Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 9


__ADS_3

Via merebahkan dirinya di kasur, ia menghela nafas lega karena kaniya sudah tertidur. Saatnya ia mengistirahatkan diri. ia mengambil ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Terlihat ada dua pesan masuk ke ponselnya, ia membuka pesan di aplikasi ponsel tersebut, disitu tertera nama Nina yang mengirim pesan dan satu nomor tak di kenal. via membuka pesan dari nomor asing itu terlebih dulu.


*


selamat malam Via ini aku Ivan.


Via hanya meng oh kan pesan tersebut sebelum membalasnya.


via


selamat malam juga pak Ivan, saya akan simpan nomor bapak. 😊


Ivan


jangan panggil bapak kalau sedang berdua, panggil ivan saja.


via


baiklah kalau begitu


ivan


oh ya besok kamu ada kelas jam berapa..?


via


saya ada kelas pagi besok.


ivan


oke sampai bertemu di kampus kalau gitu.


via


iya 😊


Via meletakkan kembali ponselnya, ia mengingat kembali kejadian di kampusnya tadi siang.


flash back on


tap tap tap


suara sepatu seorang lelaki berawakan tinggi itu menyusuri lorong kampus. ia menuju kelas dimana Via dan Nina kini tengah duduk menunggu dosen killernya datang.


Lelaki itu membuka pintu kelas dan masuk ke dalam.


"selamat pagi semua. " sapa Ivan seraya meletakkan buku-bukanya di atas meja.


Via dan Nina nampak terkejut, pun dengan mahasiswa yang lain. Bukankah seharusnya ini kelas pak doni si dosen paling killer di kampus? kenapa justru malaikat tanpa sayap yang datang? itu yang di pikirkan para mahasiswa di kelas. Kecuali Via dan Nina yang beda pemikiran sendiri.


"Bukankah itu cowok yang tadi tabrakan sama elu vi. " ucap Nina setengah berbisik ke Via.


"Iya." jawab Via sambil mengangguk-anggukkan kepala namun kedua matanya tetap memandangi ivan.


"Perkenalkan saya Ivan, sementara ini saya akan menggantikan pak doni yang kini berada di luar negeri karena ada urusan keluarga." ucap ivan.


para mahasiswi pun saling berbisik-bisik tentunya mereka sangat bahagia karena pak doni tidak mengajar apalagi penggantinya dosen yang tampan bak malaikat seperti ini. Begitupun dengan Regina si ratu kampus.


Via mengamati ivan dengan seksama, sepertinya ia pernah melihat ivan, tapi dimana..??


ia mengingat-ingat kembali dimana ia bertemu ivan sebelum ini.


ting


Seperti ada lampu menyala di kepala via. sekarang ia ingat dimana ia pernah bertemu ivan sebelumnya.Di taman pinggir danau bersama bayi perempuan yang di gendongnya, dan sekarang menjadi dosen di kampus ini menggantikan pak Doni.


Dunia ini sungguh sempit ternyata.


Saat ivan akan memulai kelas ia tak sengaja menangkap pandangan seorang gadis yang kini juga tengah menatapnya. ivan dan via saling menatap sejenak, ivan mengernyitkan dahinya menatap via. ivan yakin itu adalah gadis di taman dekat danau yang mengambil bola milik putrinya. Ivan membuyarkan lamunannya ketika gadis itu menunduk mengalihkan perhatian dari ivan.


setelah satu jam berlalu akhirnya kelas selesai. para mahasiswa memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas sebelum keluar kelas pun dengan ivan.

__ADS_1


"kamu. " ucap ivan sambil menunjuk via membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut menoleh ke arah via.


"ikut keruangan saya. " lanjut ivan kemudian berlalu meninggalkan ruang kelas.


Via mengernyitkan dahinya, ia bingung apakah ia melakukan kesalahan..??


"hayo lo vi... lo di panggil tuh sama dosen ganteng. " ucap Nina gadis itu tengah menggoda via.


"apa aku melakukan kesalahan ya Na? " ucap via, ia terlihat gelisah.


Nina hanya menggidikkan bahunya.


"udah buruan lo sana, gw tunggu di depan oke. " ucap Nina.


akhirnya via melangkahkan kakinya menuju ruangan ivan. Ia mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk.


"permisi pak. " ucap via.


Ivan menutup file yang ia baca menaruh kembali ke atas meja.


"Alvia Pranisti. " ucap ivan


"iya pak. " jawab via sedikit gugup, ia takut jika ia melakukan kesalahan.


"silahkan duduk dulu jangan gugup aku tidak akan menggitmu. " ucap ivan tersenyum. via menatap ivan kemudian duduk di kursi depan meja ivan.


