Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 38


__ADS_3

"Apa..?? " Via menatap Daniel, lelaki itu hanya mengangkat bahunya.


"Aku akan membantumu sedikit. " Ucap Daniel.


"Apa yang tuan lakukan, kenapa bisa seperti ini.?" Ucap Via sembari mengambil bantal yang sudah berada dilantai beserta selimut juga.


"Aku mencari sesuatu tadi, tapi tak kunjung ketemu. Tapi sekarang sudah ketemu. " ucap lelaki itu sembari tersenyum seperti tak ada dosa.


Via memutar matanya jengah.


Barang apa yang dicari sampai membuat kamar seperti kapal pecah begini.


Tak mau berbasa-basi lagi, Via pun mulai membereskan ruangan itu. Bersama Daniel yang membantunya. Mengembalikan barang-barang yang berserakan ke tempatnya semula.


Lelaki itu tersenyum puas, memang bukan sengaja dia menghancurkan kamarnya menjadi seperti itu. tapi ketidak sengajaan itu membuatnya beruntung. Ia bisa berduaan dengan istrinya. l


"haahh, akhirnya selesai juga. " Ucap Via sembari menjatuhkan dirinya di sofa kamar Daniel.


"kemana tuh orang..? bilangnya tadi mau bantuin malah ngilang."


ceklek


Pintu kamar Daniel terbuka,menampilkan si empunya kamar yang membawa nampan berisi segelas jus dan juga sepiring cookies.


Pria itu masuk dan meletakkan nampan yang ia bawa keatas meja.


"sudah selesai ?? " Daniel bersuara sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ia tersenyum puas melihat kamarnya sudah kembali rapi, bahkan lebih rapi dari sebelum ia memberantaki ruangan tersebut.


"apa kamu lelah? Daniel duduk disebelah Via yang sedang menyenderkan punggungnya disofa.


"seperti yang tuan lihat, sungguh mustahil jika tidak merasa kelelahan setelah membereskan kapal pecah. " Daniel terkekeh mendengar ocehan istrinya, semakin terlihat lucu dimatanya.


"ya sudah, minum dulu ini."


Via menerima jus pemberian Daniel dan langsung meminumnya hingga tandas.


" terima kasih tuan. " Gadis itu kembali menyenderkan punggungnya kesofa, ia sungguh kelelahan. Sampai-sampai tak ingin beranjak pergi dari tempat duduknya saai ini.

__ADS_1


Hari ini Via kembali menapakkan kaki di kampus tercinta, siap untuk kembali bergulat dengan tugas-tugas yang menunggunya disaat ia tidak masuk.


"cieee pengantin baru, dah masuk aja lu neng"


Dengan refleks Via menyikut sahabatnya itu.


"ssstt, kamu nih ya, kalok ada yang denger gimana..?? " Via melihat sekelilingnya untung saja tidak ada orang didekat mereka.


"ya biar sih, biar pada tau kalok gue temenan sama nyonya Daniel sang pengusaha yang terkenal itu." ucap Nina.


"Ck, udah deh nggak usah halu. Yang ada aku malah diketawain sama mereka. "


"kalok mereka ketawain, elu ketawain balik." Nina berucap kembali.


"itu namanya sakit jiwa Nina bobo. " Via menggelengkan kepalanya.


"Udah ah, nggak usah dibahas. " ucapnya kembali.


"eh eh gimana malam pertamu lu..?? " Sepertinya Nina masih belum puas mewawancari dirinya.


"Malam pertama aku..? " Via melirik keatas seperti sedang berpikir.


"kalian udah melakukan itu? " ucap Nina dengan sangat penasaran.


Via yang terkejut menoleh , ia tahu maksud ucapan Nina mengarah kemana. Lantas ia pun mengerjai sahabatnya itu agar semakin penasaran.


Ia hanya mengangkat kedua bahunya sambil berlalu pergi meninggalkan Nina yang menganga, sebelum akhirnya menyusul Via menuju kelas.


Senyum mengembang dari dosen muda yang menjadi idola di kampus tersebut menandakan bahwa ia sedang bahagia hari ini. Siapa lagi kalau bukan Ivan, ia sangat lega melihat gadis yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya kembali duduk diantara mahasiswa diruangan itu. Semangatnya sudah kembali, walau ia masih menyimpan banyak pertanyaan dikepalanya. Tapi ia sudah sangat senang melihat Via kembali masuk.


