Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 34


__ADS_3

"Viaaaaa. " Ucap seseorang disebrang telpon, membuat Via menjauhkan telinganya sesaat dari ponsel yang ia pegang.


"apasih Na..? " Jawabnya lembut.


"kenapa kamu teriak gitu. " imbuhnya.


"abisnya lu jahat banget jadi temen. " Ucap Nina dengan nada merajuk.


"kenapa lu nggak cerita kalau lu mau merid sama kak Daniel. " Ucap Nina membuat Via sedikit terkejut.


Darimana dia tau


Pikirnya.


Ia melihat sekilas Daniel yang sedang mengemudikan mobil yang ia tumpangi.


"em, nanti aku ceritain ya. " Ucap Via sedikit pelan.


"Nggak mau..!! kamu harus cerita sekarang..! " Nina semakin merajuk dibuatnya.


Via menutup matanya seraya berdesis.


"Nanti aja ya, bye. " ucapnya yang langsung mematikan sambungan telpon.


"Nina..? " Daniel bertanya, membuat Via menoleh seketika.


"em iya tuan." Ucapnya.


"kenapa dia..?? " ucap Daniel.


"Nggak apa-apa kok." jawab Via.


"bolehkah saya kerumah Nina sebentar saja..? " imbuhnya.


"Baiklah, kebetulan ada yang mau aku bicarakan sama Niko. "Jawab Daniel.


"Aaa, bisakah kamu tidak memanggilku tuan..?? kita akan menikah sebentar lagi. "


"jadi saya harus memanggil apa..? " Ucap Via.


"Terserah, tapi jangan tuan. " Ucap Daniel.


"Tapi saya sudah terbiasa. " Via tersenyum kuda.


"Sayang, " Ucap Daniel, seketika membuat Via terdiam. Gadis itu kembali merasakan debaran dijantungnya, Ia menatap pria disebelahnya itu.


"Panggil aku sayang" Daniel melanjutkan ucapannya.


"Dan akupun akan memanggilmu sayang juga."


"ekh, hehe tuan ada-ada saja. " ucap Via seraya tertawa kikuk.


"Aku serius, aku tidak mau orang lain mengetahui pernikahan kita hanya pura-pura."


Deg


Via kembali mencelos mendengar penuturan Daniel.


Lagi-lagi kau menjatuhkanku, setelah kau mengajakku terbang.


Batin Via.

__ADS_1


Gadis itu terdiam, ia merasakan jantungnya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum.


"Via.? Vi..? Daniel memanggil Via yang tengah melamun.


"ekh iya tuan..? " Ucap Via.


"Kok tuan lagi. " Ucap Daniel.


"Maaf, tapi saya sudah nyaman dengan panggilan ini. " Ucap Via seraya tersenyum, hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Daniel menghela nafas.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau didepan orang panggil aku sayang. " Ucap Daniel,yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Via.


Daniel memarkirkan mobilnya di halaman rumah milik Niko. Ia pun turun bersamaan dengan Via dan masuk kedalam rumah tersebut. setelah bibi membukakan pintu.


"Woah, calon pengantin ngapain kesini..? mau ngasih undangan..?" Ucap Niko menghampiri Daniel dan via.


"aku nggak butuh undangan, itu nggak ngaruh aku datang atau tidaknya. " imbuhnya sembari duduk di sofa berhadapan dengan Daniel juga Via.


Via merasakan wajahnya memanas mendengar ucapan Niko.


Kok kak Niko tahu.


Pikir Via.


"Tutup mulutmu, aku nggak butuh kedatanganmu." Balas Daniel.


"Viaaa." Ucap Nina yang baru saja turun dari lantai dua menghampiri Via dan Daniel.


"Dasar lu ya temen durhaka. " Ucap Nina.


"kenapa, emmpph"


"Kak aku keatas ya..? " Ucap Via yang diangguki oleh Niko.


"Tu, em.. Sayang aku kekamar Nina dulu. " Ucap Via,kali ini Daniel yang merasakan debaran di jantungnya dan wajahnya yang mulai memanas. Ia mengulas senyuman dibibir,melihat Via yang tengah menyeret sahabatnya itu.


"Udah woyy, ntar aja lihatinnya. " Niko menggoda Daniel.


"Sialan lu. "Ucap Daniel.


Via melepaskan telapak tangannya yang menutup mulut Nina saat sudah dikamar.


"hih, Via..!! "


"ehehhe sorry" Ucap Via tersenyun.


"abisnya tuh mulut bakalan meletus kalau nggak ditutup, bahaya. " Imbuhnya seraya menjatuhkan dirinya di kasur empuk milik Nina. aahh dia sangat merindukan kasur ini. Dulu sering sekali ia tidur dikamar Nina. Sekarang sudah tidak lagi semenjak ia kerja di rumah Daniel.


"Sekarang ceritakan padaku. " Ucap Nina duduk disebelah Via yang tengah tiduran tersebut.


"apalagi yang mau diceritain,kamu kan udah tahu. " Ucap Via tanpa membuka matanya.


