
tin tin tin
Suara klakson dari sebuah mobil yang terparkir di halaman kampus membuat dua orang yang sedang asik bercerita tersebut terkejut. Via dan Ivan menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya via ketika melihat mobil tersebut. Gadis itu membulatkan kedua mata seakan ingin lepas dari tempatnya.
"ya ampun,tuan." ucap via membuat pria yang di sebelahnya itu menoleh kearahnya.
Via ingin menghampiri Daniel yang berada di dalam mobil sport itu,namun tangannya di tahan oleh Ivan. Membuat Daniel yang memperhatikan mereka berdua semakin membulatkan kedua matanya.
Beraninya di menyentuh via.
Batin daniel, ia pun keluar dari mobilnya.
"tunggu, dia majikan kamu vi?" ucap ivan.
"ekh iya, pak ivan maaf saya sedang terburu-buru. " ucap via.
Ia ingin melepaskan lengannya dari genggaman ivan.
"tunggu vi, kamu yakin nggak apa-apa. Dia sepertinya sedang tidak baik-baik saja. "ucap ivan melirik Daniel yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya dan Via.
"wah wah sedang asik pacaran rupanya. " Ucap Daniel membuat via menoleh seketika ke arah pria yang saat ini tengah di bakar cemburu itu.
Matilah aku, pasti dia marah lagi. bisa-bisanya aku lupa waktu begini.
Gumam Via dalam hati, ia merutuki kebodohannya tersebut.
Gadis berambut pirang itu menarik lengannya dari genggaman Ivan dengan paksa.
"Tuan,maafkan saya. " ucap via seraya membungkukkan sedikit badannya.
" saya benar-benar lupa. " imbuhnya lagi.
Tidak ada jawaban, hanya hening. Via menegakkan kembali punggungnya dan melihat dua orang yang saling menatap dengan tajam,seakan pandangan keduanya saling membunuh. Gadis itu bingung apa yang harus ia lakukan dengan majikan dan dosennya tersebut.
astaga, apa yang terjadi?
Gumam via dalam hati.
"ikut aku." Ucap Daniel seraya menarik tangan via pergi dari tempat itu, namun dengan segera Ivan menghentikan Daniel.
"tunggu tuan, bisakah anda lebih lembut sedikit dengan seorang perempuan...? " ucap ivan seraya menggenggam lengan via yang juga di genggam oleh Daniel.
Daniel tersenyum miring dan menoleh ke arah tangan ivan yang tengah menggengam lengan via kemudian menatap ivan. Sedangkan Via saat ini hanya kebingungan serta takut menatap dua orang pria tersebut.
"sebaiknya anda jangan ikut campur. " ucap Daniel melepaskan tangan ivan.
"Ini urusan saya jika menyangkut tentang via tuan. " ucap Ivan dengan nada sedikit tinggi membuat via terkejut dan seketika menatap ivan.
"huh, " Daniel tersenyum miring.
__ADS_1
"ekh emh pak Ivan, pak ivan. maaf saya harus pulang duluan." ucap Via mencoba melerai kedua orang yang sepertinya sedang tidak sama-sama baik tersebut.
"tapi vi,-"
"saya permisi pak," ucap via.
"mari tuan" imbuhnya lagi mengajak Daniel segera pergi meninggalkan Ivan. Sungguh tidak baik membiarkan Daniel dan Ivan tetap berada di satu tempat yang sama.
Via berjalan terlebih dulu meninggalkan ivan di susul oleh Daniel yang juga meninggalkan pria yang saat ini sedang cemburu itu.
Ya, saat ini ivan merasakan hatinya seperti tertusuk jarum. Ia sudah menyukai via sejak pertama kali ia masuk ke kampus ini sebagai dosen. Apalagi Ivan juga mengajar di kelas via. Melihat tingkah laku via selama ini membuat dosen tampan itu jatuh hati kepada via. Gadis biasa dengan senyum manis yang selalu mengembang kepada siapa saja yang berpapasan dengan gadis itu. Namun ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaan kepada gadis pujaan hatinya itu. Ia tidak mau terburu-buru karena takut Via malah akan menjauhinya.
Daniel masuk kedalam mobil sport miliknya, di susul oleh via yang kemudian duduk dikursi samping kemudi. Pria itu menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobil itu tanpa sepatah katapun. Ia masih kesal dengan gadis yang saat ini terus menundukkan kepala itu. Bagaimana tidak,untuk pertama kalinya ia menunggu seseorang dengan waktu yang cukup lama baginya, tapi gadis itu malah asik tertawa riang dengan dosen kurang ajar itu. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada gadis yang duduk di sebelahnya ini, namun Daniel menahan diri. Ia tidak mau jika hal itu membuat via kembali menghindarinya atau bahkan meminta berhenti menjadi pengasuh putrinya. Baru saja ia mulai berbaikan dengan Via. Ia sudah bertekad untuk lebih menahan diri dari gadis di sebelahnya tersebut, walaupun saat ini ia benar-benar di buat kesal oleh Via.
