Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Harry young


__ADS_3

Harry yang melihat jika ada Reina dari jarak jauh, awalnya ia hendak menghampiri Reina saat itu juga.


“Tuan, apa Anda ingin saya memandu Anda untuk mengelilingi gedung?” tanya salah satu bawahan Harry dengan hormat.


Tama, ia adalah rektor di universitas itu. Sebagai bawahan kepercayaan yang telah dipercaya untuk memimpin universitas. Tama menjalankan visi misi universitas dengan sebaik mungkin.


Hingga, universitas putra putri Harapan Bangsa' termasuk ke dalam universitas internasional.


“Iya, sudah lama sekali rasanya aku tidak datang ke sini,” kata Harry yang pada akhirnya memilih untuk melanjutkan niat awalnya mengecek universitas yang telah ia bangun kurang lebih sekitar 20 tahun lamanya.


Dengan kelengkapan fasilitas dan nama baik keluarga Young, tentu nama universitas itu bukan hal yang asing lagi di negara ini. Entah berapa banyak para sarjana terbaik yang dihasilkan, yang jelas universitas itu sering meraih penghargaan.


“Bagaimana perkembangan yang ada? apa ada yang akan kamu rekomendasi untuk masuk ke perusahaan?” tanya Harry.


Setiap ada mahasiswa ataupun mahasiswi yang lulus dan mendapat gelar sarjana, para lulusan terbaik akan ditanyai langsung dan ditawari untuk bekerja secara langsung di perusahaan Young. Hampir seluruhnya memilih untuk bekerja di perusahaan itu, dari segi manapun mereka tentu akan merasa perusahaan young lah yang paling mereka ingin untuk bisa bekerja di sana.


“Ada, tapi ada yang lebih baik tuan. Hanya saja mungkin kita butuh waktu untuk bisa mendapatkan mahasiswi terbaik itu.”


“Bukankah jika sudah memenuhi syarat kamu bisa meloloskan dirinya agar segera mendapat gelar sarjana? apa ada masalah?”


“Tidak tuan, hanya saja meski saya menawarkan dirinya untuk bisa segera mendapat gelar yang diinginkannya, ia sering menolak itu, karena justru ia ingin lulus seperti mahasiswa dan mahasiswi pada umumnya.”


Penjelasan Tama langsung menghentikan langkah Harry, ia menoleh dan menatap Tama penasaran. “Ada yang seperti itu? apakah dia juga bersekolah layaknya murid biasa? meski jelas-jelas memiliki kemampuan untuk melompat kelas?” tanya Harry.


“Dia anak yang sangat pandai tuan, bahkan sering menjadi perhatian bagi banyak dosen dan wakil dekan. Hanya saja dia kini sedang terkena scandal hingga terancam dikeluarkan.”


“Kenapa bisa?” tanya Harry.


Baru kali ini Harry melihat jika Tama memiliki perhatian lebih pada salah satu mahasiswinya.

__ADS_1


“Dia menyinggung seorang dekan tuan, dan karena keberatan dari dekan itu membuatnya terancam akan dikeluarkan. Dan masalah ini yang sedang kami bahas beberapa hari ini.”


Penjelasan Tama yang cukup terpencil itu, tentu langsung dijawab anggukan. Harry terlihat berfikir cukup dalam. Sangat disayangkan jika murid pintar dan berbakat itu dikeluarkan, mungkin suatu saat nanti dia akan sangat berguna bagi orang banyak.


“Cari tahu lebih dalam, selidiki ini secara detail. Jangan sampai ada yang salah di sini. Ingat! saya percaya pada kamu karena kamu orang yang bagi saya bisa untuk di percaya.”


“Baik tuan, terima kasih untuk kepercayaannya selama ini. Akan saya selidiki hal ini lebih jauh lagi, jika perlu akan saya selidiki secara tuntas.”


“Baiklah, saya ingin kembali ke ruangan saya.”


“Mari tuan, akan saya antar.”


...*****...


Reina yang kini sedang merasa jengah, ia tak pernah berhenti untuk sekalipun memperingati Erland. Laki-laki itu, benar-benar berada di tingkat posesif yang angkut, bahkan saat ada beberapa mahasiswa laki-laki yang melirik Reina sekilas, dengan segera Erland akan menunjukkan muka garangnya.


“Erland.”


Peringatan Reina yang entah sudah ke berapa kali. Jika saja Erland dari awal tidak merengek untuk ikut dengan dirinya, mungkin Reina akan meminta asisten rumah tangga yang ada di rumah Asyila untuk menjaganya.


