Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 35


__ADS_3

Orang-orang terlihat sibuk, berlalu-lalang melakukan tugasnya masing-masing.


, mempersiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan. Hari ini adalah hari dimana seorang gadis yang selama ini berjuang hidup sendiri akan melepas masa lajangnya. Meninggalkan kehidupan suramnya menuju kehidupan yang lebih baik.


Benarkah akan menjadi lebih baik..?? atau mungkin sebaliknya..??


Via menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. Ia seakan tak percaya dengan semua ini.


Ini benar-benar terjadi.


Pikir gadis itu.


Sesuatu yang tak pernah ada di pikirannya, bahkan sedikit pun tak terlintas. Selama ini ia hanya memikirkan kuliahnya saja, agar bisa memenuhi janji pada mendiang kedua orang tuanya.


"OMG, Via.. " Ucap Nina yang baru saja datang dan menghampiri Via.


"Lu cantik benget,sumpah." Gadis itu memperhatikan sampai berputar mengelilingi Via yang hanya tersenyum menanggapi kehebohan Nina.


"Gue bener-bener nggak nyangka lu bakalan nikah hari ini. Gue bahagia buat lu. " Ucap Nina, kemudian memeluk Via.


"Makasih Na, " balasnya tersenyum.


"Sudah dulu pelukannya,sekarang Via om bawa dulu. " Ucap David yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka berdua.


Nina dan Via pun saling melepas pelukannya.


"Kamu sudah siap Via. " Ucap David.


Via menerik nafas dalam kemudian menghembuskannya.


"Sudah Tuan. " Ucapnya.


"No, sekarang kamu harus memanggilku papa. " Ucap David.


"Baiklah pa. " Ucap Via sedikit kaku sembari tersenyum.


David memberikan lengannya untuk digandeng Via. Kemudian berjalan menuju tempat dilangsungkannya pernikahan itu.


Via semakin deg-degan saat ia mulai memasuki gedung menuju altar pernikahan. Ia melihat seseorang yang gagah dengan setelan tuxedonya sudah berdiri sembari mengulas senyumannya.


Sungguh hebat sekali aktingnya.


Pikir via.


Suasana semakin menjadi haru tercampur bahagia saat lantunan lagu mengiringi perjalanan Via menuju altar, juga para tamu undangan yang turut memeperlihatkan senyumannya. Walaupun ada juga sebagian yang hanya melihat saja tanpa tersenyum.


Via juga melihat mama Ratih mengulaskan senyumannya yang telihat bahagia dan juga Kaniya yang berceloteh digendongan Bi Lina. Tak lupa Niko dan Nina yang juga tersenyum bahagia.


Kini Via dan Daniel sudah saling berhadapan. Siap untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Via semakin dibuat grogi oleh tatapan Daniel, pria itu tersenyum memandang gadis itu.


Suara tepukan tangan para tamu undangan menjadi pertanda bahwa kini Via resmi menjadi istri seorang Daniel Arta Lubis.


Mereka berdua saling mengulas senyum, tak ada yang tahu jika pernikahan mereka hanya sandiwara walaupun sebenarnya keduanya saling menginginkan.


Penikahan itu hanya dihadiri oleh kolega-kolega Daniel dan kerabat terdekat saja. Namun nyatanya mampu membuat Via kelelahan menyalami para tamu tersebut.


"apa kamu capek..? " Daniel bertanya.


"Banyak banget tamunya tuan, bilangnya tertutup. " Via menggerutu.


Daniel tersenyum.


"Ini belum apa-apa jika aku undang semua kolegaku. " ucapnya.


Via hanya melongo menanggapi ucapan Daniel.

__ADS_1


Seorang wanita melenggang cantik bak model memasuki gedung pernikahan Daniel dan via. Wanita itu langsung menuju tempat Daniel dan Via berdiri menyalami setiap tamu undangan.


Daniel memandangnya dengan tatapan tak suka, namun ia mencoba biasa saja.


"Ada Rose disini, tunjukkan aksimu. " Bisik Daniel kepada gadis disebelahnya.


Via menghela nafas lalu tersenyum menyambut Rose.


"Selamat tuan Daniel. " Ucap Rose tersenyum sembari menyalami Daniel.


"Jaga baik-baik istrimu. " Bisiknya didekat telinga Daniel.


Via memutar matanya jengah menyaksikan adegan itu, walaupun ia tak tahu apa yang dibisikkan Rose kepada Daniel.


"tak perlu kau ingatkan, aku akan menjaganya dengan baik. Nona Rose. "Ucap Daniel dengan menekankan kalimat terakhirnya.


Rose tersenyum miring kemudian melenggang pergi tanpa menjabat tangan Via, namun ia sempat berhenti sejenak di depan Via sambil melirik gadis itu dengan sinis.


Via hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Rose yang menurutnya kekanakan.


Pantes Tuan Daniel tidak suka.


Gumam Via dalam hati.


Setelah acara selesai Daniel mengajak Via menuju kamar hotel yang tergabung disatu gedung yang sama dengan tempat resepsinya tadi atas permintaan mama Ratih.


Mau tidak mau Via harus menuruti titah tersebut. Sedangkan Kaniya akan menginap di rumah utama bersama Bi Lina.


"Kamu duluan saja mandi. " Ucap Daniel.