"iihh, lu kok gitu sih. "Nina memukul lengan Via.


"ceritain gimana bisa lu mau merid sama kak Daniel. " Nina masih merengek.


Via tak merespon ucapan Nina, ia takut jika ia menceritakan yang sebenarnya kepada sahabatnya itu akan melabrak Daniel, dan menyuruhnya untuk menghentikan sandiwara konyol ini. Karena Selama ini Nina paling tidak suka jika dirinya disakiti orang lain, apalagi dimanfaatkan. Entah mengapa Via takut jika pernikahannya dengan Daniel akan gagal.


Akhirnya Via berbohong kepada Nina jika ia dan Daniel saling menyukai. Dan ya, Nina percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Via.

__ADS_1


"Aku bersyukur kamu akan menikah dengan kak Daniel. " Ucap Nina memeluk Via.


Via pun membalas pelukan Nina dan tersenyum sembari mengangguk menanggapi ucapan Nina.


"Udah ah aku mau istirahat sebentar saja. " Ucap Via melepas pelukannya, lalu ia kembali merebahkan badannya ke kasur .


Ia sangat lelah seharian ini. Fitting baju pengantin yang menurutnya sangat melelahkan, kerena harus bolak-balik berganti gaun yang merepotkan dan juga ketoko perhiasan untuk memebeli cincin pernikahan.


Tok tok tok


Daniel mengetuk pintu kamar Nina, ia ingin melihat apa saja yang dikerjakan Via dan Nina di kamar sampai selama ini. Bahkan sudah lebih dari tiga jam ia menunggu gadisnya turun.


"mana Via..? " Ucap Daniel ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok Nina yang sepertinya baru bangun tidur.


"kak Daniel, Via lagi tidur tuh. " Ucap Nina


Daniel masuk dan memperhatikan gadisnya yang tengah tertidur pulas sembari memeluk boneka kucing milik Nina.


"Mungkin ia kelelahan kak. " Ucap Nina.


"sepertinya. " Ucap Daniel tersenyum.


"Aku ngga tahu gimana awalnya kakak dan Via bisa saling menyukai, tapi aku minta sama kakak untuk menjaga Via dan jangan pernah menyakitinya. " Ucap Nina.


Jadi dia berbohong.


Gumam Daniel dalam hati.


"Dia adalah sahabatku satu-satunya yang paling mengerti aku, aku ingin dia juga merasakan kebahagiaan.Dan aku yakin kakak akan membahagiakannya. " Nina kembali menimpali ucapannya.


"Pasti, aku pasti akan membuatnya bahagia. " Ucap Daniel.


Ia pun menggendong Via menuju mobilnya. Menidurkannya di bangku penumpang samping kemudi, yang sudah ia stel joknya agar Via bisa tidur dengan nyaman di dalam mobil.


Mobil Daniel pun melaju meninggalkan pekarangan rumah milik Niko setelah ia berpamitan.


Sesampainya dirumah, ia kembali menggendong gadisnya menuju kamar Via.


"Loh tuan, Kenapa dengan Via...? " Sinta bertanya, kerena terkejut melihat Daniel yang menggendong Via ala bridal style.


"Ketiduran. " Ucapnya cuek.


Apa..?


Ketiduran saja kenapa harus digendong segala. Pasti gadis itu cuman pura-pura, mau cari perhatian saja dengan tuan Daniel.


Sinta menggerutu didalam hati.


Ia semakin memebenci Via karena gadis itu selalu berhasil mendapatkan perhatian dari Daniel. Ia tak tahu kalau sebentar lagi Via akan menikah dengan Daniel. Hanya Bi Lina saja yang tahu tentang pernikahan itu, Karena permintaan dari Via.


Via tak ingin Sinta semakin membencinya,pun dengan para pelayan lainnya. Pasti akan menimbulkan huru hara yang membuat dirinya dibenci di rumah itu jika mereka mengetahui pernikahannya dengan Daniel.


Daniel meletakkan Via di atas kasur, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh gadisnya.


"Tidurlah, kamu pasti lelah sekali hari ini." Gumamnya.


Ia mendekatkan bibirnya ke kening Via,dan mengecup sebentar kening itu sebelum keluar dari ruangan Via.


Via membuka matanya perlahan sepeninggal Daniel. Gadis itu sebenarnya sudah terbangun semenjak Daniel menggendongnya menuju kamar. Namun ia diam saja, walaupun sebenarnya ia menahan sesuatu yang ingin meletus di dadanya. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia digendong oleh seorang laki-laki. Dan lagi-lagi, ia harus menahan debaran di jantungnya yang semakin cepat tak karuan, ketika Daniel menempelkan bibirnya ke keningnya. Ia mengelus keningnya, kecupan Daniel masih terasa. Entah mengapa ia tersenyum dan mulai merasakan wajahnya memanas. Pasti ia seperti kepiting rebus sekarang, untung saja ia sendirian disini, jadi tidak perlu menyembunyikan wajahnya, pikir gadis itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2