Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 32


__ADS_3

Via memperhatikan seseorang yang duduk di sebelahnya saat ini yang sedang fokus mengemudikan mobil. Lelaki itu terlihat berbeda sekali dari biasanya. Dia sedang bersenandung seraya memutar setir mobilnya sesekali. Apa yang terjadi dengannya..? pikir gadis itu.


Flashback


Ketika ia keluar dari kampus, ia melihat mobil Daniel sudah terparkir di halaman parkir kampusnya. Gadis itu menghampiri mobil tersebut dan masuk kedalam setelah sebelumnya Daniel memberi tahu dirinya. Lelaki yang memakai setelan jas dan kaca mata hitam yang melekat dimata itu tersenyum menyambutnya. Dan tanpa sepatah katapun Daniel melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


Daniel mengajak Via ke mall dengan alasan ingin membelikan baju untuk Kaniya, tapi lihatlah kejok belakang. Hampir semua belanjaan itu milik Via. Baju,sepatu bahkan tas yang menurutnya tidak ia butuhkan.


Ia sudah menolak untuk dibelikan itu semua, tapi Daniel malah menyuruh karyawan toko membungkus semua yang ada di butik tersebut. Dengan terpaksa Via memilih satu baju dan sepasang sepatu yang bisa ia kenakan saat kuliah. Ia tak tahu jika Daniel sudah menyuruh karyawan toko tersebut untuk membungkus beberapa barang yang cocok untuk seumuran Via.


Tentu saja ia terkejut saat kasir itu memberikannya beberapa paparbag yang besar-besar, ia ingin protes tapi belum sempat ia berucap Daniel sudah lebih dulu berkata.


"Jangan protes." Sembari menerima kembali kartu atm dari kasir. Lelaki itu seakan tahu apa yang dipikirkan Via. Gadis itu tersenyum kikuk kepada karyawan dibutik tersebut yang sedang berbisik-bisik,lalu ia segera menyusul Daniel pergi dari butik tersebut.


Huftt sangat memalukan.


Gumam Via sembari berlari kecil menyusul Daniel. Ingin rasanya ia getok kepala majikannya itu dengan sepatu. Tapi itu mustahil, mungkin ia akan dimakan hidup2 terlebih dulu sebelum menggetok kepala majikannya itu,pikirnya.


Daniel juga mengajaknya makan siang, tapi kali ini Daniel meminta Via untuk merekomendasikan tempat makan favoritnya. Alhasil Via mengajak Daniel ke warung mie ayam langganannya dulu. Kebetulan ia sudah lama sekali tidak makan mie ayam yang dulu sering ia datangi ketika masih ngekos.


"Kamu yakin makan disini..? "Ucap Daniel sembari memperhatikan warung yang bertuliskan mie ayam Pak Man tersebut.


"yakin, kenapa..?? tapi kalau tuan nggak mau kita cari tempat lain saja. " Ucap Via.


Daniel melepas jas nya dan kacamatanya, membuat Via seketika tersentak.


"Tuan mau ngapain..?" Ucap Via seraya menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.


"ayo turun... "ucap lelaki itu.


Via membuka tangannya dan


Astaga..


Gadis itu terpana melihat pemandangan didepannya saat ini.

__ADS_1


Penampilan Daniel sungguh berbeda sekali, bagian bawah kemejanya masih ia masukkan kedalam celana, hanya saja bagian lengannya ia gulung hingga kebawah siku dan ia juga melepas dasinya, kemudian ia buka juga satu kancing kemejanya dibagian atas.


Ini duda kenapa jadi keren begini.


Gumam via dalam hati.


"Jangan kebanyakan melamun" Ucap Daniel seraya menjentikan jarinya didepan wajah Via.


Gadis itu mengerjapkan matanya dan merasakan pipinya memanas.


Daniel yang melihat ekpresi Via pun tersenyum, kemudian turun dari mobil di ikuti oleh Via.


Via memesan dua porsi mie ayam dan es jeruk sebelum ia masuk dan duduk disalah satu meja pengunjung yang lumayan ramai. Banyak pasang mata memperhatikan mereka berdua. Ya iyalah neng, ke warung mie ayam tapi bawa malaikat. xixixi😁.