Gadis itu mengangguk kemudian masuk kedalam kamar mandi. Ia bersender dibalik pintu ketika sudah menutupnya. Berada satu ruang dengan Daniel sungguh membuatnya spot jantung terus menerus. Ya memang ia sudah sering berduaan saja dengan Daniel, tapi kali ini berbeda. Ia sekarang sudah menjad istri dari lelaki itu, walaupun sudah ada perjanjian tertulis namun ia takut jika Daniel melampaui batas.


Sudah hampir satu jam Via berada didalam kamar mandi, namun gadis itu tak juga keluar. Dengan ragu Daniel mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


"Vi,apa kamu baik-baik saja..? " Ucap Daniel dari luar kamar mandi.


Pintupun terbuka, menampilkan sosok via yang sudah memakai piama lengan panjang dan juga handuk yang masih berada dikepalanya. Daniel yang masih berada didepan pintu itupun sedikit terkejut, namun ia tetap mencoba tenang. Via memang cantik apa adanya, pikirnya.


"kamu ngapain aja..? lama banget. Kamu nggak apa-apa kan..? " Ucap Daniel.


"Nggak apa-apa tuan, cuma bersihin make up aja yang susah jadi agak lama. " jawabnya.


"owh, ya sudah aku juga mau mandi. " Ucap Daniel.


Gadis itu mengangguk namun tak beranjak dari tempatnya berdiri.


"Apa kamu mau ikut mandi lagi.?? " Ucap Daniel, membuat gadis itu mengerutkan keningnya.


" ya ampun maaf-maaf tuan." Ucapnya seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi.


Daniel tersenyum menanggapi kekonyolan gadis itu.


"tapi sepertinya aku perlu bantuanmu untuk menggosok punggungku." Daniel menggoda Via.


Gadis itu memerah, tak berani menoleh menatap Daniel.


"Haha aku becanda Via." Ucap Daniel, kemudian masuk dan menutup pintu kamar mandi tersebut.


Via semakin gelisah, apa yang ia lakukan setelah ini, pikirnya.


Aku akan tidur disofa saja.


Via mengambil bantal dan membawanya menuju sofa. Gadis itu mengambil ponselnya yang berada didalam tas, lalu menghidupkannya setelah seharian ia matikan.


Begitu banyak notifikasi masuk keponselnya, salah satunya pesan dari Pak Ivan.

__ADS_1


Gadis itu membuka pesan itu.


Pak Ivan


Apa kamu baik-baik saja Via..? kemana saja dua hari ini..? aku nggak melihatmu di kampus.


Via berfikir sejenak, apa yang harus ia tulis untuk membalas pesan Pak Ivan.


Via


Aku nggak apa-apa pak. Hanya ada urusan yang harus aku selesaikan.


Pesan terkirim, seketika ponsel yang ia pegang berdering menampilkan nama Pak Ivan sedang memanggil. Gadis itu bingung antara menjawab atau tidak. Dan akhirnya setelah bergulat sejenak dengan pikirannya, ia menggeser tombol hijau di layar ponsel itu.


"Hallo. " Ucap Via.


"Kamu dimana Vi..? " Ucap Ivan di seberang sana.


"emm, saya di rumah pak. "Ucapnya berbohong, ia tak mungkin mengatakan kalau saat ini sedang berada di hotel. Bisa panjang urusan,pikirnya.


"Kamu nggak apa-apa..? kemarin aku tanya Nina dia bilang nggak tahu. " Ucap Ivan.


"hehe iya, saya juga nggak menghubungi Nina pak. " jawabnya berbohong lagi.


"apa kamu sakit..? " Ucap ivan


"enggak kok pak, aku baik-baik saja. Hanya ada urusan sedikit. " Ucapnya.


"Ya sudah kalau begitu. kapan kamu akan masuk kuliah..? "Ucap Ivan.


"eemm, "


cekrek


Daniel keluar dari kamar mandi dengan celana tidur panjang berwarna abu-abu dan juga kaos polos berwarna senada.


"Sudah dulu ya pak, selamat malam. " Ucap Via kemudian mematikan sambungan telponnya.


"Siapa..? " Daniel bertanya sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


"em, Pak Ivan. " Jawab Via meletakkan ponselnya diatas meja.


Daniel menghentikan gerakan tangannya.


"Kenapa dia telpon malam-malam begini. " Ucapnya.


"Tidak ada, hanya bertanya kabar saja. "Jawab Via.


Daniel menghela nafas kemudian menggantung handuknya kembali ke kamar mandi.


Via pun hanya memandangi lelaki tersebut.


Kenapa dia..?


Gumam Via yang melihat Daniel seperti tak suka mendengar siapa yang menelponnya barusan. Emang dia nggak suka dengan Pak Ivan kan, pikir gadis itu. Tapi apa alasannya...??.


Gadis itu masih bergulat dengan pikirannya, hingga tak mendengar Daniel yang sedari tadi mengajaknya bicara.


Tiba-tiba saja ruangan itu gelap gulita, membuat Via seketika membuyarkan lamunannya.


"Tuan, tuan dimana. " Via memanggil Daniel,namun tak ada jawaban. Membuat gadis itu semakin takut.


"Tuan, tolong jangan bercanda." Via meraba-raba ponselnya diatas meja, namun sayang malah terjatuh kebawah meja. Ia pun meraba dibagian bawah meja, namun tak juga menemukan ponselnya. Ia semakin ketakutan. Sebenarnya ia tidak takut dengan kegelapan jika ada seseorang berada didekatnya, namun ketika sendirian seperti ini ia menjadi takut, apalagi ditempat asing seperti ini. Pikirannya melayang keadegan didalam film horor yang pernah ia tonton.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2