Evan mendudukkan diri dikursi berputar didalam ruangannya. Ia merogoh ponselnya disaku dan mulai mencari aplikasi pesan diponsel tersebut. Tak lama setelah ia mengirim pesan kepada seseorang, terdengar pintunya diketuk.


Gadis itu masuk ketika ia menyuruhnya masuk. Tanpa basa basi ia berdiri,berjalan dengan cepat kearah gadis itu dan memeluknya dengan erat. Tentu saja membuat gadis yang dipeluknya itu terkejut.


"pak, pak Ivan. " Via mencoba menyadarkan Ivan, namun lelaki itu masih setia memeluknya seakan tak mau lepas.


"pak tolong lepaskan. " Via mencoba mendorong Ivan namun gagal.

__ADS_1


"Sebentar saja. " Ivan semakin erat memeluk gadis pujaannya itu. Ia sudah sangat merindukannya, walau hanya beberapa hari tidak bertemu namun bisa membuatnya serindu ini, apalagi Via tidak bisa dihubungi sama sekali.Membuatnya semakin frustasi hingga mengakibatkan pekerjaannya terbengkalai bahkan beberapa client memutuskan sambungan kerja dengannya.


Tidak, ini tidak baik. Kalau ada yang masuk nanti akan jadi fitnah,batin Via.


"pak, jangan seperti ini. " Lagi Via mendorong lengan kekar tersebut agar melepaskan pelukannya.


"maaf Via, " Ucap Ivan setelah ia melepaskan pelukannya,namun kedua tangannya masih mencengkram bahu gadis itu.


"kamu kemana saja, tidak masuk kuliah dan nomormu pun tidak bisa dihubungi?"


" oh itu, saya ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan pak. "


"tapi kenapa nomormu tidak bisa dihubungi? sepenting itukah? " Ivan melepaskan tangannya dari pundak Via.


"ekh, iya pak. Maaf. " terpaksa ia berbohong. Karena ia tidak mau jadi bahan gosib dikampusnya.


"ya udah, yang penting kamu nggak apa-apa. Aku sangat khawatir. " Ivan memandang lekat gadisnya. melepaskan rindu yang beberapa hari ini terpendam. Ia juga tidak mengerti kenapa Via begitu berpengaruh didalam hidupnya. Padahal ia belum lama mengenal gadis didepannya ini. Bahkan pengaruhnya lebih besar dari Rania putri semata wayangnya yang ia asuh sejak lahir.


"ada apa bapak memanggil saya kesini? " Via yang bingung dan salah tingkah ditatap Ivan selekat itu akhirnya membuka suara.


"ekh, tidak ada. Aku hanya ingin tanya kabarmu saja. "


Via menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"apa saya sudah boleh pergi..? soalnya banyak banget tugas yang harus saya kerjakan. " Kali ini ia tidak berbohong, ada banyak tugas yang harus ia kerjakan setelah beberapa hari tidak masuk.


"baiklah, kamu boleh pergi. Nanti pulangnya aku akan mengantarmu. "


"aduh, sepertinya tidak bisa pak. Soalnya saya mau jemput Kaniya di rumah neneknya. " Yang benar saja, bagaimana mungkin ia pulang bareng Ivan sedangkan Daniel akan menjemputnya. Bisa-bisa ia pria itu akan melakukan hal-hal yang mengerikan lagi menurutnya.


"tidak apa, aku akan mengantarmu ke rumah nenek Kaniya. " Ivan masih mencoba peruntungannya kembali. Namun sayang ia tidak beruntung.


Gadis itu menolak dengan alasan lain. Ia hanya tersenyum samar memandang pintu ruangannya yang akan tertutup karena tarikan tangan Via dari luar.


huuff


Via menghela nafas lega setelah keluar dari ruangan Ivan. Ia sudah hampir mati berdiri didalam sana. Pelukan Ivan masih terasa, apalagi aroma maskulin yang masih membekas dibajunya seakan tak mau hilang.

__ADS_1


gugup dan gemetar itu pasti, siapapun akan meraskannya jika ia dipeluk dengan pria setampan Ivan. Ia memang sudah cukup dekat dengan dosen yang menjadi idola para mahasiswa dikampus itu. Namun ini kali pertamanya ia dipeluk bahkan seerat itu. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman.


•••••••••••••••••••••••••••


__ADS_2