakah itu benar-benar sangat menyakitkan? Erland ingin lihat dan memastikan,” tatapan yang polos dengan nada khawatir yang jelas tidak dibuat-buat. Erland benar-benar merasa khawatir dengan Reina.


“Tidak perlu! aku baik-baik saja,” kata Reina, entah kenapa ia menggunakan kata aku' dibandingkan kata Saya' yang terasa asing.


“Erland tidak akan bisa tenang sebelum melihat langsung keadaan Mamah, izinkan Erland untuk melihatnya dengan jelas.” Tatapan polos dan penuh kekhawatiran itu terlihat, membuat Reina luluh dan tidak bisa untuk menolaknya.


“Ekhm.”


Deheman yang terdengar sengaja dikencangkan oleh Asyila, membuat Erland dan Reina menoleh.


“Mohon maaf nih ya Buk, tolong perhatikan kita saat ini ada di mana, jangan buat orang marah dan iri karena kemesraan kalian. Ya bagi kalian sih beda cara pandangnya, tapi 'kan bagi yang lain, mereka pasti menganggap kalian sedang bermesraan.”

__ADS_1


Keluhan dan gerutuan Asyila membuat Reina tersadar, jika kini mereka sedang ada di sebuah restoran makan. Jarang sekali Reina mau diajak makan oleh Asyila, meski Asyila sering sekali membujuk Reina serta mengatakan jika ia akan membayar biaya makan. Tapi Reina tetap saja menolak traktiran yang ditawarkan Asyila.


Dan akhirnya, sejak ada Erland. Untuk pertama kalinya Reina mau diajak makan bareng di sebuah restoran oleh Asyila. Bukankah hari ini Asyila harus berterimakasih pada laki-laki itu? laki-laki yang kini sedang duduk di samping Reina. Tatapan khawatir masih tak lepas dari wajah laki-laki itu.


“Sudahlah Erland, Reina itu hanya beralasan. Kamu jangan percaya dengan kebohongannya itu.” Jika saja Asyila tahu Erland kini telah mengingat semuanya, mungkin ia tak akan berani berbicara santai atau mengatakan nama Erland langsung. Apalagi usia Erland ada di atasnya.


“Harusnya kamu memanggilnya dengan sebutan Kakak' atau tuan. Bukankah dia jauh lebih tua dari kita? apa yang kamu katakan tadi terdengar tidak sopan,” komentar Reina.


“Ya ampun, kamu juga panggil langsung namanya loh. Terus kalau kita panggil dia dengan sebutan Kakak' nanti dia akan bingung sendiri. Bingung mikirin, memangnya dia setua itu? ingat 'kan jika ingatan terakhirnya pas kapan.”


Setelahnya Asyila entah kenapa tertawa, ada rasa lucu saat membayangkan Erland sedang merasa bingung dan bertanya-tanya akan sebutan Kakak' yang ia ucapkan.


“Hai sayang, maaf sudah buat kamu nunggu lama.”


Kata seorang pria yang langsung mencium pipi Asyila mesra. Laki-laki yang menjadi kekasih dari Asyila itu, ia dengan santai duduk disamping Asyila.


“Apa masalahnya saya dengan pacar saya balikan? toh kami yang akan menjalani itu semua. Memang apa pedulinya Anda dengan urusan kamu?” sinis laki-laki yang bernama Arga.


Reina bukan tidak suka melihat sahabat baiknya itu bahagia, ia justru akan ikut bahagia jika sahabatnya bahagia. Tapi ini masalahnya adalah, laki-laki yang bernama Arga itu, telah tiga kali berselingkuh dari Asyila.


Perlu di harus bawahi, tiga kali. Bukan hanya sekali, bukankah itu sangat-sangat keterlaluan? dan kenapa wanita yang bernama Asyila itu masih menerima laki-laki brengsek itu?


“Kamu ternyata masih polos,” komentar Reina.


Sejak pertama kali mengenal Asyila, Reina tahu jika Arga memang tidak baik. Gelagat laki-laki itu sudah terlihat sejak awal. Bahkan hampir beberapa kali Arga diam-diam mengajak Reina untuk menjadi kekasihnya.


Bukankah itu terdengar gila? lalu respon Reina saat itu, tentu dengan tanpa ampun ia membuat laki-laki yang bernama Arga babak belur. Hingga ia sempat berdebat dengan Asyila walau pada akhirnya Reina dan Asyila tetap menjadi sahabat baik hingga saat ini, seolah perdebatan itu menjadi alasan mereka akrab lagi.

__ADS_1


Dan alasan mengapa Arga kini sangat membenci dan memusuhi Reina, tentu karena penolakan dari wanita itu yang berhasil membuat harga dirinya itu terluka, belum lagi ia sempat dibuat babak belur oleh wanita itu.


“Jangan pernah berani untuk menghasut kekasih saya, Anda tak akan mengerti dengan hubungan kami. Jadi, tolong jaga batasan Anda!” tegas Arga dengan tatapan tak sukanya.


Arga tidak sadar jika dari tadi Erland terus saja menatap kearahnya dengan tatapan tajam yang terkesan datar, senyum meremehkan yang akan sangat ditakuti oleh para bawahannya Erland, karena dari senyum itu, tersimpan rencana yang tentu akan menyengsarakan Si orang yang berhasil menyinggungnya.


...........


“Bukankah akan ada sesuatu hal yang terasa sangat menarik? tuan saya sangat menantikan kejutan apa yang akan Anda buat nanti,” kata Daniel yang kini sedang meminum jus yang ia pesan. Ia kini dengan santai menjaga tuannya dari jarak yang cukup jauh.


...........


“Saya tahu jika Asyila itu kekasih Anda, dan saya hanya ingin mengingatkannya sebagai seorang teman baiknya saja. Tapi jika hal itu sudah menjadi keputusan dan apa yang ia inginkan, saya tidak akan pernah ikut campur.” Dibalik kata tegas dan acuh, tersimpan rasa kecewa yang mendalam. Rasa kecewa yang berusaha Reina sembunyikan karena sahabatnya itu.


“Reina,” Asyila hendak menengahi perdebatan itu. Tapi justru Erland langsung bangkit, ia seolah ingin mengajak Reina untuk bangkit.


“Mah, Erland ingin pulang. Paman jelek itu sangat bau, Erland tidak tahan untuk terus mencium bau tubuhnya!” perkataan Erland tentu saja langsung membuat Arga marah.


Dari sebelum datang ke sini, Arga sudah memakai parfum yang cukup banyak. Berharap jika nanti bau badan yang ada dalam dirinya setelah bertemu dengan kekasihnya atau selingkuhannya itu tidak tercium oleh Asyila.


“Kamu!” Arga ingin marah, ia sampai menunjuk ke arah Erland. Tapi begitu melihat tatapan tajam Erland, entah kenapa sebagai laki-laki Arga merasa takut.


Tinggi badan Erland yang jauh lebih kekar dan tinggi dari Arga, membuat perbedaan itu semakin jelas, Arga serasa tidak ada bedanya dengan tinggi seorang wanita.


“Mati,” ancaman melalui gerakan bibir yang hanya Arga saja yang tahu. Hal itu tentu membuat Arga gemetar seketika itu juga.


*****

__ADS_1


__ADS_2