Tak lama pesenan mereka pun datang dan Via mulai meracik mie ayam favoritnya. Sedangkan Daniel masih diam saja memperhatikan Via.


Setelah dirasa pas, Via segera melahap mie ayamnya, namun ia urungkan niatnya yang hendak memasukkan suapan mie kedalam mulutnya karena melihat Daniel yang hanya mengaduk-aduk mie ayam miliknya.


Gadis itu menggelengkan kepala sembari menyunggingkan senyuman, dan tanpa berkata apapun langsung menarik mangkuk mie ayam milik Daniel kemudian meraciknya.


"aahh,, enak sekali. Sudah lama aku tidak makan mie ayam Pak Man." Gumam Via.


"seenak itu kah..? " Ucap Daniel.


"emm," Via mengangguk


"Cobalah, tuan pasti akan ketagihan. " Imbuhnya lagi.


Daniel mencoba sedikit kuah mie tersebut, lalu mencoba lagi dan akhirnya mulai melahap mie ayam miliknya juga. Rasanya sungguh meledak dimulutnya. Warung yang sangat sederhana tapi makanannya seenak ini, pikirnya.


Dengan lahap ia memakan mie ayamnya. Bahkan pria itu ingin nambah lagi, tapi ia urungkan karena malu dengan Via.


Aku harus kesini lagi.


Batin Daniel**.

__ADS_1


Flashback off.


Sampai dirumah, Via membawa belanjaan yang tadi dibelikan Daniel. Namun ia terlihat kesusahan membawanya. Bagaimana tidak, entah berapa paperbag yang ia bawa yang ukurannya besar-besar. sampai-sampai ia harus berhenti dan membetulkan kembali pegangannya ditali paperbag tersebut agar tidak ada yang terjatuh. Tiba-tiba saja Daniel menyaut paperbag yang akan ia bawa kembali. Via mendongak menatap Daniel.


"Kalau perlu bantuan bilang. " Ucap Daniel sembari menyunggingkan senyumnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Via.


Via masih menatap punggung majikannya yang mulai tenggelam dibalik pintu. Ia benar-benar dibuat heran oleh tingkah Daniel.


Daniel meletakkan paperbag yang ia bawa didepan pintu kamar Via.


"Kamu istirahat saja. Biar Bi Lina dulu yang menjaga Kaniya. " Ucap Daniel.


"em, tuan. Apa tuan baik-baik saja..? " Ucap Via membuat pria didepannya itu mengerutkan keningnya.


"ekh maksudku, emmm. " Via melirik paperbag yang berada didepan pintu kamarnya,begitu juga dengan Daniel. Mengikuti arah pandang Via,lalu tersenyum.


"aku baik-baik saja. Tidak usah cemas. " Ucapnya sembari tersenyum.


"Ya udah kamu masuk dan istirahat. " Imbuhnya lagi kemudian berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Via yang masih terdiam ditempatnya berdiri saat ini.


Gadis itu memiringkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu,kemudian masuk kedalam kamarnya.


Daniel POV


Jantungku seperti dihujam ribuan pisau melihatmu tertawa riang bersama laki-laki lain. Otakku seketika berhenti berpikir, hanya amarah yang menguasaiku. Kamu tak pernah menunjukan tawamu didekatku hanya ketegangan yang kulihat dari dirimu. Aku sungguh marah mengingat hal itu. Marah dengan diriku sendiri yang tak bisa membuatmu tertawa sebahagia itu. Ingin rasanya kubanting ponsel yang terdapat fotomu dengan lelaki itu. Namun aku harus menahan amarahku didepan wanita ular itu. Sebisa mungkin aku harus menahannya.


Karena aku bukanlah anak kecil yang akan meluapkan amarah karena cemburu.


Aku akan berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa saat didekatku, dan menghilangkan rasa canggung diantara kita. Aku tidak akan kalah dengan laki-laki itu, karena kamu hanya milikku seorang.


Alvia Pranisti.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2