Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Seperti ada yang tidak beres


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


“Ayah, akhirnya aku bisa bertemu dengan Anda juga,” kata Alisa. Ia yang kini berstatus anak Harry walau tidak ada orang yang mengetahui itu selain orangtuanya Jack dan Rossa.


Tentu saat mendengar apa yang Jack katakan saat itu, membuat Alisa sangat senang, ia bahkan tidak berfikir jika laki-laki yang sangat keren dan terkenal ini ayahnya.


Alisa kini tidak lebih dari seorang anak yang tak tahu apa-apa. Tidak tahu kebenaran dengan jelas, dan ia juga tidak tahu jika kini dirinya sedang dimanfaatkan oleh ayahnya sendiri, Jack.


“Iya, Ada apa Nak? apa ada sesuatu yang kamu butuhkan? apa yang aku berikan pada kamu beberapa hari yang lalu itu tidak cukup?” tanya Harry langsung.


Selama seminggu lebih, kehidupan Alisa berubah drastis dalam semalam. Ia yang biasanya harus diam-diam naik kendaraan umum seperti ojek dan angkot, kini dengan berani Alisa memakai mobil sport baru pembelian ayah yang ada dihadapannya.


Harry


Alisa tidak peduli dirinya bukan anak Jack, yang ada di kepalanya kini hanya harta dan kekayaan. Ia justru senang akan hal itu, kenyataan yang baginya adalah hal yang tak terduga dan seperti sebuah keberuntungan.


“Ayah, Alisa benar-benar sangat berterimakasih atas apa yang ayah berikan padaku beberapa hari yang lalu, juga kado dan gaun yang sangat banyak untukku kemarin, Alisa sangat senang dengan itu.”


Seperti sengaja bertele-tele, dengan menyanjung dan wajah yang terlihat senang juga terharu seakan ingin menunjukkan jika dirinya adalah orang yang tahu caranya berterimakasih.


“Tapi ..., tapi ....” Wajah ragu dan tak enak hati seolah merasa keberatan untuk mengungkapkan keinginannya itu, kini Alisa tunjukan.


“Katakan, apa mau kamu?”


“Bisakah Anda mengirim saya uang setiap bulan. Nominal yang mungkin bagi saya sangat berarti, dan mungkin itu tidak berarti apa-apa untuk Anda. Tolong berikan saya uang ayah ... ” Perkataan Alisa dengan wajah tak enak hati. Berbeda sekali dengan ucapannya itu yang terkesan tak tahu malu.


“Padahal aku selama ini selalu mengeluarkan uang untuk kamu, apa kamu tidak pernah diberikan uang oleh ayah dan ibu kamu itu?”


Alisa hanya diam, ia kesulitan untuk memilih kata yang tepat untuk ia katakan. Jadi ayahnya Jack, dan ibunya selama ini mendapatkan banyak uang dari orang yang ada di hadapannya ini? dan itu setiap bulannya. Tapi berapa itu? dan kenapa Alisa tidak pernah tahu?

__ADS_1


“Apa ayah selama ini mengirimkan kami uang?” tanya Alisa secara tidak langsung sudah berhasil mendapat tatapan bingung dari Harry.


“Jadi kamu benar-benar tidak mereka beri uang?” tanya Harry yang hanya melihat kebungkaman dari Alisa saat ini.


Alisa bukan tidak pernah diberi uang oleh ayah yang telah merawatnya. Ia justru selalu diberikan yang terbaik oleh laki-laki itu. Hanya saja Alisa tidak tahu akan hal itu.


“Jadi apa selama ini ayah sangat baik padaku karena identitas aku yang tidak biasa ini?” batin Alisa yang merasa percaya diri jika dirinya adalah anak kandung Harry.


Padahal dari segi wajah, tidak ada kemiripan sama sekali yang terlihat antara Harry dan Alisa, tapi Alisa tidak merasa curiga sama sekali akan hal itu. Justru ia malah berfikir jika dirinya memang benar adalah anak Harry.


“Alisa, kenapa? apa kamu benar-benar tidak diberi uang oleh ayah kamu?” tanya Harry lagi dengan tatapan seriusnya.


Alisa yang mendengar pertanyaan dari Harry itu, ia tersadar, ia tersenyum dan terlihat berfikir sejenak. Harusnya Alisa mengatakan betapa baiknya ayah dan ibunya yang telah merawatnya. Tapi entah kenapa, ada pemikiran buruk yang Alisa pikirkan saat ini.