"apa kamu sama sekali tak ingat denganku. " tanya ivan. via mendongak menatap ivan, pria itu tengah tersenyum. senyuman maut yang bisa membius para kaum hawa.


"kalau tidak salah pak ivan yang bersama putri bapak di taman waktu itu " ucap via.


ivan menjetikkan jarinya.


"yap betul, aku pikir kamu tidak mengingatku." ucap ivan. via hanya tersenyum menanggapi.


"ternyata kita bertemu lagi disini." ucap ivan kembali sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Lagi-lagi via menanggapi dengan senyuman.


"oh ya kamu mau pulang?" tanya ivan lagi.


Ivan pun mengangguk.


"Kemarikan hp kamu. " ucap ivan.


"buat apa pak. " tanya via bingung.


"udah sini pinjam dulu sebentar. "


via pun akhirnya menyerahkan ponselnya. Kemudian ivan terlihat mengetikkan sesuatu di ponsel via dan terdengarlah dering ponsel milik ivan. Rupanya lelaki itu tengah menelpon nomornya sendiri.


yang benar saja...?


"udah nih. " ivan menyerahkan kembali ponsel via.


"kalau sudah tidak ada yang penting saya permisi pak. " ucap via.


"oh oke. " ucap ivan sambil tersenyum.


Via pun berdiri melangkahkan kakinya menuju pintu. ia memutar knop pintu kemudian menutupnya kembali setelah keluar. via menghela nafas lega. entah kenapa rasanya gugup sekali berhadapan dengan ivan.


Apa dia memanggilku cuma untuk ini..??


gumam via dalam hati.


Dan sepertinya tadi dia memasukkan nomorku ke ponselnya. hufftt.


Via menghela nafas kemudian pergi menemui Nina.


flash back off


Via bangun kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka namun tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk.


ia membuka pintu dan melihat Ratih sedang berdiri di depan kamarnya membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya.

__ADS_1


"Nyonya besar. " ucap via.


"Via, kamu sedang apa,apa kamu sibuk. " tanya Ratih.


"oh enggak nyonya, "segera via menggelengkan kepalanya.


"ada yang bisa saya bantu. " imbuh via.


Ratih tersenyum.


"kamu antar ini ke ruangan Daniel ya. dia sedang lembur kasihan. " ucap Ratih.


"iya nyonya. " dengan terpaksa via mengiyakan titah nyonya besarnya.


sebenarnya ia masih canggung jika harus berhadapan dengan Daniel karena tragedi pelukan tanpa sengaja tadi. Tapi mau bagaimana lagi, sangat tidak mungkin ia menolak perintah nyonya Ratih.


Via mengambil alih nampan yang di bawa Ratih kemudian melangkah menuju ruangan Daniel. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu di depannya itu. Dia sangat gugup, bagaimana ini..?


Dengan meyakinkan diri akhirnya via mengetuk pintu tersebut.


tok tok tok


"masuk. " ucap seseorang dari ruangan tersebut.


via menghirup nafas kemudian membuangnya pelan sebelum masuk,ia mencoba setenang mungkin.


via berjalan ke arah Daniel kemudian menaruh kopi yang ia bawa ke atas meja.


Daniel masih nampak sibuk dengan pekerjaan yang ada di hadapannya. ia tak tahu jika saat ini via berada di dekatnya.


"silahkan kopinya tuan. " ucap via.


"iy-"


Belum sempat daniel meneruskan ucapannya ia terlebih dulu menengok ke samping.


Dan terlihatlah via yang saat ini berdiri di samping mejanya tengah menunduk.


"i-iya trimakasih. " ucap Daniel.


"saya permisi tuan." ucap via seraya berbalik menuju pintu.


"via. " Daniel memanggil via yang sudah memegang gagang pintu, bersiap untuk keluar.


"iya tuan. " jawab via seraya membalikkan badannya. Manik matanya bertemu dengan manik mata daniel. mereka saling menatap sejenak.


"ada lagi yang tuan butuhkan. " tanya via membuyarkan lamunan daniel.


ekh khem


"apa kaniya sudah tidur?" tanya daniel.


"sudah tuan. " jawab via.


Daniel mengangguk.


"ada lagi tuan? " tanya via.


"ah tidak, tidak ada." ucap daniel.


"baiklah, saya permisi tuan. " ucap via.


Sebenarnya daniel ingin menahan via lebih lama lagi. Tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan agar via tetap tinggal di ruangannya.


Daniel menghela nafas kasar,memijit pelipisnya yang terasa pening.


Ia benar-benar merasa konyol dengan tingkahnya ini. apa benar ia sudah jatuh cinta dengan via..??


 


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


 


__ADS_2