
Via bangun lebih awal dari biasanya karena hari ini ia akan ada kelas pagi jadi ia harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjannya.
seperti biasa ia menuci botol-botol susu kaniya memandikan kaniya sekaligus menyuapinya. Via sangat telaten mengurus kaniya, walaupun baru beberapa hari ia sudah terbiasa dengan semua pekerjaannya. Bayi yang berusia Enam bulan itu juga nampak lebih ceria membuat Ratih semakin menyukai Via.
Via menuruni tangga sambil menggendong kaniya,ia sudah rapi dengan pakaian yang melekat sempurna di tubuhnya dan rambut yang ia ikat ekor kuda,tak lupa totebag nya yang menggantung di bahu sebelah kiri.
ia melewati meja makan dan melihat Daniel beserta Ratih sedang sarapan.
"pagi nyonya, tuan. " sapa Via seraya membungkukkan sedikit punggungnya. kemudian ia belalu ke halaman belakang mencari bi Lina yang sedang menjemur kerupuk.
"Bi lina, Via ada kelas pagi. nitip Kaniya ya. udah mau telat nih bi. " ucap kaniya yang kini berdiri di teras belakang.
"oh iya sini, sini bentar bibi cuci tangan dulu. " ucap bibi kemudian ia mencuci tangannya sebelum menggantikan via menjaga kaniya.
Setelah cuci tangan bi lina mengambil alih Kaniya di gendongan via, bayi itu selalu berceloteh dengan via yang mengajaknya bicara, Tau sendiri kan bahasa bayi seperti apa..? ya seperti itulah.
Via berpamitan kepada Bi Lina untuk ke kampus. saat masuk ke dalam rumah ia bertemu dengan sinta yang tengah membawa air putih untuk majikannya. tiba - tiba sinta dengan sengaja menabrak Via hingga air yang ia bawa tumpah mengenai baju via.
"ya ampun maaf aku nggak sengaja. " ucap sinta berpura-pura.
"iya, iya nggak papa. " ucap via. padahal ia tahu Sinta sengaja melakukan itu. Via malas berdebat dengan sinta karena tak ingin terdengar oleh majikannya,itu sangat memalukan. akhirnya ia kembali ke kamar untuk ganti baju.
Via dengan cepat melangkahkan kakinya menuruni tangga, ia sudah hampir terlambat.
"Via, kamu tidak sarapan dulu? " ucap Ratih yang masih sarapan. Begitupun dengan Daniel, lelaki itu masih menikmati nasi goreng yang ada di piringnya tanpa merespon via. lelaki itu benar-benar ahli dalam menyembunyikan perasaan.
"Tidak nyonya, saya akan sarapan di kantin saja. saya sedang terburu-buru. " ucap via sopan.
"saya pamit nyonya. " ucap via setelah ia mengisi botolnya dengan air mineral untuk ia bawa. via selalu membawa air putih kemanapun, karena baginya air putih itu sangat penting untuk tubuh.
"kamu bareng aja sama Daniel. " ucap Ratih membuat Daniel yang kini tengah menyendok nasi goreng itu menghentikan tangan menatap mamanya.
"Ma-"
"ayolah Daniel kasihan Via terburu-buru nanti dia telat ke kampus. " Ratih memotong ucapan Daniel, ia sudah tau apa yang akan di katakan oleh putranya itu, pasti Daniel akan menolak.
"tidak usah nyonya saya sudah pesan taxi online kok " jawab via
"Nggak papa via, batalin taxi nya. kamu berangkat bareng Daniel. " ucap Ratih.
Via pun menatap daniel melalui ekor matanya.lelaki itu tengah minum air putih. Kemudian berdiri dari kursinya.
"aku berangkat ma." ucap Daniel kepada Ratih kemudian melenggang pergi.
"apa kamu tidak jadi ke kampus?" ucap Daniel cuek membalikkan badannya menatap via yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"i, iya tuan. " dan akhirnya via mengikuti Daniel di belakang. Sedangkan Daniel yang berjalan di depannya tersenyum.
Mobil sedan berwarna hitam milik Daniel melaju membelah jalan raya yang terlihat sibuk di pagi hari. Kendaraan berlalu lalang menuju tempat tujuan masing-masing.