“Ayah, sebenarnya aku tidak terlalu banyak diberi uang, mereka hanya akan memberi uang sedikit untukku. Dan sisanya mereka pakai untuk adikku Reina.” Bohong, mana ada Reina menerima uang dari Jack dan Rossa.


Justru sejak kecil Reina sudah belajar mencari uang jika ia ingin jajan. Maka itu, Reina kadang jarang sekali jajan demi uangnya bisa ia tabung.


“Iya, kami hanya berbeda kurang lebih satu tahun. Adikku adalah orang yang manja dan sangat suka sekali berfoya-foya. Demi dirinya aku rela mengalah dan sering memakai pakaian yang murah.”


Harry tidak berkomentar banyak. Ia lalu merespon dengan anggukan. “Baiklah, akan ayah kirim kamu uang seperti yang kamu minta.”


...*****...


“Erland.”


Reina akhirnya memanggil Erland yang dari terus saja membuntutinya. Laki-laki itu berdiri dibelakangnya dengan ekspresi polosnya tanpa berdosa sama sekali.


“Iya Mah?”

__ADS_1


“Bisa duduk? saya sedang memasak! apa kamu ingin jika nanti kamu terkena cipratan minyak? atau kamu ingin jika nanti saya terluka?”


“Jangan, kalau begitu Erland akan duduk sekarang juga.” Dengan patuh Erland duduk dengan tatapan yang tak lepas dari Reina.


Reina akhirnya menyajikan makanan yang baru saja ia buat dihadapan Erland. “Makanlah lebih dulu, ada tugas kuliah yang perlu aku selesaikan.”


Setelahnya Reina berjalan menuju kamarnya, ia lalu mengerjakan tugas yang harus ia kerjakan. Tugas kuliah yang sepertinya sangat mudah sekali Reina kerjakan. Itu seperti materi yang sudah pernah di bahas secara berulang-ulang padahal materi itu baru pernah Reina lihat sekali.


Butuh waktu kira-kira 15 menit untuk Reina selesai mengerjakan tugasnya itu. Setelah selesai, Reina lalu keluar menuju tempat Erland yang mungkin sudah selesai makan


“Kenapa tidak kamu makan?” tanya Reina heran saat ia melihat jika piring yang berisi makanan itu masih penuh dan terlihat belum dimakan sama sekali oleh laki-laki itu.


“Mah, Erland sedang menunggu Mamah. Erland tidak mungkin makan sebelum Mamah makan.” Mendengar itu Reina hanya bisa menghela nafas panjang.


“Kalau begitu biar saya hangatkan lagi makanan kamu ini. Kita akan makan bersama,” putus Reina yang pada akhirnya membuat makanan untuknya serta menghangatkan makanan milik Erland.


“Mah,” panggil Erland saat Reina sudah menaruh makanan miliknya dan milik wanita itu di atas meja.


“Erland pasti akan menikahi wanita seperti Mamah,” kata Erland dengan tatapan yakin.


Reina yang mendengar itu hanya diam, ia menatap Erland dengan tatapan seriusnya. “Bukankah kamu tahu jika saya ibu kamu? lalu mengapa kamu berfikir jika kamu akan menikahi ibu kamu sendiri?”


“Bukan, Mamah bukan ibuku.”


Kata Erland yang langsung dihadiahkan tatapan tak percaya dari Reina. “Kamu sudah mengingat semuanya saat ini?” tanya Reina. Entah mengapa ada perasaan sedih yang tidak bisa untuk Reina ungkapan.


“Tidak! Erland tidak bisa mengingat dengan jelas. Tapi Erland rasa jika Mamah memang bukan ibu kandung Erland.” Perkataan Erland langsung dihadiahkan tatapan tak mengerti dan tak percaya dari Reina.


Jadi apa maksudnya ini? apa Erland masih belum bisa mengingat identitasnya itu? tapi kenapa? kenapa lelaki itu bisa tahu jika dirinya ibunya?

__ADS_1


Dan apa alasan laki-laki itu memanggil dirinya Mamah' sejak pertama kali mereka bertemu? banyak sekali pertanyaan yang rasanya ingin Reina ungkapkan saat ini juga.


__ADS_2