Tapi Erland yang pintar justru beralasan jika pembantu Asyila sangat genit padanya. Hingga membuat Erland yang polos itu menjadi takut.


“Mah, Erland hanya tidak suka saat mereka menatap ke arah kita. Itu membuat Erland tidak nyaman!” kesal Erland yang justru langsung disambut gelak tawa dari Asyila.


“Hahaha ya ampun ..., kapan lagi ya 'kan bisa lihat tingkah lucu tuan Samoni. ” Perkataan Asyila itu langsung dijawab dengusan dan tatapan kesal dari Erland.


“Tante, jangan begitu, Erland namanya bukan tuan Samoni. Siapa itu tuan Samoni? Erland jelas tidak mengenalnya.”


“Heran deh, padahal pemikiran dia masih kayak anak 5 tahun. Tapi pintar sekali bicaranya, dia juga orang yang peka kayaknya, saking pekanya aku bahkan sampai pernah berfikir jika mungkin dia sedang akting amnesia.”

__ADS_1


Perkataan Asyila itu tidak salah, karena Reina juga sempat berfikir begitu. Karena Erland sangat pandai. Tapi untuk berfikir jika Erland berpura-pura amnesia itu bukan hal yang benar, jelas Reina tahu betul jika Erland tidak sedang berpura-pura Amnesia.


Dan jika Reina tebak, mungkin saja saat kecil Erland sangat pintar, mungkin kepintarannya bisa tiga kali lipat atau bahkan sepuluh kali lipat darinya. Entahlah, pintarnya seorang Erland jauh berbeda dengan dirinya.


“Iya, bukan hanya kamu. Aku juga sama, tapi tidak dapat dielak jika dia juga memiliki pemikiran yang polos.” Perkataan Reina tentu saja diangguki oleh Asyila, jelas selama satu bulan ini mereka tahu jika Erland itu polos.


Kadang saat melihat tingkah polosnya, Asyila sering berkata pada Reina, betapa dia sangat beruntung bisa melihat kepolosan Erland. Tapi jawaban Reina selalu membuat Asyila selalu mengendus kesal dan tidak bisa berkata-kata. Karena apa yang Reina katakan itu benar.


“Gila sih! beruntung banget kita bisa tahu wajah lugu dan lucunya tuan Erland. Nggak ngerti lagi aku,” kata Asyila yang hanya dijawab dengan tatapan datar dari Reina.


“Lebay.” Bungkam sudah, Asyila tidak berkata lebih jauh. Mood dirinya seakan jelek jika Reina sudah berkata kata itu pada dirinya.


“Asyila.”


“Iya kenapa? mau bilang lebay lagi?”


“Kata kamu tuan Erland terkenal, tapi kenapa tidak ada yang kenal apalagi merasa curiga jika yang bersama dengan kita adalah Tuan Erland Samoni?”


Asyila yang mendengar itu mengangguk, ia paham betul akan hal itu. Jelas Asyila tahu jika Erland itu memang terkenal, tapi dinegara ini dia tidak terlalu terkenal.


“Tuan Erland itu terkenal, terkenal banget malah. Tapi itu di negara yang berhasil ia kuasai. Tuan Erland bahkan sangat dikagumi dan dibanggakan. Dan bukankah kamu tahu negara mana yang menjadi pusat kekuasaanya tuan Erland?”


Reina yang mendengar itu awalnya hanya bungkam sejenak.“ Tapi mengapa kamu tahu mengenai tuan Erland sangat jauh?”


“Kamu itu kayak nggak tahu sahabat kamu aja, aku orangnya itu kepo. Tahu 'kan kalau pas waktu itu liburan aku ke luar negeri. Nah, di sana aku denger tuh nama tuan Erland. Bukan hanya di dua negara itu aja sih, tapi kadang aku sering lihat dibeberapa majalah bisnis yang ada di negara yang berbeda. Mungkin, alasan tuan Erland tidak terlalu terkenal di sini, karena pada saat pengumuman perjanjian pernikahan antara keluarga Samoni dan keluarga Young waktu itu, Tuan Erland tidak hadir.”


Salah satu alasan utamanya Erland tidak terlalu terkenal di negara ini, karena ia belum sama sekali menunjukkan sayap miliknya di sini. Dalam arti, orang-orang belum mengenal identitas Erland.


Penjelasan panjang lebar dari Asyila hanya dijawab keterdiaman oleh Reina. Ia kini sedang mencerna apa yang Asyila katakan.

__ADS_1


__ADS_2