Keheningan menyelimuti suasana di dalam mobil milik Daniel yang kini di kendarai oleh Martin asisten pribadi Daniel. Martin adalah orang kepercayaan Daniel, dimana ada Daniel di situ ada Martin. Sesekali Martin melirik kaca sepion yang berada di atasnya melihat dua orang yang kini duduk di bangku belakang. Daniel sibuk dengan benda pipih yang berada di tangannya, ibu jarinya menggeser-geser layar ponsel pintar tersebut. Sedangkan gadis yang duduk di sebelahnya hanya memandang ke luar jendela dengan jantung yang tak tenang. ia gugup sekali harus duduk satu mobil dengan majikan super cueknya tersebut, walaupun ini bukan kali pertama Via satu mobil dengan Daniel tapi ia merasa kali ini benar-benar tak nyaman. ia masih ingat tragedi semalam, ia benar-benar malu jika mengingat kejadian itu. Daniel sesekaki merilirik Via, ia tahu jika gadis di sebalahnya ini sedang tak nyaman.ia tersenyum kecil.
ekh khem
"masukkan nomor telponmu. " Ucap daniel cuek seraya menyerahkan ponsel ke via,tanpa melihatnya.
Gadis itu menoleh ke arah Daniel sambil mengernyitkan dahinya.
"jangan salah paham, aku harus memastikan putriku baik-baik saja." imbuh Daniel seraya menatap tajam via.
Via pun akhirnya mengambil ponsel tersebut dan mengetikkan nomornya, kemudian menyerahkan kembali ponsel itu ke Daniel.
Dering ponsel via berbunyi, gadis itu merogoh ponselnya yang berada di totebag. ia melihat nomor asing sedang menelponnya. Namun panggilan tersebut berakhir sebelum ia menggeser tombol hijau di layar.
"simpan nomorku, jika terjadi sesuatu dengan kaniya segera hubungi aku. " ucap Daniel.
via menoleh ke arah Daniel. lelaki itu masih memainkan ponselnya.
"baik tuan. "ucap via.
Via menghela nafas melihat mobil majikannya yang semakin menjauh.
Ia benar-benar lega sudah terlepas dari situasi yang tak mengenakkan.
Via berjalan memasuki gedung kampus tempatnya belajar dan menuju ruang kelas. ia melihat sahabatnya sudah duduk manis di bangku urutan ketiga dari depan.
"tumben datengnya mepet lu vi. " ucap Nina kepada via yang kini tengah duduk dan menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
"biasalah Na, aku ngurus kaniya dulu tadi. "
ucap via.
"oh iya ya. " ucap nina sambil tersenyum hingga terlihat deratan giginya yang rapi.
"Gimana enak nggak kerja di rumah kak Daniel?" tanya nina lagi.
"ya gitulah na, kadang ya capek namanya juga kerja. eh tapi kok kamu udah kelihatan akrab banget sama tuan Daniel. " Via balik bertanya.
"iyalah, kak Daniel itu sahabatan sama kak niko dah lama banget. Kak Daniel dulu sering kerumah,Dan dia orangnya asik kok selalu bawain makanan kalok datang ke rumah. " jelas nina.
asik apanya..?? majikan cuek begitu asik darimana..?
__ADS_1
batin via.
Tak lama setelah itu dosen yang mengajar masuk dan memulai kelas.
••••••••••••
Sarah sedang menggendong cucunya di ruang depan, ia melihat Ivan sudah rapi dengan kemeja dan celana warna hitam yang ia pakai. tak lupa tas persegi miliknya di bahu sebelah kiri.
"pagi sayangnya ayah. " ucap ivan seraya mencium kening putrinya lalu duduk di samping sarah.
"udah mau berangkat van?" tanya sarah.
"iya bu. "ucap ivan seraya memegang tangan kecil putrinya.
"kapan kamu akan mencarikan Rania seorang ibu Van.?" ucap sarah penuh kelembutan.
"Ibu tolong jangan bahas itu lagi. Ivan nggak papa jika harus membesarkan Rania sendiri. " ucap ivan.
"Tapi Van kasihan Rania,dia juga butuh kasih sayang seorang ibu. Dan juga ibu ingin ada yang mengurusmu."ucap Sarah.
"apa ibu sudah bosan mengurusku?" tanya Ivan.
"apa yang kamu katakan Ivan, bukan itu maksud ibu. " ucap sarah
Ivan tersenyum,kemudian menggenggam tangan sarah.
"Iya ibuku sayang aku tau maksud ibu."ucap ivan.
"tapi ivan belum merasa ada yang bisa menjadi ibu untuk Rania. Ivan takut jika salah pilih akan berdampak buruk bagi Rania. aku mau perempuan yang menerima aku apa adanya bukan karena fisik atau materi ibu. " jelas ivan penuh kelembutan.
"bukankah agnes sangat mencintaimu van? ibu melihat agnes juga sangat menyayangi Rania. " ucap ibu.
Ivan menghela nafas kemudian berdiri.
"Ivan berangkat dulu ya bu." ucap ivan .
"bye putri ayah, jangan buat nenek kecapekan ya." Ivan mencium kening putrinya sebelum melenggang pergi.
Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepergian ivan.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1