Kali ini kau kulepaskan gadis kecil.
Gumam Daniel dalam hati.
Setelah berkendara kurang lebih satu jam, mereka sampai di rumah utama keluarga Lubis. Via yang tadinya hanya diam memperhatikan jalanan, kini di buat takjub oleh bangunan yang saat ini sedang ia tuju tersebut. Rumah utama keluarga Lubis lebih besar dan mewah daripada rumah yang di tempati oleh Daniel. Padahal menurutnya rumah Daniel sudah sangat mewah, dan ini bahkan lebih mewah lagi.
benar-benar tajir melintir orang-orang ini.
Batin via.
Via mengikuti langkah Daniel memasuki bangunan mewah itu.
Gadis itu kembali dibuat takjub ketika memasuki rumah tersebut. Bukan cuma bangunannya saja yang mewah tapi semua barang di rumah tersebut juga mewah.
"nyonya besar," ucap via seraya membungkukkan badannya.
Ratih tersenyum senang melihat via.
"kamu sama siapa?" tanya Ratih.
"Saya sama tuan nyonya. " ucap via mengedarkan pandangannya mencari Daniel. Ia terlalu takjub dengan rumah tersebut hingga tidak menyadari kepergian Daniel.
kemana tuh orang, udah ngilang aja.
batin via.
"oh ya.?? " ratih semakin melebarkan senyumnya.
"mana Daniel...?? " imbuhnya lagi.
"apa ma..? " ucap Daniel dari arah dapur. Ia barusan mengambil air dingin untuk menyejukkan tenggorokan dan pikirannya,karena kekesalannya terhadap via. Bahkan di sepanjang perjalannan menuju ke rumah utama hanya keheningan yang menyelimuti di dalam mobil yang ia kendarai bersama via.
"kamu dari mana Dan?" tanya Ratih kepada Daniel.
"Haus, setelah menunggu orang yang sedang pacaran. " ucap Daniel seraya mengangkat minuman dingin yang ia pegang, tatapan matanya mengarah kepada via yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
Via tahu bahwa Daniel sedang menyinggungnya. Namun gadis itu hanya diam. Ia tidak mau menanggapi ucapan Daniel,apalagi di depan Ratih.
Wanita paruh baya yang berada di samping Via itu mengernyitkan dahinya.
"kamu nungguin siapa..?? " ucap Ratih.
"sudahlah ma, aku mau mandi." ucap Daniel hendak pergi.
"aaa,dimana Kaniya ma..?? imbuhnya lagi sebelum pergi ke kamarnya.
"Dia sedang tidur di kamar mama. " ucap Ratih.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya, pria itu menatap via sebentar kemudian pergi ke atas untuk membersihkan diri.
•
Saat ini Via tengah membantu bibi menyiapkan makan siang. Ia tidak mungkin hanya berdiam diri saja untuk menunggu Kaniya bangun dari tidurnya.
Gadis itu menata piring juga gelas ke atas meja makan yang besar itu. Gerakannya sungguh cekatan membuat seorang lelaki paruh baya yang memperhatikan gadis itu tak meneruskan langkahnya.
Ratih yang melihat suaminya tengah berdiri seraya memperhatikan Via pun mendekati lelaki tersebut.
"dia cantik dan cekatan kan pa?. " ucap Ratih.
"apa dia gadis yang kau ceritakan itu sayang? " ucap David.
Ratih menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Gimana menurut papa. " ucap Ratih.
"sepertinya kita harus bertindak lebih cepat untuk menikahkannya dengan Daniel. " ucap David.
"aku sudah yakin papa akan suka. " ucap Ratih semakin melebarkan senyumnya. Ia sangat senang suaminya mendukung keputusannya untuk menjadikan via istri Daniel sekaligus ibu bagi Kaniya.
"Dan aku juga yakin, pilihan istriku ini selalu terbaik. " ucap David mencium kening Ratih seraya merangkulnya.
"masih siang pa, ma." ucap Daniel yang baru saja turun dari lantai atas, membuat kedua orang yang sedang berbahagia itu mengalihkan pendangannya ke arah sumber suara.
"Kenapa memangnya kalau masih siang?" ucap David.
"Papa selalu melakukannya siang dan malam dengan mama. " ucap David menggoda Daniel.
Ratih mencubit Perut suaminya tersebut,hingga si empunya mengaduh kesakitan.
Daniel hanya menggelengkan kepala melihat kedua orang tuanya tersebut. Biarpun umur keduanya sudah tidak muda lagi, tapi mereka tetap romantis seperti pasangan muda-mudi pada umumnya.
"sudah, sudah. ayo kita makan. " ucap Ratih.
"papa akan mandi sebentar sebelum bertemu dengan calon menantu papa." ucap David seraya melenggang pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Daniel mengernyitkan dahinya mendengar ucapan David. Pria itu menatap mamanya yang hanya menggidikkan bahunya seraya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Daniel yang terlihat bingung.
••••••••••••••••••