Si Dingin Milik Tuan Erland

Si Dingin Milik Tuan Erland
Hampir tertabrak


__ADS_3

“Shhh,” ringis Reina. Ia menatap ke atas, ternyata orang yang menyelamatkan itu Erland. Wajahnya yang polos seakan menatap Reina khawatir dan takut kenapa-napa.


Reina sontak langsung bangun, ia melihat jika kini Erland terlihat mengalami luka yang cukup parah. Jauh lebih parah darinya, kaki dan tangan Erland mengalami lecet yang parah, hingga terlihat sobek.


Darah menetes dari luka Erland. Bahkan pelipis laki-laki itu terlihat berdarah. Tapi tatapan mata khawatir justru laki-laki itu perlihatkan seolah merasa takut sesuatu yang buruk terjadi pada Reina.


Beruntungnya mereka berdua selamat dari tabrakan itu, karena orang yang hendak menabrak mereka, langsung mengerem mendadak saat itu juga.


“Kamu mengikuti saya?” tanya Reina dan Erland hanya menunduk, ia seakan merasa takut dengan kemarahan Reina.


“Sudah saya katakan, kamu seharusnya tetap di rumah. Apa sekarang kamu tidak menurut lagi pada saya?” tanya Reina disertai tatapan tak sukanya itu.


Akhir-akhir ini Reina merasa jika selama tiga Minggu terakhir Erland seakan semakin agresif padanya. Laki-laki itu seakan tidak ingin ditinggal dan sering ketahuan saat diam-diam mengikuti.


Anehnya, meski ingatan laki-laki itu masih anak-anak. Tapi pemikirannya seakan sudah dewasa. Ia berfikir dengan pintar dan kadang memakai pakaian yang menyamar.


Terbukti dari penampilannya sekarang yang memakai topi dan kacamata hitam milik Reina.


“Mah, Erland takut Mamah kenapa-napa. Erland tidak ingin ditinggal pergi oleh Mamah.”


“Erland,” ucap Elisa yang terlihat sangat senang dan menghampiri Erland.


“Sayang, kamu kemana saja. Aku selama ini cari kamu kemana-mana,” kata Elisa lagi dengan suara yang terdengar senang begitu melihat Erland.


Elisa hendak memeluk Erland dengan kedua tangannya itu. Tapi tatapan tajam yang seolah tak bersahabat itu langsung membuat nyali Elisa ciut.


Tangan itu hanya menggantung di udara tanpa bisa mendekat lebih jauh. Berbeda dari Elisa yang kini terlihat sedang merasa takut. Reina yang justru sudah terbiasa dengan hal itu. Karena ia tahu jika pemikiran dan cara pandang Erland tidak lebih dari anak kecil.


Meski sebenarnya bagi orang yang tidak tahu itu akan terlihat menyeramkan.


“Tante jelek. Jangan pernah berani menyakiti Mamah.”


Kata-kata Erland entah kenapa malah membuat Elisa berfikir jika panggilan Mamah' yang Erland ucapkan untuk Reina adalah panggilan sayang. Layaknya kekasih atau pasangan suami istri. Elisa bahkan tidak sadar saat dirinya disebut dengan panggilan Tante jelek'.


“Erland, apa maksudnya itu dengan sebutan Mamah'. Kamu hanya boleh memanggil wanita dengan sebutan Mamah' pada ibu kandung kamu atau istri kamu yang akan melahirkan anak kamu nanti. Dan yang akan menjadi istri kamu itu hanya aku!”

__ADS_1


Tatapan mata kesal dan marah Elisa tunjukkan pada Reina. Ia kentara merasa tak suka dengan ini semua. Tapi Erland yang seakan ingin melindungi Reina, ia bahkan sampai memeluk Reina seakan sedang berusaha melindungi.


Elisa yang melihat itu tampak sangat kesal dan tak suka. Apalagi dengan posisi intim antara Reina dan Erland. Meski mereka berdua tidak melakukan apa-apa, tapi bagi Elisa itu terlihat intim.


“Erland, kamu hanya bisa memelukku saja. Tidak ada wanita yang berhak untuk menerima pelukan kamu selain aku. Kamu harus tahu Erland, jika sekalipun kamu tak menyukaiku, tapi perjanjian pernikahan yang keluarga kita lakukan tetap tidak bisa dibatalkan!”


Deg'


Janji pernikahan? Apakah Erland dan Elisa telah menikah? Kapan? Jadi apa selama ini Reina tinggal bersama dengan suami orang lain?


“Kita sekarang mungkin belum menikah! tapi cepat atau lambat pernikahan itu akan terjadi. Ingat, jika perjanjian pernikahan itu telah menyangkut nama baik dari keluarga young dan keluarga Samoni!”


“Tante, saya merasa tidak mengerti. Untuk apa Tante berkata seperti itu pada saya? saya tidak mengenal Anda!”


Bungkam sudah, akhirnya Elisa sadar jika dari tadi Erland memanggilnya dengan sebutan Tante.Tapi apa maksudnya ini semua? Apa Erland tidak mengenali dirinya sebagai tunangannya sendiri.


Lalu panggilan Mamah' yang Erland tadi katakan apa mungkin bukan panggilan sayang antara kekasih atau suami istri. Melainkan Erland yang menganggap Reina ibunya?


Tatapan terkejut dan tak menyangka yang Elisa tunjukkan kini, seakan membuat Reina yakin jika Elisa sudah paham akan situasi saat ini.


“Anda tidak bisa memaksa dirinya untuk mengenal lebih jauh. Dan seperti yang Anda lihat saat ini, jika kini lelaki yang sedang bersama saya, dia tengah mengalami hilang ingatan. Ingatan dirinya terakhir kali saat ia sedang berusia 5 tahun.”


Mengabaikan keterkejutan Elisa yang terlihat tak menyangka. Reina memilih bangkit dengan diikuti oleh Erland.


Melihat itu, Elisa tidak terima. “Jangan becanda Erland. Ini nggak lucu, Tante Levita pasti akan merasa sedih saat mendengarnya. Ayo kita pulang, dia bukan wanita yang tepat untuk kamu.”


Elisa menarik tangan Erland, ia sampai mendorong Reina agar menjauh. Tapi pegangan tangan Erland pada Reina seakan membuat lelaki itu terlihat enggan melepaskan Reina.


“Jangan pernah sakiti Mamah saya!”


Kini, pandangan Elisa jadi sadar dan benar-benar terbuka. Jika apa yang dikatakan oleh Reina itu benar. Erland jelas-jelas lupa ingatan dan hanya menganggap Reina sebagai ibunya.


“Erland.”


Elisa terlihat tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa melihat kepergian Erland begitu saja.

__ADS_1


“Tidak bisa dibiarkan!”


Elisa terlihat menatap tajam dan tak suka, ia sudah menyusun berbagai cara licik di otak cantiknya kini.


...*****...


“Mah, apakah itu sakit?” tanya Erland.


Laki-laki itu memaksa agar Reina diobati lebih dulu, padahal luka Reina tidak seberapa jika dibandingkan Erland.


“Erland, kamu anak yang sangat kuat.”


Kata-kata Reina yang hanya ingin mengungkapkan apa yang ia pikirkan kini, justru Erland salahpahami sebagai sebuah pujian.


“Erland akan jadi anak yang kuat. Erland juga akan jadi anak yang hebat seperti yang Mamah inginkan.”


“Biar aku obati.”


Reina mengambil obat, ia lalu membersihkan luka di tubuh Erland dan mengobatinya dengan hati-hati. Tatapan mata Erland terlihat memandang dalam, seakan ia lupa akan rasa sakitnya sendiri.


“Sudah selesai.”


“Akan aku buatkan makanan untuk kamu hari ini.”


Erland yang mendengar itu hanya mengangguk, ia tersenyum senang saat menatap ke arah Reina. Tapi tiba-tiba pandangan takut Erland tunjukkan.


“Mah, wanita tadi itu siapa? apa dia seorang penjahat?”


“Dia orang yang akan menjadi istri kamu di masa depan.”


“Jika orang yang akan Erland nikahi dimasa depan. Tentu saja itu harusnya Mamah.”


“Jangan aneh, mana mungkin kamu menikahi ibu kamu sendiri. Itu tidak mungkin!”


Meski sebenarnya Reina bukan ibu kandung Erland. Tapi sikap Erland yang saat ini menganggap dirinya ibu dari laki-laki itu. Tentu membuat Reina berfikir jika Erland telah menganggapnya sebagai ibunya.

__ADS_1


“Mah, orang yang akan Erland nikahi adalah orang yang seperti Mamah. Dingin tapi sangat lembut hatinya, bukan Tante jelek yang suka marah-marah.”


__ADS_2